
Firda membuka matanya ketika merasa sebuah pergerakan dari tangan yang ia genggam. Firda mengangkat kepalanya dan terkejut melihat jari-jari tangan Fade bergerak.
"Fad." Lirih Firda.
Firda bangkit dari duduknya, ia lalu menekan tombol yang berfungsi untuk memanggil dokter.
Setelah menekan tombol, Firda kembali duduk di kursi sebelah bangsal sembari menggenggam tangan Fade.
Mata Firda berbinar dengan air mata yang menggenang tatkala mata Fade perlahan-lahan terbuka.
"Fade." Lirih Firda dengan air mata yang menetes tanpa diminta.
Tidak lama kemudian dokter dan suster datang, mereka langsung melakukan tugas masing-masing untuk memeriksa pasien mereka.
Firda menjauh sedikit, namun ia tidak mau melepaskan genggaman di tangan Fade.
Firda mengambil ponsel di saku celananya, ia menghubungi nomor mama nya Fade untuk memberitahu kabar tentang Fade yang sudah siuman.
"Halo, Nyonya. Fade sudah sadar, bisa anda kesini?" pinta Firda dengan suara bergetar.
"Apa? Benarkah! Iya, Nak. Saya sudah di lobby rumah sakit, tunggu." Balas mama Fade. Suaranya terdengar sumringah saat Firda bicara soal Fade yang sudah sadarkan diri.
Setelah berucap demikian, panggilan pun diakhiri. Firda kembali menyimpan ponselnya diatas nakas, ia kembali menatap dokter yang masih memeriksa kondisi Fade.
"Dok, bagaimana kondisi Fade?" tanya Firda dengan penuh harapan.
Dokter tidak langsung menjawab, ia masih sibuk memeriksa Fade yang masih diam dengan pandangan lurus ke arah langit-langit kamar.
"Kondisinya sudah jauh lebih baik, namun seperti yang saya bilang sebelumnya ya, Nona." Jawab dokter singkat.
Dokter itu seakan enggan mengatakan perihal kondisi Fade di depan pria itu secara langsung, sehingga ia memberikan kalimat singkat namun dapat dimengerti oleh Firda.
Tidak lama kemudian ibu dan ayahnya Fade datang. Keduanya langsung mendekat, terutama mama Fade yang langsung memeluk erat tubuh putranya.
"Fade, anakku." Ucap mama Fade sambil menangis.
Firda menjauhkan diri, maka dari itu tentu saja pegangan tangannya harus terlepas dari tangan Fade.
"Fade, Nak! Bagaimana keadaan kamu?" tanya papa Fade.
Fade tidak langsung menjawab, pria itu menatap kedua orang tuanya lalu mengangguk singkat.
"Apa yang terjadi, Ma? Kenapa aku disini? Linda mana?" tanya Fade sedikit terbata-bata.
__ADS_1
Jantung Firda terasa ditusuk saat mendengar Fade menanyakan soal Linda.
Benar, pria itu hanya mengingat sebagian ingatannya saja, dan yang hilang adalah ingatan bersama dirinya.
Firda hanya bisa menarik nafas, ia berusaha untuk tegar, karena sejujurnya ini semua memang kesalahan nya.
"Kondisi pak Fade baik-baik saja, tolong jangan terlalu memaksa nya bicara ya. Dia baru sadar," tutur dokter sebelum pergi meninggalkan ruang rawat pasiennya.
Kini tinggal kedua orang tua Fade, Firda dan tentunya Fade sendiri. Entah sadar ataupun tidak, tapi Fade seakan tidak melihat adanya Firda disana.
Fade tampak berusaha untuk bangun dan sedikit duduk, namun ia kesulitan karena kakinya sulit untuk bergerak.
"Ma, kenapa kaki aku nggak bisa digerakkan?" tanya Fade seraya meraba kakinya.
Mama Fade dan papa Fade saling pandang, mereka tampak sedih mendengar pertanyaan dari putra mereka barusan.
"Ma, Pa!!" ucap Fade sedikit berteriak.
Mama Fade mengusap kepala putranya. "Kamu lumpuh sementara, Fad." Jelas mama Fade lirih.
"APA!!" teriak Fade penuh rasa terkejut.
"Apa maksud mama, apa yang terjadi padaku sampai-sampai aku lumpuh, Ma!!" teriak Fade tidak terima.
Fade tidak ingat apapun, seingatnya ia sedang jalan-jalan bersama kekasihnya, Linda. Namun entah apa yang terjadi sampai-sampai ia bisa disini.
"Kecelakaan, lalu dimana Linda? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Fade dengan penuh kekhawatiran.
Firda menutup mulutnya, ia membelakangi Fade dan kedua orang tuanya yang sedang bicara.
"Dimana Linda, Ma, Pa?" tanya Fade mengulang pertanyaan nya.
Papa Fade menggeser tubuhnya, sehingga Fade bisa melihat sosok gadis yang sedang berdiri membelakanginya.
"Linda." Panggil Fade lembut.
Firda benar-benar merasa sesak. Sejak awal ia masih sangat mencintai Fade, tapi ia sulit untuk menerima kenyataan bahwa pria itu adalah orang yang menjadikan Alea sebagai perebut.
Dan lihatlah akibat dari perbuatannya sendiri. Kini dirinya lah yang tersakiti, pria yang selalu bicara lembut beberapa saat terakhir kini tidak lagi mengingatnya.
"Linda." Panggil Fade lagi.
Ada keraguan di wajah Fade saat melihat postur tubuh gadis itu beberapa dengan postur tubuh kekasihnya.
__ADS_1
Firda menyeka air matanya, ia lalu mengulas senyumannya, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk membalik badan.
"Hai, Fad." Sapa Firda dengan senyuman manis.
"KAU!!!" bentak Fade dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.
Tatapan itu benar-benar berbeda dengan tatapan Fade berhari-hari belakangan, sebelum kejadian kecelakaan terjadi.
Fade yang sebelumnya menatap hangat dan penuh cinta, kini malah menatapnya dengan penuh kebencian.
Fade pasti hanya mengingat bahwa ia adalah gadis bayaran, seperti yang pernah Linda tuduhkan.
"Mau apa kau disini hah! Wanita murahan sepertimu untuk apa datang kesini!!" bentak Fade tidak suka.
Firda menahan nafasnya, ia benar-benar berusaha untuk menghentikan air mata yang sejak tadi rasanya ingin keluar.
"JAWAB, APA KAU TULI!!" bentak Fade semakin tinggi.
"Fade, tenangkan dirimu." Tutur sang mama sambil mengusap bahu putranya.
"Mungkin kamu lupa, Fad." Ucap papa Fade tiba-tiba.
Kening Fade mengkerut, ia menatap sang papa yang baru saja bicara hal yang tidak ia mengerti.
"Apa maksud papa?" tanya Fade.
"Akibat kecelakaan yang kamu alami, ingatan kamu hilang sebagian. Kamu pasti lupa bahwa Firda adalah istrimu." Jelas papa Fade.
Fade dan Firda sama-sama terkejut. Firda tentu saja kaget, sebelumnya tidak ada pembicaraan apapun, dan sekarang secara tiba-tiba ia disebut sebagai istri Fade.
"Nggak mungkin! Nggak mungkin aku menikahi wanita bayaran ini." Sarkas Fade tidak terima.
"Tapi dia istri kamu, Fad." Sahut mama Fade.
Firda yang semakin bingung hanya bisa diam. Rasanya tubuh Firda bisa mati sebentar lagi karena tatapan Fade yang tajam dan membunuh.
"Kau pasti menjebakku kan? Aku tidak pernah mencintaimu, apalagi sampai menikah denganmu. Itu MUSTAHIL!!" ucap Fade dengan nada terus saja meninggi.
Firda memasang wajah penuh senyuman, ia lalu mendekati Fade dan menggenggam tangan pria itu.
"Tapi aku memang istri kamu, Fad. Aku istri sah kamu," ucap Firda dengan suara gemetaran.
WAHHH PENGAKUAN YANG SANGAT-SANGAT YAAAðŸ˜
__ADS_1
Bersambung................................