Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Kabar kehamilan


__ADS_3

Firda menangis di dapur, ia kembali merasakan sakit hati akan ucapan mertuanya. Hari ini, ia dan Fade kedatangan kedua orang tua Fade.


Papa Yudi kembali mengatakan bahwa dia belum mau menerima Firda sebagai menantu. Ia tidak memikirkan bagaimana perasaan menantunya, ia hanya memikirkan ucapan apa yang bisa membuat Firda memilih pergi dari Fade.


Sambil mengaduk minumannya, Firda sesekali menyeka air matanya. Ia tidak boleh menangis dan membuat suaminya semakin marah pada papanya.


Selesai membuat minuman, Firda lekas membawanya ke ruang tamu. Tidak ada pembicaraan, hanya papa Yudi yang terus melontarkan kata-kata pada Fade.


Fade sendiri tampak kurang peduli, ia memainkan ponselnya, namun saat Firda datang ia mengalihkan pandangannya.


"Sini, Sayang." Pinta Fade menepuk sofa di sebelahnya.


Tanpa membantah sama sekali, Firda pun duduk di sebelah sang suami. Ia melempar senyuman, berusaha terlihat baik-baik saja.


"Kamu, masih belum mau meninggalkan putra saya hah!" Tegas papa Yudi, tatapannya tampak tajam dan menusuk.


"Pa." Tegur mama Nuri, mengusap punggung suaminya agar bisa bicara lebih tenang.


Firda menundukkan kepalanya, nyatanya untuk tidak menangis sulit sekali. Mendengar suara papa Yudi saja tubuhnya bergetar ketakutan.


"Putra saya anak baik-baik, sedangkan kamu saya nggak tahu. Lebih baik pergi dari kehidupan putra saya, karena saya sudah memilih calon yang paling cocok dengannya." Ucap papa Yudi lagi.


Fade bangkit dari duduknya. "Hentikan, Pa! Berhenti memojokkan istriku, lebih baik papa pergi dari rumahku." Usir Fade.


Mama Nuri juga ingin pergi, bukan karena dia membenci Firda, justru ia mau mengajak suaminya agar lekas pergi daripada terus melontarkan kalimat menyakitkan pada wanita itu.


"Pa, hentikan semuanya. Kasihan Firda, bagaimanapun Fade mencintai nya, biarkan mereka bahagia." Ucap mama Nuri sedih.


Papa Yudi menggeleng tegas. "Nggak akan pernah, Ma. Dia ini kakak dari wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga orang lain, bukan tidak mungkin jika dia juga pernah begitu." Sahut papa Yudi.


Firda semakin menangis, bahunya bergetar. Ia berusaha untuk bangkit dari duduknya, lalu menatap ayah mertuanya.

__ADS_1


"Papa boleh hina aku, tapi tolong jangan bawa-bawa adikku. Dia bukan wanita seperti itu," pinta Firda sambil berlinang air mata.


"Bukan wanita bagaimana hah, jelas-jelas dia membuat rumah tangga anak keluarga Kusuma berantakan." Balas papa Yudi.


"PAPA!!" Fade akhirnya membentak setelah berusaha untuk sabar.


"Apa? Kamu mau melawan papa demi wanita ini?" Sahut papa Yudi.


Firda merasakan sakit di kepalanya, ia memegangi kepalanya dan sedikit memberikan cengkraman di rambutnya.


"Akhhh, kepalaku sakit sekali." Gumam Firda.


Fade menatap istrinya, ia memegang bahu sang istri yang tubuhnya perlahan merosot. Firda pingsan, wanita itu tidak sadarkan diri.


"Sayang, hei … buka mata kamu, Sayang." Pinta Fade menepuk pipi istrinya.


Mama Nuri mendekati Fade dan Firda, ia memegang kening menantunya.


Fade segera menggendong istrinya, ia lalu berlari dan membawa sang istri ke kamar.


Fade sangat khawatir, ia takut sesuatu terjadi pada istrinya yang tiba-tiba saja pingsan.


Papa Yudi mengikuti langkah istrinya, ia sedikit terkejut saat istri putranya itu pingsan.


Papa Yudi melihat Fade sangat khawatir pada istrinya, bahkan seperti ingin menangis.


Sebagai ayah, ia bisa merasakan cinta yang begitu besar dimiliki putranya untuk wanita yang sekarang berbaring tidak sadarkan diri.


"Ma, berapa lama dokternya?" Tanya Fade dengan tergesa-gesa.


"Dalam perjalanan, Fad. Sabar ya," jawab mama Nuri yang juga tampak khawatir.

__ADS_1


Setelah menunggu sekitar 20 menit, dokter pun datang dan langsung memeriksa kondisi Firda.


"Dok, bagaimana istri saya?" Tanya Fade.


"Tidak ada masalah apa-apa, dia hanya kelelahan. Kondisi seperti ini biasa dialami oleh wanita yang sedang hamil muda." Jawab dokter menjelaskan.


"Hamil muda, maksudnya istri saya hamil?" Tanya Fade gugup.


"Benar, Pak. Selamat ya," jawab dokter penuh senyuman.


Mendengar apa yang dokter katakan membuat Fade sangat bahagia, ia mencium kening dan punggung tangan istrinya, lalu mengusap perut rata Firda.


"Nak, selamat datang di perut mama." Bisik Fade dengan mata berkaca-kaca.


Mama Nuri ikut tersenyum. "Selamat ya, Nak." Ucap mama Nuri.


Fade mengangguk. "Terima kasih, Ma. Aku bahagia sekali, Ma. Aku sangat-sangat bahagia." Ungkap Fade lalu memeluk tubuh istrinya.


Sementara papa Yudi, ia tampak terdiam di tempatnya. Wanita yang ia buat tidak sadarkan diri itu tengah mengandung.


Mengandung anak dari putranya, atau dengan kata lain adalah cucunya.


"Ma, dia hamil anak Fade?" Tanya papa Yudi pelan.


Fade menoleh. "Puas papa? Papa memarahi istriku yang sedang hamil!" Fade menyahut dengan penuh kekecewaan.


Papa Yudi terdiam, ia seakan merasa menjadi orang paling berdosa karena membuat calon cucunya menderita karena tekanan pikiran.


NAH KAN, NYESEL BARU NYAHO🙃


Bersambung..............................

__ADS_1


__ADS_2