
Firda berjalan di bawah guyuran hujan dengan perasaan hancur. Dingin air hujan yang menusuk, tidak bisa mengalahkan rasa panas dalam hatinya.
Hati gadis mana yang tidak akan sakit ketika pria yang mereka cintai mengatakan hal yang begitu rendah, bahkan menyayat hatinya.
Belanjaan yang baru saja ia belum sudah kemasukan air dan basah, untung saja isinya hanya mie instan dan beberapa kebutuhan lainnya.
Firda duduk di halte, ia membiarkan air banjir dari jalanan mengenai kakinya.
"Semoga Linda memang benar-benar cinta sama kamu, Fad. Dia udah berubah dan tidak lagi melakukan pekerjaan yang kotor." Gumam Firda seraya menyeka air matanya.
Meskipun wajah Firda basah, namun tetap terlihat jika gadis itu baru saja selesai menangis. Mungkin ia harus menghubungi Alea dan memintanya untuk menginap nanti agar ia bisa punya teman, sehingga tidak terus berlarut-larut dengan penggunaan Fade tadi.
Firda pun bangkit dari duduknya, ia memilih untuk pergi dari sana dan pulang ke rumah. Ia harus mandi agar tidak sakit, besok dirinya harus bekerja.
Sementara itu di tempat lain, Tristan sampai di apartemen istrinya dengan membawanya beberapa barang.
Ia disambut oleh bau masakan yang harum dari arah dapur, dan sudah dipastikan jika istrinya lah yang memasak.
"Sayang!!" Tristan berteriak seraya menghampiri istrinya.
Tristan memeluk dan menciumi wajah Alea bertubi-tubi, tidak ada yang terlewat sama sekali.
"Mas, sudah! Aku lagi masak lho ini," tegur Alea seraya menjauhi wajah suaminya.
Tristan menutup aksi kecup-kecupan itu dengan menggigit bibir bawah istrinya. Setelah itu Tristan langsung kabur sebelum Alea murka.
Alea sendiri hanya bisa meringis, ia memegangi bibirnya karena takut berdarah dan syukurlah tidak.
Alea terkadang heran dengan Tristan yang bisa cosplay jadi apa saja. T-rex, kucing, bahkan macan sekalipun.
Sejak awal Alea selalu menilai suaminya itu sebagai T-rex, namun setelah menikah sifat Tristan berubah menjadi kucing kecil yang manja dan suka menggigit.
Alea selesai memasak, ia menata makan malam yang sudah ia buat itu dengan rapi di meja makan.
Baru saja membuka apron yang digunakannya, tiba-tiba ponsel milik wanita itu berdering. Alea segera mengangkatnya ketika tertera nama sang kakak disana.
"Iya, Kak. Ada apa?" tanya Alea membuka pembicaraan.
"Alea, bisa menginap di rumahku malam ini? Aku butuh seorang teman."
Alea mengerutkan keningnya mendengar suara serak dari sang kakak, ia juga bahkan beberapa kali mendengar suara kakaknya itu seperti orang habis menangis.
Alea tidak akan berpikir macam-macam, ia akan menanyakan kepada kakaknya nanti ketika dirinya sampai.
"Iya, Kak. Aku izin pada su–" ucapan Alea terhenti ketika dirinya ingat jika Firda belum tahu tentang pernikahannya.
"Aku akan kesana, sabar ya Kak." Ralat Alea.
Firda tidak curiga, ia lantas menutup panggilannya duluan. Kini giliran Alea yang harus meminta izin pagi pada Tristan.
Alea segera pergi ke kamar, namun ketika dirinya masuk, ia tidak menemukan Tristan di dalam kamar, bahkan pintu kamar mandi pun terbuka yang menandakan jika tidak ada orang di dalam sana.
Tanpa Alea sadari jika Tristan bersembunyi di belakang pintu, ia yang tadi ingin keluar sudah keduluan Alea yang masuk, sehingga ia memilih untuk bersembunyi.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Tristan pun keluar dan langsung memeluk Alea dari belakang dengan begitu eratnya.
"Mas, bikin kaget tahu!" tegur Alea memukul pelan tangan Tristan.
Tristan tersenyum, ia memiringkan kepalanya lalu mencium pipi istrinya yang tampak mengembung karena kesal.
"Maaf maaf, Sayang." Balas Tristan.
Sejak menikah, Tristan gampang sekali mengucapkan maaf dan terima kasih, yang mana dua kata itu adalah hal yang jarang mau Tristan ucapkan.
"Mas, keadaan mama kamu gimana?" tanya Alea teringat pada mama Tristan atau mertuanya.
"Belum ada perkembangan." Jawab Tristan sedih.
Mendengar suara Tristan yang sedih membuat Alea lantas membalik badan. Wanita itu melingkarkan tangannya di leher sang suami.
Sementara Tristan melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya, ia juga mengusapnya dengan gerakan lembut.
"Kita doakan semoga mama kamu semakin baik ya, Mas." Kata Alea dengan mata yang terus menatap dalam mata suaminya.
Tristan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, bersama Alea ia menjadi kuat. Tristan tidak tahu akan seperti apa dirinya jika tidak ada Alea di sisinya.
"Mas, aku mau minta izin menginap di rumah kakakku. Hanya malam ini saja kok," ucap Alea tiba-tiba.
Alea memanfaatkan wajah penuh senyuman Tristan untuk merayu, dan semoga saya suaminya ini akan mengizinkan.
Tristan menyatukan kening mereka, ia juga mencium hidung mancung Alea dengan singkat.
"Boleh, Sayang. Lagipula kan aku memang sudah kasih izin, tapi karena aku acara menginap kamu jadi di tunda." Balas Tristan mengizinkan.
"Enteng banget sih, kaya kapas." Ucap Tristan seraya merapikan rambut istrinya.
Alea menenggelamkan wajahnya di leher sang suami. Ia dan Tristan sudah mulai sedikit bahagia, namun meski begitu Alea tetap memikirkan perasaan Linda.
"Mas, nyonya Linda–" ucapan Alea terhenti saat Tristan mencium dan menghisap bibir itu dengan ganas.
Alea membalas, namun ciuman itu tidak berangsur lama karena Alea melepaskannya.
"Jangan pernah bahas orang lain, disini hanya ada kita berdua." Kata Tristan tidak suka.
"Atau bertiga mungkin." Tambah Tristan. Raut wajahnya berubah tersenyum setelah berucap demikian.
Alea mengerutkan keningnya bingung, namun ia tidak mau bertanya karena sekarang ia harus bersiap untuk menginap di rumah kakaknya.
"Aku antar kamu ke rumah kakakmu ya, biar besok bisa aku jemput juga." Ucap Tristan dan Alea hanya mengangguk.
Alea pun segera mandi, begitupula dengan Tristan. Mereka mandi bersama? Tentu saja, memang itu akal-akalan Tristan.
Mereka memang saling menyentuh, namun main cepat karena waktu sudah semakin malam saja.
Setelah sama-sama bersiap, Alea pun pergi dengan diantar oleh Tristan. Alea lega karena sudah sempat memasak untuk suaminya makan.
"Nanti jangan lupa makan ya, aku udah capek masak, kamu nggak makan awas aja." Tutur Alea seraya memakan buah jeruk yang ia bawa.
__ADS_1
Alea juga menyuapi Tristan karena suaminya itu sedang fokus menyetir.
"Iya, Sayangku." Balas Tristan nurut.
Tristan benar-benar telah menemukan kebahagiaannya. Bersama Alea, ia merasakan menjadi sosok suami yang sesungguhnya.
Ia dihormati, di rawat dan di sayang oleh Alea. Itu adalah salah satu impian Tristan juga.
Mereka pun sampai di rumah kakaknya Alea. Rumah itu tentu saja jauh lebih sederhana daripada apartemen yang mereka tempati.
"Jangan telat makan, apalagi telat tidur ya." Ucap Alea memberi pesan.
Tristan mencium kening Alea dan dibalas kecupan di pipinya dari sang istri. Sebelum membiarkan Alea pergi, Tristan lebih dulu memeluk tubuh mungil Alea erat-erat.
"Besok kalo mau pulang telepon aku ya." Kata Tristan dan Alea hanya mengangguk.
Alea pun keluar dari mobil suaminya, ia menatap ke sekitar karena khawatir akan ada tetangganya yang melihat ia turun dari mobil mewah suaminya.
Orang-orang tidak akan percaya jika seorang pengusaha terkenal seperti Tristan kau menikah dengannya. Yang ada, orang-orang akan berasumsi bahwa dia adalah simpanan pria tampan itu.
Alea melambaikan tangannya sampai mobil itu tidak terlihat lagi. Setelah itu, Alea pun masuk ke dalam rumah kakaknya.
"Kak." Panggil Alea mengetuk pintu rumah.
Tidak butuh waktu lama, Firda pun membuka pintu rumah dan menyambut adiknya dengan sangat baik.
"Kakak!!" Alea memekik dan langsung memeluk tubuh Firda.
Firda memeluk adiknya tidak kalah erat, ia ingin berbagi kesedihannya dengan Alea, sebab ia sudah tidak memiliki anggota keluarga lagi, selain adiknya.
Alea pun sama, ia akan mengatakan tentang pernikahannya malam ini kepada kakaknya. Alea tidak bisa terus menyembunyikan status barunya, bagaimanapun Firda berhak tahu.
Alea dan Firda pun masuk ke dalam rumah sederhana peninggalan kedua orang tua mereka. Meskipun sederhana, tapi sangat berarti bagi keduanya.
Walaupun kelak mereka ingin membeli rumah baru, rumah ini tidak akan pernah dijual. Sebab dirumah ini menyimpan banyak kenangan.
Sementara itu di tempat lain, di sebuah apartemen yang cukup mewah. Tampak seorang pria sedang duduk sambil memegang segelas minuman di tangannya.
Penampilannya begitu berantakan, namun tidak bisa melunturkan ketampanan wajahnya. Tubuhnya terbalut setelan kerja, hanya jas saja yang sudah ditanggalkan, dan dasi nya sudah di longgarkan.
Fade, pria itu sudah hampir menghabiskan satu botol minuman untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya tanpa alasan yang jelas.
Fade terlalu memikirkan Firda. Ia benci dirinya yang masih belum bisa melupakan gadis itu, padahal saat ini sudah ada Linda yang begitu mencintainya.
Bicara soal Linda, sampai sekarang wanita itu belum juga datang ke apartemen Fade. Hal itu tentu menjadi pertanyaan bagi Fade, apalagi Linda tidak menghubunginya.
Fade tiba-tiba teringat pada ucapan Firda yang menyebut Linda bukan wanita baik-baik. Ia merasa kesal dan marah, namun hati kecilnya justru menyuruhnya untuk mempercayai Firda dan mulai menyelidiki Linda.
Fade mengerem kesal, ia melempar gelas minuman di tangannya hingga pecah tidak berbentuk. Pria itu lalu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
Fade menghubungi salah satu anak buahnya. Ia akan mengikuti kata hatinya, namun jika terbukti bahwa Linda ada wanita baik-baik, maka ia bersumpah akan benar-benar membuang Firda jauh dari pikiran dan juga hatinya.
"Selidiki Linda Senofita."
__ADS_1
SELAMAT NETHINK, FADE🤣
Bersambung................................