
Selama perjalanan menuju apartemen, Aira lebih banyak diam. Gadis yang baru saja berubah sebutan menjadi wanita itu lebih memilih untuk menatap keluar jendela daripada menatap suaminya.
Mondy sesekali melirik istrinya, namun ia memberi waktu pada Aira untuk berdiameter diri. Dia akan bicara saat mereka sampai di apartemen nanti.
Perjalanan dari rumah utama menuju apartemen menghabiskan waktu kurang dari 30 menit. Mondy langsung memarkirkan mobilnya di basement tempat biasa ia menaruh mobil itu.
"Om, hari ini mau makan apa? Ada beberapa barang yang habis." Ucap Aira saat keduanya sudah keluar dari mobil.
Mondy hanya diam sambil terus menatapnya. "Om, aku beli barang dulu ya di minimarket depan." Pamit Aira.
Aira melangkah hendak menjauhi Mondy, namun tangannya di pegang oleh pria itu dan mencegahnya pergi.
Tanpa bicara apa-apa, Mondy langsung menarik tangan istrinya pelan ke dalam lift. Mereka langsung menuju unit apartemen mereka.
"Om." Panggil Aira pelan.
"Kita harus bicara, Ai." Sahut Mondy yang mengerti tujuan Aira memanggil dirinya.
Sampai di lantai tujuan, Mondy kembali menarik tangan istrinya. Ia mengajak Aira masuk dengan pintu yang dibiarkan tertutup sendiri.
Aira menghela nafas, ia akan mendengarkan apa yang ingin Mondy bicarakan padanya.
"Duduk disini, Ai." Tutur Mondy mendorong pelan Aira agar duduk di sofa.
Aira nurut, ia duduk dengan wajah yang biasa saja. Bukan seperti Mondy yang seperti benang kusut.
"Ai, saya mau tanya. Apa maksud kamu bicara seperti tadi?" tanya Mondy dengan lembut.
"Bicara apa, Om? Tentang om yang membeli aku atau aku yang dijual keluargaku?" tanya Aira dengan senyuman yang senantiasa ia berikan pada suaminya.
Bibir Mondy bergetar untuk menjawab iya saja, ia butuh penjelasan kenapa Aira berkata seperti itu.
__ADS_1
"Iya, Ai. Saya nggak paham, kenapa tiba-tiba kamu malah menjawab itu di depan tuan Tristan dan nona Alea." Jawab Mondy.
Aira tersenyum, ia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Aira kembali menatap suaminya, melemparkan pandangan penuh cinta bercampur tanggung jawab.
"Apa yang salah dari kata-kataku, Om. Aku memang dijual oleh keluargaku." Ucap Aira mengalihkan pandangannya ke arah lantai.
"Pembeli pertamaku adalah laki-laki tua itu, namun ternyata om menawarku lebih tinggi. Jadi om adalah majikanku, aku akan mengabdikan diri seumur hidup sebagai seorang …. Pelayan." Tambah Aira sedikit menggantung ucapannya.
"Ai, apa yang kamu katakan." Timpal Mondy pelan.
Dadanya sesak mendengar ucapan Aira. Pelayan? Bukan. Aira adalah istrinya, istri sah nya dan bukan pelayan.
"Aku mungkin gadis yang om nikahi, tapi aku bukan seorang istri. Aku pelayan, pelayan om di ranjang yang sah." Ucap Aira lagi dengan begitu enteng.
"AIRA!!!" Mondy membentak saking tidak kuat mendengar ucapan istrinya.
Tubuh Aira bergetar menerima bentakan Mondy, ia bahkan memejamkan matanya dengan tangis tanpa suara yang mulai keluar.
"Apa yang kamu katakan hah! Kamu bukan pelayan, Ai. Kamu istri saya!" ucap Mondy dengan nada yang masih tinggi.
Mondy mencengkram kedua sisi bahu Aira, ia lalu menarik gadis itu agar berdiri dan menatapnya.
Aira menatap Mondy dengan mata merah penuh air mata. Wajah yang Mondy janjikan untuk selalu tersenyum, nyatanya sekarang malah mengeluarkan air mata.
"Bagaimana bisa kamu berpikir begitu, Ai. Darimana pikiran itu datang?" tanya Mondy dengan suara yang lebih rendah.
"Aku hanya ingin membuat diriku sadar, Om. Gadis sepertiku tidak akan mungkin benar-benar mendapat suami seperti om." Jawab Aira lalu melepaskan cengkraman Mondy di bahunya.
"Om tahu? Sejak kecil hidup sudah membuatku sadar. Aku adalah gadis miskin yang masa depannya suram. Bahkan keluargaku sendiri yang mematahkan segala semangat yang aku punya." Ucap Aira seraya mundur menjauhi Mondy.
"Aku hanya anak yang tidak diinginkan, Om. Aku dibuang oleh orang tua kandungku, lalu dijual oleh orang tua angkatku. Lantas, bagaimana mungkin aku berpikir akan mendapat suami seperti om." Tambah Aira semakin lirih.
__ADS_1
Aira kembali terduduk di sofa, ia menundukkan kepalanya dengan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya.
"Ai." Panggil Mondy pelan.
"Tidak ada salah paham disini. Om hanya ingin aku sebagai pertukaran uang yang om berikan pada keluargaku. Aku tidak keberatan, Om. Aku justru sangat berterima kasih, karena setidaknya aku tidak mendapat siksaan mereka lagi." Ucap Aira langsung bicara.
Aira bangkit dari duduknya, ia melangkah menuju kamar, namun Mondy mengejar dan kembali memegang tangannya.
"Itu nggak benar, Ai." Ujar Mondy menyahuti ucapan Aira tadi.
"Apa yang nggak benar, Om? Sudah jelas bahwa Om hanya menikahiku karena uang yang sudah om keluarkan. Rasanya mustahil jika om menikahiku karena … cinta." Timpal Aira yang lagi-lagi sedikit menggantung ucapannya.
Mondy menarik tangan Aira, lalu beralih merengkuh pinggang ramping istrinya sehingga kini posisi mereka saling berdekatan.
"Jika saya mengatakan bahwa saya menikahi kamu karena cinta, apa kamu akan percaya, Ai?" tanya Mondy dengan suara yang begitu lemah lembut.
Aira berusaha melepaskan pelukan Mondy, namun ia kesulitan.
"Jawab pertanyaan saya, Ai." Bisik Mondy di telinga istrinya.
Aira memejamkan matanya, ia mengepalkan tangannya di kedua sisi bahu Mondy. Bukan karena ia kesal apalagi marah, Aira justru gugup.
"N-nggak mungkin." Cicit Aira dengan bibir yang bergetar.
Mondy melepaskan pelukannya, ia menatap lamat-lamat istri cantiknya yang masih belia itu dengan senyuman manis yang tercipta hanya untuk Aira.
"Saya akan buktikan bahwa saya menikahi kamu karena cinta, Ai. Uang? Saya bahkan tidak peduli tentang itu, karena saya hanya ingin gadis yang saya cintai tidak hidup bersama pria lain." Ucap Mondy lalu pergi meninggalkan apartemen.
Aira menatap kepergian Mondy dengan pandangan yang bertanya-tanya. Mondy mencintainya? Apa itu mungkin?
"Nggak, Ai. Nggak mungkin, om Mondy justru sangat membencimu." Gumam Aira pelan.
__ADS_1
EKHMMMM ... KOMENNYA YG BANYAK YA BIAR AKU MAKIN SEMANGAT 🤗🤣
Bersambung.................................