
Alea mengantar Tristan sampai ke depan rumah. Seperti biasa Tristan akan mencium keningnya dan memeluknya erat-erat. Kata Tristan, ia selalu berat untuk meninggalkan Alea, meski hanya sebentar.
"Mas, udah." Bisik Alea seraya mendorong tubuh Tristan pelan.
Tristan enggan berhenti mencium kening dan pipi Alea, ia terlalu gemas setiap kali bibirnya bersentuhan dengan Alea.
Jangan salahkan dia jika terlalu bucin pada Alea, tapi salahkan saja Alea yang sudah membuatnya tergila-gila sejak dulu.
Tristan masih mencium kening dan kedua pipi Alea, namun karena Alea memintanya berhenti, akhirnya ia tutup kecupan itu dengan mengusap-usap wajah Alea yang cantik.
"Cantik banget, Nyonya Sagara." Bisik Tristan dengan mesra.
Alea tertawa, ia sudah biasa menerima pujian dari Tristan. Jika dulu Alea malu-malu, maka sekarang biasa saja.
"Nanti ke rumah sakitnya hati-hati ya, dan ingat! Minta antar pak sopir, bukan naik taksi." Ucap Tristan mengingatkan.
Ya, Alea berniat pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Fade, namun ia lebih ingin bertemu dengan kakaknya.
Alea juga sudah mengetahui tentang kondisi Fade yang lupa ingatan, dan membuat kakaknya harus berpura-pura menjadi istri demi bisa bertanggung jawab.
Alea sejujurnya sedih mengetahui kakaknya harus bermain peran, apalagi sikap Fade yang hanya mengingat Linda dan melupakan kakaknya.
"Kenapa, kok sedih?" tanya Tristan ketika menyadari raut wajah istrinya.
Alea tersadar, ia menatap Tristan lalu menghela nafas pelan.
"Aku ingat kak Firda, kasihan dia. Sekarang harus pura-pura jadi istri Fade. Kenapa ya harus ingatan sama Linda yang nggak hilang, kenapa bukan ingatan sama kakakku aja." Jawab Alea lirih.
Tristan menangkup wajah Alea, ia mengusap-usap pipi istrinya dengan lembut lalu menariknya ke dalam pelukannya.
"Takdir, Sayang. Mungkin setelah ini, akan ada banyak kebahagiaan untuk kakak kamu. Kita doakan sama-sama ya," bisik Tristan penuh kasih sayang.
Alea hanya bisa menganggukkan kepalanya. "Makasih ya, Mas. Kamu selalu ada sama aku," kata Alea pelan.
Tristan mengusap punggung Alea, ia tentu saja akan selalu ada bersama istrinya. Tidak mungkin Tristan meninggalkan Alea, yang ada ia meninggalkan semuanya demi bersama Alea.
Alea melepaskan pelukannya, ia lalu mencium punggung tangan suaminya dengan sopan.
"Hati-hati ya, Mas." Tutur Alea penuh senyuman.
Tristan membalas senyuman istrinya, ia lalu masuk ke dalam mobil. Sebelum pergi, Tristan membuka kaca mobil untuk sekedar melambaikan tangannya kepada wanita tercintanya itu.
Hari ini Tristan menyetir sendiri, hal itu dikarenakan Mondy tidak bisa datang karena menjaga Aira. Mondy akan ke kantor langsung saat dirinya sampai nanti.
Tristan sejujurnya heran, kenapa asistennya itu ngebet sekali ingin merawat Aira. Ya walaupun Mondy sudah memberitahu alasannya, tetapi ia masih saja ragu.
"Mau cari jodoh mungkin ya." Gumam Tristan geleng-geleng kepala.
Sementara itu di apartemen Mondy. Pria itu sudah rapi dengan setelan kerjanya. Kini sedang memakai jam tangan dan tinggal berangkat saja.
"Om, jadi nanti aku sendirian?" tanya Aira tiba-tiba.
"Iyalah, kamu kira sama siapa disini." Jawab Mondy tanpa menatap Aira.
Mondy melangkah mendekati Aira yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.
"Kau jangan macam-macam ya, awas saja sampai kabur. Sekali saja berniat kabur, awas kamu." Kata Mondy penuh penekanan.
Aira mengangguk cepat. "Aku nggak niat kamu, Om. Lagian orang disini enak, aku berasa punya suami yang super perhatian." Ucap Aira asal, dan tentu saja ia tidak sadar sepenuhnya.
__ADS_1
Mondy mengangkat sebelah alisnya, sementara Aira melotot. Ia menutup mulut lalu menatap ke arah lain untuk melarikan diri dari tatapan pria tampan berjas biru muda itu.
"Hati-hati, Ai. Saya lihat-lihat kamu bisa naksir saya." Ucap Mondy seraya mengambil tas kerja miliknya.
Mondy sudah melangkah menuju pintu dan siap berangkat, namun suara Aira kembali terdengar.
"Om juga!" Ucap Aira dengan lantang.
Mondy membalik badan, ia melipat tangannya di dada dengan tatapan penuh tanya kepada gadis 19 tahun itu.
"Om juga harus hati-hati, siapa tahu Om yang suka sama aku, makanya Om nggak mau aku pergi." Tambah Aira dengan sedikit gugup.
Mondy tertawa renyah, ia bahkan sampai menutup mulutnya sendiri ketika mendengar penuturan Aira barusan.
"Astaga, dasar bocah kecil." Gumam Mondy geleng-geleng kepala.
"Om, jangan terus panggil aku bocah ya. Aku ini sudah 19 tahun, sudah punya KTP dan sudah mau menilah!" sahut Aira tidak terima.
Mondy manggut-manggut, namun tanpa bicara apa-apa lagi, pria itu langsung melangkahkan kakinya keluar dari apartemen.
Mondy tertawa saat sudah sampai di luar apartemen. Padahal Mondy masih sangat jelas mengingat bagaimana Aira menangis minta tolong karena tidak mau menikahi kakek tua.
"Dasar bocah, benar-benar menghempaskan." Gumam Mondy seraya masuk ke dalam lift.
"Apa, menggemaskan. Tidak! Dia itu ceroboh dan menyebalkan." Ralat Mondy lalu memasang wajah sedatar dan sedingin mungkin.
Sementara itu di rumah utama. Alea tampak sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
Ketika masih bersiap-siap, pintu kamar Alea di ketuk pelan, lalu di susul oleh suara dari pelayan rumah.
"Nona, ada nyonya besar menunggu anda di bawah." Ucap pelayan itu dari luar kamar Alea.
Alea yang kala itu masih memakai lipstik nya langsung berhenti. Wanita itu seketika terdiam dengan pandangan menatap dirinya sendiri di cermin.
Alea takut, sekarang suaminya tidak ada. Siapa yang akan membelanya jika nanti ia di marahi dan kembali diminta untuk meninggalkan Tristan.
Alea menggelengkan kepalanya pelan, ia lalu menarik nafas kemudian membuangnya perlahan.
"Kamu bisa, Lea. Kamu bisa, bagaimanapun mereka juga orang tua kamu." Gumam Alea dengan mata terpejam.
Alea pun meletakkan lipstik berwarna nude itu di atas meja rias, lalu segera keluar dari kamar untuk menemui ibu mertuanya.
Kaki Alea yang sudah memakai heels membuat suara khas dari pertemuan hak sepatu Alea dan lantai di anak tangga.
Suara itu seketika membuat sosok wanita berumur, namun masih terlihat cantik menoleh. Wanita itu melipat tangan di dada dengan pandangan yang terus meniti penampilan istri putranya.
Alea berjalan mendekati mama Saras, ia tidak lupa memasang wajah penuh senyuman agar ibu mertuanya tahu bahwa ia senang beliau datang.
"Ma." Alea mendekat, ia hendak mencium punggung tangan ibu mertuanya, namun mama Saras menolak.
"Saya ngga sudi di sentuh kamu." Ketus mama Saras seraya bangkit dari duduknya.
Jantung Alea seraya mencelos, ia yang tadi tersenyum seketika senyuman itu perlahan menghilang.
"Ma, silahkan duduk. Aku akan buat minum untuk mama," tutur Alea lembut dan sopan.
"Nggak perlu, saya ngga sudi memakan atau meminum minuman dari rumah ini selama kamu masih ada disini." Tolak mama Saras diikuti kata-kata kejam.
Alea terdiam seribu bahasa, ia hanya bisa menundukkan kepalanya tatkala mendekati ucapan ibu mertuanya yang jujur saja cukup menyakiti hatinya.
__ADS_1
"Ma, aku menantu mama. Aku istrinya Tristan, apa yang membuat mama sangat membenciku?" tanya Alea pada akhirnya.
Sejak lama ia ingin tahu lebih banyak mengapa kedua mertuanya itu sangat membencinya, padahal ia sudah berusaha untuk menjadi istri dan menantu yang baik.
Mama Saras membalik badan. Tangannya masih terlipat di dada lalu setelah nya terdengar tawa yang menjatuhkan Alea.
Mama Saras tertawa seakan Alea baru saja bergurau padanya.
"Kamu tanya kenapa saya membenci kamu? Tentu saja karena kamu tidak pantas menjadi bagian keluarga Kusuma. Kamu tidak setara dengan keluarga kami, dan saya tidak mau menantu saya berasal dari keluarga ekonomi ke bawah seperti kamu." Jawab mama Saras panjang lebar.
"Dan lagi, kamu juga sudah tidak memiliki orang tua kan. Saya nggak rela jika Tristan harus memiliki istri yang tidak jelas didikannya seperti kamu." Tambah mama Saras yang tiada habisnya menghina Alea.
Alea menundukkan kepalanya, ia menangis mendengar setiap hinaaan yang terlontar dari mulut wanita yang paling ia hormati sekarang.
Air mata itu sudah tidak dapat terbendung ketika mendengar bahwa didikan yang ia terima tidak jelas. Padahal selama ini, kakaknya selalu berusaha mati-matian mendidiknya.
"Ma, mungkin aku memang nggak punya orang tua. Tapi aku bukan wanita seperti yang mama pikirkan." Kata Alea lirih.
"Tidak seperti yang saya pikirkan, bagaimana maksudmu. Maksud kamu saya salah menilai orang, iya?" tanya mama Saras semakin tinggi nada bicaranya.
Alea menggeleng, ia tidak berpikir begitu, hanya saja Alea mau meluruskan pikiran ibu mertuanya, bahwa anak yang tidak ada orang tua belum tentu pergaulannya bebas.
Mama Saras mencengkram lengan Alea dengan kuat, bahkan Alea sampai meringis saat merasakan sakit.
"Awww … mama, sakit." Ucap Alea sangat pelan.
"Kamu terlalu menikmati harta putra saya kan, makanya kamu nggak mau meninggalkan Tristan? Jawab!!" bentak mama Saras di depan wajah Alea.
Alea menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak, Ma. Bukan itu, aku mencintai Tristan dengan tulus, bukan semata-mata ingin hartanya." Jawab Alea sambil meringis kesakitan.
"Teruslah berucap dusta, tapi yang jelas saya tidak akan pernah percaya sama kamu. Kamu itu pasti pembohong, dan cara kotor itu juga yang kamu pakai untuk menjerat anak saya kan." Timpal mama Saras semakin mencengkram lengan Alea.
"Aww … mama sakit, tanganku sakit." Adu Alea berharap ibu mertuanya itu akan melepaskan tangannya.
"Tinggalkan anak saya, dan katakan berapa yang kamu mau." Ucap mama Saras penuh penekanan.
Alea menggeleng. "Aku nggak butuh uang, Ma. Aku cuma butuh Tristan," jawab Alea dengan yakin.
"Kamu benar-benar ya!" Mama Saras mencengkram tangan Alea semakin kasar.
"Kamu jangan main-main saya saya. Saya bisa buat kamu pergi meninggalkan Tristan sekarang juga!" ancam mama Saras.
"Jangan, Ma. Aku nggak mau pergi meninggalkan Tristan, dia suami aku." Balas Alea menangis penuh permohonan.
Mama Saras melepaskan cengkraman di lengan Alea dengan sedikit mendorongnya.
"Awas kamu ya jika sampai berani mengadu pada Tristan." Ucap mama Saras lalu pergi meninggalkan rumah utama.
Beberapa pelayan mendekati Alea, mereka membantu istri majikan mereka yang habis dimarahi oleh nyonya besar.
"Nona, anda baik-baik saja?" tanya salah satu pelayan.
"Iya, aku nggak apa-apa. Tolong jangan katakan apapun sama suami aku tentang ini ya." Pinta Alea pada semuanya.
"Baik, Nona." Balas mereka kompak.
Alea pun segera pergi ke kamarnya, ia berjalan sambil memegangi lengannya yang memar karena terlalu di cengkram oleh mama Saras tadi.
Alea menyeka air matanya, ia harus merapikan lagi penampilan wajahnya sebelum pergi ke rumah sakit. Walaupun tubuhnya lemas, tapi Alea akan tetap datang karena sudah janji pada kakaknya.
__ADS_1
MBAK ALEA, SABAR YA😭
Bersambung..............................