
Rumah Fade terlihat ramai karena ia dan istrinya sengaja mengundang Alea, Tristan dan juga Mondy. Namun Mondy juga membawa Aira.
Disini Fade maupun Firda belum tahu jika mereka berdua sudah menikah. Yang mereka tahu hanya Aira adalah art di rumah Alea, namun ditugaskan bekerja di rumah Mondy.
Dan saat keduanya tahu, Firda dan Fade sama-sama terkejut namun juga bahagia. Mereka tidak menyangka jika mereka berdua sudah menikah.
"Astaga, selamat ya. Maaf kami tidak tahu makanya nggak ngundang kamu secara langsung. Untung pak Mondy ngajak kamu." Ucap Firda pada Alea.
Alea tersenyum ramah. "Nggak apa-apa, Nona. Lagipula kami memang menikah di kampung, jadi semuanya tertutup." Balas Aira.
"Sekarang tidak ada lagi yang jomblo, Kak. Kita semua punya pasangan," ujar Alea seraya mengusap-usap perutnya.
Firda terkekeh, kepalanya manggut-manggut sebagai balasan atas ucapan adiknya.
"Mondy, selamat atas pernikahanmu dan semoga kita bisa berbaikan seperti aku dan Tristan." Ucap Fade dengan tulus.
"Tentu saja, Pak. Terima kasih juga atas ucapannya," balas Mondy tersenyum sopan.
"Kapan aku bilang berdamai denganmu?" Tanya Tristan mendelik tajam.
Semuanya menatap Tristan, tentu saja itu hanya candaan saja. Fade dan Tristan memang benar-benar sudah berbaikan.
"Hei, adik ipar. Ingat ya, kau harus sopan padaku. Aku kakak iparmu," ucap Fade dengan bangga, ucapannya dibarengi dengan tawa kecil.
"Hmm, ya ya. Jika saja kau bukan suami dari kakaknya Alea, aku tidak akan mungkin mau berdamai denganmu." Ketus Tristan menimpali.
Alea geleng-geleng kepala, ia mengusap-usap wajah tampan suaminya kemudian memberikan kecupan di pipinya.
Mereka semua di meja makan sontak bersorak melihat aksi pasangan suami istri paling lama di meja makan itu.
"Duhh, nona Alea mesra sekali." Puji Aira senyum-senyum sendiri.
Mondy menoleh, ia tersenyum penuh arti mendengar penuturan sang istri. Meski Aira tersenyum, namun Mondy tahu bahwa istrinya itu lelah.
Sejak pagi Aira ia ajak pergi ke Bogor, dan pulang dari saja langsung kesini. Mondy yakin nanti Aira langsung tidur, dan jatahnya di rapel.
__ADS_1
Mondy menahan senyuman, entahlah sejak Aira memberinya kenikmatan untuk pertama kali, sejak saat itu ia selalu merasa ketagihan dan ingin terus mengulang adegan itu.
"Sayang." Panggil Mondy berbisik sangat pelan.
Aira menoleh, ia menatap suaminya dengan penuh pertanyaan. "Hmm?" sahut Aira.
Mondy menggeleng, ia hanya melempar senyuman dan mengusap-usap punggung tangan istrinya tanpa ada yang melihat.
Makan malam pun selesai, namun mereka tidak langsung pulang melainkan mengobrol di ruang tamu.
"Apa kak Fade sudah bisa berjalan normal?" tanya Alea dengan sopan, takut menyinggung perasaan kakak iparnya itu.
"Belum terlalu, tapi setidaknya lebih baik. Ini semua berkat bantuan kakakmu, Lea. Dia sangat telaten merawatku," jawab Fade lalu menatap istrinya.
Firda mengusap-usap bahu suaminya. "Kan memang sudah kewajiban aku," timpal Firda tersenyum manis.
Alea menghela nafas, ia bahagia melihat kakaknya sudah mendapatkan kebahagiaan juga. Alea berdoa semoga keluarga kakaknya dan Fade bisa semakin bahagia nantinya, apalagi sampai memiliki anak.
"Kakak ipar, kau tidak terlihat keren saat memakai kursi roda, jadi berusahalah terus agar bisa berjalan normal." Celetuk Tristan.
"Benarkah, tapi istriku bilang wajahku tidak berubah dan tetap tampan." Sahut Fade mengusap-usap wajahnya sendiri.
Mondy berdehem. "Tuan Tristan bilang anda tidak keren, bukan tidak tampan, Pak. Anda tidak paham ya," ujar Mondy ikut menimpali.
"Oh, jadi Tristan memang sudah mengakui jika aku tampan?" tanya Fade dengan percaya diri.
Tristan memasang wajah datar lalu terkekeh dibuat-buat.
"Hmm, tapi tidak lebih tampan dariku." Jawab Tristan tidak kalah percaya diri.
"Saya juga tampan, Tuan." Balas Mondy tidak mau kalah.
"Kalian tampan, sudahlah. Berisik sekali, terus saja berdebat sampai pagi." Kata Firda menengahi.
"Tapi mereka bertengkar begini malah membuat ketiganya seperti saudara kandung, benar kan nona?" ucap Aira tiba-tiba.
__ADS_1
Alea terkekeh. "Benar sekali, mereka bertiga memang kembar. Upin Ipin Apin." Balas Alea lalu tertawa dengan begitu lepas.
Tristan mencubit pelan pipi istrinya, ia gemas sekali melihat Alea tertawa sambil mengusap-usap perutnya.
"Ini sudah malam, ayo pulang." Ajak Tristan pada sang istri.
Alea mengangguk, ia ingat besok Tristan harus pergi ke rumah orang tuanya guna menjenguk papa Jaya.
Mondy dan Aira pun ikut pulang, mereka berpamitan dengan tuan dan nyonya rumah yang mengundang mereka ke acara makan malam itu.
"Terima kasih atas jamuan makan malamnya ya, Pak. Kami permisi dulu," pamit Mondy.
"Aira, kapan-kapan main ya." Tutur Firda dan Aira membalasnya dengan anggukan kepala serta senyuman.
Sebelum benar-benar pergi, Tristan tiba-tiba mendatangi Mondy dan mengajak pria itu bicara.
Tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi sudah pasti ini tentang pekerjaan.
"Suka bosan nggak, Ai?" tanya Alea tiba-tiba.
"Maksud, Nona?" Tanya Aira tidak paham pada kalimat Alea.
"Kau suka tiba-tiba bosan tidak jika suamimu hanya sibuk bekerja. Lihat mereka," jawab Alea lalu menunjuk ke arah Tristan dan Mondy.
"Sejujurnya iya, tapi saya tidak berani mengatakannya." Jawab Aira dengan jujur dan polos.
Alea terkekeh, ia geleng-geleng kepala melihat Aira yang begitu polos. Alea lupa, gadis di sebelahnya ini baru berusia 19 tahun. Mondy beruntung mendapatkan daun muda.
"Bahagia selalu ya, Ai. Semoga kebaikan selalu menyertai pernikahanmu dan pak Mondy." Tutur Alea dengan tulus.
"Terima kasih, Nona. Doa yang sama untuk Nona," balas Aira tersenyum sopan.
AKU UDAH KASIH VISUAL BELUM SIH DI NOVEL INI, AKU LUPA ðŸ˜
Bersambung..................................
__ADS_1