Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Penderitaan Aira


__ADS_3

Mondy kembali setelah mengantar Aira pulang ke kampung halamannya. Saat mereka berpisah, Mondy benar-benar tidak mengatakan apapun pada gadis itu. Mondy benar-benar membuktikan ucapannya yang hanya menjalankan perintah, tidak sama sekali menciptakan sebuah kenangan.


"Om hati-hati ya dijalan, aku akan menjadi orang yang paling merasa bersalah jika terjadi sesuatu pada om setelah mengantarku." Sepenggal ucapan yang Aira katakan sebelum keluar dari mobilnya.


Mondy hanya mengantar Aira sampai ke depan gang rumah gadis itu. Itu bukan kemauannya, melainkan kemauan Aira sendiri. Jadi Mondy tidak tahu pasti dimana letak rumah Aira.


Mondy menghela nafas, ia masuk ke dalam apartemen milik Tristan. Rencananya, mungkin weekend ini Mondy akan beres-beres barang dan kembali ke apartemen miliknya. Lagipula sekarang sudah tidak ada Aira yang tinggal bersamanya.


Aira? Gadis itu biasa tinggal bersama Mondy, dan hari ini Mondy merasakan sebuah rasa sunyi yang beberapa waktu belakangan tidak pernah ia rasakan.


Mondy menoleh ke arah dapur, biasanya Aira akan berdiri di sana untuk memasak. Suaranya yang cempreng akan menyapa Mondy dengan penuh senyuman.


"Om sudah pulang, ayo bersih-bersih. Aku sudah masak makan malam,"


Terlintas ingatan dimana Aira selalu menyapa dirinya ketika pulang bekerja.


Mondy buru-buru menggeleng, ia memegangi kepalanya sendiri lalu mengerem singkat diakhiri decakan.


"Arghh, apa-apaan ini. Lupakan gadis itu, Mon!" ucap Mondy pada dirinya sendiri.


Mondy pun pergi ke kamar, namun lagi-lagi pikirannya tertuju pada Aira. Ia ingat saat dimana gadis itu membuat dirinya terjatuh, dan membuat ia harus menuntut tanggung jawab yang sejujurnya tidak diperlukan.


Mondy sejak awal sudah menyukai Aira, tapi sayang ia selalu menepis semua itu. Mulai dari permintaan tanggung jawab tidak masuk akal, dan segala bentuk perhatian kepada Aira, semua itu adalah cinta.


"Gadis itu hanya menyusahkan, Mon. Lupakan dia, dan jadilah dirimu seperti sebelumnya." Gumam Mondy seraya melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Mondy terus berusaha menepis perasaan yang ia punya, tapi mari kita lihat sejauh mana ia akan bertahan pada gengsinya.


Sementara itu di tempat lain, tampak seorang gadis tengah menangis sambil memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari kakaknya.


Gadis itu terus meminta ampun, bahkan pertolongan pada kedua orang tuanya. Namun bukan mendapat pertolongan, ia malah mendapatkan tindakan kasar lainnya seperti rambut yang dijambak.


"Akh … Mbak, sakit. Tolong maafkan aku, aku tahu aku salah." Ucap Aira dengan tangan yang menyatu.

__ADS_1


"Pak, Bu. Tolong ampuni aku, jangan siksa aku." Pinta Aira lagi.


Air mata di wajahnya sudah turun ke pipi dan membuat basah wajah cantik yang saat ini tengah mengganggu pikiran Mondy.


Aira terus bersujud di kaki kakaknya yang kembali memberikan siksaan padanya. Aira di hempaskan, lalu tubuhnya disirami air dingin malam-malam begini.


"Hiks … dingin, Mbak. Tolong hentikan semua ini." Ucap Aira menggigil kedinginan.


Ayu, kakak Aira. Wanita berusia 24 tahun itu mendekati adiknya lalu menjambak kasar rambut panjang Aira.


"Sakit? Dingin? Lalu kamu pikir gimana perasaan kami saat kamu kabur dari pak Toro hah!" Ucap Ayu dengan cengkraman di rambut yang semakin kuat.


"Maafin aku, Mbak." Pinta Aira seraya memegangi tangan kakaknya yang semakin menarik kasar rambutnya.


"Maaf maaf, kamu udah buat bapak malu, Aira. Kita ini punya hutang sama pak Toro, eh kamu malah kabur. Kamu itu anak kurang ajar dan tidak tahu terima kasih!" sarkas bapak Aira.


"Kalo tahu begini, mending ibu nggak pungut kamu dari jalanan dulu." Ketus ibu Aira dengan sorot mata tajamnya.


Aira menghentikan tangisannya, ia berusaha untuk melepaskan cambakan kakaknya, namun karena tidak bisa.


"Ya kamu bukan anak kandung ibu sama bapak, kamu itu anak pungut." Jawab Ayu seraya melepaskan cambakan nya dengan kasar.


"Jadi dengerin mbak baik-baik ya, kamu harus menikah dengan pak Toro sebagai balas budi sama bapak dan ibu yang udah pungut kamu. Kalo bukan karena mereka, kamu udah mati!" Tambah Ayu seraya mendorong kasar kepala Aira dengan jari telunjuknya.


Aira menggeleng. "nggak mungkin! Aku anak bapak dan ibu kan, aku dilahirkan sama ibu kan? Aku buka anak pungut kan Bu, Pak?" tanya Aira bertubi-tubi.


Ibu Aira berjalan mendekati gadis itu. "Aku bukan ibu kamu, kamu itu aku pungut dari jalanan." Jawab ibu Aira penuh penekanan.


Aira memegang tangan ibunya, namun tangannya ditepis kasar.


"Ibu bercanda kan, Aira anak ibu. Iya kan?" tanya Aira lagi dengan suara yang semakin sesak.


"BUKAN! KAMU BUKAN ANAK KAMI." Jawab bapak Aira dengan lantang.

__ADS_1


Aira langsung jatuh terduduk dengan tubuh yang lemas tidak berdaya. Tubuhnya yang menggigil kedinginan, kini berubah panas setelah mendengar kenyataan yang ia tidak ketahui selama ini.


"Sekarang kamu tahu kan, kenapa mbak mu lebih kami dahulukan. Karena dia anak kandung kami, sedangkan kamu bukan!" Ucap ibu Aira.


Ayu tampak tersenyum sinis sambil melipat tangannya di dada.


"Jadi, minggu depan kamu nikah sama pak Toro. Awas aja kalo sampai kabur lagi!" Kata bapak Aira lalu pergi.


Ibu Aira pun pergi, sehingga kini hanya menyisakan Aira dan mbaknya, Ayu.


"Kasihan banget jadi kamu, Ai. Udah anak pungut, orang tuanya nggak tahu dimana, terus harus nikah sama kakek-kakek lagi." Ucap Ayu sambil tertawa jahat.


"Untung mbak cuma enaknya aja, nanti kamu dapat mahar uangnya buat kami senang-senang deh. Tapi nggak apa-apa lah, Ai. Itung-itung kamu balas budi sama bapak dan ibu." Tambah Ayu lalu pergi meninggalkan Aira.


Sementara Aira masih terduduk di kamar mandi dengan tubuh yang gemetaran. Kali ini bukan hanya karena dingin, tapi juga karena keterkejutan dirinya setelah tahu bahwa ia bukan anak kandung orang tuanya.


Aira menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"Lalu dimana orang tuaku, kenapa mereka tega membuangku." Lirih Aira semakin erat memeluk tubuhnya.


Aira kembali menangis, pantas saja dirinya selalu di siksa dan di jadikan pelayan di rumah. Beda dengan mbaknya yang begitu di sayang dan selalu dituruti apapun permintaannya.


Sementara Aira, ia hanya minta untuk istirahat saja orang tuanya tidak akan mengizinkan, apalagi minta dibelikan ponsel seperti mbaknya, Aira pasti akan di pukul habis-habisan.


Aira memejamkan matanya, ia tidak menyesal pergi dari rumah utama ataupun dari Mondy, meski dalam hati kecilnya ia berharap saat ini Mondy ada di sebelahnya dan melindunginya. Hanya sebatas harapan dan bukan penyesalan.


Lagipula apa yang mau di sesalkan, ini adalah keputusannya. Aira hanya tidak mau terus terbelenggu pada rasa cinta yang ia miliki. Sebuah rasa yang Aira yakini tidak akan terbalas.


Mondy pria hebat dan bisa dikatakan mapan, mustahil jika pria itu mau dengan Aira yang hanya gadis desa, apalagi kenyataan bahwa ia tidak punya orang tua kandung.


Hidup Aira sudah sangat kacau, sekarang ia hanya akan pasrah pada takdir Tuhan. Jika memang sudah takdirnya menikahi kakek-kakek tua, maka biarlah itu terjadi.


MAU NIKAH SAMA MONDY APA KAKEK, AI?

__ADS_1


Bersambung...........................


__ADS_2