Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Mungkin putri kita ...


__ADS_3

Hari ini Aira akan mengantar Alea ke rumah Firda usai mendengar kabar kehamilan wanita itu. Jadi pagi-pagi Aira sudah rapi dan ikut bersama suaminya ke rumah utama.


Sampai di sana, Aira dan Mondy ternyata sudah ditunggu oleh Tristan yang kebetulan keluar sendirian dari dalam rumah.


"Pagi, Tuan." Sapa Mondy dan Aira sopan.


"Pagi, kita langsung berangkat saja." Balas Tristan pada Mondy.


Tristan lalu beralih menatap Aira. "Dan kau, Ai. Masuk saja, Alea sudah menunggu di dalam. Jangan pulang terlalu sore ya," tutur Tristan mengingatkan.


Aira mengangguk patuh. "Baik, Tuan." Balas Aira.


Aira menyingkir dan membiarkan suaminya membukakan pintu untuk Tristan. Usai Tristan masuk, Mondy menyempatkan diri untuk mencium kening istrinya.


"Aku berangkat ya, kamu baik-baik sama nona Alea." Tutur Mondy lembut.


"Iya, Mas. Kamu hati-hati ya," balas Aira tersenyum manis.


Mondy pun lekas masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah utama. Aira masih berdiri di tempatnya sampai mobil tidak terlihat karena ditelan jarak.


Aira menghela nafas, ia lekas masuk ke dalam rumah. Namun tanpa sengaja ia menabrak seseorang diambang pintu bahkan sampai membuat sesuatu di tangan orang itu jatuh.


"Ya ampun maafkan saya." Ucap Aira lekas menunduk dan memungut koran yang jatuh ke lantai.


"Apa kau tidak bisa melihat, dimana matanya hah!" Tegur mama Saras dengan kesal.


"Ma, sudahlah. Lagipula dia tidak sengaja," tutur papa Jaya.


Aira mengangkat wajahnya, ia tersenyum dengan sopan lalu memberikan koran yang tadi jatuh.


"Maafkan saya, Tuan, Nyonya. Saya tidak sengaja." Ucap Aira dengan lembut.


Mama Saras dan papa Jaya sontak terdiam melihat Aira. Mereka belum pernah bertemu secara langsung dengan gadis cantik itu.


"Kau siapa? Aku tidak pernah melihatmu?" Tanya papa Jaya.


Aira tersenyum sopan. "Saya Aira, saya istri Mondy. Saya juga pernah bekerja di rumah ini sebelumnya, Tuan." Jawab Aira memperkenalkan diri.

__ADS_1


Mama Saras dan papa Jaya saling pandang, mereka menelisik penampilan Aira dari ujung rambut sampai ujung kakinya.


"Aira?" Tanya papa Jaya mengulang.


"Benar, Tuan. Hari ini saya datang untuk menemani nona Alea ke rumah kakaknya." Jawab Aira.


"Kau … sebelum kau datang sebagai pelayan di rumah ini, apa kita pernah bertemu?" Tanya mama Saras.


"Tidak mungkin, Nyonya. Saya hanya gadis desa, tidak mungkin nyonya pernah bertemu gadis kampung seperti saya." Jawab Aira.


Pasalnya kampung Aira adalah salah satu kampung pedalaman. Tidak kuno, namun tidak terlalu banyak orang mengenal desanya.


"Kau bilang tadi istri Mondy? Kapan kalian menikah?" Tanya papa Jaya tampak penasaran.


"Belum lama, Tuan." Jawab Aira senyum malu-malu.


Mama Saras mengulurkan tangannya, ia berniat untuk memegang tangan gadis itu, namun terhenti karena tersadar.


Mama Saras menghela nafas. "Kau mau menemui Alea kan, sana masuk. Dia ada di dalam," ucap mama Saras tanpa menatap gadis itu.


Aira tersenyum canggung dan sedikit bingung, tanpa berkata-kata apapun, ia langsung masuk ke dalam rumah utama.


"Jika putri kita tidak hilang, dia pasti sebesar gadis itu kan, Ma." Ucap papa Jaya pelan.


Mama Saras mengusap punggung suaminya. "Maafin mama ya, Pa. Gara-gara mama, anak kita hilang. Mama ceroboh," lirih mama Saras.


Papa Jaya memegang tangan istrinya yang berada di pundaknya. Kejadian itu sudah bertahun-tahun lalu, dan ia sudah enggan membahasnya.


Namun setelah hari ini, usai bertemu dengan Aira, ia seakan kembali melihat putrinya. Hatinya yang sudah pasrah jika putrinya sudah tiada, nyatanya kembali bangkit dan yakin jika anak keduanya masih hidup.


"Jangan lagi, Ma. Kejadian itu sudah bertahun-tahun lalu, ayo kita ke taman." Ajak papa Jaya.


Mama Saras menganggukkan kepalanya, ia pun mendorong kursi roda suaminya untuk pergi ke taman.


"Ma, putri kita hilang. Apa mama akan membiarkan menantu kita juga hilang?" Tanya Papa Jaya.


Mama Saras menghentikan langkahnya, ia lalu duduk di kursi taman, tepat di depan suaminya.

__ADS_1


"Maksud papa apa?" Tanya mama Saras.


"Alea, mama memperlakukan dia dengan sangat kasar, bahkan menghina nya." Jawab papa Jaya.


"Alea adalah wanita yang Tristan cintai, dia istri putra kita. Dia menantu, dan putri kita juga. Seharusnya mama bisa menerima dia, dan menyayanginya." Tambah papa Jaya menasehati.


Mama Saras terdiam, ia masih ingat saat suaminya di rumah sakit. Suaminya dan putranya membela Alea, dan ia murka sampai menggores pergelangan tangannya sendiri.


Mama Saras pun mengingat sikap Alea selama dia disana. Menantunya itu selalu berusaha membuatnya terkesan, namun apa yang ia lakukan.


"Mama masih belum terima, Pa. Mama mau menantu kita adalah gadis pilihan mama." Ucap mama Saras pelan.


"Apa bedanya, Ma? Sebelumnya kita sudah menghancurkan kehidupan putra kita dengan menjodohkannya, mama lihat hasilnya? Linda bukan wanita baik-baik." Sahut papa Jaya.


Mama Saras semakin terdiam, ia semakin terpojokkan oleh suaminya sendiri. Apa yang papa Jaya ucapkan tidak ada yang salah.


"Mama tahu, tapi mama nggak bisa terima Alea adalah wanita yang pernah berniat merusak rumah tangga Tristan. Hati mama nggak rela, Pa. Pikiran mama selalu buruk tentangnya." Ucap mama Saras semakin pelan.


Papa Jaya menggenggam tangan istrinya. "Papa sangat tahu mama adalah ibu yang baik, dan papa yakin mama juga akan menjadi mertua yang baik. Cobalah untuk menerima Alea, kasihan dia. Dia sedang mengandung cucu kita, Ma." Tutur papa Jaya dengan lembut.


Mama Saras hanya diam, ia tidak menyahuti ucapan suaminya sama sekali.


"Ma, Pa." Panggil Alea diambang pintu.


Alea berjalan mendekat bersama Aira yang membawa nampan berisi teh dan segelas susu.


"Ma, susu tulang mama belum diminum. Dan papa, dokter menyarankan papa minum teh kan." Tutur Alea lalu memberikan dua gelas itu masing-masing pada mertuanya.


"Aku pamit ke rumah kakakku dulu ya, Ma, Pa. Aku juga sudah membuatkan puding susu yang mama inginkan, jika mama bersedia, tolong cicipi ya." Pinta Alea tersenyum manis.


Alea lalu mencium punggung tangan kedua mertuanya gantian.


"Aku pergi ya, Ma, Pa." Pamit Alea sopan.


"Kami permisi, Tuan dan Nyonya." Pamit Aira juga tidak kalah sopan.


Alea dan Aira pun pergi meninggalkan rumah utama untuk pergi ke rumah Firda. Sejak kemarin Alea ingin pergi, namun tidak ada yang menemani.

__ADS_1


Akhirnya hari ini ia bisa pergi dengan ditemani Aira. Mereka pergi diantar oleh sopir rumah, dan akan pulang di jemput oleh sopir juga.


Bersambung...........................


__ADS_2