Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Dibeli seperti barang


__ADS_3

Aira membuka matanya ketika tubuhnya mendapatkan guncangan. Ia terkejut ketika ibunya sedang melotot kearahnya dengan decakan sebal.


"Bangun, Ai. Kamu menikah hari ini!" ucap ibu Aira dengan ketus.


Mata Aira langsung membulat sempurna, ia bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Menikah, apa maksud ibu?" tanya Aira bingung.


Ibu Aira kesal. "Kamu jangan pura-pura amnesia, Ai. Kemarin nak Mondy sudah memberi kami uang, artinya kamu harus menikah dengannya sekarang." Jawab ibu Aira sewot.


Aira menggeleng, ia tidak mungkin menyeret Mondy masuk ke dalam sebuah masalah. Sudah cukup ia merepotkan pria itu dengan uang pemberiannya yang tidak sedikit.


Lagipula Mondy tidak akan mungkin mau untuk menikah dengannya. Tidak mungkin!


"Nggak, Bu. Om Mondy pasti akan menolak menikah denganku, ibu jangan terus merepotkan nya." Kata Aira menolak.


"Nggak mau gimana sih, nak Mondy sekarang sedang bersiap-siap untuk pakai baju pengantin nya." Sahut ibu Aira.


"Cepat bangun, perias sudah datang." Tambah ibu Aira kemudian pergi meninggalkan Aira begitu saja.


Aira mematung di tempatnya, Mondy bersiap-siap untuk memakai baju pengantin?


"Nggak mungkin, om Mondy nggak mungkin mau menikah denganku." Gumam Aira pelan.


Aira beranjak dari tempat duduk, ia hendak keluar dari kamar tetapi ibunya yang masuk duluan bersama perias langsung melarang.


"Mau kemana kamu hah!" Ucap ibu Aira penuh penekanan.


"Aku mau bicara sama om Mondy, kita nggak bisa paksa dia untuk menikahi ku." Jawab Aira dengan terburu-buru.


Ibu Aira mencekal tangan gadis itu lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Diluar sudah cukup ramai orang yang membantu, dan Aira mau keluar.


"Cukup! Duduk dan kamu akan dirias. Kamu itu harus menikah dengan Mondy, sebab ibu nggak mau kehilangan uang banyak itu." Ucap ibu Aira yang hanya memikirkan diri sendiri saja.


"Bu, tapi–" ucapan Aira terhenti karena Ayu datang.


"Nggak usah berisik, kau hanya perlu duduk dan di rias. Jika saja bisa, lebih baik aku yang menikah dengan kang Mondy." Ketus Ayu yang masih belum terima bahwa Aira akan menikah dengan pria tampan.


Aira tidak membalas, ia duduk dengan pasrah dan langsung di makeup oleh perias kampung yang skill nya tidak bisa dianggap remeh.

__ADS_1


Aira bahkan tidak mandi, ia langsung di rias dan dipakaikan baju pengantin adat Sunda.


Aira benar-benar tidak tahu ada apa ini. Kenapa Mondy tiba-tiba mau menikahi nya, padahal semalam jelas sekali ia sudah mengatakan pada pria itu.


"Om nggak usah nikahin aku, aku akan mengabdi seumur hidup sama om sebagai pelayan untuk menggantikan uang ratusan juta itu."


Begitulah yang Aira ucapkan semalam.


"Om Mondy pasti dipaksa melakukan ini semua, aku tahu dia nggak akan pernah mau menikah denganku. Dia tidak menyukai gadis ceroboh sepertiku," batin Aira seraya menatap pantulan dirinya di cermin.


Saat ini Aira sudah selesai di makeup dan memakai gaun pengantin, hanya tinggal rambutnya saja di tata dan di pakaikan siger.


"Bu, penghulu nya sudah datang." Ucap bapak Aira dari luar kamar gadis itu.


Ibu Aira dan Ayu pun segera keluar, meninggalkan Aira begitu saja.


"Teh, udah selesai belum?" tanya Aira pada si perias.


"Belum, Teh. Sebentar lagi, kenapa emang?" tanya perias itu balik.


Aira menggeleng, ia hanya ingin keluar dari kamar dan bicara pada Mondy. Aira ingin pria itu kabur saja langsung bersamanya tanpa harus menikah dulu.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Aira Liviana dengan mas kawin tersebut tunai."


"Sah!!!"


Aira membuka mulut antara terkejut dan terharu ketika mendengar suara Mondy yang mengucap ijab qobul dengan menyebut namanya.


Aira meneteskan air matanya. Entah bagaimana bisa pernikahan ini terjadi, padahal semalam ia dan Mondy sudah bicara. Tapi yang jelas, kini Aira adalah istri sah Mondy.


"Aku menikah, aku menikah dengan pria yang aku cintai tapi tidak mencintaiku." Gumam Aira lirih.


Tidak lama kemudian Ayu dan ibu Aira datang, mereka langsung mengajak Aira untuk keluar dari kamar.


"Males banget kalo bukan kang Mondy yang nyuruh, rasanya aku pengen dorong kamu tahu nggak." Bisik Ayu kesal.


Aira tidak membalas ucapan kakaknya, ia hanya terus menundukkan kepalanya tanpa berani melihat siapapun disana termasuk Mondy.


Saat sudah semakin dekat, Aira bisa melihat perut sampai ke kaki pria yang sedang duduk itu.

__ADS_1


Aira di dudukkan di sebelah Mondy. Ia masih terus menunduk, tanpa berniat untuk mengangkat wajahnya.


"Kalian sudah sah sebagai pasangan suami istri. Mempelai pria silahkan pasang cincin di jari manis istrinya, lalu mencium keningnya." Tutur bapak penghulunya.


Mondy memasangkan cincin sederhana yang ia buat dari ranting dan sedikit diberi hiasan bunga. Sederhana? Memang, tapi Mondy membuatnya sendiri.


Mondy tidak mau memasangkan cincin di jari Aira dengan cincin yang Toro siapkan sebelumnya.


Mondy akan memberikan cincin spesial saat mereka sampai di Jakarta nanti.


Aira pun mencium punggung tangan Mondy, dan saat itulah ia baru berani untuk mengangkat wajahnya.


"Ya Tuhan, tampan sekali." Batin Aira setelah melihat penampilan wajah Mondy, suaminya.


Mondy mendekatkan wajahnya, ia lalu mencium kening istrinya dengan penuh kehangatan.


Aira memejamkan matanya, ini untuk pertama kalinya bibir Mondy yang biasa bicara galak menciumnya.


Setelah selesai ijab qobul, Aira dan Mondy pun menyalami tangan kedua orang tua mempelai wanita.


"Jangan merepotkan orang lain, Ai." Ucap ibu Aira dengan ketus.


"Ingat, kamu itu dibeli oleh kang Mondy. Mengabdi lah padanya seperti seorang pelayan," tambah Ayu dengan kejam.


Hati Aira sakit mendengar bahwa Mondy sudah membelinya, ia lalu melirik ke arah pria itu yang hanya diam dan tidak memberikan reaksi apapun.


"Ya, Ai. Om Mondy pasti membeli kamu sebagai seorang pelayan seumur hidup. Dia hanya tidak ingin kamu pergi setelah memberikan banyak uang, makanya dia menikahimu." Batin Aira bicara pada dirinya sendiri.


"Ingat ya, Ai. Bapak tidak mau jika nak Mondy sampai protes dan meminta uangnya kembali. Jadi bersikap baiklah disana," kata bapak Aira semakin kejam.


Aira hanya bisa mengangguk dengan kepala tertunduk, ia tidak mau jika keluarganya melihat air matanya yang sudah hampir menetes.


Aira sudah seperti barang yang dijual kepada Mondy.


Rasa sakit Aira bertambah saat Mondy tidak bereaksi apa-apa, pria itu hanya diam saja ketika seluruh keluarganya bicara bahwa ia telah di beli.


Diamnya Mondy seakan membenarkan kata-kata keluarganya. Ia hanya sebuah barang yang Mondy beli seharga ratusan juta, dan akan digunakan seumur hidupnya.


NEXT BAB BAKAL FLASHBACK KENAPA MEREKA NIKAH YAA😫

__ADS_1


Bersambung................................


__ADS_2