
Ruangan kecil dengan pencahayaan yang minim membuat wanita yang duduk terikat disana tampak kurang nyaman. Wanita itu berusaha untuk melepaskan diri, namun tidak bisa karena seluruh tubuhnya terikat.
Wanita itu hendak berteriak, namun mulutnya di lakban sehingga hanya erangan tidak jelas yang keluar dari mulutnya.
Pintu ruangan yang mirip ruang interogasi itu terbuka dengan kasar, terlihat seorang pria masuk lalu mencengkram wajah wanita yang sejak tadi berusaha melepaskan diri.
"Begini kan kau memperlakukan Alea? Bagaimana rasanya, sakit?" Tanya pria itu dengan tangan yang semakin kasar mencengkram wajah wanita itu.
Linda membelalakkan matanya karena sakit, ia berusaha untuk protes namun tidak bisa.
Pria itu tersenyum misterius lalu membuka lakban yang menutupi mulut Linda dengan kasar. Terdengar pekikan rasa sakit dari mulut Linda, membuat pria itu tertawa.
"Mondy, kau tidak punya sopan santun hah!" bentak Linda pada sosok pria dihadapannya ini.
Mondy memasang wajah datar, ia melipat tangan di dada lalu geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan dari wanita murahan di depannya.
"Sopan santun? Apa kau tidak mau membahasnya, kau saja tidak memiliki sopan santun." Timpal Mondy tertawa mengejek.
"Lepaskan aku, Mondy!!" pinta Linda berteriak.
"Tentu, aku akan melepaskan mu. Tapi nanti, setelah tuan Tristan datang dan membunuhmu." Balas Mondy lalu duduk di kursi yang ada disana.
Wajah Linda pias, keringat yang membasahi wajahnya kini mulai bercucuran bahkan sampai ada yang menetes. Hal itu membuktikan bahwa Linda itu takut.
"Kenapa? Kau takut?" tanya Mondy mengejek.
"Jika kau takut, kenapa masih berani melukai nona Alea. Kau sudah membuatnya terluka, maka jangan harap kau masih bisa hidup setelah ini." Tambah Mondy memperjelas.
Linda menggelengkan kepalanya. "Mondy, aku mohon lepaskan aku. Aku sangat menyesal, tapi tolong jangan bunuh aku!!" pinta Linda histeris.
"Begini kan, pasti begini nona Alea dan kakaknya memohon untuk dilepaskan, tapi apa? Kau malah menyiksanya!" balas Mondy tidak peduli.
Linda menangis, ia menundukkan kepalanya dengan penuh rasa takut. Ia seharusnya pergi dari sana, tapi karena ingin melihat Alea dan Firda tersiksa akhirnya ia memilih diam.
Sekarang lihat apa yang Tristan dan Fade lakukan padanya, mereka berdua berganti mengikat dan mengurung dirinya ditempat yang ia sendiri tidak ketahui.
Entah hukuman apa yang akan mereka berdua lakukan, yang jelas ia sangat ketakutan. Linda tidak mau mati sekarang, ia masih ingin menikmati hidupnya.
"Percaya atau tidak, tapi tuan Tristan pasti akan menyiksamu dulu dengan kejam sebelum membunuh." Ucap Mondy sebelum pergi.
"Aku tidak mau! Lepaskan aku." Pinta Linda berteriak.
"Tuan Tristan sangat mencintai istrinya, dan kau cukup berani untuk menculik nona Alea. Aku salut padamu, tapi terima konsekuensinya setelah ini." Ujar Mondy lalu keluar dari ruang penyekapan Linda.
"MONDY!! AKU JUGA ISTRINYA TRISTAN!!" teriak Linda namun tidak ada yang menghiraukannya.
Mondy keluar saat mendengar suara mobil yang berhenti cepat di depan gudang yang merupakan markas anak-anak buah Tristan.
Tristan datang, dan Mondy langsung menyambutnya dengan sopan.
Seluruh anak buah Tristan tampak ketakutan dengan melihat wajah Tristan yang merah dan penuh akan kemarahan.
Mereka semua yakin jika wanita yang sudah menyiksa istri bos mereka itu tidak akan baik-baik saja.
"Dimana wanita murahan itu?" Tanya Tristan penuh penekanan.
"Mari, Tuan." Tutur Mondy mempersilahkan.
Mondy mengantar Tristan ke ruangan dimana Linda berada, saat keduanya disana. Linda terlihat berbinar dan memohon.
"Tristan, aku mohon lepaskan aku. Aku menyesal, aku minta maaf." Ucap Linda dengan penuh permohonan.
__ADS_1
Tristan mengepalkan tangannya, ia tidak menjawab setiap ocehan yang wanita itu katakan barusan. Tristan mendekat lalu menendang kursi dimana Linda duduk hingga jatuh.
Linda meringis kesakitan, namun itu tidak sama sekali membuat Tristan iba apalagi simpati.
Tristan malah menginjak tangan Linda yang masih terikat, bahkan wanita itu sudah kesakitan karena tangannya tertindih sandaran kursi yang ia duduki sendiri.
"Hiks … Tristan, aku mohon lepaskan aku. Aku janji tidak akan mengganggumu dan juga Alea lagi." Pinta Linda memohon dengan sangat.
Tristan semakin menginjak tangan Linda, sejak tadi belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Tristan.
Pria itu tampak menyeramkan, tidak berucap tapi langsung bertindak. Tentu saja, Tristan sangat hancur mengetahui anaknya tidak bisa diselamatkan.
Tristan melupakan injakannya, namun bukan berhenti menyiksa, Tristan kini menendang perut wanita itu. Persis seperti yang anak buah Linda lakukan pada istrinya.
Tristan mengetahuinya karena Firda bercerita, maka ia akan membuat Linda 100 kali kesakitan dari rasa sakit yang istrinya terima.
"Akhhh, Tristan. Tristan skait, hiks …." erang Linda kesakitan.
"SAKIT HAH! INILAH YANG ISTRIKU RASAKAN!!" bentak Tristan dengan nada sangat tinggi.
Tristan berlutut, ia menjambak rambut Linda sampai membuat wanita itu mendongakkan kepalanya.
"Saat kau tahu Alea sedang hamil, kau tetap menyiksanya, bahkan menyuruh anak buahmu yang busuk itu menendang perut istriku. Maka lihat saja hukuman apa yang pantas untuk wanita jahat sepertimu!" ucap Tristan dengan penuh penekanan.
"Tristan, hiks … aku mohon, aku tidak mau mati." Pinta Linda dengan lirih.
"Tidak mau mati, sementara kau sudah membunuh anak dalam kandungan istriku!" balas Tristan lalu membenturkan kepala Linda ke lantai.
Linda benar-benar merasa sangat kesakitan, ia masih dengan posisi terjatuh di lantai dengan tubuh yang masih terikat. Tubuhnya benar-benar remuk, belum lagi perut dan kepalanya.
"Jangan bunuh dia." Ucap Tristan kepada Mondy.
Linda menatap Tristan dengan penuh harapan, ia mengira bahwa Tristan akan melepaskannya tapi ternyata tidak.
Linda menggeleng, ia tidak mau melakukan apa yang Tristan katakan barusan.
"Tidak! Tristan, aku mohon jangan lakukan itu." Pinta Linda berteriak.
Tristan menoleh. "Aku masih berbaik hati dengan tetap menjadikanmu sebagai jalan* di sini. Kau wanita yang haus akan belaian, jadi nikmatilah." Balas Tristan dengan kejam.
"Tidak, aku tidak mau. TRISTAN!!!!" panggil Linda berteriak.
Tristan tidak mempedulikan panggilan Linda, kini ia berdiri di hadapan semua anak buahnya yang berjumlah puluhan orang.
"Siksa dia, tapi jangan sampai mati sekalipun dia memohon untuk itu. Biarkan dia tersiksa sampai aku datang kembali kesini dan memberi perintah untuk membunuhnya." Ucap Tristan pada semua anak buahnya.
Tristan sengaja tidak membawa kasus ini ke jalur hukum, sebab ia tidak mau Linda di hukum penjara. Hukuman itu sangat-sangat ringan untuk wanita jahat seperti Linda.
Maka dari itu, Tristan akan memilih sendiri cara untuk menghukum Linda, yaitu dengan menjadikannya sebagai pelayan di markas anak-anak buahnya.
"Kalian mengerti?" tanya Tristan.
"Siap, Bos!" jawab semuanya bersama.
Setelah mengatakan itu, Tristan pun pergi meninggalkan markas. Ia harus kembali ke rumah sakit dan melihat kondisi istrinya.
Tristan berharap bahwa Alea akan segera sadar, transfusi darah juga sudau dilakukan tadi. Kini mereka semua hanya tinggal menunggu kesadaran Alea saja.
"Sayang, semoga kamu bisa menerima semua ini. Aku janji akan selalu ada di samping kamu," lirih Tristan.
Tristan pun semakin meningkatnya kecepatan mobilnya, ia benar-benar tidak sabar untuk sampai di rumah sakit. Tristan ingin berada di samping istrinya, sehingga saat Alea sadar maka hal yang pertama ia lihat adalah wajahnya.
__ADS_1
Tristan tidak tahu apakah istrinya itu akan marah atau tidak padanya, tapi yang jelas ia akan berada di sebelah istrinya.
Tristan akan melindungi, menjaga dan merawat istrinya dengan penuh cinta dan kasih sayang, ia juga akan mencoba untuk menguatkan Alea yang dipastikan histeris saat tahu bahwa anak dalam kandungan nya tidak terselamatkan.
Sementara itu di rumah sakit. Sambil menunggu Alea sadar, Firda kini sedang diobati oleh Fade. Ia menolak, namun pria itu memaksa.
Kini Mondy sedang mengoleskan alkohol untuk membersihkan luka di sudut bibir Firda.
"Aww …" ringis Firda kesakitan.
Fade menatap Firda, ia lalu meniup sudut bibir itu dengan jarak yang cukup dekat.
Firda terdiam, ia memperhatikan wajah Fade dengan seksama. Pria di depannya ini selalu tampan. Firda menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh kembali terpesona.
Ia sudah bertekad untuk melupakan Fade, sekalipun pria itu sudah tidak bersama Linda lagi.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Fade setelah selesai mengobati Firda.
"Kau." Jawab Firda langsung.
Fade menatap Firda, ia memperhatikan wajah gadis cantik di depannya ini dengan penuh kasih sayang.
"Pergi dari sini." Usir Firda dengan suara pelan, dan pandangan yang teralihkan.
Fade mencoba menatap Firda, namun gadis itu tampak menolak dan menghindari tatapan sarinya.
Fade tersenyum simpul. "Kamu masih sama, sama-sama menggemaskan." Puji Fade dengan jujur.
Firda langsung menatap Fade dengan tajam.
"Berhenti membual. Terima kasih sudah menyelamatkanku, dan aku minta kau untuk pergi." Usir Firda lagi.
Fade meraih tangan Firda, ia menggenggam bahkan mencium punggung tangannya.
"Aku tahu kamu marah, tapi tolong izinkan aku berjuang untuk mendapatkan kamu lagi, Fir." Pinta Fade.
"Biarkan aku yang mengejar cinta kamu, tolong." Tambah Fade dengan sangat memohon.
"Aku tidak sedang berlari sampai-sampai kau harus mengejarku." Ketus Firda.
Fade terkekeh, ia menangkup wajah cantik gadis itu. "Tapi hati kamu berusaha untuk lari, dan aku akan mengejarnya." Ungkap Fade.
Fade tersenyum manis, ia lalu mencium kening Firda dengan penuh kehangatan dan sarat akan kasih sayang yang begitu besar.
Firda sendiri tidak menolak, ia memejamkan matanya saat meraskaan betapa hangatnya bibir Fade di keningnya.
Namun setelah beberapa saat, Firda mendorong Fade menjauh. Firda jijik membayangkan bibir Fade mencium dan membelai Linda.
"Kenapa, Sayang?" tanya Fade.
"Jangan menyentuh apalagi mencium ku dengan bibir yang biasa memanjakan Linda!" jawab Firda.
Fade tersenyum simpul, Firda pasti tidak akan percaya jika selama ini dirinya tidak menyentuh Linda. Fade tidak menyangkal, ia pernah mencium bibir Linda, tapi itu bisa dihitung jari.
"Apa aku harus operasi bibir untuk menghilangkan jejak Linda?" tanya Fade jahil.
"Buang saja sekalian bibirnya." Jawab Firda ketus.
Fade tertawa mendengar suara ketus yang menggemaskan milik Firda, gadis yang masih sangat dicintainya.
BUANG BIBIRNYA KATA MBA FIRDA 😫
__ADS_1
Bersambung..............................