Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Alea hamil


__ADS_3

Alea dilarikan ke rumah sakit setelah Tristan mendapati sang istri pingsan. Kini Alea sudah sadarkan diri dan sudah selesai diperiksa oleh dokter.


Tristan tersenyum seraya menggenggam tangan istrinya, ia juga mencium punggung tangan sang istri lalu tangannya mengusap-usap perut Alea yang masih rata.


Jika Tuhan menghendaki, maka perut Alea perlahan-lahan akan tambah besar seiring dengan tumbuhnya janin dalam kandungannya.


Ya, Alea yang pingsan tadi bukan hanya syok karena dilabrak oleh Linda, melainkan karena dirinya sedang hamil dan terlalu banyak pikiran.


Dokter melarang Alea untuk kelelahan, dan tentu saja hal itu didengar oleh Tristan. Ia tidak akan membiarkan istrinya untuk kembali bekerja di kantor. Alea cukup dirumah saja dan istirahat.


"Terima kasih banyak, Sayang. Terima kasih sudah bersedia mengandung anak kita." Ucap Tristan lalu bangkit dan menciumi kening sang istri.


Alea tersenyum lebar, ia menganggukkan kepalanya mendengar ucapan sang suami barusan.


Sejujurnya Alea tidak menyangka jika ia akan hamil secepat ini, tapi bisa saja saat di Bali Tristan mengajaknya berhubungan ketika dirinya sedang masa subur, makanya jadi janin di perutnya.


"Sama-sama, Mas." Balas Alea dengan senyuman yang tidak pernah luntur.


Tristan mencium perut Alea lalu mengusapnya dengan penuh kelembutan.


"Anak papi, baik-baik ya di perut mami. Nanti kita ketemu dan bermain bersama." Bisik Tristan.


Bicara begitu membuat Tristan tidak sabar menantikan kelahiran istrinya, sementara usia kandungan Alea baru saja memasuki Minggu ke enam.


Saat sedang asik mengusap dan menciumi perut Alea, tiba-tiba saja ponsel milik Tristan berdering. Pria itu lantas segera mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.


"Tristan, ke rumah sakit sekarang. Mama kamu sudah sadar!" Kata papa Jaya dari seberang sana.


"Iya, Pa. Aku akan kesana." Balas Tristan lalu menutup panggilannya.


Hari ini Tristan mendapatkan dua kabar baik. Satu kabar kehamilan istrinya, dan satu lagi kabar jika sang mama telah sadarkan diri. Tristan benar-benar bersyukur hari ini.


"Mas, ada apa?" tanya Alea melihat wajah sumringah suaminya.


"Mama sudah sadar, Sayang. Dia sudah melewati masa kritisnya." Jawab Tristan, membuat Alea ikut bahagia mendengarnya.


"Pergilah, Mas. Temui mama kamu," tutur Alea kepada suaminya.


"Kamu ikut ya, dia ada di rumah sakit ini juga kok." Ajak Tristan dengan antusias.


Alea tersenyum, kepalanya menggeleng pelan mendengar ajakan dari suaminya barusan. Alea bukan tidak mau menemui kedua orang tua Tristan, namun ia belum siap.


Alea takut jika kehadirannya nanti malah memperburuk suasana di ruang rawat mama Tristan. Alea tidak mau jika nantinya kondisi mama Tristan kembali drop karenanya.


"Lain kali ya, Mas. Aku nggak mau nanti mama kamu drop lagi jika lihat aku." Jelas Alea lembut.


Tristan menatap wajah istrinya dengan sendu, ia tahu bagaimana perasaan Alea. Pasti dalam lubuk hatinya yang kecil, Alea ingin sekali diakui oleh kedua orang tuanya, namun belum waktunya.


Tristan berjanji akan berusaha untuk membuat kedua orang tuanya menerima Alea, ia akan membuat penilaian kedua orang tuanya terhadap Alea berubah.


Tristan akan berusaha untuk menunjukkan pada kedua orangtuanya bahwa Alea adalah gadis baik-baik, dan ia juga bisa menjadi istri serta menantu yang baik.


"Maaf, Sayang. Aku janji akan buat kedua orang tuaku menerima kamu sebagai menantunya." Ucap Tristan lalu mencium kening sang istri dengan penuh kehangatan.


"Iya, Mas." Balas Alea mengangguk patuh.


Tristan pun akhirnya pamit pergi kepada istrinya. Ia tidak pergi jauh, masih ada di gedung yang sama untuk menjenguk sang mama yang katanya sudah sadar.


Saat keluar dari ruang periksa istrinya, Tristan menemui Mondy yang kala itu sedang duduk seorang diri di kursi tunggu.

__ADS_1


"Jaga istriku baik-baik." Kata Tristan lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari asistennya.


Mondy bangkit dari duduknya, ia lalu berjalan mendekati pintu ruang periksa istri atasannya dan melihat dari jendela berbentuk lingkaran yang ada di pintu.


Mondy bisa melihat Alea sedang menangis, itu pasti ada hubungannya dengan kedua orang tua atasannya yang belum bisa menerima Alea sebagai menantu mereka.


"Jangan menangis, Alea." Gumam Mondy pelan.


Sementara itu Tristan, ia baru saja sampai di kamar rawat mamanya. Tristan memang tidak butuh waktu lama untuk sampai di ruang rawat mamanya, sebab hanya perlu naik satu lantai untuk sampai disana.


Ketika masuk, Tristan melihat sang mama sudah bangun, bahkan terlihat duduk bersandar di brankar tempatnya berbaring.


"Mama!!" Tristan langsung berlari dan memeluk mama Saras erat.


"Mama, akhirnya mama sadar. Bagaimana kondisi mama?" tanya Tristan lembut.


Mama Saras tersenyum, ia mengusap sebelah wajah putranya yang tampan, mirip dengan suaminya.


"Mama nggak apa-apa, maaf ya membuat kalian khawatir." Jawab mama Saras pelan.


"Yaudah, yang penting sekarang kamu sudah baik-baik saja." Timpal papa Jaya lembut.


Mama Saras menatap Tristan dengan sendu, bagaimanapun ia masih ingat kesalahannya pada Tristan. Ia sangat menyesal telah menikahkan putranya dengan Linda.


"Tristan, mama minta maaf ya. Karena mama, bertahun-tahun ini kamu harus melewati hari bersama wanita seperti Linda." Ucap mama Saras dengan sesal.


Tristan menggeleng berkali-kali. "Nggak apa-apa, Ma. Mama nggak salah, tapi dia yang terlalu pandai menipu kita semua." Balas Tristan.


"Tristan, walaupun kami salah dengan menikahkan kamu bersama Linda, bukan berarti kami membenarkan sikap kamu yang berselingkuh." Kata papa Jaya dengan tegas.


"Ceraikan dia, Tristan." Pinta papa Jaya tanpa menatap putranya.


"Aku nggak bisa, Pa." Sahut Tristan menolak.


"Kenapa?" kali ini mama Saras bicara.


Tristan menatap papa dan mamanya bergantian, ia menghela nafas lalu mengantongi sebelah tangannya di saku celana.


"Alea sedang hamil, aku tidak mungkin meninggalkan dia. Lagipula apa kalian tega cucu kalian lahir tanpa ayah." Jawab Tristan.


Kedua orang tua Tristan tampak terkejut, mereka saling pandang satu sama lain mendengar wanita yang dinikahi putranya secara diam-diam kini sedang hamil.


"Wanita itu sedang hamil?" tanya mama Saras.


"Iya, Ma. Dia mengandung cucu yang mama inginkan selama ini," jawab Tristan manggut-manggut.


"Pa, wanita itu sedang hamil anaknya Tristan, cucu kita." Ucap mama Saras dengan sumringah.


"Kamu yakin anak itu anak kamu?" tanya papa Jaya dengan entengnya.


"PAPA!!" suara Tristan tiba-tiba meninggi mendengar pertanyaan dari sang papa.


Tristan menatap sang papa dengan penuh keberanian.


"Jika papa dan mama masih belum bisa menerima Alea atau anak dalam kandungannya, maka aku tidak akan menemui kalian." Ucap Tristan lagi.


"Oh, jadi begitu? Begitu wanita itu mengajarimu?" tanya papa Jaya semakin memperburuk suasana.


"Terserah apa penilaian papa tentang Alea, yang jelas aku tidak akan pernah meninggalkan apalagi menceraikan istriku!" jawab Tristan kemudian keluar dari ruang rawat sang mama.

__ADS_1


"Tristan!!" Panggil mama Saras, namun tidak dihiraukan oleh Tristan.


Tristan kembali ke ruang periksa istrinya, sampai disana ia melihat Alea sedang berusaha untuk bangkit dari duduknya.


"Sayang, mau kemana?" tanya Tristan buru-buru mendekat ke Alea.


"Lho, Mas. Kok cepat?" tanya Alea balik.


Tristan membantu Alea turun lalu memapahnya ke kamar mandi.


"Iya, mama sudah pulih kok." Jawab Tristan seandanya.


"Ngapain ke kamar mandi, Mas?" tanya Alea heran.


"Lho, memang kamu turun dari brankar mau kemana?" Tanya Tristan balik.


"Mau turun aja, aku nggak betah disini. Mau pulang," jawab Alea menjelaskan.


Tristan menepuk dahinya. Bisa-bisanya ia langsung mengambil kesimpulan jika istrinya mau ke kamar mandi.


"Yaudah, yuk pulang. Tapi janji jangan lelah ya nanti di rumah," pinta Tristan dan Alea hanya mengangguk-angguk.


Alea dan Tristan pun segera pergi dari rumah sakit, tentu urusan administrasi telah di urus oleh Mondy beberapa saat lalu, sehingga kini mereka tinggal langsung pulang saja.


Alea dan Tristan pulang dengan diantar oleh Mondy pastinya, sebab Tristan harus kembali ke kantor karena sebuah pertemuan.


"Nanti pokoknya langsung istirahat ya, besok aku mau ajak kamu ke suatu tempat." Ucap Tristan kepada istrinya.


"Iya, Mas." Balas Alea mengangguk kecil.


Alea hanya bisa mengangguk dan menjawab 'iya' saja. Alea tidak akan banyak protes ataupun banyak menolak, sebab ia tahu jika perkataan suaminya adalah yang terbaik.


"Mas, aku laper. Mau makan kue yang banyak cokelatnya," pinta Alea tiba-tiba.


Tristan terkekeh, ia menunduk lalu mencium perut Alea. Ini adalah ngidam pertama, dan sudah pasti Tristan akan memenuhinya.


"Mondy, kita ke toko kue!" Perintah Tristan pada Mondy.


"Baik, Pak." Balas Mondy.


Mereka pun mampir ke salah satu toko kue. Alea dan Tristan turun dan masuk ke dalam toko bersama. Alea harus ikut agar wanita itu bisa memilih sendiri.


"Mau yang itu." Ucap Alea menunjuk kue rasa strawberry.


Kening Tristan mengkerut. Bukankah tadi Alea ingin kue cokelat, kenapa jadi migrasi ke strawberry?


"Mas, aku mau itu!!" pinta Alea menarik-narik tangan Tristan.


"Iya-iya, Sayang. Beli apapun yang kamu mau," sahut Tristan pasrah.


Alea pun memilih banyak kue, ia bahkan sampai kesulitan untuk membawa paper bag berisi kue-kue yang tadi ia tunjuk.


"Nanti aku udang kakak aku ke apartemen kita boleh?" tanya Alea mendongakkan kepalanya.


"Boleh, Sayang. Lagipula aku kan lembur, jadi nggak apa-apa kakak kamu datang. Sekalian temanin kamu," jawab Tristan mengizinkan.


Alea memekik senang, ia lantas memeluk tubuh sang suami tanpa malu lagi kepada Mondy. Apa ini termasuk hormon ibu hamil?


ALEA HAMIL, YEAYYYY 🤗🤗

__ADS_1


Bersambung................................


__ADS_2