
Keluarga Kusuma kini sudah bersiap dalam satu mobil yang sama. Mereka akan pergi jalan-jalan ke pantai sekeluarga dengan Mondy tentu yang menyetir mobilnya.
Alea, Aira, Firda beserta suami mereka dan mertua Aira menyewa sebuah mobil bus kecil untuk menjadi kendaraan mereka jalan-jalan.
Awalnya ingin menggunakan mobil masing-masing, namun karena perjalanan cukup jauh dan seperti akan menginap selama 2 hari, membuat mereka memutuskan untuk menyewa satu mobil bus.
Kenapa menyewa padahal mereka bisa beli? Tentu saja ini karena nasihat Alea dan Aira yang mengatakan untuk tidak membuang-buang uang.
Alea menimang-nimang anaknya dengan penuh kesabaran meski Alkano tak kunjung berhenti menangis. Sudah diberikan susu, tapi tetap tidak mau.
"Anak mami kenapa sih, mau jalan-jalan kok cengeng." Celetuk Alea sambil menciumi wajah putranya.
Alea gemas sekali, seiring bertambahnya usia Alkano, barat badan bocah itu pun semakin naik dan membuat siapapun yang melihatnya gemas.
"Alea, coba sini sama mama." Ucap mama Saras.
Alea menatap ibu mertuanya, lalu ke berikan Alkano untuk digendong oleh neneknya. Tepat sekali, Alkano langsung diam dalam gendongan mama Saras.
Semua orang terkekeh melihat Alkano yang langsung diam setelah digendong oleh neneknya. Alkano benar-benar nempel sekali dengan mama Saras.
"Cucu oma banget ya, sampai di gendong oma baru diam." Ucap papa Jaya sambil mencolek pipi cucunya.
"Iya nih, kebanyakan sama neneknya sampai-sampai sama mamanya saja nangis." Sahut Aira ikut terkekeh.
Alea menghela nafas. "Mau gimana lagi, aku punya bayi kan dua. Satunya bayi wajar, satunya bayi kurang ajar." Kata Alea menimpali ucapan-ucapan yang ia dengar.
"Sayang …" Tristan menatap istrinya dengan senyuman.
"Tuh kan udah manggil bayi kedua aku." Ucap Alea lalu lekas mendekati sang suami dan duduk di sebelahnya.
"Kalo bayi itu di susui juga nggak, Lea?" Tanya Firda sambil menahan tawa.
"Jelas, bukan cuma disusui tapi di ekhmm ekhmmm." Jawab Alea ambigu.
"Ekhmm ekhmm apa tuh?" Tanya Fade, pura-pura tidak tahu.
"Anda jangan pura-pura tidak tahu, Tuan. Bukankah Anda juga begitu." Mondy yang sedang menyetir ikut menimpali candaan di belakang.
__ADS_1
Mereka semua sama-sama tertawa, menikmati perjalanan ditemani candaan dari mulut mereka. Keharmonisan seperti ini yang sangat diinginkan oleh orang-orang dan mereka beruntung bisa merasakannya setelah sedikit ada percekcokan.
Sementara Alkano bersama neneknya, Tristan memanfaatkan kesempatan untuk bermanja dengan istrinya.
Mereka duduk di kursi depan, tidak terlalu depan tapi paling depan diantara yang lainnya.
Tristan bersandar di bahu sang istri, tangannya bahkan melingkar di perut Alea dan memberikan usapan disana.
"Sayang, kira-kira Alkano kapan ya punya adik." Celetuk Tristan tanpa menatap istrinya.
"Minimal usia dia tiga tahun, Mas. Aku nggak mau Al sampai kekurangan kasih sayang." Jawab Alea dengan cepat.
"Masih lama dong, sedangkan dia saja baru mau tiga bulan …" sahut Tristan menekuk wajahnya.
"Sabar, lagian kenapa sih ngebet banget. Al saja belum enam bulan, ini papinya malah nanyain kapan punya adik lagi." Cetus Alea geleng-geleng kepala.
"Agak lain memang suami mu, Lea." Fade dan Firda yang duduk tepat di belakang mereka mendengar ucapan mereka.
Tristan menatap ke belakang, ia menyipitkan matanya pada iparnya itu.
"Nyahut aja kayak google maps." Ketus Tristan.
"Sayang, masa aku di samain sama google maps." Ucap Fade pada istrinya.
"Lhoo, kan memang sama. Sama-sama menyesatkan." Sahut Firda semakin tertawa, sementara Fade namun menirukan cucian kotor, kusut.
Dibelakang asik bercanda bersama masing-masing. Alea dan Tristan, Firda dan Fade, mertua Alea bersama cucu mereka. Begitupun dengan Aira di depan.
Wanita itu duduk di sebelah suaminya yang sedang menyetir mobil. Untung saja mobil tersebut punya pintu penghubung agar sampai ke pengemudi.
"Aku capek, mau tidur." Ucap Aira dengan manja.
Kebetulan lampu merah, Mondy melepas stir dan beralih mengusap kepala sang istri dengan lembut.
"Pindah ke belakang gih, nggak nyaman kan duduk disini." Tutur Mondy lembut.
Aira menggeleng. "Iya nggak nyaman, tapi maunya bobok di bahu kamu." Sahut Aira semakin manja.
__ADS_1
Mondy gemas sekali, jika saja ini bukan di jalan mungkin ia sudah mendekap istrinya erat-erat dan mengajaknya tidur bersama.
Mondy tersenyum hangat. "Nanti ya, Sayang. Nggak lama lagi sampai kok," tutur Mondy lembut.
Aira menghela nafas pasrah, ia mengangguk dan akan menunggu sampai di tempat agar ia bisa tidur sambil memeluk suaminya yang tampan itu.
"Mas, kamu gantian dong nyetirnya sama Mondy. Kasihan tuh Aira, kayaknya mau tidur sama suaminya." Tutur Alea.
"Lagian kenapa tadi nggak bawa sopir saja buat gantian." Tambah Alea.
"Sopir mana? Dia kan pulang kampung, aku nggak bisa sembarangan pilih orang untuk stir mobil yang penumpangnya keluarga kita." Sahut Tristan geleng-geleng kepala.
Tristan mengecup bibir istrinya, ia lalu bangkit dan melangkah ke depan.
Tristan mengusap kepala adiknya, membuat Aira mendongakkan kepalanya.
"Mon, ayo gantian. Kasihan anak bayimu ini mau di timang-timang." Tutur Tristan dibarengi ledekan terhadap adiknya.
"Kakak …" tegur Aira menekuk wajahnya.
"Apa sih, manja banget sama suami." Sahut Tristan makin gencar menggoda adiknya.
Aira menoleh ke belakang. "Ma, kak Tristan meledekku!!" Adu Aira.
"Tristan!" Tegur mama Saras melototkan matanya.
Tristan hanya tertawa, sementara Mondy pun lekas meminggirkan mobilnya. Kini giliran Tristan yang menyetir setelah perjalanan jauh Mondy yang melakukannya.
Melihat suaminya, Alea kini yang duduk di depan untuk menemani Tristan. Alea tahu juga menyetir itu membosankan dan butuh teman mengobrol.
"Sayang, sekarang kan aku nyetir mobil, nanti malam nyetir kamu ya." Ucap Tristan ambigu.
"Maksudnya gimana?" Tanya Alea kebingungan.
"Jatah di tempat baru, Sayang. Aku yang pimpin," jawab Tristan menjelaskan sambil menaik turunkan alisnya.
Alea melotot, ia lekas mencubit perut suaminya yang selalu asal saat bicara. Asal maksudnya adalah tidak kenal tempat dan situasi.
__ADS_1
INI SEBENTAR LAGI TAMAT YA😙
Bersambung............................