Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Sikap mama mertua


__ADS_3

Seperti yang Alea katakan kemarin, pagi ini Firda datang membawa beberapa pakaian untuk Alkano sebagai hadiah, ia juga sengaja membawakan adiknya buah-buahan.


Kini adik dan kakak itu sedang duduk bersama sambil berbincang, ditemani dengan papa Jaya yang sedang asik mencolek pipi cucunya yang masih tidur.


Bukan hanya papa Jaya, tapi ada juga mama Saras yang malah menggendong Alkano.


"Lea, gimana sama mertua kamu?" Tanya Firda sedikit pelan.


Meski sedikit jauh, namun ia harus berhati-hati untuk bicara, apalagi ada orangnya di depannya.


Alea menatap kakaknya, ia melototkan matanya mendengar pertanyaan dari sang kakak yang bisa saja di dengar oleh mama Saras.


"Ck, kakak. Tanyakan itu kan bisa di tempat lain, kenapa juga harus sekarang." Cicit Alea sangat pelan.


Firda terkekeh, ia mencubit pelan lengan adiknya yang ia nilai sangat lucu ekspresi wajahnya.


"Baiklah, lagipula sepertinya aku sudah punya jawabannya. Aku turut bahagia untukmu, Lea." Kata Firda tersenyum hangat.


Sebagai kakak, Firda tentu bahagia melihat ibu mertua adiknya sedikit berubah. Sebelumnya ia tahu bahwa mama Saras enggan untuk menjenguk Alkano, namun sekarang sudah mau menggendong bahkan menjaganya.


"Kandungan kakak bagaimana, sehat kan si baby disini?" Tanya Alea, tangannya mengusap perut kakaknya yang sudah terasa bulat.


"Sehat dong, Onty." Jawab Firda menirukan suara anak kecil.


Alea terkekeh, begitupula dengan Firda. Tawa keduanya tanpa mereka sadari membuat mama Saras dan papa Jaya menatap mereka.


"Wah, seru sekali sepertinya." Ucap papa Jaya.


Alea menoleh, menatap ayah mertuanya lalu manggut-manggut.


"Maaf jika berisik, Pa. Aku sudah lama tidak mengobrol seperti ini dengan kakak," kata Alea malu-malu.


"Nggak apa-apa, Nak. Lanjutkan saja perbincangan kalian," sahut papa Jaya mempersilahkan.


Papa Jaya lalu beralih menatap Firda. "Bagaimana kandungan mu, Nak?" Tanya papa Jaya.

__ADS_1


"Sehat, Om. Belum lama ini saya baru saja memeriksanya," jawab Firda tersenyum hangat.


Sementara mama Saras hanya melirik saja sambil menimang-nimang Alkano. Adik dan kakak itu benar-benar mirip, bukan hanya wajah tetapi cara bicaranya juga.


"Ma, mama pegal menggendong Al? Jika iya, berikan saja padaku." Kata Alea hendak mendekat, namun mama Saras mengangkat tangannya.


"Aku ingin menggendong cucuku, apa itu tidak boleh. Kau ini, anakmu tidak akan terluka jika aku menggendongnya." Sahut mama Saras.


Alea menggeleng, ibu mertuanya sudah salah paham dengan maksud ucapannya barusan.


"Tidak, Ma. Bukan seperti itu, aku hanya takut mama kelelahan menjaga dan menggendong Alkano." Jelas Alea dengan wajah penuh rasa bersalah.


Mama Saras tidak menyahut, ia memilih untuk memalingkan wajahnya dan menatap ke wajah cucunya yang masih pulas dalam tidurnya.


Alea menghela nafas, entah kapan mama Saras akan benar-benar bisa menerimanya sebagai menantu.


Papa Jaya melihat wajah menantunya yang sedih, ia geleng-geleng kepala melihat tingkah laku istrinya yang terus saja mengedepankan gengsi.


"Nak, tidak apa-apa. Mama kamu tidak kelelahan menggendong cucunya, kamu tidak perlu khawatir." Tutur papa Jaya pada sang menantu.


Firda pun melihat wajah adiknya, ia jadi sedih melihat kekecewaan di wajah Alea. Bukan hanya Alea, tapi Firda pun kecewa. Penilaiannya salah, mama Saras masih belum mau menerima adiknya, hanya Alkano yang ia terima.


"Lea, bisa aku ke kamar mandi?" Tanya Firda.


"Bisa, Kak. Mari aku antar," jawab Alea lalu mengajak kakaknya untuk pergi ke toilet yang ada di kamar tamu.


Sejujurnya Firda tidak benar-benar ingin ke kamar mandi, ia hanya ingin waktu berdua dengan adiknya sebentar. Firda ingin memeluk adiknya.


"Lea." Panggil Firda lalu memeluk Alea.


Alea terkejut, namun ia tetap membalas pelukan sang kakak.


"Kak, ada apa?" Tanya Alea bingung.


"Jangan menahannya, menangis saja jika kau ingin. Aku tahu rasanya pasti menyakitkan," tutur Firda lembut.

__ADS_1


Firda melepaskan pelukannya, menatap adiknya yang malah tersenyum.


"Jangan khawatir, Kak. Aku sudah belajar untuk menghadapi ini, dan lagi aku tahu sebenarnya mama mertuaku adalah wanita yang baik. Mama Saras pasti akan menerimaku, ini hanya butuh waktu beberapa saat lagi." Jelas Alea sembari menggenggam tangan kakaknya.


Firda hanya tersenyum, ia berdoa semoga apa yang Alea katakan benar-benar terjadi suatu hari nanti.


Setelah berpura-pura ke toilet, Firda pun pamit pulang dengan sopir yang suaminya kirimkan. Alea tidak lupa mengantar sampai ke depan rumah dan menunggu sampai mobil yang kakaknya tumpangi tidak terlihat lagi.


***


Sore harinya, Tristan pulang dan langsung bersih-bersih diri. Ia mau memeluk anak dan istrinya dalam keadaan yang bersih, apalagi Alkano masih terlalu sensitif.


Selesai mandi, Tristan langsung keluar dan memeluk istrinya dari belakang. Pria itu mencium pipi Alea, lalu kening Alkano.


"Anak papi tidur terus sih, ya ampun tampan nya." Ucap Tristan begitu terpesona dengan wajah putranya sendiri.


Alea tersenyum, ia membiarkan suaminya menggendong Alkano sementara dirinya akan mengambil handuk basah yang Tristan lemparkan secara asal.


"Mas, kamu mau kopi atau teh?" Tanya Alea tanpa menatap suaminya.


Tristan tersenyum manis, ia lantas mendekat lalu membisikkan sesuatu di telinga sang istri.


"Maunya susu Al, boleh nggak?" Tanya Tristan berbisik.


Alea melototkan matanya, ia lantas melayangkan pukulan di bahu sang suami yang kerap kali menggodanya seperti ini.


"Kebiasaan." Celetuk Alea, dan dibalas tawa oleh Tristan.


Tristan mencium pipi putranya dengan gemas, bahkan sampai membuat Alkano menggeliat.


"Mas, udah deh boboin di kasur aja, kamu kasar cium Alkano." Tegur Alea geram.


Tristan tergelak. "Iya-iya, Mami. Galak banget sih, kan makin cantik." Puji Tristan dan hanya mendapat tatapan tajam saja dari istrinya.


LEA, BANYAKIN SABAR NYA YA🤗

__ADS_1


Bersambung...........................


__ADS_2