Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Om menyebalkan!


__ADS_3

Hari semakin malam, Aira sedang sibuk di dapur untuk membuat makan malam seperti biasanya. Saat Aira sedang fokus mengaduk isi penggorengan miliknya, tiba-tiba Ayu datang.


Gadis itu menatap penuh kebencian pada Aira, ia bahkan sengaja menyenggol bahu adik angkatnya.


"Sebenarnya kamu sama kang Mondy hubungannya apa, Ai?" tanya Ayu dengan nada tidak santai.


Aira menghela nafas. "Kenapa mbak mau tahu?" Tanya Aira balik.


Ayu berdecak, ia memegang tangan Aira sampai-sampai spatula panas di tangan Aira jatuh dan mengenai kaki gadis itu.


"Awww …" Aira menepis tangan kakaknya, ia lalu berjongkok dan melihat punggung kakinya merah karena terkena panas dari spatula.


Ayu tersenyum culas, ia pun pergi meninggalkan dapur setelah membuat adiknya kesakitan.


Ayu pergi ke ruang tamu, saat itu ia melihat ada Mondy sedang duduk bersama kedua orang tuanya.


Ibu dan bapaknya terus bicara, sementara Mondy asik bermain ponsel. Pria itu seakan tidak peduli pada setiap ucapan kedua orang tua Aira.


"Kang Mondy, nggak mau mandi? Saya siapin airnya ya." Ucap Ayu dengan suara selembut mungkin.


Mondy menatap sekilas pad Ayu. Ia tidak bicara, dan tetap fokus pada ponselnya yang kini sedang mengirim pesan pada Tristan bahwa ia harus menginap di rumah Aira.


Mondy sebenarnya ingin mengajak Aira pergi langsung, namun diluar hujan begitu deras, bahkan di sertai oleh angin.


"Kang?" panggil Ayu karena Mondy tidak menggubrisnya.


"Nak, ada baiknya mandi dulu. Biar Ayu siapkan air mandinya ya," kata bapak Aira dengan lembut.


Nada bicara pria tua itu terdengar lembut, sangat jauh berbeda dengan tadi siang yang membentak Aira.


"Saya bisa minta pada Aira nanti." Balas Mondy dingin.


"Aira sedang sibuk memasak, jadi Ayu saja yang siapkan ya." Tutur ibu Aira.


Mondy mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah ibunya Aira. Tatapan yang dinilai begitu tajam.


"Jika Aira sedang sibuk memasak, lalu kenapa kalian semua ada disini? Setidaknya bantu dia agar pekerjaannya cepat selesai." Ucap Mondy dengan wajah tanpa ekspresi.


Ayu mengepalkan tangannya. Lagi dan lagi Aira kembali di bela oleh laki-laki tampan itu.


Ayu pun pergi sambil menghentakkan kakinya ke lantai, ia masuk ke dalam kamar tanpa mau peduli pada ucapan Mondy yang meminta dia dan ibunya membantu Aira memasak.


"Eee … Aira sudah biasa masak sendiri, Nak. Dia tidak suka jika dapurnya di acak-acak," ucap bapak Aira menjelaskan.


Mondy tidak menyahut, ia hanya diam dan kembali fokus pada ponselnya.


Bapak dan ibu Aira saling pandang, mereka berdua seperti saling mendorong untuk bicara pada Mondy.


"Nak, besok pernikahanmu dan Aira kan, jadi … uang yang kau janjikan …" ibu Aira menggantung ucapannya karena malu untuk bicara.


Mondy menghela nafas, ia merogoh saku celananya lalu memberikan sebuah cek senilai 500 juta kepada kedua orang tua Aira.


"Apa ini? Kami minta uang, kenapa anda memberikan kertas?" tanya ibunya Aira kesal.


Mondy mendengus, ia memutar bola matanya malas mendengar ucapan wanita tua yang sangat tergila-gila pada uang.

__ADS_1


"Eh Bu, ini namanya cek. Kertas bukan sembarang kertas," bisik bapak Aira dengan pelan.


Ibu Aira manggut-manggut setelah dijelaskan sedikit oleh suaminya. Ia lalu menatap Mondy dengan senyuman malu-malu.


"Maaf ya, Nak Mondy. Tadi saya hanya reflek bicara," kata ibunya Aira.


Mondy hendak bicara, namun Aira datang dan langsung mengajak mereka untuk makan malam.


"Ai." Panggil Mondy berhasil menghentikan langkah Aira, dan kedua orang tuanya.


"Saya hanya memanggil Aira." Ucap Mondy seakan memberikan kode tidak suka.


Kedua orang tua Aira pun pergi duluan ke dapur, mereka juga tidak lupa memanggil Ayu untuk makan malam.


"Kenapa, Om?" tanya Aira lembut.


"Saya mau mandi, bisa siapkan air untuk saya?" tanya Mondy.


Bersamaan dengan pertanyaan Mondy, Ayu keluar sehingga gadis itu bisa mendengar ucapan Mondy.


Ayu mendengus kesal, ia pun berlalu begitu saja. Tadi ia menawari, namun Mondy malah menolak dan memilih Aira yang menyiapkannya.


"Aku akan siapkan, Om mau makan dulu atau gimana?" tanya Aira memastikan.


"Saya mau mandi dulu." Jawab Mondy singkat.


Aira manggut-manggut, ia pun segera pergi ke dapur untuk memasak air agar Mondy bisa mandi air hangat.


Aira takut Mondy tidak bisa menahan suhu air yang begitu dingin, jelas ia masih ingat jika di apartemen selalu mandi air hangat.


"Di depan, dia mau mandi dulu sebelum makan, Pak." Jawab Aira tanpa menatap ayahnya.


Ayu mengerem kesal. "Kenapa harus kamu sih, Ai. Tadi aku menawarinya, tapi dia menolak!" Kesal Ayu.


Air terkejut. "Maaf, Mbak. Tapi aku nggak tahu," balas Aira.


Ibu Aira menatap putri sulungnya. "Nggak apa-apa, Ai. Itu berarti nak Mondy nggak mau memperbudak kamu. Mungkin dia sudah biasa menyuruh Aira sebagai pelayannya." Kata ibu Aira dengan nada mengejek.


Aira yang mendengar berusaha untuk tidak peduli. Dia malas menimpali ucapan ibunya.


Ayu tersenyum culas, ia merasa senang mendengar ucapan ibunya yang menyamakan Aira dengan pelayan.


"Iya ya, Bu. Bisa jadi, dia maunya sama pelayannya yang biasa, nggak mau sama aku yang nggak pantes jadi pembantu." Timpal Ayu dengan bangga.


"Iya lah, kamu kan lebih cantik." Ucap ibu Aira lagi.


Aira hanya bisa geleng-geleng kepala, ia pun pergi membawa air yang sudah ia masak hingga mendidih itu untuk Mondy.


"Sudah diam. Aira sudah pergi, jadi makan sekarang." Ucap bapak Aira.


Sementara Aira, ia mengajak Mondy ke samping rumah dimana dia dan keluarganya biasa mandi.


"Ai, tolong pegang jas saya. Disini ada ponsel dan kunci mobil, kalo hilang kamu saya penjarakan." Ucap Mondy seraya memberikan jas miliknya.


Aira menelan salivanya. "Om ini, bikin takut. Iya-iya aku pegangin," balas Aira sewot.

__ADS_1


"Udah cepetan mandi." Tutur Aira sedikit ketus.


"Bagaimana saya bisa mandi kalo mata kamu saja melotot di depan saya. Kamu mau melihat saya polos?" tanya Mondy usil.


"Ihh, nggak! jawab Aira lalu buru-buru membalik badan agar Mondy bisa membuka pakaiannya dan memberikannya pada gadis itu.


Setelah selesai membuka pakaian, Mondy pun lekas masuk ke dalam kamar mandi yang sejujurnya sederhana tapi nyaman. Hanya saya Mondy takut pakaiannya itu jatuh dan akan kotor.


"Om Mondy nggak punya baju ganti, kayaknya aku harus pinjam punya bapak." Gumam Aira kemudian melangkah pergi meninggalkan Mondy begitu saja.


"Ai, airnya habis. Apa saya bisa memutar kran nya?" tanya Mondy dengan mata terpejam karena sedang keramas.


"Ai." Panggil Mondy saat Aira tidak menyahut.


"Aira, saya akan melemparmu ke kali jika tidak menyahut. Aira, saya–" ucapan Mondy yang hendak kembali mengancam terhenti.


"Sabar, Om. Saya sedang mengambil pakaian anda, bawel sekali." Cibir Aira.


"Airnya habis, Ai. Saya boleh memutar kran nya?" tanya Mondy.


Aira mengerutkan keningnya mendengar ucapan Mondy dari dalam sana.


"Habis, Om? Bukankah saya mengisi sampai penuh tadi. Kemana semua air hangat itu?" tanya Aira.


"Saya meminumnya." Jawab Mondy sewot.


Aira tertawa, ia bisa membayangkan wajah Mondy yang kesal saat menjawab pertanyaan darinya barusan.


"Aira!" tegur Mondy yang mendengar tawa gadis itu.


"Baiklah, nyalakan saja." Kata Aira menjawab.


Mondy pun segera memutar kran air agar ia bisa segera mandi. Baru saja air itu mengguyur tubuhnya, Mondy sudah menggigil.


Mondy tidak kuat, ia buru-buru meminta handuk pada Aira.


"Om, ini handuk saya. Jangan sampai kotor ya," ucap Aira sebelum memberikan handuknya.


"Iya, cepat berikan. Saya kedinginan, Ai!" balas Mondy dengan sedikit kesal.


Aira memberikan handuk dan pakaian milik bapaknya kepada Mondy untuk dikenakan. Setelah beres, pria itupun keluar dari kamar mandi.


"Sudah?" tanya Aira.


"Belum." Jawab Mondy kemudian pergi meninggalkan Aira begitu saja.


Aira mengepalkan tangannya. "Dasar menyebalkan!!" cibir Aira kesal.


"Jangan marah, pertanyaan mu saja yang aneh. Jika saya belum selesai, tidak mungkin saya keluar." Ucap Mondy dengan jarak yang sudah lumayan jauh dari Aira.


Aira menggertak giginya. Bagaimana mungkin ia jatuh cinta pada pria menyebalkan seperti Mondy itu.


AIRA KALO KETEMU MONDY EMANG KOCAK 😭


Bersambung............................

__ADS_1


__ADS_2