Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Hampir goyah


__ADS_3

Mondy hendak mengantar Aira ke rumah utama, namun ia terpaksa mengurungkan niatnya dan mengajak gadis itu ke rumah sakit untuk menemui Tristan.


Sampai di sana, Mondy menyuruh Aira untuk duduk diam di kursi tunggu yang ada tepat di depan ruang rawat Alea.


"Jangan kemana-mana, jika kamu hilang saya nggak mau cari." Ucap Mondy sebelum pergi.


"Iya, Om. Aku disini kok, nggak akan kemana-mana." Balas Aira menganggukkan kepalanya.


Mondy pun akhirnya masuk ke dalam ruang rawat Alea. Saat dirinya masuk, ia melihat Tristan sedang mencium kening Alea yang tertidur.


Mondy menghela nafas, ia menajamkan matanya sebentar. "Permisi, Tuan." Ucap Mondy.


Tristan menyelimuti Alea, ia lalu mendekati Mondy untuk mempertanyakan soal tugas yang diberikan nya.


"Apa sudah ada pengawal untuk istriku?" tanya Tristan dengan tangan terlipat di dada.


"Saya belum menemukan yang cocok, Tuan. Sebenarnya banyak yang mengajukan diri, tapi saya tidak bisa sembarangan menerima orang." Jawab Mondy menjelaskan.


Tristan manggut-manggut, ia hendak berucap lagi namun pintu tiba-tiba terbuka dan hanya ada kepala saja yang terlihat.


"Om, aku ke kamar mandi dulu ya. Aku kebelet, kalo aku pergi nggak ngomong nanti Om nyariin." Ucap Aira tiba-tiba.


Mondy melototkan matanya, ia lalu beralih menatap Tristan yang tampak kebingungan melihat gadis asing di depannya.


"Ya, sana. Jangan lama-lama!" Balas Mondy dengan cepat.


Aira pun menarik kembali kepalanya hingga keluar, dan tidak lupa ia menutup pintunya kembali.


Kini Mondy hanya bisa menghela nafas, ia bisa merasakan tatapan tajam Tristan sedang mengarah padanya.


"Kau suka dengan bocah seperti itu, Mon?" tanya Tristan mengerutkan keningnya.


"Anda jangan salah paham, Tuan. Saya hanya tidak sengaja bertemu dengannya dan menolongnya." Jawab Mondy.


Kening Tristan mengkerut. "Menolongnya? Bukankah kau bilang kita tidak boleh percaya pada sembarangan orang, lalu apa ini?" tanya Tristan seraya berjalan ke arah sofa yang ada disana.


Mondy terdiam, pertanyaan Tristan barusan seketika membuat dirinya tersadar. Benar juga, kenapa dia mudah sekali menerima dan menolong Aira, bagaimana jika gadis itu orang jahat.


"Iya, Tuan. Saya mengatakan itu." Jawab Mondy dengan sopan.


"Lalu?" tanya Tristan.

__ADS_1


Mondy diam saja, ia bingung harus menjawab apa sekarang ini. Ia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.


"Jika menurutmu gadis itu baik, ya sudah. Tapi untuk apa kau membawanya, kau jatuh cinta?" tanya Tristan lagi.


Mondy melototkan matanya, namun sesaat kemudian ia tersadar siapa yang sedang ia pelototi ini.


"Anda ini, saya mengajaknya kesini adalah untuk menjadi pelayan di rumah utama dan …" ucapan Mondy terpotong.


"Dan kau bisa menemuinya tepat waktu." Tebak Tristan dibarengi sedikit tawa.


Mondy menggeleng cepat, namun ia tidak akan banyak bicara. Entah mengapa atasannya yang biasa banyak diam, kini banyak bicara sekali dan sangat menyebalkan.


"Yaudah lupakan saja, kau bisa mempekerjakannya di rumah utama asal kau bertanggung jawab jika dia membuat masalah." Kata Tristan.


"Baik, Tuan." Balas Mondy dengan yakin.


"Dan segera cari pengawal untuk istriku, ingat! Harus perempuan." Perintah Tristan mengingatkan.


"Baik, saya permisi." Pamit Mondy lalu keluar dari ruang rawat istri atasannya.


Mondy pun menghampiri Aira yang tampak sedang planga-plongo seorang diri. Mondy geleng-geleng kepala, kenapa gadis di depannya ini sangat polos.


"Om udah selesai?" tanya Aira seraya bangkit dari duduknya.


Mondy tidak menjawab, ia langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Aira.


Aira buru-buru mengejar, bahkan gadis itu reflek merangkul tangan Mondy dengan seenaknya.


Mondy menghentikan langkahnya, membuat langkah Aira juga terhenti.


"Kenapa, Om?" Tanya Aira mendongakkan kepalanya.


"Lepaskan tangan saya." Mondy menjauhkan tangan Aira dari tangannya.


Aira cengengesan, namun ia buru-buru menyamai langkah Mondy saat pria itu kembali berjalan cepat meninggalkan dirinya.


Sementara itu di tempat lain, tampak Firda dan Fade sedang duduk di depan rumah Firda. Gadis itu tidak berani mengajak Fade masuk, sebab ia tidak mau jika ada gosip tetangga.


"Mau apa kau kesini, jika hanya diam seperti patung lebih baik pulang." Ucap Firda dengan suara ketusnya.


Fade tersenyum manis. "Aku membawakan kamu makanan, jangan lupa di makan ya." Tutur Fade dengan lembut.

__ADS_1


Firda keniksh. "Lain kali tidak perlu, aku bisa masak sendiri." Kata Firda menolak untuk lain kali.


Fade manggut-manggut. "Baiklah, lain kali aku yang akan makan disini." Timpal Fade dengan santai.


Firda melotot horor, namun hal itu malah membuat Fade merasa gemas sekali.


"Masih sakit nggak?" Tanya Fade seraya mengusap sudut bibir gadis yang ia cintai.


"Tidak sesakit ucapanmu padaku tempo hari, jadi lebih baik pergilah." Jawab Firda dengan ketus.


Fase tersenyum simpul, mungkin ia memang harus pulang. Selain karena ini sudah malam, sepertinya suasana hati Firda sedang tidak baik-baik saja.


"Aku minta maaf ya, tapi tolong jangan pernah menolak perjuanganku." Pinta Fade seraya menggenggam tangan Firda.


Firda menatap Fade, ia berusaha untuk mencari kebohongan di mata pria itu, namun sayangnya ia tidak menemukan itu.


Firda menghela nafas, ia buru-buru menarik tangannya dari genggaman tangan Fade. Gadis itu bangkit dari duduknya lalu melipat tangan di dadanya.


"Pergilah, aku harus istirahat." Usir Firda tanpa menatap Fade.


Fade bangkit dari duduknya, ia mengusap pipi kanan Firda lalu mencium jarak jauh.


"Baiklah, aku pulang ya. Jangan lupa langsung istirahat, selamat malam." Pamit Fade kemudian pergi dari rumah Firda.


Mobil Fade pun pergi meninggalkan rumah Firda, dan gadis itu pun langsung masuk ke dalam rumahnya.


Firda mengunci pintu rumahnya, ia bersandar pada pintu seraya memegangi dadanya.


"Arghhhh, keterlaluan kau Fade!" geram Firda kesal sendiri.


Firda menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh terkecoh dengan sikap manis pria itu, ia harus ingat bagaimana pria itu menghina dan merendahkan nya.


Firda mengacak-acak rambutnya, ia memilih untuk tidur daripada pusing memikirkan Fade yang menyebalkan itu.


Sikap Fade yang manis dan penuh kelembutan membuat pertahanan Firda sedikit goyah, ia seakan melupakan segala hinaan yang pria itu lontarkan dulu.


Firda tidak boleh begitu, ia harus membuat pria itu tahu betapa sakitnya di cuekin dan tidak dihiraukan.


NGGAK APA-APA, KAK FIRDA. BIARIN FADE TAU RASANYA GIMANA 🤣


Bersambung................................

__ADS_1


__ADS_2