Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Mau di pecat?


__ADS_3

Alea benar-benar ekstra dijaga oleh Tristan, apalagi setelah kemarin ia masuk ke rumah sakit karena bekas operasi kuret nya terasa nyeri.


Dokter melarang Alea untuk melakukan aktivitas berat, dan itulah yang membuat Tristan kini melarang istrinya untuk sekadar mengambil makan sendiri.


Pelayan di rumah utama pun benar-benar ekstra siaga, mereka tidak mau jika tuan muda sampai marah karena kebutuhan istrinya tidak terpenuhi.


Alea sebenarnya menolak, tapi Tristan tetaplah Tristan. Sekali sudah memberi perintah, maka siapapun harus menurutinya.


"Mas, aku udah nggak apa-apa kok. Lagian kan udah di rawat kemarin, perut aku udah nggak sakit lagi kok." Ucap Alea kepada sang suami.


"Nggak, pokoknya kamu jangan kemana-mana. Aku nggak mau sampai terjadi sesuatu sama kamu!" balas Tristan.


Saat ini Tristan sedang menyuapi Alea sarapan, dan tentu saja wanita itu harus sigap membuka mulut agar mulut suaminya yang suka bicara pedas itu terkunci.


"Mas, hari ini kak Firda main. Nggak apa-apa kan?" tanya Alea memberitahu.


Suara Alea kurang jelas, sebab saat ini mulut wanita itu penuh dengan nasi dan sayur.


"Bicara nanti, Sayang. Mangap, kunyah dan telan." Kata Tristan seperti bicara pada anak kecil.


Alea terkekeh, ia gemas sekali melihat tingkah suaminya. Karena tidak mau Tristan marah, maka Alea berusaha untuk menghabiskan semua sarapannya.


"Mas, ini sudah siang. Kamu nanti telat ke kantor, lagipula aku kan sudah selesai sarapannya." Tutur Alea saat matanya melirik jam di atas nakas.


"Aku takut mau ninggalin kamu, nanti kamu malah nyesel dan melakukan hal berat." Ucap Tristan pelan.


Alea tersenyum, ia menggenggam tangan sang suami dengan satu tangan lalu tangan lainnya ia gunakan untuk mengusap wajah tampan Tristan.


"Nggak kok, Mas. Aku nggak akan bekerja berat, aku akan nurutin kata kamu." Sahut Alea menjelaskan.


"Benar?" Tanya Tristan menyipitkan matanya.


Alea mendekat, ia mengalungkan tangannya di leher sang suami lalu membisikkan kata-kata sederhana, namun membuat bulu kuduk berdiri.


"Janji, Sayang." Jawab Alea dengan suara berat.


Jangan lupakan panggilan sayang yang sangat jarang Alea ucapkan kepada Trisya suaminya.


Tristan memejamkan mata, mendapat perlakuan seperti tadi malah membuatnya semakin tidak bisa meninggalkan Alea.


Tristan tidak peduli jika Mondy sekarang sudah bersungut-sungut karena sudah sangat lama menunggu, namun ia tidak kunjung datang.


Saat ini Tristan masih mau memeluk dan mendekap tubuh mungil istrinya yang terasa sangat hangat dan membuatnya nyaman.

__ADS_1


Sementara Tristan asik memeluk Alea di kamar mereka, Mondy jutsru kini sedang duduk di teras rumah guna menunggu bosnya itu keluar dan mereka berangkat.


Sudah 30 menit Mondy menunggu, namun Tristan tidak kunjung keluar dari kamar, apalagi rumah.


Mondy menghela nafas, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya. Mondy bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah taman yang ada di sana.


Niatnya ingin menghubungi seseorang di kantor dan memberitahu bahwa ia dan Tristan akan datang terlambat, namun semua itu hanya sekadar niat tatkala ia merasakan sebuah air mengenai seluruh tubuhnya.


"Astaga!!" seorang gadis memekik kaget saat selang air di tangannya malah mengarah kepada Mondy dan membuat tubuh pria itu basah kuyup.


Aira tidak melihat ada Mondy disana, mungkin karena kran air dekat tembok sehingga ia tidak memperhatikan sekitar dan malah santai mengarahkan selang airnya kemana saja.


"Om, Om nggak apa-apa? Ya ampun basah kuyup lagi." Ucap Aira seraya mendekati Mondy.


Aira menarik tangan Mondy dan mendudukkan pria itu di kursi kayu yang ada disana. Aira mengambil tisu yang juga ada di meja lalu menggunakannya untuk mengeringkan wajahnya.


"Om, maaf ya. Sumpah Om, aku nggak tahu Om ada disana. Tadi kan niatnya mau nyiram tanaman, eh malah kena Om." Celoteh Aira seraya terus mengeringkan wajah Mondy.


Aira tampak panik, ia sampai menggigit bibirnya karena takut akan dipecat setelah melakukan kesalahan hari ini.


"Sudah cukup! Minggir." Ucap Mondy bangkit dari duduknya dan sedikit mendorong Aira.


"Om, aku minta maaf. Jangan pecat aku ya, aku janji nggak akan mengulangi kesalahan lagi." Pinta Aira memohon.


Mondy mengambil beberapa lembar tisu lalu mengeringkan wajahnya lagi yang belum sepenuhnya kering.


"Kau benar-benar ceroboh, rumah ini tidak butuh pelayan sepertimu!" kata Mondy dengan nada tegas.


Aira menundukkan kepalanya, sungguh sial sekali ia hari ini sampai-sampai membuat asisten bos basah kuyup seperti kucing kecebur.


"Maafin aku, Om." Lirih Aira benar-benar merasa bersalah.


Mondy tidak menyahut, ia malah beralih fokus pada Tristan dan Alea yang keluar dari rumah lalu memperhatikannya dengan bingung.


"Selamat pagi, Tuan dan Nona." Sapa Mondy sopan.


Mendengar ucapan Mondy seketika membuat Aira menundukkan kepalanya dengan sopan sebagai bentuk penghormatan pada majikannya.


"Ada apa denganmu, kenapa sampai basah kuyup begini?" Tanya Tristan aneh.


Mondy tidak menjawab, ia hanya melirik Aira dengan sinis.


"Itu salah saya, Tuan. Saya yang membuat Om Mondy basah kuyup," jawab Aira mengakui kesalahannya.

__ADS_1


"Om?" beo Alea bingung.


"Maksud saya pak Mondy." Ralat Aira dengan cepat.


Aira semakin menundukkan kepalanya, ia jiga menyatukan kedua tangannya memohon kepada majikannya.


"Tolong jangan pecat saya, Tuan. Saya nggak mau pulang ke rumah, saya mau bekerja saja disini." Pinta Aira memohon.


Alea memegang tangan suaminya. "Nggak akan kami pecat kan?" tanya Alea was-was.


Jangan sampai Tristan memecat Aira, sementara ia belum pernah mengobrol berdua dengan gadis itu. Tristan memberinya pelayan khusus, makanya Aira tidak pernah masuk ke kamarnya.


Tristan mencium kening Alea. "Nggak tahu, Sayang." Jawab Tristan.


"Mondy, bagaimana menurutmu? Haruskah aku memecatnya?" tanya Tristan.


Mondy melirik Aira yang kini memasang wajah sedih, ia berusaha untuk tidak peduli.


"Saya tidak bisa membiarkan pelayan ceroboh ini ada di rumah utama." Jawab Mondy.


"Kalau begitu bawa dia ke apartemen mu." Ujar Tristan tiba-tiba.


Alea, Mondy dan Aira seketika menatap Tristan dengan bingung.


"Maksud anda, Tuan?" tanya Mondy.


"Ya, kau hukum saja dia agar bekerja di rumahmu selama satu minggu, setelah itu bawa dia kembali." Jelas Tristan.


"Tapi–" ucapan Aira menggantung saat Mondy menatapnya tajam.


"Kau mau aku pecat atau bekerja di rumah Mondy selama satu minggu?" tanya Tristan menawarkan.


"Bekerja satu minggu, Tuan." Jawab Aira pelan.


Mondy tidak bisa banyak protes, ia akan membiarkan gadis itu bekerja di rumahnya selama satu minggu, meskipun sebenarnya ia pasti merasa terganggu nantinya.


Aira melirik Mondy, ia jadi semakin merasa bersalah pada pria itu. Aira bisa yakin bahwa Mondy pasti sebenarnya keberatan, namun tidak mampu menolak.


Kini Aira hanya bisa berjanji untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, ia tidak akan melakukan kesalahan lagi.


DUH AIRA SEMANGAT YAAA😌🤗


Bersambung.................................

__ADS_1


__ADS_2