Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Ketakutan Alea


__ADS_3

Alea mendapat perawatan dari dokter yang Tristan panggil ke apartemen. Wanita itu masih belum sadarkan diri sampai sekarang, dan itu membuat sosok pria yang sejak tadi menggenggam tangan Alea menjadi cemas.


Tristan, pria itu benar-benar menyesal telah melampiaskan amarahnya kepada Alea, ia benar-benar tidak sadar jika wanita yang sejak tadi ia bentak-bentak adalah Alea, dan bukan Linda.


Tristan menatap dokter yang sudah membenahi peralatan dokternya dengan penuh tanya dan harapan, namun semua itu tentu saja tertutupi oleh tatapan dinginnya.


"Dokter, bagaimana keadaannya. Tidak ada yang serius kan?" tanya Tristan khawatir.


"Tidak, Tuan. Dia hanya perlu istirahat, dan mohon luka-luka jangan terkena air dulu ya." Jelas dokter yang sudah bekerja 6 tahun untuk keluarga Tristan.


Tristan menghela nafas, ia pun menganggukkan kepalanya.


"Baik, terimakasih Dok." Ucap Tristan yang seketika membuat dokter itu tercengang.


Dokter Fian, dokter yang usianya mungkin sama dengan papanya Tristan itu sedikit terkejut ketika mendengar ucapan terima kasih dari orang yang selama ini sangat berat mengatakannya.


Seorang Tristan Sagara Kusuma berterima kasih kepadanya setelah 6 tahun mengabdi kepada keluarga Kusuma, dan itu benar-benar suatu keajaiban menurutnya.


"Baik, Pak. Saya permisi ya," dokter itu pun segera keluar dari kamar dan dari apartemen.


Sudah biasa baginya jika tidak diantar keluar dari rumah. Pria kaya dan dingin itu memang jarang sekali menunjukkan kepedulian satu sama lain.


Kembali ke Tristan, pria itu masih enggan melepaskan genggaman tangannya di tangan Alea. Ia menatap luka-luka di tubuh wanita itu yang sudah diobati dan di perban dengan nanar.


"Maafkan aku, Alea. Aku benar-benar tidak sadar melakukannya," bisik Tristan lalu mencium punggung tangan wanita itu.


Tristan bangkit, ia perlahan ikut merebahkan diri di sebelah Alea tanpa melepaskan genggaman tangannya sama sekali. Tidak lupa sebelah tangannya ia gunakan untuk menarik selimut.


"Selamat malam." Ucap Tristan lalu memejamkan matanya.


Keesokan harinya, Alea menggeliatkan tubuhnya ketika merasakan rasa perih di beberapa titik tubuhnya. Selain itu, ia juga merasa ada terpaan nafas di kepalanya.


Perlahan mata bulat Alea terbuka, ia meringis pelan lalu menoleh. Tatapan Alea langsung berubah menjadi tatapan terkejut bercampur rasa takut.


"Hiks … jangan, jangan sakiti saya." Ucap Alea ketakutan.


Tangisan Alea seketika membuat Tristan terbangun, ia membuka mata dan hal yang paling kali ia lihat adalah wajah Alea yang ketakutan sambil menangis.


"Hiks … jangan sakiti saya, Pak. Saya minta maaf," kata Alea lagi dengan mata terpejam.


Tristan bangkit, ia memegang kening Alea yang ternyata demam.

__ADS_1


"Alea, aku minta maaf. Aku tidak akan menyakitimu lagi," ucap Tristan dengan lembut.


Alea menggeleng, ia membuka mata dan berusaha untuk bangkit, namun seluruh tubuhnya terasa begitu lemah.


"Alea, kau sedang sakit. Kemarilah, aku tidak akan menyakitimu." Pinta Tristan dengan suara yang lebih lembut.


Alea tetap mundur, ia menurunkan kakinya ke lantai dan tetap memaksa untuk berdiri meskipun kakinya sakit.


"Alea." Tristan buru-buru mendekat dan menangkap tubuh Alea yang nyaris jatuh.


"Lepas, lepaskan saya. Saya janji tidak akan pulang terlambat lagi. Tubuh saya sakit, Pak." Rancau Alea penuh rasa sakit.


Tristan menggendong Alea dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tangisan wanita itu masih belum berhenti membuat Tristan benar-benar merasa bersalah.


"Dokter bilang agar lukamu tidak terkena air dulu, jadi kau tidak usah mandi ya." Tutur Tristan lembut.


"Saya bisa sendiri, Pak. Tolong pergi dari sini," pinta Alea pelan tanpa menatap Tristan sama sekali.


Tristan membuka nakas, ia mengambil kotak p3k dan mengeluarkan termometer digital untuk mengukur suhu tubuh wanita itu.


"Demam nya tidak terlalu tinggi, aku akan buatkan sarapan untukmu. Sebentar ya," tutur Tristan lalu tanpa sadar menghadiahi kening Alea dengan kecupan singkat.


Alea tetap ketakutan, ia tidak berani menatap Tristan karena takut akan wajah pria itu semalam, dan perlakuan kasar Tristan yang melemparnya dengan mudah.


Sementara itu di tempat lain, Linda baru saja pulang ke rumahnya setelah menginap semalam di hotel. Ia pergi karena ingin menenangkan pikirannya.


Linda tidak pergi sendiri, tentu saja. Dia mengajak Fade meskipun mereka tidak tidur dalam kamar yang sama, tapi setidaknya Linda bisa mengobrol sambil makan malam dengan pria itu.


Linda masuk ke dalam rumahnya, terlihat dua orang pelayan sedang membersihkan rumah.


"Bi, apa semalam Tristan pulang?" tanya Linda.


"Iya, Nyonya. Tuan pulang, lalu pergi lagi." Jawab art itu dengan sopan.


"Lalu apa yang dia katakan sebelum pergi?" tanya Linda seraya melipat tangan di dada.


"Anda dilarang keluar sampai tuan kembali, Nyonya." Jawab art itu tanpa menatap Linda.


"Apa?!" Linda tersentak kaget mendengar ucapan asisten rumah tangganya barusan.


Tristan melarangnya pergi, sementara pria itu bisa bebas pergi kemanapun semaunya. Linda benar-benar semakin tidak tahan, ia akan sudah tekad akan keputusannya untuk bercerai.

__ADS_1


Linda pergi ke kamarnya, ia benar-benar muak dengan semua ini. Linda akan menyiapkan dokumen perceraian, tapi sebelum itu ia harus melakukan sesuatu yang bisa menjatuhkan Tristan.


Linda akan membalas setiap rasa sakit yang telah diberikan oleh pria itu kepadanya.


***


Tristan masuk ke dalam kamar Alea, dan melihat gadis itu sedang duduk di sofa dengan sudah berganti pakaian.


Tristan mendekati Alea, membuat wanita itu tampak ketakutan. Alea menjauh, ia tidak berani menatap Tristan sama sekali.


"Alea, kemarilah. Kau belum makan," tutur Tristan dengan lembut.


"Tidak, saya tidak mau. Tolong anda pergilah dari sini, Pak." Tolak Alea tanpa berani menatap Tristan.


"Alea, aku tahu aku salah. Tapi kemarilah, aku tidak akan menyakitimu." Pinta Tristan dengan lembut.


Alea tetap menggeleng, luka-luka di seluruh tubuhnya kembali sakit jika mengingat bagaimana Tristan membantingnya semalam.


"Alea." Panggil Tristan pelan.


Tristan hendak mendekati Alea, namun suara bel apartemen menghentikan Tristan. Pria itu keluar dari kamar Alea dan membuka pintu apartemen tersebut.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa Mondy dengan sopan.


Tristan tidak membalas, ia langsung masuk begitu saja dan disusul oleh Mondy dibelakangnya.


"Nona Alea, apa dia sudah berangkat?" tanya Mondy yang tidak melihat kehadiran wanita itu.


"Hari ini dia tidak ke kantor, dia sakit." Jawab Tristan singkat.


"Sakit? Sakit apa, Pak?" tanya Mondy begitu emosional.


Tristan menatap Mondy dengan kening mengerut, ia heran sekali mendengar ucapan sang asisten yang seperti peduli.


"Apa pedulimu?" Tanya Tristan dingin.


Mondy menggeleng, ia menunduk dengan sopan.


"Tidak, Pak. Maafkan saya," jawab Mondy singkat.


Tristan tidak bicara apapun, ia meninggalkan Mondy begitu saja untuk melihat Alea. Ia harus memastikan bahwa wanita itu makan sebelum dirinya berangkat ke kantor.

__ADS_1


ALEA TRAUMA GUYS😫😫


BERSAMBUNG.............................


__ADS_2