
Tristan menggendong Alea dan merebahkan tubuh mungil itu diatas ranjang king size hotel yang ia pesan. Kini keduanya sedang saling menatap satu sama lain.
Tatapan penuh cinta dan sarat akan kasih sayang dari Tristan, membuat wajah Alea memerah menahan malu.
Alea mengalihkan pandangannya, ia belum menjawab pertanyaan atau lebih tepatnya sebuah ajakan Tristan untuk menikahinya.
Alea tidak mungkin menikahi pria beristri, namun ia juga tidak mungkin terus melakukan hubungan layaknya pasangan tanpa adanya ikatan suci.
"Pak, maaf. Saya–" Ucapan Alea terhenti saat Tristan membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman.
Tristan mengecap bibir manis Alea dengan penuh kelembutan. Tidak ada napsu di dalamnya, hanya ada kasih sayang dan cinta.
Alea terbuai, ia memejamkan matanya dan mengalungkan tangannya di leher Tristan yang kokoh. Bahkan tangan Alea pun sesekali hinggap di dada bidang pria itu.
Tristan melepaskan tautan bibirnya, meskipun lamarannya beli dijawab oleh Alea, namun setidaknya ia sudah berani untuk mengungkapkannya.
Alea masih memejamkan matanya, ia bisa merasakan terpanas nafas berbau mint milik Tristan yang begitu menggodanya.
"Pak." Panggil Alea dengan mata yang masih terpejam erat.
Tristan mengusap kepala Alea, ia mencium kening wanitanya itu dengan hangat.
"Apa, Sayang?" sahut Tristan lembut.
"Jadikan aku istrimu." Pinta Alea dengan sedikit terbata.
Tristan tersentak, tangan yang tadi sedang mengusap kepala Alea kini berhenti. Tristan tersenyum dengan lebar, seakan dirinya baru saja mendapatkan hadiah besar.
"Apa, Alea? Coba ulangi." Pinta Tristan dengan tidak sabar.
"Nikahi saya, Pak. Saya siap menjadi istri anda," jelas Alea dengan tatapan mata yang tertuju pada manik hitam mempesona milik Tristan.
Tristan menangkup wajah Alea, ia menatap wanita cantik dibawahnya ini dengan penuh rasa bahagia.
"Alea, kau yakin?" tanya Tristan menyakinkan.
Alea menarik nafas, ia lalu mendorong Tristan pelan agar menjauh sebentar dari tubuhnya. Alea mengubah posisinya menjadi duduk.
"Saya tahu bahwa keputusan saya ini adalah sebuah kesalahan di mata masyarakat, tapi saya tidak bisa jika terus melakukan hubungan tanpa adanya ikatan." Ucap Alea tanpa menatap Tristan.
__ADS_1
"Saya juga takut hamil." Lanjut Alea menundukkan kepalanya.
Tristan kembali mendekat, ia menggenggam kedua tangan wanitanya lalu menciumnya berulangkali.
"Jangan takut, Alea. Jika kamu hamil, maka itu adalah kabar baik!" tutur Tristan menyakinkan.
"Aku akan mempersiapkan pesta pernikahan yang terbaik untuk kamu, Alea." Ujar Tristan dengan senyuman yang tidak pernah hilang dari wajahnya.
Alea menggelengkan kepalanya, ia tidak butuh pesta pernikahan yang mewah. Alea ingin menikah hanya agar saat mereka berhubungan, ia tidak lagi dibayang-bayangi rasa takut.
"Cukup nikahi saya secara siri, Pak." Kata Alea tanpa menatap Tristan.
"Alea, kamu sadar ucapan kamu tadi?" tanya Tristan terkejut.
Alea menarik nafas lalu membuangnya perlahan, ia mengangguk dengan mantap.
"Jangan menilai saya murah, tapi saya tidak mau pernikahan kita diketahui oleh orang lain, sebelum anda benar-benar menyelesaikan masalah anda dengan nyonya Linda." Jawab Alea menjelaskan.
"Jika anda sudah bisa membuktikan bahwa anda memang benar-benar ingin bercerai dengan istri pertama anda, maka saya siap untuk mempublikasikan pernikahan kita." Tambah Alea.
Tristan menatap Alea dengan kecewa, ia tentu tidak mau melakukan hal ini. Alea pantas mendapatkan pesta pernikahan yang mewah dan diakui oleh orang banyak.
Namun Tristan bisa apa, masalahnya dengan Linda belum sepenuhnya tuntas. Maka dengan itu, Tristan akan menyelesaikan urusannya dengan Linda sebelum menikahi Alea secara sah di mata hukum.
Tristan menarik Alea ke dalam pelukannya, ia dekap dengan erat tubuh wanita yang paling ia cintai di dunia ini.
"Aku akan segera menyelesaikan masalahku dengan Linda, dan mengakui kamu sebagai satu-satunya istriku nantinya, Azzalea." Bisik Tristan dengan yakin.
Alea tidak membalas pelukan Tristan, ia sendiri masih ragu dengan ucapannya tadi. Ia meminta Tristan untuk menikahinya secara siri, hal yang paling dihindari oleh setiap wanita.
Namun Alea terpaksa melakukan itu, selain ia tidak mau di cap sebagai perebut oleh orang banyak, Alea juga tidak mau jika dirinya terus menyakiti Linda.
Ya, Alea sadar jika menjadi simpanan Tristan saja sudah sangat menyakiti Linda, apalagi menjadi istri yang diakui. Alea tidak sanggup, ia sudah cukup menyakiti hati Linda.
Alea hanya bisa berharap, semoga Tristan dan Linda bisa berpisah secara baik-baik, tidak ada rasa mengganjal dari diri mereka berdua, sehingga nantinya ia akan bisa memulai hidup baru dengan Tristan.
Bohong jika selama ini Alea mengatakan tidak berharap pada Tristan. Alea selalu berharap bahwa pria itu mau bertanggung jawab setalah apa yang sudah hilang dari dirinya.
Setiap kali dirinya bercermin, Alea merasa bahwa dirinya menjadi wanita paling kotor dan menjijikan. Alea sangat yakin bahwa tidak akan ada satu pun pria yang mau menerima dirinya sebagai pasangan.
__ADS_1
Dengan meminta Tristan menikahinya secara siri, setidaknya Alea bisa merasakan yang namanya memiliki suami. Alea sudah siap menerima konsekuensinya, setidaknya jika nanti ia hamil, maka Alea akan bisa menjawab siapa ayah bayi dalam kandungannya.
Sementara itu di tempat lain, Linda terlihat memasuki apartemen Fade setelah menyelesaikan pekerjaannya sebagai model. Kini ia akan menemui mantan kekasih, alias calon suaminya.
"Sayang!!" Linda memekik senang dengan tangan terbuka lebar.
Namun senyuman di wajahnya hilang saat melihat Fade hanya diam sambil mengaduk minuman di gelasnya.
Linda mendekati Fade, ia tahu bahwa kekasihnya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Sayang." Tangan Linda kini berada di bahu Fade dan mengusapnya dengan lembut.
Fade tersadar, ia menoleh ke arah Linda dengan penuh senyuman.
"Hei, kamu sudah datang. Bagaimana pemotretannya?" tanya Fade seraya merapikan rambut kekasihnya.
Linda tersenyum lebar. "Lancar, Sayang." Jawab Linda kemudian memeluk tubuh Fade.
Jika dulu Linda selalu menjaga jarak dari Fade karena statusnya, kini justru wanita itu yang lebih agresif.
"Sayang, aku mau …" Linda menggantung ucapannya seraya mengusap-usap dada bidang kekasihnya.
Fade yang berwajah tampan dan gagah membuat Linda selalu merasa terpesona, ia ingin sekali saja merasakan kenikmatan dari gerakan Fade yang gagah itu.
"Sayang, sampai kapan kamu menahan diri untuk tidak menyentuh aku. Sudah sejak lama kamu selalu menolak!" Kata Linda dengan manja.
Fade bangkit dari duduknya, ia berdehem seraya mengantongi sebelah tangannya di saku celana.
"Saat kau sudah benar-benar bercerai dari Tristan, dan kita menikah. Aku pasti akan selalu menyentuhmu," jawab Fade tanpa menatap Linda.
Fade pun memilih untuk pergi ke ruang kerjanya. Saat ini ia butuh ketenangan, sejak bertemu dengan Firda waktu itu entah mengapa ia gelisah.
Fade tidak bisa mendeskripsikan rasa gelisah yang ia alami, namun ia menyimpulkan bahwa dirinya merasakan itu karena masih-masing terbayang-bayang akan pengkhianatan yang dilakukan oleh Firda dulu.
Sementara Linda, ia benar-benar kesal dengan Fade yang tidak mau menyentuh dirinya. Linda sedikit beruntung karena walaupun tidak mendapatkan nafkah batin dari Tristan ataupun Fade, ia bisa mendapatkan dari pria-pria yang menyewa dirinya.
Selain mendapatkan kepuasan, Linda juga mendapatkan banyak uang dari pada bos-bos besar yang mencicipi tubuhnya.
Profesi model hanyalah sebuah alibi untuk menutupi pekerjaan yang sesungguhnya, karena Linda lebih menikmati hasil menjual diri daripada hasil dari foto modelnya.
__ADS_1
KEPUTUSAN ALEA UDAH BENAR ATAU BELUM YAAA??
Bersambung............................