Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Beban hati yang bertambah


__ADS_3

Suasana di ruang rawat Alea masih sepi, wanita itu belum juga sadarkan diri. Di sebelahnya, tampak ada pria yang begitu setia menunggunya sambil menggenggam tangannya.


Pria itu beberapa kali memberikan kecupan di kening sambil membisikkan kata-kata yang meminta sang istri untuk bangun dari tidurnya.


"Sayang." Panggil Tristan lembut.


Tristan menggenggam tangan kanan Alea, ia mencium lalu menjadikannya sebagai bantalan.


Ketika Tristan hampir memejamkan matanya, ia merasakan sebuah pergerakan dari tangan istrinya. Hal itu seketika membuat Tristan langsung menatap Alea.


"Sayang." Panggil Tristan dengan penuh kebahagiaan.


Mata cantik Alea perlahan terbuka, wanita itu tampak menatap ke sekitar yang ruangannya bernuansa putih.


Sedikit demi sedikit, pandangannya yang mulai buram kini sudah terlihat dengan jelas. Ia bisa melihat wajah suaminya yang ada disana.


"Sayang, akhirnya kamu sadar!!" ucap Tristan dengan haru.


Tanpa sadar setetes air mata jatuh ke pipi Tristan. Pria itu merasa sangat bahagia melihat istrinya sudah sadarkan diri.


"M-mas, anak kita?" tanya Alea dengan suara terbata.


Tristan menghilangkan senyuman di wajahnya, ia kembali merasakan sakit mendengar pertanyaan yang istrinya lontarkan.


Ia melihat tangan Alea meraba perutnya sendiri, sebelum akhirnya wanita itu menangis dengan bahu bergetar.


Alea bisa mengingat bagaimana perutnya ditendang dan membuatnya berdarah. Alea sangat mengerti darah apa yang ia lihat saat itu.


Itu anaknya, anaknya sudah pergi tapi ia masih nekat mempertanyakannya pada Tristan. Suaminya itu pasti sangat sedih sekali mengetahui anak yang sangat diinginkan nya tidak bisa terselamatkan.


"Hiks … hiks …. Anakku sudah pergi." Lirih Alea dengan tangan yang terus mengusap perutnya.


Rasa sesak di dada akan ketidakrelaan bahwa anaknya sudah pergi membuat tangisan Alea terasa begitu pilu.


Alea mengusap-usap perutnya, ia merasa gagal menjadi seorang ibu karena tidak bisa menjaga bayinya.


Alea juga merasa sangat bersalah pada sosok pria yang kini sedang memeluknya erat.


"Anak kita sudah bahagia disana, mungkin Tuhan punya rencana lebih baik, Sayang." Bisik Tristan berusaha menguatkan meski ia juga jatuh.


"Hiks .. maafin aku, Mas. Aku bukan mami yang baik untuk anak juta, aku nggak bisa jaga dia." Lirih Alea dalam pelukan suaminya.


Tristan melepasnya pelukannya, ia lalu mencium kening sang istri dengan penuh kasih sayang. Tristan juga mencium kedua pipi Alea.


"Maafin aku, Mas. Aku nggak bisa jaga anak kita, anak yang sudah kamu nantikan kehadirannya." Ucap Alea lagi.


Air mata kembali keluar dari mata calon ibu yang baru saja kehilangan bayinya. Rasanya sangat menyesakkan dada saat mengingat baru beberapa hari lalu mereka bahagia karena kehamilannya.


Hari ini semua sudah hancur, apa yang Tristan impikan selama ini tidak bisa ia jaga.

__ADS_1


"Sayang, kita bisa memiliki anak lain kali. Mungkin sekarang Tuhan masih lebih saya dia, kita harus berusaha menerima ini semua ya." Tutur Tristan dengan pengertian.


Tristan menyeka air mata istrinya, ia lalu kembali memeluk Alea, membiarkan istrinya itu menangis dalam pelukannya.


Alea mengeratkan pelukannya, kini ia memiliki Tristan yang bersedia menguatkannya. Alea akan berusaha untuk ikhlas, namun ia tidak janji untuk tidak menangis.


Tristan mengusap-usap punggung istrinya, ia juga sesekali melabuhkan ciuman di puncak kepala sang istri.


"Mas, aku haus." Ucap Alea pelan.


Tristan melepaskan pelukannya, ia lalu mengambil sebotol air mineral lalu membantu istrinya untuk minum.


"Setelah semua ini, kamu akan meninggalkan aku, Mas?" tanya Alea tiba-tiba.


Tristan terkejut. "Apa yang kamu tanyakan, Sayang. Tentu saja aku nggak akan meninggalkan kamu. Kamu istriku," jawab Tristan dengan sungguh-sungguh.


Alea menundukkan kepalanya. "Aku takut, Mas. Aku takut orang tua kamu semakin tidak menerima aku setelah membuat cucu mereka pergi." Ungkap Alea dengan jujur.


Tristan menarik Alea ke dalam pelukannya, ia tidak peduli dengan tanggapan kedua orang tuanya, yang jelas ia akan selalu berada di samping Alea, dan itu selamanya.


***


Kabar Alea yang kehilangan anaknya sampai ke telinga kedua orang tua Tristan. Mereka kini juga sudah ada di ruang perawatan Alea yang masih terbaring diatas brankar.


Papa Jaya dan mama Saras menatap Alea dan Tristan bergantian, mereka juga sama-sama melipat tangan di dadanya.


Jantung Alea terasa berdenyut mendengar ucapan mertuanya. Apa mereka benar-benar tidak bisa menerima dirinya sebagai menantu, sampai di saat seperti ini mereka malah meminta Tristan untuk menceraikannya.


"Pa! Papa sadar ucapan papa barusan?" tanya Tristan kesal.


"Kenapa? Papa benar kan, kamu bilang dulu tidak bisa menceraikan wanita ini karena dia hamil, dan sekarang anaknya sudah tidak ada." Jawab papa Jaya.


Alea hanya bisa memejamkan matanya, ia tidak mau ikut berdebat dengan kedua orang tua suaminya.


Alea diam meski hatinya sakit sekali, di saat masih berkabung setelah kehilangan bayinya, kini kedua orang tua Tristan malah menambah rasa sakitnya.


"Aku nggak akan menceraikan Alea. Dia istriku dan selamanya begitu, tidak peduli dia sedang hamil atau tidak!" ucap Tristan dengan tegas.


"Tristan!" tegur mama Saras saat putranya itu sangat melawan.


"Mama juga sama, seharusnya sebagai wanita mama itu mengerti apa yang istriku rasakan, tapi apa? Mama malah memintaku untuk menceraikannya." Sahut Tristan semakin berani.


"Inilah alasan papa menentang kamu berhubungan dengan wanita itu, dia sudah membuat pikiran kamu teracuni dan melawan pada kami!" Ucap papa Jaya dengan nada tinggi.


"Wanita yang tumbuh tanpa kehadiran orang tua sudah pasti bukan wanita baik-baik!" tambah papa Jaya asal berpendapat.


"PAPA!!" pecah sudah emosi Tristan mendengar penuturan sang papa barusan.


"Jaga bicara papa, wanita yang papa hina adalah istriku!" ucap Tristan penuh penekanan.

__ADS_1


"Tristan, mama nggak pernah ajarkan kamu melawan orang tua begini." Tegur mama Saras.


"Kalian mengajarkannya. Dengan menghina istriku itu sama saja kalian memintaku untuk menjadi anak yang melawan." Balas Tristan semakin berani.


Tristan menyatukan kedua tangannya. "Lebih baik kalian pergi dari sini!" usir Tristan dengan suara yang rendah.


"Setelah sidang perceraian kamu dan Linda selesai, papa mau kamu menceraikan dia." Ucap papa Jaya dengan tegas.


"Sampai matipun aku tidak akan melakukannya." Balas Tristan.


"Tristan, mama kecewa sama kamu." Ucap mama Saras.


"Aku lebih kecewa, Ma! Disaat istriku sedang berduka setelah kehilangan bayinya, kalian malah datang dan menambah beban pikirannya." Balas Tristan tidak mau kalah.


"Menantu yang dulu kalian banggakan lah yang membuat bayi dalam kandungan Alea tidak terselamatkan. Dari hal ini saja sudah di tarik kesimpulan bahwa mama dan papa tidak pandai menilai orang!" tambah Tristan.


"Lebih baik kalian pergi daripada terus menyakiti istriku." Usir Tristan sekali lagi.


Dengan penuh rasa kesal dan kecewa, akhirnya papa Jaya dan mama Saras pergi dari ruang rawat Alea.


Setelah keduanya pergi, Tristan mendekati istrinya yang memejamkan mata dengan wajah yang berpaling.


Tristan tahu bahwa sejak tadi istrinya menahan diri untuk tidak menangis. Di saat masih berkabung, kedua orang tuanya malah menambah beban istrinya.


"Sayang." Panggil Tristan lembut.


Alea membuka matanya, ia tersenyum melihat wajah sang suami yang tampan itu. Senyuman yang sengaja ia tunjukan untuk menutupi rasa sakitnya.


Tristan memeluk Alea, ia mendekap sangat erat tubuh mungil istrinya.


"Sayang, maafkan aku. Maaf tidak bisa mencegah rasa sakit yang kedua orang tuaku berikan." Ucap Tristan sedih.


Alea mengusap punggung sang suami, ia mencium bahu Tristan lalu mengangguk.


"Nggak apa-apa, Mas. Aku mengerti," balas Alea seadanya.


Tristan melepaskan pelukannya, ia menciumi seluruh wajah Alea tanpa ada yang terlewat sama sekali.


"Aku janji akan selalu ada di samping kamu, Sayang." Bisik Tristan sungguh-sungguh.


"Aku tahu, Mas." Balas Alea manggut-manggut.


Tristan berada di sampingnya saja sudah cukup, bersama Tristan ia yakin bisa menghadapi situasi yang ia alami sekarang ini.


Situasi dimana dirinya harus ikhlas melepas kepergian anaknya, dan situasi ia harus sabar ketika kedua mertuanya menghina dirinya.


MBA ALEA SABAR YAA, ADA SUAMI KITA YANG SIAP MENGUATKAN 😫🤣


Bersambung..................................

__ADS_1


__ADS_2