Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Alea dan Tristan sudah sampai di Jakarta, keduanya dijemput oleh Mondy di bandara. Kini keduanya sudah di jalan menuju apartemen mereka.


Selama perjalanan, Tristan tidak melepaskan pelukannya di tubuh Alea, membuat Mondy yang melihat itu terus berusaha untuk biasa saja.


Alea sendiri sudah tidur sejak masuk ke dalam mobil, ia sangat kelelahan setelah semalam menjalani malam pertamanya sebagai istri Tristan.


"Cantik." Gumam Tristan seraya mengusap wajah cantik Alea yang begitu damai dengan tidurnya.


Tristan menunduk, ia mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang dan semakin mengeratkan pelukannya.


Tristan menyadari jika beberapa kali Mondy melirik ke arah mereka, namun ia tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali.


"Apa benar perusahaan sedang tidak baik-baik saja?" tanya Tristan tanpa menatap Mondy.


Bicara dengan Mondy, tapi fokus Tristan tetap pada wajah cantik istri mudanya.


"Tidak, Pak. Semua baik-baik saja, karena itulah saya bingung mengapa anda pulang cepat." Jawab Mondy dengan sopan.


Tristan manggut-manggut, pikirannya ternyata benar tentang sang papa yang memintanya untuk pulang lebih cepat.


Pasti ada hal yang ingin disampaikan olehnya, sehingga dirinya sampai di suruh pulang sesegera mungkin.


Tristan pasti akan menemui ayahnya, namun setelah dirinya mengantar Alea dengan selamat ke apartemen mereka.


"Setelah mengantar Alea, kau antar aku ke rumah utama." Kata Tristan diakhiri dengan deheman kecil.


"Baik, Pak." Balas Mondy dengan paham.


Mereka pun sampai di apartemen, Tristan terpaksa membangunkan istrinya karena ia tidak mungkin menggendong Alea di tengah keramaian.


Tristan sih sebenarnya bisa saja, tapi Alea pasti akan marah mengingat bahwa istrinya itu meminta agar pernikahan mereka ditutupi.


"Bukannya waktu itu kamu bilang mau izinin aku menginap di rumah kakak?" tanya Alea teringat akan janji Tristan.


Tristan tertawa, ia memegang wajah cantik Alea lalu menundukkan kepalanya. Tristan mencium bibir Alea tanpa peduli pada Mondy yang berada di belakang mereka.

__ADS_1


Alea mendesis, ia segera menjauhkan wajah Tristan yang asal saja mencium dirinya, apalagi ada Mondy disana.


"Jangan begini, Mas. Ada Mondy, aku malu." Bisik Alea.


Walaupun bisikan, tapi Mondy bisa mendengar ucapan Alea dengan jelas. Itulah manfaat selalu rutin memeriksakan kesehatan telinga dan alat indera lainnya.


Mondy sedikit kaget mendengar panggilan Alea yang berubah, ia yakin bahwa semua itu ada alasannya.


Lift pun terbuka, mereka sampai di unit apartemen yang Alea tinggali belakangan ini. Tristan dan Mondy ikut masuk ke dalam apartemen.


"Aku masih ada urusan, kamu istirahat ya." Tutur Tristan seraya merapikan rambut sang istri.


Alea mengangguk, namun ia tidak melepaskan tangan Tristan sebelum menjawab pertanyaan darinya di lift tadi.


"Apa lagi, Sayang?" tanya Tristan benar-benar lembut.


Mondy yang mendengarnya saja merinding, pasalnya selama ini ia tidak pernah mendengar atasannya itu memanggil seseorang dengan selembut ini.


"Jadi aku boleh atau tidak menginap di rumah kakakku?" tanya Alea dengan wajah yang begitu imut.


Tristan tertawa pelan, ia mencium kedua pipi istrinya yang menggemaskan itu.


"Apa? Dua hari? Kamu bilang tiga hari waktu itu." Timpal Alea masih tidak terima.


Tristan mendesis, ia ingin sekali menggigit bibir Alea yang sengaja di majukan beberapa centi.


"Dua hari saja ya, masa kamu tega meninggalkan suami mu yang tampan ini." Rayu Tristan diakhiri dengan kedipan sebelah mata.


Alea mengangguk dengan pasrah, ia akan menerima keputusan Tristan. Lebih baik begitu, daripada tidak sama sekali.


"Aku pergi ya, Sayang." Tristan mencium kening Alea kemudian segera membalik badan.


Tristan yang sudah mau melangkah terpaksa berhenti saat melihat asistennya justru hanya diam saja seperti patung.


Mondy masih belum sadar dari keterkejutannya setelah mendengar fakta bahwa keduanya telah menikah. Suami istri?? Alea dan Tristan adalah pasangan suami istri.

__ADS_1


"Mondy, ayo." Ajak Tristan.


Mondy tersadar, ia menatap Tristan dan Alea bergantian.


"Kalian sudah menikah?" tanya Mondy, tanpa sadar pertanyaan itu mengucur dengan lancarnya.


Alea menatap Tristan dengan kesal, tadi suaminya itulah yang keceplosan menyebut mereka suami dan istri. Kini Mondy sudah mengetahui status baru mereka.


Sadar akan tatapan dari sang istri, Tristan pun santai dan tenang, jika Mondy tahu maka tidak masalah sama sekali kan.


"Ya, kami menikah di Bali." Jawab Tristan jujur.


Mondy semakin dibuat patah hati. Ia yang dulu harus merelakan Alea sebagai simpanan Tristan, kini berubah. Alea telah menjadi istri atasannya yang mana membuat ia semakin mustahil untuk merebut Alea.


"Tolong jangan beritahu siapapun ya, Pak." Kata Alea ragu-ragu.


Mondy tersadar, ia memasang wajah dingin dan datar meskipun hatinya kini sedang menangis.


"Anda tidak perlu takut, Nona. Saya akan menjaga rahasia bos saya," balas Mondy sopan.


Alea lega mendengarnya, kini pernikahannya akan tetap tertutup karena hanya Mondy yang tahu. Alea yakin bahwa pria itu bisa merahasiakannya.


"Sayang aku berangkat ya." Tristan keluar dari apartemen seraya melambaikan tangannya.


Alea membalas lambaian tangan Tristan, sampai akhirnya pintu apartemen menutup dengan sendirinya.


Setelah kepergian Tristan, Alea pun pergi ke kamar untuk bersih-bersih dan mengganti pakaiannya.


Alea akan ke rumah kakaknya nanti malam dan menginap selama 2 hari. Tentu saja sudah diizinkan oleh suaminya.


Mengingat statusnya yang baru, Alea baru ingat jika dirinya belum memberitahu sang kakak. Alea takut, ia takut Firda syok dan marah padanya.


Bagaimanapun Firda pasti akan menilai dirinya salah karena menikahi pria yang masih memiliki istri secara sah.


"Semoga kau bisa menerima posisiku sekarang, Kak. Aku tidak punya siapapun lagi selain kau dan mas Tristan." Gumam Alea dengan mata terpejam.

__ADS_1


BERHARAP ALEA SAMA TRISTAN BAHAGIA TERUS NGGAK SIH??


Bersambung.........................


__ADS_2