
Alea dan Tristan terpaksa kembali ke hotel karena kaki gadis itu yang terluka. Tristan tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan luka itu terbuka dan darah terus keluar.
Tristan mendudukkan Alea di sofa, ia lalu mengangkat sebelah kakinya terluka dan meletakkannya di atas meja.
"Diam disini." Tutur Tristan kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengambil air dan mencuci luka Alea.
"Awwww." Alea memekik kesakitan saat merasakan air itu menyiram kakinya.
"Sakit sekali?" tanya Tristan lembut.
Tristan mengusap-usap punggung kaki Alea, berharap bahwa hal itu bisa mengurangi rasa sakit wanita di hadapannya ini.
"Tahan ya, aku mau perban supaya tidak ada kotoran yang masuk." Ucap Tristan dan Alea hanya bisa menurut.
Alea kembali meringis pelan saat merasakan obat antiseptik berwana merah itu menetes di atas lukanya.
"Sakit banget." Cicit Alea pelan.
Tristan menatap Alea, ia menjadi tidak tega melihat wanita itu kesakitan. Tristan pun segera menyudahi mengobati Alea, kini kaki gadis itu sudah di perban.
"Susah selesai, sekarang istirahatlah." Tutur Tristan dengan helaan nafas.
Alea mengangguk, ia berusaha untuk bangun namun tidak bisa dan hampir terjatuh lagi, jika Tristan tidak sigap memegang pinggang wanita itu.
Tristan dan Alea saling pandang, terlihat banyak sekali kesedihan dan rasa takut di mata Alea . Sementara di mata Tristan, pria itu seperti menyimpan sebuah harapan.
Alea tersadar, ia mengalihkan pandangannya dari mata Tristan, namun tidak dengan Tristan yang masih terus menatap Alea.
"Alea." Panggil Tristan pelan dan berat.
Alea menatap Tristan. "Iya, Pak?" sahut Alea.
"Apa selama ini kau benar-benar tidak mencintaiku, atau kau hanya berpura-pura untuk menyangkal perasaan mu?" tanya Tristan dengan serius.
Alea tersentak, ia terdiam dengan pandangan mata yang berusaha lari dari tatapan Tristan yang hangat, namun tajam.
"P-pak, kaki saya sakit. Tolong biarkan saya istirahat." Pinta Alea dengan mata terpejam.
Tristan memegang sebelah wajah Alea dan mengangkatnya agar wanita itu mau menatapnya.
"Alea, tatap aku dan jawab." Pinta Tristan memaksa.
Alea menggigit bibirnya, ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Tristan. Hanya gelengan kepala, tanpa ada kalimat yang keluar dari bibirnya.
"Alea, sungguh?" tanya Tristan.
__ADS_1
Tristan mengeratkan pelukannya pada pinggang Alea, bahkan hal itu menciptakan rasa sakit bagi Alea.
"P-pak, anda mengingatkan saya pada kejadian malam itu. Saya kesakitan, Pak." Ringis Alea.
Tristan tersadar, ia melonggarkan pelukan di pinggang Alea lalu memeluk wanita itu erat-erat.
"Maaf, Alea. Aku tidak pernah ingin menyakitimu," bisik Tristan dengan tangan yang mengusap punggung Alea.
Alea masih mengeluarkan air matanya, awalnya ia tidak membalas pelukan Tristan, namun saat pria itu menjatuhkan kepalanya di bahunya, Alea bisa merasakan sebuah ketulusan di sana.
"P-pak, ini saya harus istirahat." Ucap Alea pelan.
Tristan melepaskan pelukannya, ia menganggukkan kepalanya paham mendengar ucapan Alea barusan.
"Baiklah, ayo istirahat." Ajak Tristan kemudian menggendong Alea ala bridal style.
Alea reflek melingkarkan tangannya di leher Tristan karena takut terjatuh, membuat Tristan tersenyum melihatnya.
Tristan membawa Alea untuk tiduran di kasurnya, ia tidak membawa Alea ke kamarnya sendiri.
"Pak, kenapa saya tidak ke kamar saya saja? Atau anda mau kita tukarkan kamar?" tanya Alea gugup.
Tristan tersenyum simpul, ia mengusap kepala Alea lalu mencium keningnya dengan penuh kehangatan.
"Kita tidur bersama." Jawab Tristan singkat.
"Pak, jangan macam-macam ya." Ucap Alea dengan nada ketakutan.
Tristan tertawa, ia bukannya takut apalagi marah justru malah memperlihatkan tawa yang selama ini ia rahasiakan.
Alea sampai terpesona melihat wajah Tristan yang penuh senyuman seperti ini. Ekspresi wajah yang tidak pernah Alea lihat saat di kantor.
"Anda tampan jika tertawa, Pak. Teruslah seperti itu," ucap Alea tanpa sadar.
Tristan menghentikan tawanya ketika mendengar ucapan Alea, ia menatap gadis itu dengan mata yang menyipit.
"Benarkah?" tanya Tristan dan Alea mengangguk.
"Kalo begitu menikah saja denganku." Jawab Tristan dengan enteng.
"Apa? Dimana letak hubungan kedua hal itu, tertawa bisa dilakukan semua orang, tanpa harus menikah dulu." Sahut Alea kaget.
Tristan mendekati Alea, ia mengambil tangan Alea untuk ia genggam.
"Aku berbeda, Alea. Aku tidak bisa tertawa selain denganmu, hal yang menandakan bahwa hanya kamu yang bisa buat aku bahagia." Jelas Tristan dengan tatapan yang begitu dalam.
__ADS_1
Alea terdiam mendengar penjelasan dari Tristan barusan.
"Tapi anda sudah menikah dengan nyonya Linda, apa anda tidak bahagia?" tanya Alea.
"Jika aku bahagia, aku tidak akan mungkin mencari kesenangan baru bersamamu." Jawab Tristan langsung tanpa ada jeda setelah Alea bicara.
Tristan mendekati Alea, pria itu membantu Alea untuk merebahkan dirinya.
"Pak, tolong jangan macam-macam sama saya." Pinta Alea memohon.
Tristan menyentak dahi Alea, sehingga membuat wanita itu meringis dibuatnya.
"Jangan berpikir aneh, kau saja sedang tidak bisa aku macam-macam kan." Timpal Tristan lalu ikut merebahkan diri di sebelah Alea.
Alea menghela nafas lega, ia pun akhirnya bisa tertidur dengan tenang. Beruntung ia sedang dapat tamu bulanan sampai mereka pulang, sehingga Tristan tidak akan bisa macam-macam dengannya.
Benar, Alea belum tahu jika Tristan memperpanjang waktu yang 5 hari menjadi 10 hari, sehingga Alea hanya tahu jika mereka akan pulang dalam 5 hari.
Alea dan Tristan pun akhirnya tertidur, mereka yang awalnya ingin membeli barang di love anchor menjadi gagal karena Alea terluka.
Kini keduanya malah berakhir tidur di satu ranjang yang sama, dengan Tristan yang memeluk Alea dengan erat.
Siapapun disini tidak akan ada yang menyangka jika Alea dan Tristan bukanlah sepasang suami istri.
Malam harinya Alea dan Tristan terbangun karena cacing diperut sudah minta di beri makan. Kedua orang itu akhirnya memutuskan untuk makan di kamar saja, mengingat kondisi kaki Alea yang belum pulih.
"Oh iya, Alea. Apa aku belum memberitahumu?" tanya Tristan.
Kening Alea mengerut. "Soal apa, Pak?" tanya Alea.
"Perpanjang waktu bekerja kita disini menjadi 10 hari." Jawab Tristan tanpa menatap Alea.
Alea yang saat itu sedang meminum jusnya langsung tersedak ketika mendengar ucapan dari mulut Tristan.
"Apa, 10 hari?" tanya Alea memastikan pendengarannya.
"Iya, Alea. Bahkan jika perlu kita tambah menjadi 15 hari mengingat kondisi kakimu sekarang." Jawab Tristan dengan santai.
Alea menghela nafas, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Alea yang bersyukur karena dapat tamu bulanan, nyatanya pasti akan berakhir di jamah Tristan juga, karena mereka memperpanjang waktu disini.
"Kenapa nggak sekalian sebulan saja." Gerutu Alea pelan.
"Boleh, aku akan konfirmasi Mondy jika kau menginginkannya." Sahut Tristan.
Alea melotot, ia pikir Tristan tidak akan mendengar ucapannya tapi ternyata pendengaran pria itu sangat tajam.
__ADS_1
MBAK ALEA, HATI-HATI KALO NGOMONG. NANTI DIKABULKAN TRISTAN KAMU MELONGO 😫
Bersambung..............................