Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Kasih sayang mama Saras


__ADS_3

Alea baru saja selesai memandikan Alkano usai membantu suaminya untuk bersiap-siap ke kantor. Tristan sudah pergi ke kantor 10 menit lalu, dan kini Alkano pun sudah tampan dengan wangi khas bayi di seluruh tubuhnya.


Alea tersenyum, ia menundukkan kepalanya lalu menciumi seluruh wajah Alkano.


"Anak mami sudah tampan dan wangi, ya ampun mirip papi juga ya kamu." Celetuk Alea sembari menggendong dan menimang putranya.


Alea turun dari ranjang, ia mengambil ponselnya yang ada diatas meja guna melihat pesan dari kakaknya. Firda menghubunginya semalam dan mengatakan ingin datang hari ini.


"Jadi nggak ya kak Firda kesini." Gumam Alea membuka room chat kakaknya untuk memeriksa jam yang Firda janjikan untuk datang.


Ternyata Firda mengatakan akan datang pukul 10. Alea belum sempat mandi, karena tadi memaksa untuk membantu suaminya bersiap-siap ke kantor.


Alea keluar dari kamar, ia membuka pintu untuk mencari pelayan yang bisa ia titipkan Alkano.


"Bi …" panggil Alea pada asisten rumah tangga yang kebetulan melintas di depannya.


"Eh, selamat pagi Nona. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita itu dengan sopan.


"Bisa titip Alkano sebentar, aku mau mandi." Jawab Alea.


"Bisa, Nyonya. Biar saya yang menjaga tuan muda," kata wanita itu mengelap tangannya ke baju lalu terulur untuk menggendong bayi tampan itu.


Alea memberikan anaknya kepada pelayan di rumah untuk ia titipkan selama ia mandi. Alea tidak tega jika harus meninggalkan putranya seorang diri di kamar.


Sejujurnya Alea ingin menitipkan putranya pada mama Saras, namun ia takut ibu mertuanya itu akan menolak.


Setelah memastikan Alkano aman, Alea pun masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Alea benar-benar merasa kegerahan.


Sementara nyonya nya mandi, pelayan itu membawa Alkano pergi dari sana. Ia ingin mengajak bayi itu untuk ke ruang tamu, namun saat ia baru saja turun, tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahnya.


"Kamu, mau dibawa kemana dia?" Mama Saras mendekat dan melihat cucunya berada dalam gendongan pelayan.


"Dimana ibunya, kenapa dia malah sama kamu?" Tanya mama Saras lagi.

__ADS_1


"Nona Alea sedang mandi, Nyonya besar. Beliau menitipkan tuan muda kepada saya," jawab pelayan itu dengan sopan.


Mama Saras menghela nafas, ia lalu mengulurkan kedua tangannya.


"Berikan dia pada saya, biar saya yang jaga dan kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu." Kata mama Saras.


Pelayan itu mengangguk sopan, kemudian memberikan Alkano untuk digendong oleh mama Saras. Setelah memberikan Alkano, pelayan itupun pergi dari sana.


Mama Saras menatap cucunya dan menimang nya dengan pelan. Wajahnya yang tampan dan lucu tanpa sadar membuatnya tersenyum dan betah menggendongnya.


Seperti waktu itu, ketika ia diberikan alih untuk menggendong Alkano oleh Aira, rasanya ia enggan untuk melepaskannya, namun gengsi untuk mengakui.


"Kamu lucu sekali, mirip dengan papimu. Eh tapi, lebih banyak ke mami kamu ya, benar-benar anak mami." Celetuk mama Saras sembari mengusap pipi cucunya yang terasa begitu lembut.


Mama Saras menundukkan kepalanya, ia mencium kening dan pipi Alkano yang benar-benar harum khas bayi.


Mama Saras mengajaknya keluar, ia sedikit menggerutu karena yakin jika Alea tidak menjemur Alkano.


Mama Saras pun duduk di kursi taman, ia membuka bedongan bayi itu dan membiarkan tubuhnya terkena sinar matahari pagi.


Mama Saras tersenyum manis, ia mengusap rambut cucunya yang bisa dikatakan banyak untuk bayi yang baru beberapa hari lahir.


Sementara Alea baru saja selesai mandi. Wanita itu lekas memakai daster dan keluar dari kamar untuk mencari Alkano.


Alea berjalan menuruni anak tangga guna mencari keberadaan putranya, namun Alea berpapasan dengan pelayan yang tadi ia titipkan Alkano.


"Lho, Bi. Alkano mana?" Tanya Alea panik.


"Tuan muda bersama nyonya besar, Nona. Sepertinya di taman," jawab pelayan itu.


Alea menganggukkan kepalanya, ia lalu lekas pergi ke taman untuk melihat putranya yang sedang di gendong oleh neneknya.


Alea melihat dari kejauhan, ia tersenyum melihat mama Saras menciumi Alkano sambil sesekali memeluknya.

__ADS_1


"Nak, semoga dengan kehadiran kamu bisa membuat hubungan mama dan nenek kamu membaik." Gumam Alea dengan mata berkaca-kaca.


"Ehh, cucu oma pup ya." Celetuk mama Saras usai memeriksa diapers Alkano.


Mendengar itu, Alea langsung pergi dari sana. Ia bukan lari karena enggan membersihkan Alkano, namun pergi agar mama Saras tidak tahu bahwa ia mengintip sejak tadi.


Ketika Alea masuk, tidak lama mama Saras yang masuk membawa Alkano. Alea tersenyum, lalu mendekati mereka.


"Anak kamu buang air besar, cepat bersihkan." Ucap mama Saras sedikit ketus. Garis bawahi, sedikit ketus.


"Oh, iya Ma. Biar aku bersihkan," kata Alea mengulurkan tangannya.


Mama Saras hendak memberikan cucunya, namun ia mengurungkan niatnya karena ingat sesuatu.


"Sudah cuci tangan belum kamu. Jangan sampai kulitnya iritasi!" Tegur mama Saras.


"Sudahlah, ayo aku antar ke kamar. Biasakan cuci tangan sebelum menyentuh bayi!" Tambah mama Saras lalu melangkah ke lantai atas.


Alea tersenyum, ia lekas menyusul ibu mertuanya yang mau mengajak Alkano ke kamarnya.


Sampai di kamar, Alea langsung cuci tangan sebelum menyentuh Alkano. Setelahnya Alea kembali dan langsung membersihkan Alkano.


"Anak mami pup, sebentar ya sayang." Ucap Alea sembari membersihkan kotoran putranya.


Mama Saras memperhatikan itu, melihat Alea yang begitu telaten seketika membuat berpikir sesuatu.


Gadis yang pernah ia pilih untuk Tristan belum tentu mau melakukan ini, mengingat mereka semua berasal dari keluarga kaya yang pasti membuat mereka tidak biasa berurusan dengan kotoran.


"Tidak semua ibu akan mau membersihkan kotoran bayi sepertinya, jika dilihat dia memang baik." Batin mama Saras terus memperhatikan Alea.


Mama Saras menghela nafas, tanpa bicara apapun ia langsung pergi dari kamar putranya.


MAKANYA AKUI SAJA MAMA, ALEA ITU GADIS BAIK🥺

__ADS_1


Bersambung..............................


__ADS_2