Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Kesedihan Aira


__ADS_3

Mondy keluar dari kamarnya dan langsung ke meja makan. Ia manusia normal yang butuh makanan, jadi ia tidak mungkin menyia-nyiakan makanan yang sudah disiapkan oleh Aira untuknya.


Saat sampai di meja makan, terlihat beberapa menu makanan pagi ini yang sangat membuat Mondy ngiler.


Di sana ada ayam goreng kremes, dan juga sayur sop bakso, ditambah lagi dengan sambal merah dan nasih hangat yang sudah tersaji di meja makan.


Mondy celingukan, ia tidak menemukan keberadaan Aira di sana, ataupun di ruang tamu tadi. Ia jadi bertanya-tanya dimana gadis itu sekarang.


"Apa aku terlalu kasar padanya tadi, sekarang dia dimana." Gumam Mondy sangat pelan.


Mondy menghela nafas, ia mengangkat kedua bahunya lalu segera duduk di kursi yang ada di sana untuk sarapan. Biarlah ia dimarahi Tristan nanti, yang jelas sekarang ia ingin makan dulu.


Mondy menyantap makan paginya dengan lahap. Bohong jika ia mengatakan bahwa masakan Aira tidak enak, karena nyatanya makanan itu tidak kalah enaknya dengan masakan buatan Alea. Eh!


Mengingat Alea seketika membuat Mondy berhenti makan sejenak, bagaimanapun ia tidak mungkin bisa melupakan Alea begitu saja dengan mudah.


Namun karena belakangan ini Mondy melihat Alea bahagia dengan atasannya, maka ia akan berusaha untuk melupakan wanita bersuami itu. Ia mungkin memang belum bertemu dengan jodohnya.


"Ck, ayolah Mondy! Menikah bisa kapan saja, lagipula kau tampan, jadi tidak perlu terlalu memikirkannya." Ucap Mondy pada dirinya sendiri.


Mondy pun melanjutkan sarapannya, ia bahkan sampai menambah sayur yang terasa sangat pas di lidah nya.


Mondy yakin jika setiap hari makan masakan Aira, berat badannya akan bertambah. Tentu saja, ia sangat lahap menyantap masakan gadis itu.


Selesai sarapan Mondy pun beranjak dari tempat duduknya, ia mencari keberadaan Aira untuk memberitahu bahwa dirinya akan berangkat, namun ia tidak menemukan Aira dimana-mana, termasuk kamar gadis itu.


"Aira!!" panggil Mondy ke setiap sudut apartemen.


Mondy hendak menghubungi Aira, namun ia baru ingat jika dirinya tidak memiliki nomor gadis itu, bahkan seingatnya Aira tidak punya ponsel.


Karena sudah siang, Mondy pun memutuskan untuk pergi. Ia sudah terlambat dan bisa makin terlambat jika menunggu Aira.


"Dasar gadis merepotkan, kemana dia pergi tidak bilang." Gerutu Mondy seraya memasuki lift.


Saat Mondy masuk, Aira justru keluar dari lift di sebelahnya, namun pintu lift Mondy sudah tertutup duluan sehingga ia tidak bisa melihat Aira.

__ADS_1


Aira baru saja kembali dari bawah, ia memilih untuk pergi ke taman yang ada di sekitar apartemen untuk menenangkan pikirannya.


Aira sangat kacau saat ini, ia yang tadi kena marah Mondy jadi kepikiran.


Apakah dia memang tidak becus? Apa dia hanya bisa membuat masalah? Apa dia hanya bisa merepotkan orang lain?


Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Aira, ia merasa sudah sangat merepotkan Mondy. Sudah ditolong, malah menyusahkan.


"Apa ini juga alasan kenapa ibu dan bapak di kampung mau nikahin aku sama kakek tua. Aku merepotkan ya?" gumam Aira bertanya-tanya.


Aira duduk di sofa, gadis 19 tahun itu menundukkan kepalanya dan menangis. Aira merasa Tuhan tidak adil, kenapa ia harus menderita terus menerus.


Ia pikir dengan kabur dirinya akan mendapatkan hidup yang lebih baik, tapi kenyataannya ia malah ceroboh dan selalu membuat masalah, sehingga orang yang sudah menolongnya terus marah.


"Kamu emang nggak bisa apa-apa, Ai. Kamu nggak berguna. Benar kata kakak kamu, kamu itu nggak pantas untuk hidup." Lirih Aira dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya sendiri.


Aira menangis sejadi-jadinya, ia tahu bahwa Mondy sudah pergi ke kantor sehingga ia bisa menangis dengan bebas.


"Hiks … aku emang salah, tapi aku kan juga berhak untuk bahagia. Kenapa ibu sama bapak tega ya," lirih Aira seraya menyeka air matanya sendiri.


Sementara itu Mondy, ia yang mengendarai mobil dengan cepat membuatnya tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah utama.


Sesampainya disana, ia melihat Tristan dan Alea sedang asik tertawa bersama di bangku taman. Mereka sepertinya sedang menikmati matahari pagi sambil berbincang bersama.


Mondy berdehem kecil, ia merapikan penampilannya lalu berjalan mendekati kedua orang itu.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa Mondy dengan sopan.


Tristan dan Alea menoleh. Alea tersenyum, sementara Tristan hanya diam saja.


"Kemana saja kau, bergadang semalam?" tanya Tristan dingin dan datar.


"Maafkan saya, Tuan. Semalam ada sedikit masalah yang membuat saya telat bangun hari ini." Jawab Mondy sopan.


"Masalah, lalu Aira bagaimana?" tanya Alea tiba-tiba.

__ADS_1


Tristan menoleh. "Khawatir banget ya sama pelayan itu?" tanya Tristan.


"Eumm iya, dia kan tinggal sama pak Mondy doang. Jika pak Mondy sana kena masalah, apalagi dia." Jawab Alea.


Mondy hanya bisa diam, dalam hati ia berkata bahwa masalah yang ia dapatkan justru karena gadis itu.


Gadis yang sangat menyebalkan dan selalu membuat masalah.


"Baik banget istriku sampai ingat keselamatan orang lain." Ucap Tristan seraya mencubit kedua pipi istrinya.


Alea hanya tersenyum, ia melepaskan cubitan suaminya yang tampan itu lalu mendorong pelan tubuh Tristan.


"Sana berangkat, sudah siang lho ini." Kata Alea mengingatkan.


"Baiklah, aku berangkat ya Sayang." Tristan mencium kening Alea lalu pergi.


"Permisi, Nona Alea." Pamit Mondy sopan.


Mondy dan Tristan pun pergi meninggalkan rumah utama untuk sampai ke kantor.


"Pak, sidang perceraiannya lusa. Saya sudah siapkan segalanya," ucap Mondy memberitahu.


Tristan mengangguk singkat. "Pulang dari kantor ke markas." Balas Tristan.


Tristan sudah sangat menantikan sidang perceraiannya, namun apa ia akan membiarkan Linda datang? Tentu saja tidak. Ia akan membuat sebuah rencana agar perceraiannya tetap berjalan tanpa harus ada Linda dalam persidangan.


Setelah proses perceraiannya dan Linda selesai, Tristan berjanji akan langsung memberikan sebuah resepsi pernikahan yang mewah untuk Alea. ia juga akan mengakui Alea sebagai istrinya di hadapan semua orang.


Tristan sudah cukup melihat Alea khawatir akan pendapat orang, ia tidak akan membiarkan orang-orang memiliki celah untuk menghina istrinya seperti yang Alea takutkan selama ini.


"Sabar, Sayang. Aku janji, kamu akan menjadi istriku yang sah secara agama dan hukum." Gumam Tristan yakin.


KOMEN POSITIFNYA DI TUNGGU SAYANG 🤗


Bersambung.....................

__ADS_1


__ADS_2