
Alea dan Tristan dibuat kebingungan tatkala papa Jaya memintanya untuk berkumpul di ruang tamu.
Sebenarnya bisa saja, namun yang membuat mereka aneh adalah saat mama Saras langsung memeluk dan merangkul Aira lembut.
Alea terutama, ia kaget melihat ibu mertuanya menempel dengan Aira sementara selama ini ia tidak pernah melihat keduanya melakukan interaksi.
"Ada apa ini, Pa?" Tanya Tristan mengerutkan keningnya bingung.
Papa Jaya menghela nafas lalu bangkit dari duduknya, ia menghampiri mama Saras dan Aira yang berdiri di sampingnya.
"Tristan, ada yang ingin papa katakan sama kamu. Ini soal adik kamu yang menghilang bertahun-tahun lalu." Jawab papa Jaya.
Mendengar itu, seketika membuat Tristan memasang wajah datar. Adik? Satu-satunya teman nya dulu saat kecil, namun menghilang dan tidak pernah ditemukan sampai sekarang.
Selama ini Tristan seakan melupakan adiknya, padahal tidak sama sekali. Setiap hari, akan ada satu waktu dimana ia akan teringat pada adik kandungnya.
Bohong jika Tristan tidak rindu. Bohong jika Tristan tidak berusaha mencarinya. Tristan berusaha, sampai akhirnya dulu adiknya dinyatakan hilang dan tewas.
Awalnya tidak ingin percaya, namun seiring waktu ia akhirnya berusaha untuk mengikhlaskan, tapi bukan melupakan.
Lalu hari ini, papa Jaya tiba-tiba membahas soal adiknya yang sudah hilang bertahun-tahun lalu.
"Mas, adik?" Tanya Alea bingung.
Bagaimana tidak bingung, selama ini Tristan tidak pernah mengatakan soal saudaranya. Yang Alea tahu, Tristan adalah anak tunggal.
Tristan menatap istrinya, lalu menganggukkan kepalanya. Tristan akan cerita nanti, yang penting sekarang ia ingin mendengar penjelasan dari papanya.
"Pa, maksud papa apa?" Tanya Tristan.
"Kenapa papa membahas soal Thalia, dia sudah pergi bertahun-tahun lalu kan." Tambah Tristan.
"Nggak, Tristan. Adik kamu masih hidup, dia sehat." Sahut papa Jaya menggelengkan kepalanya.
Tristan lalu menatap sang mama dan Aira bergantian. Berbagai perkiraan mulai muncul di kepalanya.
__ADS_1
"Apa dia …" Tristan menggantung ucapannya seraya menunjuk Aira.
Mama Saras mengangguk dengan derai air mata yang tidak tertahankan. "Iya, Tristan. Dia adik kamu, dia Thalia nya kita." Jawab mama Saras dengan lirih.
Tristan benar-benar syok. Gadis yang selama ini berkeliaran di sekitarnya sebagai istri dari tangan kanannya, adalah adiknya. Adik kandungnya yang hilang.
"Ini hasil tes DNA nya. Papa melakukan ini setelah menemukan tanda yang sama di lengan bahu kalian." Jelas papa Jaya seraya menyodorkan dokumen hasil tes DNA.
Tristan lekas menerima dan membacanya. Disana tertera dengan jelas bahwa Aira adalah anak dari sang papa, dengan kata lain Aira adalah adiknya.
Alea sendiri syok mendengar kenyataan hari ini. Aira adalah anak keluarga Kusuma, tanda yang suaminya punya ternyata dimiliki juga oleh Alea.
Tristan menatap Aira. "Kau … kau adikku?" Tanya Tristan dengan gugup.
Aira tidak kalah menangis. Pria yang selama ini ia hormati sebagai tuan, ternyata adalah kakak kandungnya.
"Hiks … kakak." Lirih Aira menundukkan kepalanya.
Tristan meletakkan dokumen dengan asal, ia mendekati Aira lalu ingin memeluknya, tapi ragu. Selama ini ia bahkan sangat menjaga jarak dengannya.
Aira memeluk Tristan duluan. Andai saja sejak lama ia tahu bahwa ia punya seorang kakak hebat seperti Tristan, mungkin sejak lama Aira menangis dan mengadu tentang hidupnya selama ini.
"Thalia, ya Tuhan!!" Ungkap Tristan lalu melepaskan pelukan Aira.
"Hidupmu pasti sangat menderita kan. Kau anak keluarga ini, tapi hidupmu benar-benar buruk." Tambah Tristan.
Membayangkan sesulit apa hidup adiknya dulu membuat Tristan merasa sangat bersalah. Ia merasa menjadi kakak yang buruk karena tidak bisa menemukan adiknya.
"Maafkan saya, Ai. Saya tidak menemukan kamu dengan cepat." Ucap Tristan penuh sesal.
"Tidak, Tuan. Anda jangan merasa bersalah." Balas Aira memanggil Tristan seperti biasa.
"Bukan tuan, tapi kakak." Tegur papa Jaya.
Aira tersenyum canggung.."k-kakak." Cicit Aira pelan.
__ADS_1
Tristan lalu menatap Mondy, asisten sekaligus suami adiknya. Ia mendekat, lalu menepuk bahu pria itu.
"Terima kasih, Mon. Melalui dirimu, keluargaku bisa menemukan dan membawa Aira kembali." Ucap Tristan.
"Sama-sama, Tuan. Namun saya percaya bahwa semua ini memang sudah takdir." Balas Mondy dengan sopan.
Sementara Alea, ia tidak kalah bahagianya dengan yang lain. Alea mendekat, memeluk Aira yang ternyata adik iparnya.
"Ai, ternyata kita memang adik kakak." Ucap Alea dengan senyuman manis.
Aira manggut-manggut. "Iya, Kak. Hiks … aku bahagia sekali!" Balas Aira.
"Ada satu kabar lagi." Ucap Aira pada Alea dan Tristan yang memang belum tahu soal ini.
Alea mengerutkan keningnya. "Apa?" Tanya Alea bingung.
"Doamu terjawab, Kak. Aku hamil, aku akan punya anak." Jawab Aira dengan mata berkaca-kaca.
Selama ini selalu Alea dan suaminya yang memberi semangat dan pengertian bahwa ia pasti akan hamil. Doa-doa juga tentu diucapkan dan akhirnya sekarang terkabulkan.
"Astaga … selamat, Ai. Akhirnya!" Ungkap Alea penuh kebahagiaan.
"Selama ini kakak selalu menyemangati dan menyanyikan ku, dan sekarang akhirnya aku hamil." Balas Aira tersenyum senang.
Alea mengusap-usap perut Aira. "Aku ada teman sekarang." Ucap Alea lalu beralih mengusap perutnya yang sudah besar.
Pemandangan antara Alea dan Aira tentu tidak luput dari perhatian mama Saras. Tanpa sadar ia tersenyum melihat putri dan istri putranya begitu dekat.
Ditambah lagi, Alea terlihat begitu tulus pada Aira, bahkan sebelum kenyataan terbongkar bahwa Aira adalah adik kandung Tristan.
Alea tidak membeda-bedakan antara pelayan dan majikan. Aira sudah dianggapnya adik sejak lama.
"Apa wanita ini memang benar-benar baik." Batin mama Saras terus menatap Alea.
SEBENTAR LAGI TAMAT ✨
__ADS_1
Bersambung..............................