Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Pergi ke Bali


__ADS_3

Alea duduk di depan lobby apartemen miliknya untuk menunggu kedatangan Tristan yang katanya sudah menunju kesini.


5 menit berlalu, namun Tristan tidak kunjung datang, sehingga Alea lelah berdiri dan memilih untuk duduk.


Alea memegangi perutnya, ia sedikit kesakitan karena hari ini ia baru saja mendapatkan tamu bulanannya. Alea memang terbiasa seperti ini, ia seperti orang tidak berdaya jika menstruasi di hari pertama.


Alea menyipitkan matanya saat melihat mobil yang berhenti di depannya. Seorang pria berkemeja putih dan celana bahan hitam turun, lalu menghampiri Alea.


"Alea, ada apa denganmu?" Tanya Tristan seraya membantu Alea berdiri.


Alea menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa, Pak. Saya hanya sedikit sakit perut," jawab Alea jujur.


Tristan mengusap peluh di dahi Alea dengan penuh kelembutan, hal itu berhasil menyita perhatian sosok pria yang datang bersama Tristan tadi.


"Anda sangat beruntung, Pak." Batin Mondy miris.


Mondy membukakan pintu untuk Tristan dan Alea, lalu ia membantu meletakkan koper milik wanita itu di bagasi.


Setelah dirasa semuanya beres, barulah mereka pergi menuju bandara. Penerbangan mereka 1 jam 30 menit lagi, dan Tristan berniat untuk mengajak Alea sarapan di bandara nanti.


"Alea, apa sesakit itu?" tanya Tristan seraya memegang perut Alea.


Alea tersentak, ia segera menjauhkan tangan Tristan dari atas perutnya.


"Tidak, Pak. Hanya sedikit sakit saja," jawab Alea gugup sekaligus malu pada Mondy yang pasti melihat kelakuan Tristan barusan.


Tristan manggut-manggut, pria itu tiba-tiba memberikan kecupan di kening Alea dengan penuh kasih sayang.


Alea terkejut, bahkan matanya terbuka dengan lebar, namun sesaat kemudian entah mengapa ia malah memejamkan matanya.


Mondy melihat itu semua, ia memegang stir dengan penuh tenaga lalu membunyikan klakson dengan sedikit kasar.


Tristan dan Alea tersadar, Alea buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah jalanan.


"Ada apa?" tanya Tristan.


"Tadi ada orang menyebrang tiba-tiba, Pak. Saya terkejut," jawab Mondy berbohong.


Tidak mungkin Mondy mengatakan bahwa dirinya kesal melihat Tristan mencium Alea, bisa-bisa ia langsung dibunuh Tristan saat itu juga.


Tanpa terasa akhirnya mereka pun sampai di bandara, Alea dan Tristan tidak lupa berpamitan dengan Mondy yang harus tetap disana untuk mengerjakan tugas Tristan yang lainnya.


"Pak Mondy, kami pergi dulu ya. Sayang sekali anda tidak bisa ikut, padahal anda sangat membantu pekerjaan saya." Kata Alea dengan senyuman.


"Iya, Nona. Saya juga ingin itu, tapi tugas-tugas disini tidak membiarkan saya." Balas Mondy dengan datar dan dingin.

__ADS_1


Tristan dan Alea pun pergi setelah berpamitan dengan Mondy. Keduanya tidak langsung pergi ke pintu keberangkatan, sebab Tristan mengajak sarapan.


"Kita sarapan supaya perut kamu tidak sakit lagi, Alea." Ucap Tristan begitu perhatian.


Alea hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menerima sarapan yang Tristan berikan dan mulai menyantapnya perlahan.


"Apa ada obat agar rasa sakit perutmu bisa teratasi, jika ada lebih baik beli sekarang." Ujar Tristan di sela-sela mengunyah.


"Tidak perlu, Pak. Saya terbiasa seperti ini saat mendapatkan tamu bulanan." Balas Alea menolak.


Tristan tiba-tiba terbatuk setelah mendengar ucapan dari Alea barusan. Ia mengambil minum kemudian mencoba mengatur nafasnya.


"Pak, anda baik-baik saja?" tanya Alea pelan.


Tristan mengangguk. "Iya, saya baik." Jawab Tristan singkat.


***


Hampir 3 jam perjalanan yang Alea dan Tristan tempuh untuk sampai di bandara internasional Ngurah Rai. Alea tidak mau pesawat karena perjalanan cukup singkat, tapi saat ini ia merasa tidak nyaman dengan perutnya.


Tristan tahu hal itu, makanya ia langsung mengajak Alea untuk pergi ke hotel yang akan menjadi tempat mereka menginap.


"Setelah ini kamu istirahatlah, Alea. Astaga, wajahmu sampai pucat begini," kata Tristan seraya mengusap wajah Alea dengan lembut.


Tristan tidak menyahut, ia mengambil sebotol air mineral lalu memberikannya kepada Alea.


"Minum dulu." Tutur Tristan lembut.


Alea menerimanya, ia meminum sedikit air agar lebih baik.


"Terima kasih, Pak." Ucap Alea pelan.


Tristan mengangguk, ia pun meminum air dari botol yang sama dengan Alea, hal itu tentu saja membuat Alea melotot.


"Itu bekas saya, Pak!" seru Alea memperingatkan.


"Aku tahu." Timpal Tristan dengan enteng, seakan tidak mempermasalahkan jika mereka minum dari botol yang sama.


Alea menghela nafas, ia memilih untuk diam daripada obrolannya nanti malah di dengar oleh sopir taksi yang kini membawa mereka menuju hotel.


30 menit berlalu, mereka pun sampai di daerah Seminyak, tempat dimana Tristan akan melakukan pertemuan malam nanti, sampai beberapa hari ke depan.


Ramada encore by Wyndam, salah satu hotel yang Tristan jadikan sebagai tempat mereka menginap selama beberapa hari. Ia juga sudah melakukan reservasi sebelumnya, sehingga mereka hanya tinggal mengambil kunci dan masuk ke dalam kamar.


Alea mengerutkan keningnya saat Tristan memberikannya kunci, namun tidak membiarkannya pergi untuk mencari kamarnya sendiri.

__ADS_1


"Pak, saya harus mencari kamar saya." Kata Alea pelan.


Tristan tidak menjawab, ia menarik tangan wanita itu masuk ke dalam hotel dan tidak lupa menyalakan lampu dengan kartu akses yang ia dapatkan.


"Selamat pagi, Tuan, dan Nyonya. Ini koper milik kalian, semoga menikmati liburannya." Ujar pelayan hotel yang membawa barang-barang mereka berdua.


Tristan memberikan tip kepada pelayan itu, dan setelah pelayannya pergi, ia pun langsung menutup pintu kamarnya.


"Pak, saya tidak mau jika harus tidur di kamar yang sama." Ucap Alea langsung.


Tristan terkekeh, ia mendekat lalu mencium bibir yang pucat itu dengan penuh kelembutan dan penuh perasaan.


"Aku nggak melakukan itu, Alea. Kamar kamu disana," tunjuk Tristan ke sebuah pintu di sudut ruangan.


Connecting room, ternyata Tristan memesan kamar itu. Apa tujuannya, kenapa harus buang-buang uang untuk melakukan ini.


Alea tidak mau ambil pusing, ia pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri menggunakan kunci yang Tristan berikan.


"Alea." Panggil Tristan.


Alea menoleh, ia sudah membuka pintu dan siap masuk.


"Jangan kunci pintunya." Ucap Tristan dengan tersenyum lebar.


Alea tidak menyahut, wanita itu langsung masuk tanpa berniat bertanya maksud ucapan Tristan barusan.


Setelah melihat Alea masuk ke dalam kamarnya, Tristan lalu meraih ponselnya dan menghubungi karyawannya di kantor cabang Bali.


"Undur pertemuan untuk malam ini ke hari Senin, dan tolong extend di hotel ini menjadi 10 hari."


Tristan menutup panggilannya, ia sengaja memperpanjang waktunya berada di Bali, dari 5 hari menjadi 10 hari. Tristan tentu saja memiliki tujuan untuk melakukan itu.


APA TUJUANNYA PAK TRISTAN???


Bersambung...........................


VISUAL!!!!


Tristan Sagara Kusuma



Azzalea Quinera


__ADS_1


__ADS_2