Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Masuk rumah sakit


__ADS_3

Tristan memasang wajah datar saat mama Saras terus saja menasehatinya tentang seorang anak yang durhaka karena lebih membela istri daripada orang tua.


Tristan tidak peduli ucapan ibunya, ia datang kesini adalah untuk menjenguk sang papa yang kini terbaring di atas ranjang dengan infusan di tangannya.


"Tristan, kamu dengarkan apa yang mama bicarakan?" tanya mama Saras saat putranya itu hanya diam.


"Tidak." Jawab Tristan dengan enteng.


Tristan lalu menatap sang mama. "Anda pasti tahu bahwa saya tidak suka mendengarkan ocehan tidak berguna." Tambah Tristan memperjelas.


Mama Saras melotot, ia bangkit dari duduknya lalu berdiri di depan Tristan dengan rasa kesal.


"Kamu itu benar-benar sudah teracuni oleh perempuan itu, Tristan!" seru mama Saras dengan emosi yang meletup-letup.


"Jangan lanjutkan ucapan anda jika hanya ingin menjelekkan istri saya, Nyonya Kusuma." Tegur Tristan dengan sorot mata tajam.


Mama Saras mengepalkan tangannya, ia hendak berucap namun suaminya duluan berbicara dan menjadi penengah.


"Ma, sudahlah. Hentikan semua ini, sudah saatnya kita menerima istri Tristan sebagai menantu. Papa nggak mau terus begini, perusahaan butuh Tristan dan kita juga butuh dia sebagai anak." Tegur papa Jaya menimpali.


Mama Saras melotot. "Papa mulai membela perempuan itu juga?!" tanya mama Saras terkejut bukan main.


Mama Saras bertepuk tangan. "Wahh, Tristan. Hebat sekali istrimu, entah sihir apa yang digunakannya sampai membuat papamu ikut luluh." Celetuk mama Saras.


"Atau jangan-jangan, papa sakit juga karena diguna-guna wanita itu." Tambah mama Saras dengan begitu sembarangan.


"NYONYA KUSUMA!!" bentak Tristan.


Habis sudah kesabarannya tatkala sang mama menuduh istrinya melakukan hal keji. Alea bukan wanita seperti itu, Alea wanita baik-baik.


"Tristan, sudah berani kamu membentak mama hah!" sahut mama Saras.


"Anda yang membuat saya seperti ini, saya sebagai suaminya tentu tidak terima jika istri saya di fitnah oleh ucapan kotor anda." Balas Tristan tidak mau kalah.


"Mama ini ibu kamu, Tristan." Ucap mama Saras seakan mengingatkan dimana posisi Tristan.


"Anda wanita yang melahirkan saya, dan saya sangat menghormatinya. Tapi saya juga seorang suami, saya tidak bisa hanya diam saat istri saya terus saja dihina." Ujar Tristan dengan begitu tegas.


Papa Jaya batuk-batuk, ia lelah melihat anak dan istrinya terus saja bertengkar apalagi saat ini kondisinya sedang sakit.

__ADS_1


"Ma, Tristan. Hentikan, mari kita berdamai seperti dulu." Ucap papa Jaya.


"Dan kamu, Ma. Apa salahnya menerima Alea, lagipula anak kita mencintainya." Tambah papa Jaya.


Mama Saras menatap suaminya. "Jelas mama nggak mau, Pa. Mama nggak akan biarin keluarga kita yang terpandang ini dipermalukan karena memiliki menantu seperti perempuan itu." Balas mama Saras.


Tristan mengepalkan kedua tangannya, ia menatap kedua orang tuanya bergantian. Tristan mampu hidup berdua saja dengan Alea, tanpa campur tangan orang tuanya.


"Kalo begitu jangan pernah menganggapnya sebagai menantu. Dia sudah lebih baik menjadi nyonya Tristan saja," tegas Tristan.


"Tapi kalian jangan pernah menganggap ku sebagai anak." Tambah Tristan.


Tidak ada keraguan dalam ucapan Tristan, pria itu begitu yakin dan lantang dalam berucap. Tristan tidak bermaksud durhaka, namun sudah tertulis jelas bahwa seorang suami wajib membela istrinya jika istri itu tidak bersalah.


"Jangan, Nak. Jangan lagi, sudah cukup sekali kamu mengatakannya." Ucap papa Jaya seraya memegangi dadanya.


"Begitu saja kamu terus, Tristan. Mama semakin nggak merestui hubungan kamu dengan wanita itu." Teriak mama Saras.


Tristan membalik badan, ia tidak mempedulikan ucapan orang tuanya dan tetap melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kamar orang tuanya.


"T-Tristan, akhhhh sakit." Ucap papa Jaya berteriak kesakitan sambil memegangi dadanya.


"Tristan!!! Tristan tolong papa kamu!!" teriak mama Saras.


Tristan yang kala itu sudah mau pergi dengan Mondy langsung terkejut, mereka berdua berlari masuk ke dalam kamar dan melihat papa Jaya kesakitan.


"Papa!!" teriak Tristan buru-buru mendekati sang papa.


Mama Saras menangis, ia lalu meminta Tristan untuk membawa papa Jaya ke rumah sakit.


Tristan menggendong sang papa di belakang, lalu membawanya pergi keluar dari kamar.


Mondy sigap membuka pintu mobil agar Tristan bisa masuk, setelah itu mereka pun pergi meninggalkan rumah menuju rumah sakit.


"Hiks … papa, sabar ya. Kita ke rumah sakit sekarang." Ucap mama Saras sambil menangis.


Papa Jaya tidak bicara apa-apa, ia hanya meringis merasakan nyeri di dadanya yang semakin terasa berdenyut.


"Tenang, Pa. Kita akan segera sampai rumah sakit." Tutur Tristan menggenggam tangan sang papa.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, papa Jaya langsung mendapatkan perawatan dari dokter. Tristan, mama Saras dan Mondy menunggu dengan rasa khawatir.


"Mon, hubungi rumah dan katakan jika kita pulang terlambat. Aku tidak bisa meninggalkan papa." Ucap Tristan dengan nafas terengah-engah.


"Dan satu lagi, atur ulang pertemuan kita hari ini." Tambah Tristan memberi perintah.


Mondy mengangguk. "Baik, Tuan." Balas Mondy lalu segera mengubungi orang rumah.


Mondy sedikit menjauh untuk mengubungi telepon rumah utama, dan ternyata yang mengangkat adalah Aira, istrinya.


"Ai, katakan pada nona Alea jika aku dan tuan Tristan terlambat pulang. Tuan besar masuk ke rumah sakit." Ucap Mondy pada istrinya.


"Apa! Iya-iya, baiklah. Aku akan mengatakan pada nona,"


"Kamu jaga nona Alea ya, Sayang. Jaga diri kamu juga, aku akan segera pulang." Tutur Mondy lalu lekas menutup teleponnya.


Sementara itu di rumah utama, Aira mendekati Alea setelah ia mengangkat telepon dari suaminya.


"Siapa, Ai?" tanya Alea.


"Mas Mondy, Kak." Jawab Aira.


Alea tersenyum. "Kenapa dia menggunakan telepon rumah jika merindukan istrinya, kenapa tidak mengubungi kamu langsung." Kata Alea geleng-geleng kepala.


Aira duduk di sebelah Alea. "Kakak, suami aku bilang mereka akan pulang terlambat. Tuan besar masuk ke rumah sakit." Jelas Aira sedikit ragu.


Alea bangkit dari duduknya. "Apa? Papa masuk ke rumah sakit?" Kejut Alea.


Alea lantas meraih ponselnya, ia berusaha untuk mengubungi Tristan namun tidak diangkat. Pria itu malah tiba-tiba mengirim pesan padanya.


"Sayang, maaf. Aku pulang telat ya, papa masuk ke rumah sakit. Aku tidak bisa pergi meninggalkan nya." Tulis Tristan dalam pesannya.


Alea khawatir, bagaimana pun papa Tristan adalah mertuanya. Namun Alea tidak boleh memaksa untuk kesana, ia yakin nanti Tristan akan mengajaknya untuk bertemu papa Jaya di rumah sakit.


"Kakak, kau tidak apa-apa kan? Aku akan menemani kakak sampai mereka pulang." Tutur Aira.


Alea mengangguk. "Makasih banyak ya, Ai." Balas Alea.


EMAKNYA TRISTAN INI AGAK NGESELIN YA🙃

__ADS_1


Bersambung...............................


__ADS_2