
Fade terbangun dari tidur nyenyak nya di sore hari. Pria itu berusaha untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang, namun ia kesulitan.
Fade mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, dan ia tidak menemukan siapapun selain dirinya, bersama kesunyian.
"Kemana wanita itu." Gumam Fade kesal.
Fade berusaha meraih kursi rodanya, namun ia malah terjatuh ke lantai yang untungnya di lapisi oleh karpet berbulu.
"Arghh, sial!" umpat Fade seraya memegangi sebelah kakinya.
Fade kesal dengan keadaannya saat ini, ia tidak bisa berjalan tanpa alat bantu meski hanya sebelah kakinya saja yang dinyatakan lumpuh sementara.
Tidak lama kemudian pintu terbuka lebar, memperlihatkan Firda yang datang dengan penampilan yang cukup rapi setelah mandi.
"Astaga, Fade!!!" Pekik Firda buru-buru mendekati Fade.
Firda baru saja selesai mandi dari kamar tamu, ia yang lewat untuk memasak sengaja ingin ke kamar Fade sebentar untuk melihat apakah pria itu sudah bangun atau belum, dan ternyata Fade malah sedang duduk di lantai.
Firda berlari kecil mendekati Fade, ia lalu membantu pria itu untuk berdiri, meskipun pria itu sedikit menolaknya.
"Jangan pegang-pegang." Ketus Fade menepis tangan Firda saat dirinya sudah duduk di pinggir ranjang.
Firda tersentak, ia buru-buru menjauhkan diri dari Fade. Kepala gadis itu tertunduk sebentar lalu menunjukkan sebuah senyuman lebar.
"Kamu mau kemana, kenapa nggak panggil aku, Fad?" tanya Firda lembut.
Fade tidak langsung menjawab, pria itu berdecak lalu menatap tajam gadis di hadapannya ini.
"Memanggilmu? Bukankah seharusnya kau ada disini terus, sehingga aku tidak perlu repot-repot memanggil jika sedang butuh sesuatu." Jawab Fade dengan ketus.
"Kau memang selalu saja menyusahkan!" tambah Fade.
__ADS_1
Fade tiba-tiba terdiam, ia memegangi dadanya yang entah mengapa terasa sesak setiap kali dirinya membentak atau menghina gadis itu.
Perasaan yang Fade rasakan seakan membantah tiap kalimat jahat yang dikeluarkan oleh mulutnya untuk Firda.
"Fad, maafkan aku. Tapi tadi aku sedang mandi, dan sekarang aku harus membantu bibi masak." Kata Firda pelan.
Fade menatap Firda yang sudah menangis meski tanpa suara. Hal itu justru semakin menambah rasa sesak di dada Fade tanpa alasan yang jelas.
"Fad, kamu baik-baik aja?" tanya Firda khawatir.
Firda menyeka air matanya, ia lalu mendekati pria itu dan memegang tangan Fade yang ada di dadanya sendiri.
"Fad, apa disini sesak? Apa mau aku panggil dokter?" tanya Firda semakin dilanda kekhawatiran.
"Arghhhh!!" Fade berteriak keras ketika merasakan kepalanya ikut sakit, bahkan sangat sakit.
"Fad, kamu tunggu disini. Aku akan panggil dokter," tutur Firda.
"Fad, sebentar saja. Aku janji hanya sebentar, kamu kesakitan!!" tutur Firda dengan rasa takut di dalam dadanya.
Firda takut, ia tidak mau jika sesuatu yang semakin parah terjadi pada Fade. Ia panik setiap kali mendengar Fade berteriak kesakitan, karena bagaimanapun kondisi pria itu sekarang adalah demi menyelamatkan nya.
"Kepala sakit sekali." Cicit Fade dengan mata terpejam dan sesekali terbuka.
Firda bingung, ia ingin pergi untuk menghubungi dokter, namun Fade enggan untuk ditinggal.
Firda akhirnya mendekati Fade, gadis itu menarik tubuh Fade ke dalam pelukannya. Firda mengusap punggung lebar pria itu dengan penuh kelembutan.
"Tenang, Fad. Jangan berusaha untuk berpikir keras," bisik Firda lembut.
Firda yang berdiri dan Fade yang duduk membuat posisi mereka terlihat cukup intim dan romantis. Firda mendekap erat tubuh pria itu, sementara Fade melingkarkan tangannya di pinggang ramping Firda.
__ADS_1
"Jangan berpikir apapun, Fad. Kondisi kamu belum sepenuhnya pulih, aku akan panggil dokter ya," bisik Firda.
Fade tidak menyahut, ia sesekali masih meringis lalu melepaskan pelukannya di tubuh Firda.
"Pergi." Usir Fade tanpa kejelasan.
Firda bingung, namun ia akhirnya pergi dari kamar Fade untuk menelpon dokter. Fade harus segera mendapat penanganan dari dokter.
Firda menelpon dokter dengan ponselnya, tangan dan jari-jarinya tampak gemetaran ketika mencari nomor sang dokter.
"Firda." Panggil Zian yang baru saja kembali dari joging sore.
Firda menoleh, ia lalu mendekati Zian. "Zian, bantu aku. Tolong hubungi dokter, Fade kesakitan." Pinta Firda dengan air mata yang turun ke pipinya.
Zian menatap Firda yang menangis, gadis di depannya ini tampak begitu khawatir dan peduli pada Fade yang selama ini sudah menghina dirinya.
"Zian, tolong." Ucap Firda lagi saat Zian malah terus menatapnya.
Zian pun segera menekan kontak dengan nama 'dokter' di ponsel Firda. Saat Zian sedang berusaha menelpon, ia terkejut ketika Firda berlari ke lantai atas.
Zian menatap kepergian Firda dengan perasaan yang campur aduk. Ia benar-benar dibuat kagum oleh gadis itu, karena meski sudah di hina oleh Fade, Firda tetap peduli padanya.
"Apa mungkin Firda mencintai Fade, tapi bukankah dia hanya istri pura-pura saja." Batin Zian bertanya-tanya.
Ya, Zian belum tahu cerita lengkap antara Firda dan Fade. Yang ia tahu hanya Firda adalah pelaku kecelakaan dan sedang bertanggung jawab pada Fade dengan berpura-pura menjadi istri pria itu.
Zian tidak tahu bahwa sebelum ini semua terjadi, atau bahkan sebelum Linda menuduh Firda. Fade dan Firda adalah pasangan yang saling mencintai, bahkan sebelum kecelakaan Fade berjuang untuk mendapatkan cinta gadisnya.
Telepon pun diangkat, Zian segera meminta dokter untuk datang karena kondisi Fade yang kesakitan.
Bersambung.............................
__ADS_1