Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Hinaan Fade


__ADS_3

Fade baru saja keluar dari kantornya. Cuaca hujan disertai angin membuat penglihatan Fade pada jalanan sedikit buram. Jika saja mobil tidak memiliki wiper, sudah pasti ia tidak bisa melihat.


Beberapa jalanan yang ia lalui sudah teredam air, sehingga membuat jalanan sedikit macet karena terhambat oleh genangan air itu.


Fade menghela nafas, ia benci sekali dengan yang namanya banjir, sebab hal itu membuat dirinya terlambat untuk pulang ke apartemennya.


Fade ingin cepat sampai, sebab ia tahu jika hari ini Linda akan datang ke apartemennya dan mereka tinggal bersama.


Hal seperti ini sudah Fade nantikan sejak lama, namun entah mengapa sekarang tiba-tiba saja ada perasaan mengganjal. Ia merasa seperti ada yang salah dengan keputusannya.


Pikiran Fade tiba-tiba teringat mantan kekasihnya yang tidak sengaja ia temui beberapa hari lalu. Gadis yang paling ia benci dalam hidupnya, entah mengapa beberapa hari belakangan ini justru terus memenuhi pikirannya.


"Sial." Umpat Fade seraya memukul stir mobilnya.


Fade membelokkan mobilnya ke salah satu minimarket yang juga menjual kopi. Ia akan menghilangkan pening di kepalanya dengan minum kopi tersebut.


Sebenarnya ia ingin pergi ke kafe atau restoran, namun di sekitar sana tidak ada, apalagi jalanan kini sedang banjir, membuat Fade malas untuk mencari-cari.


Fade keluar dari mobilnya dengan tangan yang menutupi kepala, ia berlari kecil ke dalam minimarket tersebut dengan keadaan baju yang sedikit basah di beberapa titik.


Saat Fade melangkah, kaki jenjangnya tidak sengaja menyandung kaki rak makanan hingga membuat dirinya nyaris jatuh, jika tangannya tidak di tarik oleh seseorang.


"Ya ampun, terima–" ucapan Fade terhenti ketika melihat siapa yang telah menarik tangannya dan membuatnya tidak jadi terjatuh.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya gadis itu dengan pelan.


Fade menepis tangan Firda yang memegang pergelangan tangannya, ia tidak menjawab dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Firda.


Firda menghela nafas, ia lantas mengejar Fade dan memegang pergelangan tangan pria itu lagi.

__ADS_1


Firda sangat senang bisa bertemu Fade disana dengan pria itu yang sendiri. Ia ingin bicara empat mata dengan Fade dan meluruskan kesalahpahaman diantara mereka.


"Fad, sekali aja. Aku mohon dengerin aku ngomong," pinta Firda seraya mengikuti Fade yang mengambil barang demi barang.


Fade tidak mendengarkan, ia terus mengambil barang-barang yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Niatnya kan tadi ingin membeli kopi, namun untuk menghindari Firda ia harus melakukan ini.


"Fad, sekali aja biarin aku menjelaskan. Setelah itu, aku nggak akan lagi berusaha untuk bicara sama kamu." Pinta Firda.


Firda menatap pria yang semakin tampan saja, dan ia sangat senang mengetahui jika Fade bisa hidup dengan baik, meski bukan bersamanya.


"Aku tidak butuh penjelasan apapun." Ketus Fade menjauhkan diri dari Firda.


Mata Firda berkaca-kaca, ia menatap Fade dengan penuh rasa sakit. Rasanya ia ingin sekali berlari dan memeluk pria itu seperti dulu.


Tapi semua telah berubah sejak tuduhan yang dilontarkan kepadanya dulu. Firda sangat menyesal telah mempercayai Linda.


"Fad, Linda tidak sebaik yang kamu pikirkan." Ucap Firda lirih.


"Omong kosong apa yang ingin kau katakan, hah!" Fade mencengkram tangan Firda dengan kasar.


Firda tampak kesakitan, namun ia berusaha untuk menahannya demi bisa merasakan kembali sentuhan hangat dari tangan Fade.


"Linda nggak sebaik pikiranmu, dia yang usah nuduh–" ucapan Firda yang hendak menjelaskan terhenti karena Fade.


"Setidaknya dia tidak seburuk wanita sepertimu. Kau wanita murahan, dan sangat rendah. Tidak akan ada pria yang mau bersanding dengan wanita bayaran sok polos sepertimu, Firda." Potong Fade dan langsung melontarkan banyak hinaan pada Firda.


"Sementara Linda? Dia wanita baik-baik, dan aku sangat mencintainya. Dia begitu menghargai aku sebagai pasangannya, bukan sepertimu yang terus bergonta-ganti pasangan." Tambah Fade semakin menusuk hati Firda.


Firda terdiam, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes. Wanita itu sangat sakit hati mendengar tiap kalimat yang Fade katakan untuk menghinanya.

__ADS_1


Fade menepis tangan Firda, ia mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Firda yang sudah basah karena air mata.


"Jangan sesekali kau menyebut Linda tidak baik apalagi murahan, karena aku tahu yang mana yang benar. Kau lah yang murahan, kau yang jahat dan sangat menjijikan." Kata Fade lagi yang semakin tidak bisa mengontrol ucapannya.


Firda memejamkan matanya, ia menangis dengan air mata yang semakin deras. Namun setelah beberapa saat, ia pun menyeka air matanya.


"Baik, jika itu penilaian kamu. Maka aku tidak akan berusaha untuk mengubahnya," balas Firda lembut.


Meksi sudah diperlakukan dengan begitu kasar, Firda yang tabiatnya lembut dan sabar tetap saja menjaga intonasi suaranya ketika bicara dengan Fade.


Firda menatap Fade, ia menatap mata tajam yang mempesona itu dengan tatapan penuh rasa sakit.


"Aku hanya berdoa, semoga apa yang kamu sudah putuskan adalah yang terbaik. Berbahagialah, Fad. Aku tidak akan mencoba untuk menjelaskan apapun lagi padamu, bahkan aku akan menganggap bahwa kita tidak saling kenal." Tambah Firda dengan nada yang semakin rendah.


Firda pun akhirnya pergi meninggalkan pria yang masih sangat dicintainya, namun juga sangat membuatnya sakit hati.


Dibawah guyuran air hujan, Firda tidak peduli seluruh pakaiannya basah. Ia hanya ingin segera sampai di rumah dan berhenti menangisi apa yang kini ia terima.


Sementara Fade, pria itu menatap kepergian Firda dengan tajam dan juga nanar. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba saja berdenyut ketika Firda sudah tidak lagi terlihat dari sorot matanya.


Percaya atau tidak, namun ketika ia menghina Firda dengan ucapannya, ia ikut merasakan sakit yang teramat dalam.


Bibirnya berucap pedas, namun hatinya seperti ikut merasakan kesedihan yang Firda alami.


"Shittt!! Hentikan, Fad. Wanita itu tidak baik, dan hanya Linda lah yang benar-benar mencintaimu." Gumam Fade mengumpat kesal saat denyutan di dadanya tidak kunjung berhenti.


Hal lain yang membuatnya merasa aneh adalah, ketika gadis itu mengatakan bahwa mereka tidak saling mengenal. Fade seakan ingin mengatakan pada Firda bahwa itu tidak akan pernah terjadi.


Karena bagaimanapun, mereka berdua pernah sangat dekat dan saling mencintai.

__ADS_1


FADE, MENYESAL ITU BELAKANGAN LHO😚


Bersambung...................................


__ADS_2