Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Fakta yang terbongkar


__ADS_3

Alea pulang dengan dijemput oleh Tristan. 30 menit lalu, suaminya itu mengatakan akan datang dan menjemputnya, jadi sekarang Alea sudah duduk di teras rumah bersama kakaknya untuk menunggu Tristan.


Alea sebenarnya masih ingin menginap, namun ia tidak bisa meninggalkan Tristan terus. Bagaimanapun, sekarang pria itu adalah suaminya, dan sebagai istri yang baik, Alea tidak boleh pergi seenaknya.


"Kapan-kapan aku main lagi, Kak. Nanti kalo aku libur kerja," ucap Alea kepada sang kakak.


"Iya, Lea. Aku juga mau berangkat bekerja nanti, setidaknya aku tidak akan bosan duduk sendirian di rumah." Balas Firda tersenyum.


Alea mengangguk, rasanya ia kasihan sekali melihat kakaknya, tapi akan lebih baik begini saja. Alea sangat tahu bagaimana pria seperti Fade, ia takut jika Fade akan menyakiti hati kakaknya andai kata hubungan mereka kembali.


Firda adalah sosok gadis baik dan cukup taat dengan ibadahnya, gadis itu paling anti dengan yang namanya dunia malam, alkohol apalagi pria hidung belakang.


Firda selalu mewanti-wanti adiknya agar bisa menjaga diri, namun sayangnya Alea harus melepas kegadisannya demi mendapatkan uang dan juga demi keselamatan kakaknya.


Itulah alasan kenapa Alea selalu merasa berdosa kepada kakaknya. Sampai saat ini Firda berhasil menjaga diri, sementara Alea yang lebih muda darinya malah sudah jebol.


"Kapan-kapan mainlah ke rumahku, Kak." Ucap Alea sambil menggenggam tangan kakaknya.


"Tentu, tapi sebelum itu harus izin dulu dengan suamimu ya." Balas Firda.


Alea mengangguk, ia akan coba meminta izin kepada suaminya nanti.


Firda membalas tatapan adiknya, sejujurnya ia masih kecewa dengan Alea, namun setelah mendengar penjelasan dari adiknya, ia sadar bahwa disini juga adalah kesalahannya.


Andai saja dulu ia tidak tertabrak, mungkin saat ini Alea masih berkuliah seperti biasa. Tapi siapa yang bisa mengubah takdir.


Firda akan berusaha untuk menerima Tristan sebagai suami adiknya meskipun ia belum pernah bertemu pria itu secara langsung.


"Kak, mas Tristan sudah datang." Ucap Alea seraya bangkit dari duduknya.


Firda ikut bangkit, ia melihat mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan rumah sederhana miliknya dan milik Alea.


Dua orang pria keluar dari mobil, satunya berjas hitam, dan satunya lagi memakai jas berwarna salem.


"Sayang." Panggil Tristan lalu memeluk Alea tanpa malu.


Firda mengangkat kedua alisnya, bisa-bisanya adiknya itu berpelukan di depan matanya begini.


"Mas, kenalkan. Dia Firda, kakakku." Ucap Alea memperkenalkan Firda.


Tristan menatap Firda, ia mengerutkan keningnya karena merasa tidak asing dengan kakaknya Alea ini.


Firda menghela nafas, ia menatap Tristan tanpa canggung sama sekali. Ya begitulah, Firda sadar bahwa bagaimanapun Tristan adik iparnya, jadi ia berhak memberi wejangan apapun.


"Jaga saya baik-baik, sekali saja anda menyakitinya, maka saya akan membawa dia pulang." Kata Firda dengan wajah serius.


Tristan tersenyum tipis, bahkan nyaris tidak terlihat.


"Baiklah, kakak ipar." Balas Tristan yakin.


"Oh iya satu lagi, Kak. Ini kenalkan, dia pak Mondy. Atasanku juga," ucap Alea beralih memperkenalkan Mondy.


Mondy menundukkan kepalanya sedikit sebagai bentuk perkenalan. Tidak ada jabatan tangan seperti orang pada umumnya.


Firda pun sama sekali tidak berniat untuk menjabat tangan pria berjas hitam itu, ia hanya balas menunduk sebentar.


Sebelum pergi, Firda memeluk adiknya dulu dengan sangat erat. Semoga saja adiknya yang bertubuh mungil ini bisa bahagia dengan rumah tangganya.


"Jangan lupa untuk menghubungiku terus ya, atau aku akan mendobrak pintu rumahmu." Kata Firda dengan senyuman lebar.


Alea tertawa. "Baiklah, kakakku sayang." Balas Alea patuh.

__ADS_1


Senyuman di wajah Firda hilang kala menatap Tristan dan juga Mondy yang sama-sama diam.


"Hati-hati di jalan." Kata Firda.


"Mari, Tuan, Nyonya." Tutur Mondy mempersilahkan Alea dan Tristan masuk ke dalam mobil.


Sebelum pergi, Mondy memberikan tanda berpamitan yang tentu saja dibalas oleh Firda dengan hal yang sama.


Firda melambaikan tangannya sebentar sampai mobil yang adiknya tumpangi sudah tidak lagi terlihat oleh matanya.


"Ternyata benar, asisten nya itu benar-benar seperti kulkas." Gumam Firda mencibir.


Alea dan Tristan sedang dalam perjalanan ke apartemen. Hari ini Tristan akan mengizinkan Alea untuk tidak datang ke kantor.


"Aku benar nggak usah ke kantor? Nanti kalo orang-orang cibir aku malas lagi gimana, Mas?" tanya Alea mendongakkan kepalanya.


"Nggak akan, Sayang. Atau jika perlu, aku akan memberitahu mereka bahwa istriku cantik ini bebas masuk atau tidak ke kantor." Balas Tristan seraya menciumi kening dan rambut Alea.


Sejak semalam Tristan gusar karena tidak tidur sambil memeluk istrinya, namun demi kesenangan dan kebahagiaan Alea maka tidak masalah satu hari tidur sendiri.


"Jangan, Mas." Larang Alea, ia sudah bilang kan jika dirinya belum mau jika hubungannya dipublikasikan.


Tristan terkekeh kecil, ia mengusap bibir pink Alea, lalu mengecup nya dengan lembut. Tristan benar-benar tidak malu dengan Mondy yang sudah dipastikan melihat aksi atasannya itu.


"Jangan asal cium, nggak enak sama Mondy." Bisik Alea menjauhkan wajah suaminya.


Tristan tersenyum simpul, ia mendekap tubuh Alea dengan sangat erat. Tidak akan Tristan biarkan Alea pergi jauh terlalu lama darinya.


Sesampainya di apartemen, Tristan dan Mondy tidak ikut naik bersama Alea. Keduanya ada rapat penting sehingga tidak bisa mengantar Alea sampai ke unit.


Tristan mencium kening istrinya. "Istirahat ya, tunggu aku pulang." Bisik Tristan mesra.


Alea lalu beralih menatap Mondy. "Pak Mondy, saya permisi ya." Pamit Alea.


"Tentu, Nona. Hati-hati," balas Mondy dengan sopan.


Alea menunggu sampai mobil yang suaminya tumpangi itu hilang ditelan jarak, setelah itu Alea segera naik ke unit untuk mengganti pakaiannya dan istirahat.


Semalam ia bergadang di rumah kakaknya, sehingga membuatnya sedikit mengantuk sekarang.


***


Fade menggeser tiap foto yang ditampilkan oleh layar ponsel milik anak buahnya. Sejak melihat foto pertama sampai sekarang, raut wajah Fade benar-benar tegang dan ketakutan. Pria itu seperti enggan menerima kenyataan saat ini.


Fade meletakkan ponsel itu di mejanya, ia memijat keningnya sebentar lalu melonggarkan dasinya yang tiba-tiba terasa mencekik.


"Semalam nona Linda pergi ke hotel bersama salah satu pebisnis Bali, Pak. Dan beliau baru saja keluar pukul 6 pagi tadi." Jelas anak buah Fade.


Fade mengepalkan tangannya, ia menggebrak meja demi menyalurkan rasa kesal dan sesak di dadanya.


Semua menjadi satu. Marah, benci, kecewa, terkejut dan sedih. Semua itu berkumpul dalam dada Fade yang rasanya ingin meledak saat ini juga.


"Kau boleh pergi, rahasia ini semua." Ucap Fade dengan nafas yang terengah-engah.


Anak buah Fade pun pergi meninggalkan ruangan bosnya itu setelah menyelesaikan tugas yang diberikan semalam.


Setelah anak buahnya pergi, Fade langsung mengepalkan tangannya lalu memukul meja kerja berbahan kaca dengan keras


"Arghhhhh sialann!!!" erang Fade frustasi.


Fade menjatuhkan tubuhnya ke kursi kerjanya, ia mendongak dengan mata terpejam dan tangan mengepal yang mengetuk-ngetuk dahinya sendiri.

__ADS_1


"Linda bukan wanita seperti yang kamu nilai, Fade. Dia itu jahat!"


"Aku nggak pernah jual diri, aku difitnah."


"Fad, tidak ada yang lebih membahagiakan selain rasa cinta kamu untuk aku."


Ucapan-ucapan Firda mulai terdengar lagi. Saat dimana gadis itu berusaha untuk menjelaskan, dan saat Firda berusaha untuk memberitahu kebenarannya di awal mereka putus dulu, namun tidak Fade dengarkan.


Fade membuka matanya, ia duduk dengan tegak seraya kedua tangannya saling bertautan di atas meja.


"Linda adalah wanita yang baik, aku tahu bagaimana penilaian ku."


"Kau wanita bayaran yang sangat murah, tidak akan ada pria yang mau bersanding dengan gadis menjijikan sepertimu."


Fade masih sangat ingat bagaimana mulutnya dengan lancar menghina Firda tempo hari. Fade kesal, ia semakin menjambak rambutnya sendiri karena tidak kuat menahan kekecewaan ini.


"Firda selingkuh, Fad. Aku tadi melihatnya datang bersama pria kaya ke dalam kamar hotel."


Fade mengerutkan keningnya mendengar ucapan dari Linda, teman sekampusnya. Apa yang Linda katakan barusan membuatnya kesal, namun ia sadar bahwa ini adalah tempat umum.


"Firda tidak mungkin begitu, dia adalah gadis baik-baik." Balas Fade enggan mempercayai ucapan Linda.


Linda menatap Fade dengan serius, ia kesal sekali mengetahui jika Fade begitu percaya pada kekasihnya.


"Baiklah, aku tahu kau akan mengatakan ini. Tapi sekali saja ayo ikut denganku, aku akan tunjukkan seperti apa Firda." Ajak Linda dengan yakin.


"Tidak! Firda akan mencariku nanti." Tolak Fade dengan tangan terlipat di dadanya.


Linda berdecak tanpa suara, ia terpaksa menarik tangan Fade dan menyeretnya ke arah lift.


Fade diajak oleh Linda ke lantai dimana Firda ada bersama laki-laki tua kata Linda.


Saat sampai di kamar hotel itu, Fade membuka pintu dan dikejutkan oleh penampilan Firda yang sudah berubah baju.


Jika ditanya bagaimana Fade tahu, sebab baju yang ada ditangan Firda adalah pemberiannya.


"Fad, tolong masih kesempatan untuk bisa jelasin. Semua ini nggak seperti yang kamu pikirkan." Pinta Firda memohon.


"Sialann, aku nggak nyangka kamu begini Firda. Aku kira kau gadis baik-baik, tapi ternyata tidak. Sifatmu berbanding terbalik dengan wajahmu." Balas Fade menolak mendengarkan penjelasan dari Firda


"Kau wanita murahan." Jika Fade.


"Apa yang telah aku lakukan!!" teriak Fade seraya menepuk-nepuk kepalanya sendiri.


Fade masih ingat bagaimana dengan enten g mulutnya berkata hal rendah pada Firda. Ia yakin jika saat itu hati Firda sangat sakit, sebab ia juga merasakannya.


Fade merasa sangat bodoh. Selama bertahun-tahun ia begitu percaya apda ucapan Linda tanpa mau sekalipun menyelidikinya.


Fade terduduk di lantai ruangannya, pria itu menyesal telah menghina Firda yang jelas-jelas tidak bersalah.


Fade merasa malu, ia sudah menghina Firda habis-habisan dan membela Linda, wanita pintar mengelabui orang bahkan sampai begitu lama.


Fade mengepalkan tangannya, ia tidak akan membiarkan Linda bisa pergi begitu saja. Linda harus membayar segala kebohongannya sudah bertahun-tahun.


"Firda, aku salah menilaimu. Maafkan aku, aku sangat-sangat menyesal." Gumam Fade penuh penyesalan.


BACA PELAN-PELAN YA, SOALNYA ADA FLASHBACK NYA😰


Bersambung...................................


Nota. Tulisan bercetak miring adalah flashback, percakapan telepon, atau ucapan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2