Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Terima kasih, Ma


__ADS_3

Alea menangis dalam pelukan mama Saras, mengucapkan ribuan terima kasih atas apa yang telah ibu mertuanya itu lakukan demi dirinya.


Alea masih tidak menyangka jika mama Saras akan benar-benar membela dirinya di depan semua orang yang merupakan teman-temannya.


"Mama, hiks … terima kasih, terima kasih sudah mau menerimaku." Ucap Alea dengan tangis yang tidak kunjung berhenti.


Mama Saras mengusap rambut menantunya dengan ragu. Tidak ada kalimat yang keluar dari bibirnya, hanya gerakan verbal yang ia berikan.


Alea melepaskan pelukannya, ia menyeka air matanya lalu menatap mama Saras dengan wajah yang basah karena air mata.


"Terima kasih, Ma." Ucap Alea lagi dengan senyuman penuh kebahagiaan.


Mama Saras tersenyum hangat, ia lalu pergi meninggalkan menantunya itu tanpa bicara apapun.


Alea tidak akan terlalu menuntut ibu mertuanya, dengan perlakuan mama Saras hari ini adalah salah satu awal yang sudah lebih dari cukup, dan Alea yakin seiring waktu ibu mertuanya itu akan semakin menerima dirinya.


Alea menghela nafas dengan senyuman yang masih belum hilang, ia tidak sabar mengatakan ini pada suaminya.


"Mas, kamu akan sangat bahagia mendengar apa yang terjadi hari ini." Gumam Alea lalu pergi ke kamarnya.


Alea berharap setelah ia menceritakan tentang sikap mama Saras yang sudah menerimanya, maka perselisihan antara suami dan ibu mertuanya selesai.


Alea sudah cukup melihat tatapan tajam dan sorot mata marah suaminya, ia tidak mau Tristan terus memperlakukan ibunya seperti itu.


Alea sampai di kamar, ia menggendong putranya lalu menimang-nimang nya penuh kasih sayang. Kehadiran Alkano benar-benar membawa keberkahan untuk keluarga ini.


"Makasih ya, Nak. Kamu memang anugerah untuk mami, kamu anak kebanggaan papi dan mami." Ungkap Alea sembari menciumi wajah putranya.


Ketika Alea masih asik dengan putranya, tiba-tiba saja pintu kamarnya ada yang mengetuk lalu terbuka perlahan.


Aira melongok, lalu memasang wajah penuh senyuman ketika melihat kakak iparnya ternyata tidak tidur.


"Ai, masuklah." Tutur Alea pada sang adik ipar.

__ADS_1


Aira lekas masuk, ia baru saja datang dan langsung masuk ke dalam kamar kakaknya. Aira merindukan keponakannya.


"Kakak, aku sangat merindukan keponakanku ini." Ucap Aira lalu mengambil alih gendongan Alkano.


Parut wanita itu yang sudah semakin besar membuat pergerakan nya sedikit terbatas, namun masih bisa menggendong Alkano.


"Kakak kenapa?" Tanya Aira bingung.


"Kamu tahu, Ai. Hari ini mama sudah menerimaku, dia bahkan membelaku di depan teman-temannya." Jawab Alea langsung.


Aira bingung dan tidak mengerti maksud kata-kata kakak iparnya. Melihat kebingungan di mata adik iparnya, Alea lantas menceritakan kejadian hari ini tanpa ada yang terlewat.


Setelah mendengar cerita Alea, rasa senang Aira tidak terkontrol sampai memekik senang dan membuat Alkano sedikit terkejut.


"Kakak, sungguh?!!" Tanya Aira dengan tatapan tidak menyangka.


"Iya, mama mengakui statusku sebagai menantu rumah ini." Jawab Alea.


"Aku tahu hari ini akan datang, kenapa? Karena kakak memang wanita yang baik, dan kak Tristan beruntung bisa memiliki istri sepertimu." Ucap Aira.


"Aku senang untuk kakak, akhirnya mama menyadari jika menantunya memang wanita yang baik, terlepas dari cara kalian bersatu." Tambah Aira lalu memeluk Alea.


Alea menganggukkan kepalanya, ia harus bahagia meski terkadang ingatannya kembali pada cara dirinya dan Tristan bersatu. Ia adalah seorang perebut.


***


Sore harinya, Alea bersama Aira dan kedua orang tuanya. Ada mama Saras dan papa Jaya yang asik mengajak Alkano bicara.


Papa Jaya baru saja kembali dari rumah temannya ketika mama Saras membelanya habis-habisan di depan teman-temannya sehingga kemungkinan ayah mertuanya itu tidak tahu soal ini.


"Cucu oma semakin tampan dan gemuk, suka lihatnya." Celetuk mama Saras.


Alea dan Aira sama-sama tersenyum mendengar itu.

__ADS_1


"Iya ya, mau tumpah pipinya." Sahut papa Jaya mencolek pipi cucu pertamanya itu.


Tidak lama kemudian Tristan dan Mondy pun datang. Alea sigap menghampiri suaminya dan mencium punggung tangannya.


"Bagiamana Alkano, masih rewel?" Tanya Tristan seraya menghadiahi kecupan di kening istrinya.


"Nggak kok, Mas. Alkano sudah tidak rewel lagi," jawab Alea lalu menggandeng tangan suaminya.


"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, bisa?" Tanya Alea dan Tristan menjawabnya dengan anggukan kepala.


Mereka berdua pun pergi ke kamar, Alea ingin langsung menceritakan apa yang terjadi hari ini. Lebih cepat, lebih baik.


"Ai, minta pelayan membawa air untuk suami mu." Tutur mama Saras.


"Tidak perlu, Ma. Aku tidak haus," sahut Mondy menolak dengan sopan.


Aira tersenyum, ia tahu sekali jika suaminya bukan tidak haus, tapi tidak mau ia melakukan sesuatu yang membuatnya lelah.


Aneh kan, hanya mengambilkan minum saja tidak boleh.


"Sayang, mama sudah menerima kak Alea sebagai menantu." Bisik Aira di telinga suaminya.


"Sungguh?" Tanya Mondy tidak kalah berbisik.


"Apa yang kalian bicarakan sampai bisik-bisik begitu?" Tanya papa Jaya bingung.


"Rahasia …" jawab Aira dengan nada manja dan meledek.


Papa Jaya dan mama Saras hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban putri mereka.


GIMANA YA REAKSI TRISTAN???


Bersambung................................

__ADS_1


__ADS_2