
Di sebuah ruangan yang hanya diterangi lampu berwarna kuning, terlihat dua orang wanita sedang duduk dengan tubuh terikat di kursi kayu. Salah satu dari mereka terlihat begitu lemah, sebab kondisinya yang sedang hamil muda dan belum makan apapun sejak siang tadi.
Wanita itu terlihat hampir tidak sadarkan diri, namun kakaknya terus memanggil agar dia tetap sadar.
"Alea, Alea lihat aku. Jangan tutup mata, Lea. Aku yakin pasti akan ada yang menolong kita," ucap Firda kepada adiknya.
Alea yang berada di sebelahnya tampak begitu lemah, wajahnya sudah pucat dengan dipenuhi oleh peluh yang membasahi sedikit rambutnya juga.
"Kakak, hiks … aku haus," lirih Alea dengan sedikit sesak.
Tali yang mengikat terlalu erat, bahkan membuat perutnya sedikit tertekan karenanya. Perut Alea sakit, tapi masih bisa ia tahan. Namun dahaga, Alea benar-benar haus sekali saat ini.
"Lea, aku akan berusaha melepaskan ikatan ini. Tunggu ya," tutur Firda dengan air mata yang juga sudah lolos dari matanya.
Alea menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, wanita itu menangis sesenggukan ketika mengingat kejadian tadi siang.
Ia yang kala itu tengah bersantai tiba-tiba mendengar suara bel apartemen. Alea yang mengira itu adalah suaminya lantas dengan penuh semangat langsung membukanya.
Alea tidak berpikir kenapa Tristan harus menekan bel apartemen sementara Tristan bisa langsung masuk.
Dan benar saja, ketika Alea membuka pintu apartemen ternyata bukan suaminya. Sosok tinggi dengan pakaian serba hitam langsung membekap mulutnya dengan sebuah sapu tangan.
Alea kehilangan kesadarannya, dan ketika ia membuka mata, ia sudah berada disini dengan tubuh terikat.
"Kakak, aduh … perut aku sakit, Kak." Adu Alea dengan suara bergetar.
Firda panik, ia menatap adiknya dan berusaha untuk melepaskan ikatan tali yang mengikat hampir ke seluruh tubuh itu.
"Lea …" Panggil Firda histeris.
Ia benar-benar menyesal tidak bisa membantu adiknya, sungguh ia sangat benci dengan situasi seperti ini.
Adiknya kesakitan, tapi ia tampak tidak berdaya. Tubuhnya juga terikat sama seperti Alea. Firda tidak tahu siapa pelaku yang telah membuat mereka begini, tapi ia benar-benar memohon agar orang itu mau melepaskan Alea.
"Siapapun, tolong kami!!" teriak Firda dengan sangat keras.
Firda terus saja berteriak, sampai-sampai pintu yang ada di depan mereka terbuka dengan kasar. Seorang pria berperawakan tinggi besar masuk dengan tatapan tajam dan sarat akan kemarahan.
"Berisik, dasar wanita. Ada apa kau teriak-teriak?" tanya pria itu dengan nada tinggi.
Firda menoleh ke arah Alea yang terlihat memejamkan mata dengan nafas yang terengah-engah.
"T-tolong, tolong lepaskan adik saya. Dia sedang hamil, kasihan bayinya." Pinta Firda dengan nada sangat memohon.
Pria itu melirik Alea, namun bukannya menolong, pria itu malah pergi meninggalkan kedua wanita itu.
"Pak, tolong adik saya!!" teriak Firda semakin histeris.
Firda menggeser kursinya sedikit kesulitan, namun ia berhasil sedikit mendekatkan diri kepada adiknya.
"Alea, Alea dengarkan aku. Disini, di perut kamu ini ada bayi yang harus kamu jaga, kamu harus kuat demi dia dan suami kamu." Ucap Firda berusaha untuk mengajak adiknya bicara.
Alea membuka matanya, ia menatap sang kakak lalu mengangguk kecil. Alea kuat, ia hanya sedikit lemas karena haus. Alea bisa menahan lapar, tapi tidak dengan haus.
"Mas Tristan pasti menyelamatkan kita, Kak." Cicit Alea dengan suara sangat pelan.
Firda tersenyum mendengar suara adiknya lagi, ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Firda hanya berharap semoga pertolongan segera datang, dan Alea bisa segera dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1
Mereka yang sedang sama-sama melempar senyum dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka dengan kasar.
Terlihat seorang wanita masuk dengan lagaknya yang begitu sombong. Wanita itu tersenyum lebar melihat bagaimana kakak beradik itu terikat di tempat penyekapan nya.
"Nyonya Linda." Ucap Alea sangat pelan.
Linda tersenyum. "Hai, kita bertemu lagi Al– bukan. Kau bukan Alea, tapi nyonya Tristan Sagara." Sapa Linda meralat ucapannya.
Linda lalu beralih menatap Firda yang juga tengah menatapnya dengan tatapan membunuh dan penuh kebencian.
"Ck, dan satu lagi. Astaga, mantan kekasih pria yang aku cintai. Apa kabar Firda?" tanya Linda dengan tangan melambai.
"Lepaskan adikku, Linda. Apa maumu hah!" bentak Firda dengan sangat kencang.
Linda terkekeh, ia bertepuk tangan melihat keberanian Firda meski posisinya sudah sangat memprihatinkan.
"Kau memang selalu ambisius ya, mungkin itulah alasan kenapa kau masih hidup setelah aku menabrakmu waktu itu." Ucap Linda seraya bangkit dari duduknya.
Firda dan Alea saling pandang, jadi Linda lah pelaku tabrak lari yang Firda alami dulu. Wanita jahat itu yang hampir membuat nyawa Firda melayang.
"Jadi anda yang menabrak kakak saya?" tanya Alea mengerutkan keningnya.
"Yeah, aku yang menabraknya." Jawab Linda dengan sangat bangga.
Alea yang tadi terlihat lemah lantas berubah duduk dengan tegak, ia menatap wanita berbaju merah itu dengan tatapan tajam dan tidak menyangka.
Alea tahu jika Linda jahat, tapi ia tidak menyangka bahwa ada orang sejahat perempuan itu.
"Dulu saya merasa bersalah telah menjadi istri kedua suami anda, tapi sekarang tidak." Ucap Alea tiba-tiba.
"Pria berwibawa, hebat dan sangat kompeten seperti mas Tristan tidak pantas memiliki pasangan seperti anda. Wanita yang sangat jahat dan tidak memiliki hati nurani!" tambah Alea dengan berani.
"LINDA!!!" bentak Firda dengan mata terbelalak.
"Apa? Kau juga mau aku tampar hah!" sahut Linda tidak kalah berteriak.
Alea memejamkan matanya, ia merasakan sakit yang teramat di pipinya, bahkan ia merasakan sesuatu mengalir dari sudut bibirnya.
"Kau benar-benar wanita pengecut, kau tidak berani menghadapiku jika sendiri hah?" tanya Firda semakin berani.
Linda mencengkram wajah cantik Firda, ia menatap tajam dan penuh amarah mata Firda yang menatapnya dengan tatapan sama.
"Ini wajah yang membuat Fade selalu mencintaimu, bayangkan bagaimana jika wajah ini aku rusak dengan tanganku sendiri?" tanya Linda seraya mengusap pipi dan kening Firda.
"Jauhkan tangan kotormu dari wajah kakakku, wanita iblis!!" bentak Alea dengan nafas semakin menggebu-gebu.
Linda menghempaskan wajah Firda dengan kasar, kini ia beralih mencengkram wajah Alea yang bibirnya sudah berdarah akibat tamparan nya.
"Dan kau, Tristan menceraikanku karena dirimu. Aku dengar kau sedang hamil kan, bagaimana jika aku membunuh anak ini sekarang?" kata Linda dengan seringai di wajahnya.
"Kau tidak akan pernah bisa melakukan itu, suamiku akan datang dan membuatmu masuk ke penjara." Balas Alea tidak mau kalah.
Linda mengerem kesal, ia menjambak rambut Alea dan menariknya ke belakang, membuat wanita itu mendongakkan kepalanya.
"Leher ini terlihat cantik, bagaimana jika aku menggoresnya dengan pisau ya." Ucap Linda dengan gerakan seperti hendak menggores leher Alea.
Linda tersenyum lagi, ia lalu mencekik leher itu secara tiba-tiba. Linda tertawa dengan puas ketika melihat Alea yang sesak nafas.
__ADS_1
"Lepaskan adikku, Linda!" pinta Firda namun tidak dihiraukan oleh Linda.
Firda membenturkan kepalanya ke kepala Linda, tidak peduli ia juga merasakan sakit yang terpenting cekikan itu terlepas.
Linda terdorong, kepalanya pusing mendapatkan benturan dari Firda. Ia sampai oleng dan mundur ke belakang.
"Alea, kau tidak apa-apa?" tanya Firda.
Alea terbatuk-batuk, ia menganggukkan kepalanya lalu menatap sang kakak.
"Kak, kepalamu merah. Rasanya sakit kan," ucap Alea begitu sedih. Demi dirinya, kakaknya itu sampai rela kesakitan.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Jelas Firda berbohong.
Linda menampar wajah Firda dan Alea bergantian. "Kalian benar-benar adik dan kakak yang tidak tahu diri!" ucap Linda penuh kekesalan.
Linda lalu memanggil anak buahnya, hingga terlihat dua orang pria berbadan besar masuk. Orang-orang itu terlihat sangat menyeramkan.
"Kalian telah merebut cintaku, maka aku akan membuat malam ini menjadi malam kalian menjerit untuk yang terakhir kalinya." Ucap Linda penuh penekanan.
Linda membalik badan, ia mengambil tas miliknya yang ada di atas meja.
"Buka ikatan mereka dan pukuli mereka, jangan sampai tewas. Dan satu lagi, aku mau wanita hamil itu kehilangan bayinya!" Ucap Linda kepada anak buahnya.
"LINDA, KAU GILA HAH!!!" teriak Firda berusaha melepaskan diri namun tidak bisa.
Linda membalik badan, ia kembali menatap kakak adik itu bergantian.
"Buka dan pukuli sekarang, aku ingin melihatnya sebelum pergi. Mulai lah dari wanita hamil itu, dia berani-beraninya mengandung anak suamiku." Ucap Linda menunjuk Alea.
"Jangan kalian berani menyentuh adikku, menjauhlah!" teriak Firda saat salah satu dari pria itu membuka ikatan Alea.
Alea berusaha untuk memberontak, namun ia sangat lemas sehingga ia tidak memiliki tenaga yang cukup.
Tubuh Alea dihempaskan ke lantai, sampai-sampai membuat perut wanita itu semakin terasa sakit.
"Lea!!" Panggil Firda.
"Pukuli dia." Ucap Linda dengan wajah penuh kesenangan.
Salah satu dari mereka menyentak Alea untuk kembali berdiri lalu kembali di hempaskan. Kali ini dorongan mereka membuat perut Alea terbentur meja yang ada disana.
"Akhhh!!!" Alea berteriak kesakitan membuat dua orang itu berhenti.
Mereka saling pandang, namun karena suara Linda yang meminta mereka untuk menendang perut Alea, akhirnya mereka melakukannya.
Alea benar-benar terkulai tidak berdaya, wanita itu nyaris hilang kesadaran. Kaki Alea yang putih mulus sangat kontras dengan darah yang mengalir disana.
"ALEA!!!" teriak Firda semakin histeris.
Sementara Firda menangis, Linda justru tertawa dengan sangat lepas. Ia bertepuk tangan melihat istri kedua suaminya itu terkulai tidak berdaya.
"Hiks … nggak, anakku pasti nggak apa-apa. Sayang, kamu masih sama mami kan." Ucap Alea sambil menangis, tangannya mengusap perut yang semakin terasa sakit.
Alea berusaha untuk bangkit, ia bersandar ke meja yang ada disana, kemudian tangannya meraba darah yang mengalir di kaki dan membasahi lantai.
"Hiks ... anakku, kakak anakku!!!" teriak Alea semakin histeris.
__ADS_1
HARI INI AKU USAHAIN CRAZY UP YA, TAPI NGGAK JANJI.
Bersambung.........................................