
Alea melambaikan tangannya kepada sang suami yang baru saja berangkat ke kantor usai mengantarnya kembali ke apartemen mereka.
Awalnya Tristan menyuruh Alea untuk tetap di rumah besar, namun Alea menolak karena suasana disana terlalu asing untuknya, dan lagi rumah sebesar itu malah membuat Alea tidak bisa bersantai dengan nyaman.
Alea menutup pintu apartemen yang otomatis terkunci, ia lalu pergi ke dapur untuk membuat susu hamil yang telah Tristan beli untuknya kemarin.
"Baby, mami minum susu dulu ya. Biar kamu tambah sehat disini, mami sama papi tunggu kamu lahir." Gumam Alea seraya mengusap-usap perutnya sendiri.
Alea menenggak susu di gelas itu hingga tandas, kemudian ia mengambil dua buah apel dan pir. Tidak lupa Alea membawa piring dan juga pisau.
Alea akan bersantai di depan televisi sambil memakan potongan buah. Dokter sangat menyarankan Alea untuk itu, sebab baik bagi kesehatan janin dan ibunya.
"Kak Firda lagi apa ya, apa udah berangkat kerja." Gumam Alea lalu mencoba menghubungi kakaknya via aplikasi hijau.
Saat Alea mengirim pesan, statusnya hanya centang satu abu-abu yang menandakan jika kakaknya itu sedang tidak aktif.
"Pasti lagi sibuk kerja." Kata Alea lalu memilih untuk gonta-ganti chanel televisi.
Sementara itu ditempat lain, disebuah hotel mewah. Tampak seorang wanita baru saja selesai berpakaian setelah melayani pria tua seperti biasanya.
Wanita itu tersenyum senang ketika ponselnya mendapatkan notifikasi pesan bahwa ada dana yang masuk ke rekeningnya.
Linda semakin tidak menyesal telah memilih untuk bercerai, buktinya ia masih bisa hidup dan memberi uang kepada kedua orang tuanya tanpa campur tangan dari Tristan.
Walaupun begitu, Linda tentu saja tidak mau rugi. Ia tetap meminta harta gono-gini dari Tristan, hitung-hitung untuk tambahan asetnya.
"Dananya sudah masuk, Sayang. Terima kasih ya, kau benar-benar sangat memuaskan." Kata Linda pada pria tua plontos yang masih terbaring dengan mata terbuka.
Pria itu terkekeh. "Tentu, Sayang. Aku akan memberimu lebih banyak jika mau ikut denganku liburan ke Belanda." Kata pria tua itu.
"Maaf, tapi aku tidak bisa. Lain kali ya, Sayang." Ucap Linda menolak.
Tentu saja Linda menolak, ia sudah memiliki banyak job untuk melayani bos-bos besar yang siap membayar nya lebih besar dari pria dihadapannya ini.
Tanpa banyak bicara lagi, Linda pun langsung pergi dari kamar hotel yang benar-benar sangat berantakan usai adegan penuh kenikmatan semalam.
Seperti biasanya, Linda akan keluar dengan kacamata hitam yang bertengger di matanya. Walaupun ia wanita bayaran, tapi Linda selalu bertindak seakan ia adalah wanita mahal dan berkelas.
Linda tidak takut sama sekali jika ada media yang memberitakan dirinya keluar masuk ke dalam hotel, toh dia sudah tidak ada hubungan dengan awak media.
Dulu iya, ia harus bisa menjaga image sebagai menantu keluarga Kusuma dan sebagai seorang modal. Tapi semua itu kini tidak berguna, ia akan bercerai dari Tristan dan mundur dari dunia modeling.
Pendapatan yang ia terima dari hasil jual diri nyatanya jauh lebih besar daripada pekerjaan yang mengharuskannya banyak bergaya dan berdiri.
Benar-benar melelahkan!
Hari ini Linda akan pulang ke rumah kedua orang tuanya, sekedar untuk memberikan mereka berdua uang.
Linda benar-benar pusing sebenarnya, sebab ketika disana maka kedua orang tuanya akan selalu membahas tentang Tristan.
Kedua orang tuanya selalu mencoba untuk membatalkan perceraiannya dengan Tristan, namun Linda tetap pada tujuannya. Ia akan tetap pisah dari Tristan karena muak dengan sikap pria itu selama ini.
__ADS_1
Sejujurnya, dibanding Tristan, Linda lebih memilih Fade. Tapi kenyataanya, pria itu kini sudah mengetahui faktanya dan memilih untuk meninggalkannya.
Dalam hidup Linda sekarang hanya ada uang dan melayani pria-pria kaya. Selama dirinya bisa memuaskan pria, maka ia tidak perlu takut kehabisan uang.
Linda sampai di rumahnya, ia langsung disambut oleh kedua orang tuanya di depan pintu rumah.
"Ma, Pa!!" panggil Linda dengan penuh senyuman.
"Akhirnya kamu pulang, sudah pikirkan tentang keinginan kami?" tanya mama nya Linda.
Linda yang tadi tersenyum kini mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar.
"Linda, sudah kau batalkan kan rencana perceraiannya?" kini giliran papa Linda yang bertanya.
"Ma, Pa. Ayolah! Berhenti membahas Tristan, aku bisa memberi kalian banyak uang tanpa membawa-bawa dia." Kata Linda dengan suara yang kesal.
Linda mengambil amplop cokelat yang tampak begitu tebal, bahkan tidak bisa digenggam.
"Jangan membahas Tristan terus, lebih baik kalian nikmati uang pemberian dariku." Tambah Linda lalu segera masuk ke dalam rumahnya.
Kedua orang tua Linda menghela nafas, mereka benar-benar kalah akan penolakan Linda. Putri mereka itu sudah benar-benar bertekad untuk cerai dari Tristan.
"Sudahlah, akan lebih baik kita tidak memaksanya untuk rujuk dengan Tristan." Kata mama Linda.
"Tapi Tristan bisa memberi kita lebih dari ini, Ma. Apa anak itu tidak bisa berpikir." Balas papa Linda tidak setuju.
Kedua orang tua Linda tidak jauh dari Linda, mereka sama-sama haus akan uang dan harta. Itulah mengapa ada pepatah mengatakan bahwa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.
***
Sambil menikmati makan siang miliknya, ia menoleh ke arah seorang gadis yang tampak begitu serius dalam bekerja.
Fade tersenyum setiap kali Firda tersenyum pada pelanggan yang ada disana. Gadis itu benar-benar melayani pelanggan restoran dengan ramah dan sopan.
"Cantik sekali, dan selalu begitu." Puji Fade pelan.
Sejak kuliah, senyuman Firda dan sikap baiknya lah yang membuat Fade jatuh hati. Ia bahkan menepis segelas komen teman-temannya tentang Firda yang merupakan anak tanpa orang tua.
Teman-teman nya selalu mengatakan bahwa Firda tidak cocok dengannya. Ia berasal dari keluarga kaya yang banyak uang, sementara Firda bahkan tidak memiliki keluarga selain adiknya.
Fade tidak pernah mempedulikan hal itu. Bagi Fade, cinta tidak memandang apapun. Cinta itu tumbuh secara alami, dan dengan alasan yang jelas.
Jika kebanyakan wanita di kampus mendekati Fade, termasuk Linda. Firda justru malah tampak biasa saja, gadis itu hanya tersenyum tipis ketika Fade tersenyum dengan lebarnya.
Firda bisa dikatakan sebagai gadis dingin, namun tidak sedingin kulkas. Gadis itu masih memiliki kehangatan di setiap ucapan dan tindakannya.
"Aku masih ingat bagaimana dulu kamu menolakku, Fir. Tapi dengan usahaku, akhirnya aku bisa dapetin kamu." Ucap Fade dengan tatapan penuh kearah Firda.
"Maka hari ini, aku akan kembali berusaha untuk dapatkan kamu. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu lagi, kamu milikku." Tambah Fade dengan sorot mata yang mengikuti gerak-gerik Firda.
"Permisi." Fade melambaikan tangannya kepada salah satu pelayan yang berada tidak jauh dari sana.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Ada yang bisa dibantu?" tanya pelayan laki-laki itu sopan.
"Saya mau tambah minumannya ya, dan tolong nanti yang mengantar itu pelayan yang bernama Firda. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengannya." Ucap Fade pada pelayan laki-laki itu.
Pelayan itu pun pergi meninggalkan Fade untuk membuat minum.
"Kak." Panggil pelayan laki-laki yang tadi menerima pesanan Fade.
"Eh iya, kenapa Van?" Sahut Firda.
"Tolong antar minuman ini ke meja 12 ya, katanya dia mau ngomong." Kata Evan seraya memberikan minuman pesanan Fade.
Firda menahan nafas, ia mengepalkan tangannya karena kesal dengan Fade. Kenapa pria itu harus terus saja bertingkah seperti ini.
Firda tersenyum, ia pun menerima minuman yang diberikan rekan kerjanya untuk diantarkan ke pelanggan restoran.
Jika bukan karena pekerjaan, mungkin Firda akan melempar jusnya dari sini sampai-sampai mengenai tubuh pria itu.
Eh, apa dia tega?
"Permisi, Tuan. Ini pesanan anda dan selamat menikmati." Kata Firda dengan sopan dan penuh senyuman yang tidak ikhlas.
Firda hendak pergi, namun Fade buru-buru mencegah agar Firda tidak pergi. Saat ini, Fade benar-benar ingin bicara dengan gadis itu.
"Fir, tolong. Aku ingin sekali bicara denganmu," pinta Fade memohon.
Firda menoleh horor. "Anda buta? Saya sedang bekerja, dan sangat tidak etis jika saya bersantai disaat jam kerja." Sahut Firda ketus.
"Kalo begitu, ayo atur waktu untuk bicara di tempat lain." Ajak Fade dengan semangat.
Firda berdecih. "Tidak berminat." Balas Firda dingin.
"Fir, aku tahu kamu marah karena ucapanku dan aku sangat menyesal karena itu. Aku mohon maafkan aku." Pinta Fade dengan sungguh-sungguh.
Firda tertawa kecil. "Anda kira saya marah hanya karena perkataan anda yang tidak berguna itu?" Tanya Firda.
Kening Fade mengkerut. "Maksudnya?" tanya Fade.
"Saya tidak sudi menerima permintaan maaf dari pria yang ingin menjadikan adik saya sebagai pelakor. Walaupun anda berniat untuk menolong, setidaknya jangan berikan pekerjaan itu." Jawab Firda penuh penekanan.
Usai mengatakan itu, Firda pun pergi dari hadapan Fade dengan tangan terkepal.
Sementara Fade ia tampak syok, ternyata dugaannya benar. Alea adalah adiknya Firda, gadis yang ia minta untuk merebut Tristan adalah adik dari gadis yang dicintainya.
"Jadi Firda pernah koma?" gumam Fade teringat alasan mengapa Alea mencari pekerjaan.
"Mantan kekasihmu pernah hampir tiada, jadi jaga dia baik-baik."
Fade ingat ucapan Linda waktu itu. Bagaimana Linda tahu jika Firda hampir tiada. Pikiran Fade mulai melayang, ia mengepalkan tangannya dengan garis rahang yang terlihat menegang.
"Wanita itu, wanita itu benar-benar tidak pantas untuk bebas berkeliaran." Gumam Fade dengan dada dipenuhi rasa marah.
__ADS_1
NAH KAN, KETAHUAN 😌
Bersambung...............................