Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Ngidam istri tersayang


__ADS_3

Alea membuka selimut kemudian turun dari ranjang. Wanita yang sedang hamil muda itu berlari ke kamar mandi setelah merasakan perutnya yang seperti dikocok.


Di dalam kamar mandi, Alea tampak mual dan muntah. Istri dari Tristan itu mencuci mulut sambil menepuk-nepuk pelan dadanya.


Uwekkk …


Alea benar-benar lemas, ia hendak duduk di kloset sekedar untuk memulihkan tenaganya, namun baru saja ia mundur, dirinya sudah menabrak seseorang di belakangnya.


"Sayang, mual?" Tanya Tristan mengusap kepala istrinya.


"Iya, Mas. Mual banget," jawab Alea mengangguk.


Tristan menggendong Alea kemudian mengajaknya keluar dari kamar, ia mendudukkan Alea dipinggir ranjang lalu dirinya berlutut di depan wanita itu.


"Mau sarapan sesuatu? Biasanya wanita hamil akan menginginkan sesuatu kan?" tanya Tristan menawarkan.


Tangan Tristan tidak henti mengusap perut rata Alea lalu sesekali naik dan beralih mengusap pipi istrinya.


"Aku mau makan mie ayam." Jawab Alea pelan.


Tristan terdiam. Makanan yang Alea sebutkan tadi mau di makan pagi-pagi seperti ini? Apakah tidak salah.


"Sayabg, masa makan itu pagi-pagi gini?" tanya Tristan lembut dengan harapan Alea mau merubah keinginannya.


Alea menatap mata Tristan dengan eskpresi wajah memelas. Saat ini ia benar-benar menginginkan makanan berbentuk mie dengan toping daging ayam yang dicincang sedemikian rupa.


Alea menunduk, ia mengusap perutnya sendiri dengan helaan nafas pelan.


"Aku nggak mau apa-apa lagi, kalo nggak boleh yaudah. Aku nggak usah sarapan, daripada nanti mual." Cicit Alea dengan kepala masih tertunduk.


Tristan tidak tega, mana mungkin ia akan membiarkan istrinya tidak sarapan disaat ada baby dalam kandungannya.


"Oke, boleh. Tapi kita makan mie ayam home made ya?" tawar Tristan menaikkan sebelah alisnya.


Kening Alea mengkerut. "Home made? Maksud kamu kita bikin sendiri?" tanya Alea.


Tristan menggelengkan kepalanya. "Lebih tepatnya nanti ya, sekarang kita siap-siap dulu untuk memenuhi ngidamnya mami." Jelas Tristan.


Alea pun bersiap duluan, ia masuk ke dalam kamar mandi dan bersih-bersih, sementara Tristan kini sedang menghubungi Mondy.


"Hmm, katakan pada koki di rumah besar untuk membuat mie ayam, dan aku mau semuanya siap ketika aku dan Alea sampai disana." Ucap Tristan pada Mondy.


"Baik, akan saya siapkan semuanya." Balas Mondy dari seberang telepon.


Tristan pun menutup panggilannya. Walaupun Tristan bersedia memenuhi ngidam Alea, namun bukan berarti ia akan asal mengizinkan saja.


Tristan akan sangat menjaga pola makan Alea agar bayi dalam kandungannya tetap sehat.


15 menit kemudian, Alea selesai mandi dan keluar hanya dengan balutan handuk yang menutupi dada sampai ke pahanya saja.


Hal itu membuat Tristan harus banyak-banyak menelan saliva, pasalnya penampilan istrinya itu sangat menggoda iman kelakiannya.


"Sayang." Panggil Tristan pelan.

__ADS_1


Alea menoleh sebentar, ia tersenyum lalu mengambil pakaian untuk ia gunakan hari ini. Alea bahkan dengan santainya mengenakan bajunya itu di depan Tristan.


Tristan benar-benar diuji oleh Alea, ia hanya bisa menahan nafas dan memilih untuk pergi ke kamar mandi, daripada nantinya ia malah mengajak Alea olahraga pagi, dan ngidamnya batal.


Alea sendiri tahu apa yang Tristan rasakan, namun ia tidak bisa memberikan jatah pada suaminya hari ini, sebab ia sedang sangat menginginkan mie ayam.


Alea duduk di depan meja rias, ia mengeringkan rambutnya dan tidak lupa memoles wajahnya dengan makeup tipis agar tidak terlihat pucat.


Rambut panjang nya yang baru ia keramasi tidak ia gerai, melainkan ia cepol biasa menggunakan jepitan badai.


Setelah selesai bersiap diri, Alea lalu menyiapkan pakaian untuk suaminya dan meletakkannya diatas ranjang yang belum sempat ia rapikan.


Alea duduk di sofa, ia benar-benar lemas bahkan untuk membenahi kamar saja rasanya sangat malas. Entahlah kenapa ia bisa tiba-tiba malas begini.


Tidak lama kemudian Tristan pun keluar. Pria itu langsung bersiap agar istrinya tidak menunggu terlalu lama.


Tristan tidak mau jika ngidam istrinya tidak terpenuhi karena dirinya yang terlalu lama bersiap.


Tristan mengenakan setelan kantor, celana dan jas berwarna biru dongker yang tampak sangat cocok ditubuh tegap dan proporsional Tristan.


Alea bahkan terpukau dengan penampilan suaminya itu, ia beberapa kali mengerjapkan matanya lalu berdehem kecil.


"Sayang, ayo. Aku sudah selesai," ajak Tristan seraya merapikan kerah bajunya.


Alea bangkit, ia membantu Tristan memakai dasi. Hal yang biasa Alea lakukan beberapa hari belakangan.


Tristan sendiri memanfaatkan kesempatan dengan merengkuh pinggang ramping istrinya, ia juga sesekali memberikan kecupan penuh kasih sayang dipuncak kepala Alea.


"Mas." Panggil Alea disaat Tristan terus mengusap pinggangnya.


Alea mendongak, ia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Nggak jadi." Kata Alea sangat pelan.


Tristan terkekeh, ia menangkup wajah Alea lalu mencium kedua pipinya dengan gemas.


"Yuk berangkat." Tristan memegang tangan Alea lalu mengajaknya keluar dari apartemen.


Alea dan Tristan berangkat dengan dijemput oleh Mondy pastinya, entah kapan pria itu sampai, yang jelas asisten pribadi Tristan itu sudah ada disana ketika mereka sampai.


"Mas, kita sebenarnya mau kemana?" tanya Alea.


"Makan mie ayam, kan kamu mau." Jawab Tristan dengan tatapan terfokus pada wajah cantik sang istri.


"Iya, tapi dimana?" tanya Alea lagi.


Sebenarnya Alea sendiri bingung dimana mencari mie ayam di pagi hari begini, tapi ia sedang benar-benar menginginkannya.


"Ada deh, nanti lihat aja." Jawab Tristan jahil.


Alea mencubit pelan perut Tristan, membuat pria itu sedikit meringis.


Ada rasa senang di dalam hati Tristan setiap kali Alea menjahili dirinya. Jahil nya Alea begini membuat Tristan yakin jika Alea sudah mulai terbuka dan mau menerima dirinya.

__ADS_1


Tristan tidak akan bertanya apakah istrinya itu mencintainya atau tidak, karena bagi Tristan yang penting Alea adalah istrinya, miliknya.


Setelah hampir 1 jam perjalanan dengan macet, Alea dan Tristan pun sampai di tujuan mereka.


Alea tampak kebingungan tatkala Tristan malah membawanya ke sebuah rumah besar yang sangat mewah.


"Mas?" tanya Alea.


"Ayo masuk, Sayang." Tristan menarik tangan Alea lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


Alea dan Tristan di sambut oleh beberapa pelayan di depan pintu. Tristan tidak membalas apa-apa, namun Alea membalas tiap sapaan dengan senyuman ramah bercampur canggung.


Selain sambutan dari pelayan, Alea dan Tristan juga disambut oleh bau masakan yang sangat menggugah selera.


Dan ketika mereka sampai di ruang makan, saat itulah Alea melihat makanan yang sedang diinginkannya.


"Mas, ini semua?" tanya Alea menunjuk meja makan.


"Untuk kamu, aku sengaja meminta mereka masak ini. Aku tidak bisa membiarkan kamu makan sembarangan." Jawab Tristan menjelaskan.


Alea memekik senang, ia memeluk lengan Tristan dan dibalas kecupan di keningnya.


"Duduk, Sayang." Tutur Tristan setelah menarik sebuah kursi.


"Terima kasih." Ucap Alea dibalas senyuman oleh Tristan.


Para koki dan pelayan yang ada disana tampak sedikit tercengang melihat majikan mereka tersenyum dengan lebar nya. Hal yang selama ini nyaris tidak pernah mereka lihat di rumah.


Bahkan jarang sekali majikan mereka ini memberi perintah khusus untuk memasak, selama ini Tristan selalu cuek masalah makanan.


Kini semua pelayan disana tahu, bahwa wanita yang datang bersama majikan mereka itu benar-benar sangat dicintai, bahkan di spesial kan, sangat jauh berbeda dengan Linda.


"Terima kasih." Ucap Alea saat salah satu pelayan menyajikan makanan.


"Sama-sama, Nyonya." Balasnya.


Alea pun mulai menikmati makanannya, ia benar-benar senang karena ngidamnya terpenuhi hari ini, dan ini semua tentu saja berkat suaminya yang super pengertian.


"Gimana, suka?" tanya Tristan.


Alea mengangguk dengan mulut yang penuh, ia sangat menyukai mie ayam buatan koki Tristan. Rasanya benar-benar berkelas dan lezat.


"Suka banget, makasih ya." Jawab Alea.


"Eh tapi, Mas. Pak Mondy, apa dia nggak diajak?" tanya Alea teringat pada sosok yang mengantar mereka kesini.


"Kan, kebiasaan. Mondy terus!!" cibir Tristan sedikit menekuk wajahnya.


Alea terkekeh, ia mengusap punggung tangan suaminya yang sedang cemburu itu dengan penuh kasih sayang.


"Iya-iya nggak bahas pak Mondy, suami aku CEMBURUAN." Ucap Alea menekan kata terakhirnya.


PAK TRISTAN CEMBURUAN GUYS😫😫

__ADS_1


Bersambung.............................


__ADS_2