
Mondy menatap tubuh Aira yang masih terbaring dengan tatapan nanar. Pria itu yang bertugas untuk menemani Aira yang masih belum sadarkan diri, sementara Alea dan Tristan pulang.
Tristan juga sudah memerintahkan Mondy agar menyuruh anak buah mereka mencari keberadaan pria yang telah melakukan penyerangan pada Alea dan Aira.
Mondy menghela nafas, ia menarik kursi yang ada di sana lalu duduk. Ia duduk tepat di sebelah brankar Aira.
Mondy geleng-geleng kepala, ia berdecak lalu mengalihkan pandangannya dari Aira.
"Kau benar-benar gadis ceroboh. Saat kau sadar nanti, kau harus siap menerima amarah dariku." Ucap Mondy pelan.
Mondy melipat tangannya di dada, tatapannya sama sekali tidak teralihkan dari wajah gadis cantik yang terlihat lebih pucat dari biasanya.
"Om, tolong jangan pecat aku. Aku nggak mau pulang!"
Terlintas ingatan dimana Aira memohon waktu itu. Mondy seketika menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil menepuk-nepuk nya pelan.
Mondy mengingat bagaimana raut wajah sedih Aira saat dirinya mengancam akan memecatnya.
"Kau takut aku pecat kan? Kalo begitu bangun! Bangun sekarang atau aku memecat mu." Ucap Mondy tegas.
Tubuh Aira tetap pada posisinya, terbaring tidak sadarkan diri. Bibir pink yang biasa Mondy lihat kini telah berubah pucat.
Ketika ingin kembali bicara, tiba-tiba saja ponsel Mondy berdering. Pria itu buru-buru mengangkat teleponnya dan segera keluar dari ruang rawat Aira.
Mondy mendapat kabar bahwa pria yang menyerang Alea dan melukai Aira telah ditangkap dan ditahan di markas.
Kabar itu ia dapatkan dari salah satu anak buah Tristan, maka dari itu ia segera menghubungi atasannya itu untuk memberi kabar ini.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, Alea baru saja kembali dari rumah sakit. Ia yang hampir setengah harian ini menjaga Aira, dan mengunjungi kakaknya sesekali.
Saat ini kondisi Aira maupun Fade sama-sama belum sadarkan diri, dan itu membuat mereka semua sedih.
Alea terkadang tidak menyangka bahwa di dunia ini, ada orang yang memiliki sifat jahat seperti Linda.
Wanita yang terlihat sangat sopan dan ramah ternyata menyimpan banyak rahasia di baliknya, bahkan kelakuan wanita itu sudah melebihi kata kriminal.
"Aku masih nggak nyangka Linda punya kaki tangan di rumah ini, Mas." Ucap Alea seraya menatap pantulan dirinya di cermin.
Tristan menoleh ke arah istrinya, ia lalu mendekati Alea dan memeluk erat tubuh mungil istrinya.
"Kamu nggak nyangka? Aku malah merasa jodoh." Sahut Tristan.
Alea memiringkan kepalanya saat merasakan wajah suaminya menyusup ke lehernya dan memberikan kecupan hangat.
Alea tersenyum tipis, ia mengangguk setuju mendengar ucapan suaminya. Tentu saja mereka harus berterima kasih, sebab jika Aira tidak ada mungkin Alea sudah tewas.
"Maafin aku ya, Sayang." Ucap Tristan tiba-tiba.
"Maaf karena kurang menjaga kamu, sampai-sampai kamu hampir terluka karena aku lalai." Tambah Tristan saat mengerti tatapan penuh kebingungan istrinya.
Alea lagi-lagi tersenyum, ia melepaskan pelukan suaminya lalu membalik badan sehingga kini mereka saling bertatapan.
"Kamu nggak perlu minta maaf, Mas. Lagipula aku baik-baik saja, dan sekarang kita doakan semoga Aira cepat sadar." Tutur Alea lembut.
Tangan Alea mengusap wajah suami tampannya dengan penuh kasih sayang, ia lalu memberanikan diri untuk mencium pipi sang suami.
__ADS_1
"Makasih banyak, Mas. Dan i love you," bisik Alea.
Tristan menatap wajah istrinya dengan penuh keterkejutan dan rasa bahagia. Apa yang Alea ungkapkan barusan adalah kata-kata yang Tristan nantikan selama ini.
"Apa, Sayang? Coba ulangi!" pinta Tristan tidak sabaran.
"Aku cinta kamu, Mas. Maaf baru mengatakannya," ucap Alea dengan penuh semangat.
Tristan pun langsung mendekap erat tubuh Alea, ia bahkan menciumi wajah Alea tanpa ada yang terlewat sama sekali.
Alea sendiri senang karena akhirnya ia bisa menyadari perasaannya terhadap sang suami. Sikap lembut dan penuh perhatian Tristan lah yang membuat Alea sadar bahwa ia telah jatuh cinta.
"Mungkin cinta kita diawali dengan kesalahan, dan bagi aku perasaan yang aku miliki untuk kamu ini tidak salah, karena apa? Karena kamu suami aku." Ucap Alea sambil mengusap-usap wajah Tristan.
"Nggak ada yang salah, Sayang." Balas Tristan.
Tristan benar-benar merasa sangat bahagia, dan baginya apa yang terjadi diantara dirinya dan Alea sama sekali bukan kesalahan.
Tristan mencintai Alea sejak dulu, ia bahkan tidak pernah menyentuh wanita manapun demi cintanya terhadap Alea.
Jadi bagi Tristan, tidak ada kesalahan sama sekali.
Tristan mengerti maksud istrinya tentang kesalahan, mungkin beberapa orang akan menganggap begitu sebab Alea menjalin hubungan dengan pria beristri.
Tapi itu dulu, kini mereka adalah pasangan yang sah. Mereka berdua sudah sewajarnya untuk saling mencintai satu sama lain.
BEBERAPA BAB KE DEPAN, KITA AKAN FOKUS PADA AIRA MONDY DAN FADE FIRDA 🤗
__ADS_1
Bersambung..........................