Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Permintaan Linda


__ADS_3

Alea menghela nafas, ia memasukkan beberapa baju ke dalam koper kecil yang ia miliki. Besok ia harus ikut dengan Tristan ke Bali, melakukan perjalanan bisnis selama 5 hari. Ia akan berangkat di hari Jum'at, dan pulang di hari selasa.


Jika saja Alea bisa, mungkin ia memilih untuk tidak ikut, apalagi mereka hanya berdua saja perginya. Alea jadi khawatir sendiri memikirkan apa saja yang akan mereka lalu disana setelah perjalanan di satu hari full sudah selesai.


Alea duduk dipinggir ranjang, ia melihat ponselnya dan membaca pesan yang ia kirim kepada kakaknya belum mendapat balasan.


"Pasti kakak sangat sibuk." Gumam Alea pelan.


Alea yang hendak meletakkan ponselnya lantas terhenti saat mendengar dering dari ponselnya itu.


Tertulis nama Tristan disana, dan Alea sedikit ragu untuk mengangkatnya.


"Angkat tidak ya, astaga!" geram Alea kemudian segera mengangkat panggilan dari atasan sekaligus pria yang menjadikannya sebagai simpanan.


"Iya, Pak." Kata Alea langsung membuka pembicaraan.


"Sudah bersiap? Kita akan terbang jam 7 pagi, jadi aku akan menjemputmu jam 5 ya."


"Iya, Pak." Balas Alea singkat.


"Kau sudah makan, atau mau aku pesankan makanan untukmu?"


Alea menghela nafas mendengar tawaran dari Tristan.


"Tidak, Pak. Saya sudah makan, tapi …" Alea menggantung ucapannya.


"Kenapa? Apa ada masalah?"


"Apa saya boleh izin pergi ke minimarket, ada barang yang ingin saya beli." Tanya Alea ragu-ragu.


"Tentu saja, pergilah. Tapi langsung pulang dan istirahat ya, besok kita harus pergi pagi."


"Iya, Pak. Terima kasih sebelumnya," balas Alea kemudian segera menutup panggilan mereka.


Alea senang, ia pun segera mengambil ponsel dan dompetnya. Alea benar-benar ingin pergi ke minimarket yang tidak jauh dari apartemen sehingga Alea bisa jalan kaki.


Saat sampai di lobby apartemen, tanpa sengaja Alea bertabrakan dengan seseorang.

__ADS_1


"Ya ampun, maaf-maaf." Kata Alea seraya menundukkan kepalanya sebentar.


"Nona Alea." Ucap pria itu dengan sopan dan penuh senyuman.


Alea mengerutkan keningnya, ia pun menatap wajah orang yang telah ia tabrak. Orang itu juta dikenali oleh Alea.


"Dokter Prama." Ucap Alea sambil tersenyum.


Dokter Prama mengangguk kecil. "Apa kabar, Nona?" tanya Dokter Prama.


"Saya baik, dokter sedang apa disini malam-malam?" tanya Alea melihat jam di ponselnya sudah jam 9 malam.


"Habis memeriksa pasien, anda sendiri darimana mau kemana?" tanya dokter Prama balik.


"Aku dari unit ku, dan mau ke minimarket depan." Jawab Alea.


"Mau saya antar, kebetulan saya mau kesana?" tawar dokter Prama.


"Tidak, Dok. Saya bisa jalan kaki, saya duluan ya. Selamat malam," pamit Alea karena hari semakin malam.


Dokter Prama menatap kepergian Alea dengan nanar, semenjak kakaknya Alea pulang, ia jadi tidak pernah bertemu dengan Alea lagi.


Dokter Prama merasa kagum kepada gadis seperti Alea yang rela bekerja demi membiayai pengobatan kakaknya di rumah sakit. Ia juga terkesan pada semangat Alea yang tidak pernah memudar.


"Azzalea." Gumam dokter Prama senyum-senyum sendiri.


Sementara itu Alea, gadis itu baru saja sampai di minimarket. Ia mengambil beberapa barang yang ia butuhkan, namun karena tergiur akhirnya Alea membeli banyak camilan.


"Makan mie pedas pasti menyenangkan sambil nonton Drakor." Gumam Alea lalu segera mengambil mie instan pedas ke dalam keranjang belanjaan nya.


Setelah dirasa semuanya sudah, Alea pun berbaris untuk membayar di kasir. Minimarket malam itu benar-benar ramai, sampai Alea cukup lama menunggu giliran untuk membayar.


Lain halnya dengan Alea, Tristan justru saat ini sedang duduk di balkon kamarnya sambil menyesap rokok listrik yang mengeluarkan banyak asap ke udara.


Tristan sengaja mengatur perjalanan ke Bali hanya berdua saja dengan Alea, selain karena Mondy memang banyak pekerjaan, disana ia juga ingin bicara banyak dengan Alea, hanya berdua saja.


Tristan memejamkan matanya, ia merasa lebih tenang jika matanya tertutup begini.

__ADS_1


"Tristan." Panggilan itu membuat Tristan membuka matanya dan menoleh.


Tristan bangkit dari duduknya, ia mendorong Linda agar keluar dari kamarnya, sebab ia tidak suka wanita itu menginjakkan kaki di kamarnya.


"Tristan, kenapa kamu kasar sekali!" tegur Linda pelan.


"Aku bukan mantan kekasihmu yang harus bersikap lembut." Balas Tristan dingin.


"Tapi kamu suami aku, Tristan." Kata Linda membela dirinya.


Tristan menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, ia menatap kesal pada Linda yang telah mengganggu ketenangannya.


"Mau apa kau kesini?" tanya Tristan langsung.


Linda melongok ke dalam kamar, ia melihat koper di dekat lemari yang sepertinya baru saja selesai di bereskan.


"Kamu akan pergi jauh sampai membawa koper?" tanya Linda penasaran.


"Bukan urusanmu." Jawab Tristan singkat.


Linda menghilangkan senyumannya, ia menatap Tristan dengan melas, meski dalam hatinya ia benci begini.


"Tristan, boleh aku ikut? Setidaknya bisa saja perjalanan ini akan membuat kita semakin dekat," pinta Linda memohon.


Tristan menatap Linda dengan tajam, matanya menyipit dengan bibir yang tersungging ke atas.


"Aku harus bekerja, aku tidak mau membawa masalah rumah ke lingkungan kerja. Kehadiranmu dalam perjalanan dinasku bisa membuat aku hilang fokus." Sahut Tristan menolak permintaan Linda.


Linda memegang tangan Tristan, ia mengusap tangan kokoh itu dengan lembut, berharap bahwa Tristan akan tergoda padanya.


"Lepaskan! Pergilah, aku harus istirahat." Usir Tristan lalu menutup pintu kamarnya.


Linda mengepalkan tangannya, ia benar-benar harus mencari titik kelemahan Tristan agar dirinya bisa menjatuhkan pria itu.


"Kenapa sulit sekali melawan Tristan." Geram Linda lalu memilih untuk pergi dari depan kamar Tristan.


BUTUH VISUAL?? NEXT YA AKU KASIH🤗

__ADS_1


Bersambung...............................


__ADS_2