
Aira dan Mondy sudah bersiap untuk tidur setelah melakukan olahraga malam atas rengekan Mondy yang meminta jatah. Jelas-jelas tadi Mondy mengatakan kasihan pada istri kecilnya, namun soal jatah tetap di gas.
Mondy mengusap-usapnya lengan bahu Aira dengan lembut, namun ia terkadang gagal fokus dengan tanda lahir yang Aira miliki.
"Ai." Panggil Mondy dengan pandangan mengarah pada tanda lahir di lengan bahu istrinya.
"Hmm?" sahut Aira mendongakkan kepalanya.
"Ini tanda lahir atau tato sebenarnya, kok bentuknya bintang gini?" tanya Mondy.
Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang kesekian kalinya, namun Mondy tidak pernah bosan mengatakannya. Pasalnya ia merasa aneh, ia pernah melihat tanda lahir yang sama.
"Kamu nih, kan aku udah bilang itu tanda lahir." Jawab Aira sewot, namun tentu saja manja juga.
Mondy terkekeh, ia menundukkan kepalanya lalu mencium pangkal hidung sang istri.
"Bukan gitu, Sayang. Aku pernah lihat tanda yang sama di–" ucapan Mondy terhenti saat Aira malah mencium bibirnya.
"Sudahlah, lupakan saja tanda lahirnya. Ayo tidur!" ajak Aira yang sudah sangat mengantuk.
Mondy tersenyum, ia menganggukkan kepalanya. Kasihan juga Aira, seharian ini ia sudah menguras tenaga istrinya. Mulai dari mengajak ke Bogor dan tadi meminta jatah.
Mondy mengeratkan pelukannya, ia mengusap-usap punggung sang istri sampai mereka berdua pun tertidur pulas usai mereguk kenikmatan bersama.
Keesokan harinya, Mondy harus berangkat pagi-pagi sekali karena akan mengantar Tristan ke rumah orang tuanya.
Aira juga ikut, namun ia akan menunggu di rumah bersama Alea, dengan kata lain Aira akan menjaga Alea yang mungkin saja akan bosan.
"Mas, dihabiskan dulu sarapannya. Aku udah capek-capek masak," tutur Aira dengan lembut.
Mondy berdehem dengan fokus pada ponselnya, salah satu klien Tristan yang ia tangani menghubunginya.
Aira menghela nafas, ia bangkit dari duduknya lalu berpindah duduk ke pangkuan suaminya.
"Makan." Tutur Aira menyodorkan sendok berisi nasi ke depan mulut sang suami.
Mondy terkekeh, ia meletakkan ponselnya di meja lalu melingkarkan tangannya nya di pinggang kecil Aira.
__ADS_1
Mondy membuka mulutnya, bagaimana mungkin ia akan melewatkan kesempatan disuapin sambil memangku istrinya.
"Ai, kamu cantik banget sih." Puji Mondy dengan mulut penuh makanan.
"Hmm, aku tahu." Balas Aira singkat.
Wanita itu fokus menyuapi suaminya saja, ia sudah kenyang makan gombalan Mondy yang selalu membuat hatinya bergetar tidak karuan.
Makanan Mondy habis tak tersisa, padahal jika makan sendiri pasti ada saja yang tersisa di piring pria itu. Mungkin benar bahwa makan disuapin orang terkasih rasanya jauh lebih enak.
Setelah selesai sarapan, Mondy dan Aira pun langsung pergi ke rumah Tristan. Tidak terlalu memakan waktu karena jalanan sepi sebab waktu yang masih pagi.
Sampai di rumah utama, Mondy dan Aira menunggu di ruang tamu. Mereka yakin Alea dan Tristan masih bersiap-siap.
Sementara itu Alea sedang menemani suaminya untuk bersiap-siap. Ya, hanya memakai baju saja Tristan mau ditemani oleh istrinya.
"Mas, nanti bicara pelan-pelan ya sama papa kamu." Ucap Alea mengingatkan.
"Iya, Sayang. Aku tahu kok, aku akan berusaha untuk menjaga emosiku selama mereka tidak menghina kamu." Balas Tristan tanpa menatap istrinya.
"Mondy pasti sudah menunggu, ayo kita keluar." Ajak Tristan pada sang istri.
Alea mengangguk, ia lekas mengikuti langkah suaminya keluar dari kamar. Dan benar, Mondy serta Aira sudah ada di sana.
"Selamat pagi, Tuan dan Nona." Sapa Mondy dengan sopan.
Aira ikut menyapa seperti suaminya, ia melemparkan senyuman pada istri atasan suaminya itu.
"Kita langsung berangkat saja, siang ini ada pertemuan juga kan." Ucap Tristan.
"Benar, Tuan. Mari," balas Mondy mempersilahkan dengan sopan.
Tristan menatap istrinya, ia mencium kening istrinya yang Alea balas dengan mencium punggung tangan Tristan.
"Aku titip salam untuk mama dan papa ya." Ucap Alea penuh senyuman.
Tristan mengangguk pelan. "Iya, Sayang. Aku berangkat ya, kamu baik-baik di rumah." Tutur Tristan lalu kemudian pergi.
__ADS_1
Mondy melemparkan senyuman pada istri kecilnya, setelah itu barulah ia pergi meninggalkan rumah utama bersama Tristan.
Kini tinggal Alea dan Aira di sana. Alea mengajak istri asisten suaminya itu untuk duduk dan menyaksikan drama.
"Kamu suka drakor nggak, Ai?" tanya Alea.
"Suka saja, Nona. Walaupun saya jarang nonton, cuma kenal Lee Minho aja." Jawab Aira dengan polos.
Alea terkekeh, ia manggut-manggut mendengar jawaban dari Aira. Ia akan mengajak gadis itu menonton drama Ji Chang Wook, hitung-hitung mengenalkan aktor yang lainnya.
"Nona, anda mau sesuatu? Mau saya buatkan?" tanya Aira menawarkan.
"Nggak, Ai. Lagipula jika aku menginginkan sesuatu, aku tidak akan meminta padamu. Kamu bukan lagi pelayan di rumah ini, Ai." Jawab Alea ramah.
Aira tersenyum, ia sangat-sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik disini. Alea, Tristan, Firda, Fade, dan tentu saja suaminya. Mereka semua baik.
Andai saja Aira memiliki kakak yang baik dan penyayang seperti Alea, pasti akan sangat bahagia hidupnya.
"Ai, ada apa?" tanya Alea saat melihat wanita itu melamun.
Aira tersadar, ia menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa, Nona." Jawab Aira.
"Ai, bisa tidak jangan panggil aku nona. Akan lebih baik, kamu memanggilku kakak." Ucap Alea tanpa menatap Aira.
Aira menoleh penuh rasa terkejut, demi Tuhan ia sudah lama ingin memanggil begitu namun ragu.
"Nona, apa boleh?" tanya Aira.
Alea menatap Aira lalu mengangguk. "Tentu saja, panggil aku kakak saja mulai sekarang. Kak Firda pun boleh kamu panggil kakak." Jawab Alea tersenyum hangat.
Aira tersenyum bahagia, ia benar-benar senang hari ini. Setidaknya ia punya kakak yang baik padanya, bukan seperti kakaknya di kampung yang seperti musuh dengannya.
VISUAL BAKAL AKU UP DI INSTAGRAM YA
@Alfianaaa05_🤗
Bersambung.............................
__ADS_1