Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Kesedihan Alea


__ADS_3

Firda datang ke rumah Alea sesuai dengan janjinya kepada adiknya itu. Sengaja Firda datang kesana karena ia tahu bahwa adiknya butuh teman setelah apa yang telah menimpanya beberapa hari lalu.


Alea sejujurnya sudah berusaha untuk melupakan kejadian itu, apalagi ia tahu bahwa suaminya sudah memberikan pelajaran pada Linda atas perbuatannya yang sangat jahat.


Saat ini Alea dan Firda ada di ruang tamu, mereka berbincang berdua dengan mulut yang sama-sama mengunyah kue bawaan Firda.


"Aku senang lihat kamu nggak berlarut-larut dalam kesedihan, aku yakin kok sebentar lagi kamu hamil lagi." Ucap Firda pada sang adik.


Alea mengangguk. "Mas Tristan juga kasih aku semangat yang sama, dan kalian yang udah buat aku bisa lupa sama kejadian itu." Timpal Alea.


Firda tersenyum senang, ia bahagia sekali karena Alea adiknya bisa bahagia dengan pernikahannya ini, meski banyak orang diluar sana yang pasti mencecar Alea bahwa ini salah.


Mau apapun alasannya, Alea adalah seorang perebut suami orang. Meskipun mungkin Tristan bisa membungkam opini orang-orang dengan kekuasaannya, tapi tetap saja pasti akan ada yang menyumpah serapahi Alea.


Orang diluar sana tidak akan tahu bagaimana sifat Linda yang sebenarnya. Mereka semua selama ini selalu mengatakan bahwa Linda adalah wanita yang baik, padahal kenyataannya tidak.


Bukan hanya masyarakat yang tertipu, tapi juga Fade. Pria itu bahkan lebih dulu tertipu dibanding siapapun.


Bicara soal Fade, pria itu lah yang tadi mengantar Firda untuk sampai di rumah Alea. Meski ia sudah menolak, tapi pria itu selalu memaksanya.


Firda belum memaafkan Fade sampai sekarang. Bukan cuma karena hinaan pria itu terhadapnya, tapi juga karena Fade telah membuat adiknya berada di posisi yang salah.


"Kak." Panggil Alea menyadarkan Firda dari lamunannya.


Firda tersadar, ia menatap adiknya lalu tersenyum dengan lebar.


"Iya?" sahut Firda.


"Masalahmu dan pak Fade, bagaimana?" tanya Alea ragu-ragu.


Tentu saja Alea ragu, ia takut akan menyinggung perasaan kakaknya.


"Bagaimana apanya, aku setiap hari selalu cerita padamu kan." Jawab Firda lalu menenggak minum yang disediakan untuknya.


"Jadi kau memang benar-benar tidak mau memaafkan pak Fade, Kak?" tanya Alea.


"Ya, dia sudah sangat berbuat salah." Jawab Firda yakin.


"Meski kau masih mencintainya?" tanya Alea lagi, kali ini ia menatap serius wajah kakaknya.


Mendengar pertanyaan dari Alea, sontak Firda menoleh. Ia menatap adiknya dengan diam, lalu berdehem setelah beberapa saat.


"Aku sudah tidak mencintainya." Jawab Firda menjelaskan.


Bibirnya berkata tidak, tapi hatinya tetap saja bergetar setiap kali Fade berada di dekatnya atau memperlakukannya dengan baik.

__ADS_1


"Kau yakin? Maksudku, aku tidak mau jika kau berkata tidak hanya karena kau sedang marah padanya." Ujar Alea menyakinkan.


"Aku tahu dia sudah sangat bicara kasar padamu, tapi itu semua terjadi karena dia terpengaruh oleh sikap manipulasi Linda kan. Bukankah dia berhak atas kesempatan kedua?" tambah Alea.


"Aku marah padanya bukan hanya karena itu, Lea." Kata Firda tanpa menatap adiknya.


Alea mengerutkan keningnya. "Jadi?" Tanya Alea penasaran.


"Aku jauh lebih marah karena dia sudah membuatmu berada di posisi yang salah. Aku tahu saat ini kau bahagia dengan pernikahanmu, tapi statement orang-orang diluar sana pasti akan tetap menganggapmu salah." Jelas Firda panjang, dan pelan.


Alea langsung terdiam mendengar ucapan kakaknya. Selama ini ia diam, namun bukan berarti ia tidak memikirkan itu semua.


Alea juga selalu memikirkan bagaimana pendapat orang-orang tentang dirinya yang merupakan seorang perebut.


Orang diluar sana tidak akan tahu bagaimana sifat Linda yang sebenarnya, walaupun ia bersedia menjelaskan, tapi pendapat buruk pasti akan tetap ia terima.


Ia pasti akan di cap sebagai seorang wanita perebut.


Firda memegang kedua bahu adiknya.


"Lea, aku tidak bermaksud membuatmu sedih tapi semua ini benar-benar membuatku takut. Aku tidak mungkin tahan ketika suatu hari ada yang menghinamu." Kata Firda menjelaskan.


Alea mengangguk paham, kakaknya hanya berbagai keresahannya pada adiknya.


"Dengar, tapi kau tidak perlu khawatir. Aku yakin jika suamimu pasti tidak akan tinggal diam, dia akan membuatmu berada di posisi aman. Tristan pasti akan berusaha membuat semua orang tahu kenapa kau bisa berada diposisi ini." Ujar Firda berusaha memberikan adiknya semangat.


Alea hanya mengangguk, tidak lupa ia memberikan sebuah senyuman agar kakaknya yang tahu bahwa ia baik-baik saja.


***


Alea melamun di dalam kamarnya, ia bahkan tidak menunggu Tristan pulang seperti biasanya.


Ucapan Firda siang tadi membuat Alea tidak bisa semangat dalam melakukan apapun, sehingga ia memilih untuk berdiam diri.


Alea menangis, ia teringat pada setiap ucapan ibu mertuanya waktu itu. Alea tidak akan pernah diterima oleh keluarga Kusuma, apalagi dia adalah seorang wanita perebut.


Bagaimanapun Linda, wanita itu pasti akan tetap di bela, sebab wanita itu adalah istri sah Tristan sebelum dirinya masuk.


Bahkan sampai hari ini pun Linda dan Tristan belum sepenuhnya bercerai, mereka masih disebut sebagai suami dan istri.


Alea semakin menangis, ia menyembunyikan wajahnya di bantal untuk meredam suara tangisannya. Alea tidak mau jika ada yang mendengar ia menangis dan mengadukannya pada Tristan.


Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, lampu kamar yang mati pun tiba-tiba menyala.


"Sayang." Panggil Tristan yang baru saja pulang dari kantor.

__ADS_1


Alea terkejut, ia sampai tidak menyadari bahwa ini sudah waktunya sang suami pulang. Alea buru-buru menyeka air matanya sambil menunduk, ia tidak mau Tristan berpikir aneh karena ia menangis.


"M-mas, kamu sudah pulang." Alea turun dari ranjang dan tidak lupa memberikan senyuman manisnya.


Tristan melempar jas dan tas kerjanya ke sofa, ia lalu menangkup wajah cantik istrinya secara tiba-tiba.


"Siapa yang bikin kamu nangis?" tanya Tristan langsung.


Alea gelagapan, apakah ia terlihat habis menangis. Alea menggigit bibir, ia bingung harus menjawab apa sekarang.


"Menangis? Aku tidak menangis, mungkin saja kelilipan saja." Jawab Alea berbohong.


Tristan menggeleng, ia duduk dipinggir ranjang lalu menarik tangan istrinya sampai Alea terjatuh tepat diatas pangkuan pria itu.


"Bohong, bicara yang jujur sama aku." Pinta Tristan dengan nada serius.


Alea semakin bingung, ia juga merinding melihat tatapan tajam suaminya.


"Jawab, Sayang. Atau kamu mau aku pecat semua pelayan karena mereka tidak bekerja dengan becus sampai kamu menangis?" tanya Tristan.


"Jangan!" cegah Alea. Ia tidak mungkin membuat orang kehilangan pekerjaannya tanpa ada salah.


"Kalo begitu jawab aku, kenapa kamu nangis!" pinta Tristan kembali menangkup wajah istrinya.


"Aku takut." Lirih Alea setelah beberapa saat diam.


"Takut apa?" Tanya Tristan lembut.


Alea semakin menundukkan kepalanya. "Aku takut orang diluar sana akan menghujatku, karena bagaimanapun aku adalah wanita perebut suami orang lain." Jelas Alea.


"Kamu bukan perebut, kamu istri aku." Balas Tristan dengan tenang namun juga terkesan tegas.


"Siapa yang berani sebut kamu perebut, suruh berhadapan sama aku." Tambah Tristan.


Tristan menangkup wajah Alea, ia menyeka air mata istrinya lalu menciumi seluruh wajahnya tanpa ada yang terlewat sama sekali.


"Orang-orang diluar sana tidak tahu kamu istri aku, dan setelah perceraian aku selesai, kita akan menikah secara resmi. Dengan begitu, tidak akan ada yang menghina kamu Sayang." Jelas Tristan panjang.


"Tapi–" ucapan Alea terhenti saat Tristan malah mencium bibirnya.


Tristan tidak mau Alea bicara hal yang malah membuat dirinya sendiri sedih. Ia tidak suka melihat Alea menangis, wanita itu terlalu berharga untuknya.


ALEA, ADA TRISTAN KOK YANG SAMA KAMU🤧


Bersambung..........................

__ADS_1


__ADS_2