Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Melabrak Alea


__ADS_3

Hari ini Alea kembali datang ke kantor, ia tidak enak pada seluruh karyawan disana karena sejak kembali dari Bali, Alea belum masuk lagi ke kantor.


Untuk bisa datang ke kantor, Alea harus memaksakan Tristan agar mengizinkannya. Sejak tadi pria itu melarang dan meminta untuk tetap berada di apartemen.


Namun karena Alea memaksa sambil memohon, akhirnya Tristan menuruti kemauannya untuk datang ke kantor.


Baru saja keluar dari lift, Tristan tiba-tiba memegang tangannya dan berhasil mencegah Alea yang hendak duduk di kursi kerjanya.


"Jika terlalu lelah, aku akan buat kamu merintih nanti malam." Ucap Tristan dengan jari telunjuk yang bergerak-gerak di depan wajah Alea.


Alea terkekeh, ia menatap ke sekitar yang belum terlalu ramai. Kepala Alea mengangguk, tanda bahwa dirinya paham dengan apa yang suaminya ucapkan barusan.


"Aku paham, Mas." Balas Alea berbisik.


Entah kenapa Tristan ingin selalu dirinya dirumah, padahal jika dirinya bekerja maka mereka akan sering bertemu kan.


Tristan tersenyum lebar, ia tidak seperti Alea yang memandang kanan kiri untuk bicara, bahkan Tristan mencium kening Alea tanpa peduli apakah ada yang melihatnya atau tidak.


Alea membelalakkan matanya, ia memukul pelan tangan suaminya yang asal saja mencium, padahal jelas-jelas ini dilingkungan kantor.


"Mas, ishh!" Cibir Alea kesal.


"Semangat kerjanya, Sayangku." Bisik Tristan kemudian pergi ruangannya sendiri.


Mondy menyusul di belakang Tristan, ia membawa dokumen penting untuk atasannya itu.


Sampai di dalam ruangannya, Tristan langsung duduk dan menyalakan laptop miliknya.


"Tuan, ini berkas-berkas perceraian anda. Pengacara kita sudah mengurusnya," ucap Mondy memberikan dokumen itu kepada Tristan.


Tristan menerimanya, namun ia tidak melihat isinya. Baginya itu tidak penting, yang penting adalah ia bisa segera bebas dari Linda.


Tristan tentu saja sudah menyiapkan dokumen harta gono-gini untuk Linda, ia tidak mau jika wanita itu akan mempersulit proses cerai hanya karena harta.


"Sudah katakan pada pengacara kita tentang harta gono-gini yang wanita itu minta?" tanya Tristan tanpa menatap Mondy.


"Tentu, Tuan." Jawab Mondy sopan.


Tristan manggut-manggut, ia pun mulai membicarakan tentang pekerjaan dengan Mondy dan melupakan masalah perceraian.


Sementara itu di luar ruangan, Alea pun mulai melakukan pekerjaannya. Ia benar-benar pusing dengan jadwal perjalanan dinas Tristan dan agenda kegiatan pria itu selama satu bulan ternyata sangat banyak.


"Ya ampun, apa mas Tristan tidak lelah bolak-balik ke luar kota terus." Gumam Alea geleng-geleng kepala.


Alea pun mulai merekapnya, beberapa agenda ada yang dibatalkan atau di reschedule dan itulah yang harus Alea rekap sesuai dengan tanggal dan jamnya.


Ketika sedang asik bekerja, Alea dikejutkan oleh sebuah gebrakan keras diatas meja kerjanya. Ia yang saat itu fokus, langsung mendongak dan melihat siapa yang datang.


Kedatangan Linda yang tiba-tiba dan tampak tidak bersahabat membuat beberapa karyawan menatap meja kerja Alea dengan penuh penasaran.


"N-nyonya Linda." Kata Alea dengan bibir gemetaran.

__ADS_1


Alea bangkit dari duduknya, ia menundukkan kepalanya dengan sopan, namun ia malah mendapatkan balasan yang kasar.


Linda tanpa ragu langsung menjambak rambut Alea dan menyeretnya dengan kasar.


"Akhhh, Nyonya. Lepaskan, saya kesakitan." Ucap Alea pelan seraya berusaha melepaskan jambakan Linda.


Linda semakin menjambak rambut Alea, bahkan menariknya ke belakang sehingga Alea mendongak karenanya.


"Sakit? Baru seperti ini kau sakit hah? Lalu apa yang aku rasakan saat kau berselingkuh dengan suamiku!!" Bentak Linda di depan wajah Alea.


Alea menangis, ia benar-benar merasa sangat sakit dan malu mendengar tiap kata yang keluar dari mulut Linda.


Tampak semua karyawan yang ada disana mencibir Alea. Mereka semua telah curiga sejak Alea pergi berdua saja dengan Tristan.


"Ihh ya ampun, pantas bisa jadi sektretaris dengan mudah. Ternyata selingkuhan atasan dia," cibir salah satu karyawan.


Linda mendorong Alea sampai ke tengah-tengah lingkaran para karyawan, ia lalu mendekat dan menunjuk-nunjuk Alea.


"Lihatlah! Dia ini adalah seorang pelakor. Dia berselingkuh dengan suamiku, dengan atasan kalian. Bahkan dengan tidak tahu malunya, dia masih berani bekerja disini." Kata Linda terus mencaci maki Alea.


Alea menundukkan kepalanya, ia menangis tanpa berani menatap siapapun yang mulai mencibir dirinya. Alea bisa mendengar hinaan dari semua orang yang ada disana.


"Mas Tristan, tolong aku." Gumam Alea lirih.


"Dasar wanita murahan, kau benar-benar sangat tidak tahu terima kasih. Aku memperlakukan mu dengan baik, tapi kau malah menusukku dari belakang." Hina Linda lagi dengan nada tinggi.


"LINDA!!" bentakan itu berasal dari belakang Linda.


Tubuh Linda seketika tegang mendengar suara tegas dan keras itu memanggil namanya, namun demi membuat Alea malu dan tidak lagi memiliki keberanian untuk datang ke kantor, maka ia akan berpura-pura berani.


"Oh hai, suamiku sayang." Sapa Linda dengan penuh senyuman.


Tristan berjalan mendekati Linda. "Apa? Suami? Aku sudah mentalak dirimu di rumah sakit waktu itu. Statusmu kini bukan siapa-siapa bagiku." Jelas Tristan.


Sengaja Tristan bicara keras, agar semua karyawannya tahu bahwa perempuan di depannya ini sudah gila.


Tristan lalu menatap istrinya yang terduduk di lantai dengan penampilan yang berantakan. Tubuh mungil Alea yang bergetar menandakan jika wanita itu menangis.


Tristan lantas berlutut di depan Alea, ia membuka jas miliknya lalu menyelimuti tubuhnya Alea dengan jasnya.


"Ssstt, nggak apa-apa Sayang. Ada aku, jangan takut ya." Bisik Tristan dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Tristan memeluk Alea, lalu mengajaknya untuk berdiri. Ia kembali berjalan mendekati Linda yang terlihat tidak suka.


"Kau menyebut istriku pelakor? Sadar posisimu Linda, kau bukan siapa-siapa. Kau hanya seorang mantan istri!" Ujar Tristan sengaja menakan kata 'istriku'.


Tristan lalu menatap seluruh karyawan yang ada disana, tatapannya yang tajam dan penuh akan kemarahan berhasil membuat seluruh tubuh karyawannya gemetaran.


"Alea adalah istriku yang sah, kalian telah berani menghina istri ceo kalian, maka kalian yang ada disini, akan saya pecat." Ucap Tristan dengan tegas.


Alea menggenggam tangan suaminya, hal itu membuat Tristan menunduk dan menatap mata istrinya yang berair.

__ADS_1


"Jangan." Kata Alea dengan lemah.


"Tapi mereka sudah menghina kamu," ucap Tristan, namun Alea tetap menggelengkan kepalanya.


Tristan menghela nafas, ia lalu menatap Mondy dengan isyarat agar pria itu mengurus semua karyawan yang menonton apalagi menghina Alea.


"Aku akan buat perhitungan atas sikapmu hari ini, Linda." Ucap Tristan dengan penuh penekanan.


Linda mengepalkan tangannya, ia menatap punggung Tristan dan Alea yang perlahan hilang karena keduanya sudah masuk ke dalam ruangan pria itu.


"Pergi, sebelum saya panggil sekuriti." Usir Mondy dengan dingin.


"Lancang sekali, kau lupa jika aku–" ucapan Linda terhenti.


"Mantan istri bos saya, jadi pergilah." Potong Mondy dengan dingin.


Linda semakin kesal, ia pun akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan kantor Tristan. Walaupun gagal, tapi apa yang terjadi hari ini cukup menghibur hatinya.


Melihat Alea yang menangis tadi, sudah cukup membuat ia puas. Kini giliran gadis bernama Firda, kakaknya Alea.


Linda awalnya terkejut mengetahui identitas Firda yang ternyata memiliki adik bernama Alea. Dunia ini benar-benar sempit ternyata, kakak beradik itu sama-sama merebut pasangannya.


Kembali lagi ke Mondy, ia menatap satu persatu wajah karyawan yang ada disana.


"Jika kalian masih ingin bekerja, kembali ke tempat kalian dan lupakan kejadian hari itu, atau pak Tristan benar-benar menendang kalian dari perusahaan ini." Ucap Mondy kemudian pergi ke ruangannya sendiri.


Mondy tidak akan masuk ke ruangan Tristan tanpa perintah pria itu, ia paham jika mereka berdua butuh waktu.


Jika saja boleh jujur, ia juga marah ketika melihat Linda menghina Alea. Jelas-jelas wanita itu bersalah, tapi malah menghina Alea di depan seluruh karyawan.


Mungkin jika diizinkan, Mondy akan memukul dan menjambak rambut Linda.


Sementara itu diruangan Tristan, Alea tampak menangis dalam pelukan Tristan yang sigap mengusap punggungnya penuh kehangatan.


Alea seperti sudah tidak punya muka lagi di hadapan karyawan Tristan setelah apa yang terjadi hari ini, apalagi ketika dirinya mendengar Tristan membongkar status mereka sekarang.


"Tenanglah, Sayang. Semua baik-baik saja," bisik Tristan seraya mencium puncak kepala istrinya.


Alea menggelengkan kepalanya. "Aku emang salah, Mas." Ucap Alea pelan.


Alea mendongak menatap suaminya, jika dipikir memang dirinya itu bersalah. Dari segi manapun, Alea pasti akan disebut sebagai perebut suami orang.


"Nggak ada salah, Sayang. Kamu istriku," balas Tristan lembut.


Tristan mencium kening Alea, lalu memeluk tubuh itu lagi dengan sangat erat. Tristan juga mencium puncak kepala Alea sebagai bentuk kasih sayangnya kepada sang istri tercinta.


"Kepala aku pusing, Mas." Lirih Alea memegangi kepalanya.


Usai mendengar ucapan Alea, Tristan langsung merasakan bobot tubuh Alea menjadi bertambah. Hal itu menandakan jika Alea tidak sadarkan diri.


"Sayang, heii. Alea!!" Tristan panik, ia menepuk-nepuk pipi istrinya pelan.

__ADS_1


SATU KATA BUAT LINDA???


Bersambung................................


__ADS_2