
Mondy yang baru saja sampai di rumah dibuat syok dengan istrinya yang kala itu sedang diperiksa oleh dokter. Hal yang membuat ia tambah terkejut bercampur heran adalah karena ada kedua orang tua atasannya.
Mondy duduk di sebelah Aira yang terbaring diatas ranjang tidak sadarkan diri, ia tidak melepaskan genggaman tangannya sama sekali sambil terus meminta istrinya bangun.
"Ai, ada apa denganmu?" Tanya Mondy pelan.
Mama Saras pun duduk di sebelah Aira, sambil mengusap-usap kaki putrinya yang ditutupi oleh selimut.
"Pa, ada apa dengan Aira." Ucap mama Saras sedih.
Papa Jaya mengusap kedua bahu istrinya dan memintanya untuk tenang dan sabar.
Mondy yang mendengar obrolan tuan dan nyonya besarnya lantas menoleh. Mereka berdua terlihat begitu khawatir pada kondisi Aira.
Mondy hendak bertanya, namun dokter sudah selesai memeriksa keadaan Aira.
"Dok, ada apa dengan istri saya?" Tanya Mondy penuh kekhawatiran.
"Nona Aira sepertinya baru saja mengalami syok yang berlebih, ditambah lagi dengan kondisinya yang sedang hamil membuat emosi dalam dirinya tidak terkendali dan berakhir tidak sadarkan diri seperti ini." Jawab dokter.
"Dok, maksudnya putri saya hamil?" Tanya mama Saras menajamkan pendengarannya.
"Benar, Nyonya. Pasien sedang hamil, dan untuk lebih jelas bisa di bawa ke rumah sakit ya." Jawab dokter menjelaskan.
Dokter lalu memberikan resep vitamin pada Mondy untuk ditebus di apotek terdekat.
"Tolong jangan buat dia stress ya, Tuan. Itu tidak baik untuk kandungannya." Tutur dokter pada Mondy, selaku suami pasiennya.
Mondy menganggukkan kepalanya. Hari ini ia dibuat bahagia oleh kabar kehamilan istrinya, namun disisi lain ia dibuat semakin syok tatkala mendengar kata 'putri saya' dari mulut mama Saras.
Mondy mengantar dokter itu sampai ke depan apartemen, lalu setelahnya ia kembali ke kamar.
Sampai di sana, Mondy bisa melihat mama Saras memegangi tangan Aira sambil terus menciumnya.
"Sayang, bangun. Mama minta maaf jika buat kamu syok," pinta mama Saras lirih.
Mondy lalu menatap papa Jaya yang juga menatapnya. Mondy paham akan tatapan itu dan memilih untuk keluar dari kamar
"Ma, jaga Aira ya." Tutur papa Jaya lalu keluar dari kamar Aira dan Mondy.
Papa Jaya mendekati Mondy yang duduk di ruang tamu, lalu disusul dirinya yang duduk berhadapan dengan Mondy.
"Kau pasti terkejut, Mon. Tapi Aira adalah anak kami, dia putri kami." Ucap papa Jaya langsung ke intinya.
"Jadi benar, tanda yang sama dengan tuan Tristan itu adalah tanda keluarga kalian." Sahut Mondy dan papa Jaya mengangguk.
__ADS_1
"Lalu orang tua Aira di kampung?" Tanya Mondy mengerutkan keningnya.
"Mereka semua penjahat, dan saya sudah mengurus nya. Mereka telah menyakiti Aira, dan perlu saya berikan pembalasan." Jawab papa Jaya mengepalkan tangannya.
Mondy terdiam, entah mengapa ia tiba-tiba merasa takut jika Aira akan dipisahkan olehnya. Mengingat kini statusnya Aira adalah putri keluarga yang ia layani seumur hidupnya.
Tapi tidak! Aira saat ini sudah menjadi istrinya bahkan sedang mengandung anak mereka. Mondy tidak akan mungkin melepaskan Aira hanya karena status sosial mereka sekarang.
"Terima kasih sudah menjaga Aira, Mon. Dan kau tidak perlu khawatir, kami tidak akan memisahkan kalian." Ucap papa Jaya.
Sebuah kalimat yang berhasil membuat Mondy bahagia mendengarnya. Apa yang Mondy pikirkan beberapa saat lalu, langsung di bayar lunas saat itu juga.
"Tuan besar, benarkah?" Tanya Mondy.
"Kami bisa melihat Aira dan kau saling mencintai, jadi mana mungkin kami pisahkan." Jawab papa Jaya menganggukkan kepalanya.
"Papa!!" Panggil mama Saras dari dalam kamar.
Mondy dan papa Jaya lekas masuk ke dalam kamar, mereka melihat Aira sudah sadarkan diri.
Wanita itu menatap suaminya, mengulurkan tangannya kepada Mondy dan memintanya untuk mendekat.
"M-mas." Panggil Aira pelan.
"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya Mondy lembut.
"Apa yang terjadi padaku?" Tanya Aira balik.
Mondy tersenyum. "Kamu hari ini beruntung, Sayang. Ada dua kabar baik yang datang." Ucap Mondy dengan lembut.
"Dua kabar apa?" Tanya Aira.
"Kamu sudah menemukan orang tua kandung kamu, kamu adiknya tuan Tristan, Sayang." Jawab Mondy lalu menunjuk dengan sopan kepada mama Saras dan papa Jaya.
Aira menatap keduanya sejenak, ia lalu berusaha untuk bangun dan duduk yang mana segera Mondy bantu.
"Jadi … jadi aku tidak sedang bermimpi?" Tanya Aira lirih.
"Tidak, Sayang." Jawab Mondy berbisik.
Mama Saras menangis, ia lalu mendekati Aira dan mengambil tempat Mondy duduk tadi setelah pria itu bangun. Kemudian mama Saras memeluk putrinya erat.
"Nggak, Sayang. Kamu nggak mimpi, ini mama." Bisik mama Saras sambil menangis.
Perlahan Aira membalas pelukan mama Saras. Wanita itu juga menangis mengetahui bahwa orang tuanya masih hidup bahkan mau menganggap dirinya.
__ADS_1
"Hiks …. Ma-ma." Panggil Aira dengan terbata.
Mama Saras melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah cantik Aira lalu manggut-manggut.
"Ya, Nak. Mama, ini mama." Sahut mama Saras.
Papa Jaya mendekat. "Peluk papa juga." Pinta papa Jaya.
Aira menatap suaminya seakan meminta izin, wanita itu memang benar-benar polos.
"Peluk, Sayang. Bukankah kamu sangat rindu sosok ayah," tutur Mondy.
Aira lalu beralih memeluk papa Jaya, yang mana membuatnya bisa merasakan usapan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Orang tua kandungnya.
"Maafkan papa, Nak. Maaf terlalu lama menemukanmu," ucap papa Jaya lirih.
Aira menggeleng. "Tidak perlu minta maaf, Papa. Yang penting sekarang aku bisa bertemu kalian, orang tua kandungku." Sahut Aira lembut.
Aira semakin kejar menangis, ia lalu melepaskan pelukan di tubuh sang papa dan beralih meminta peluk oleh suaminya.
Mama Saras dan papa Jaya tersenyum, ia membiarkan Aira manja kepada Mondy.
"Sstttt … jangan nangis, Sayang. Kamu belum dengar satu kabar baiknya lagi," bisik Mondy sembari mengusap punggung kecil istrinya.
"Apa?" Tanya Aira dengan tatapan polos.
"Kamu hamil, sebentar lagi kita akan punya anak." Jawab Mondy berbisik lalu mencium kening istrinya hangat.
Aira terkejut, ia mendorong pelan tubuh Mondy lalu menundukkan kepalanya, menatap perutnya sendiri.
"Disini ada bayi?" Tanya Aira konyol.
"Iya, Aira. Kamu dan Mondy akan segera punya anak, selamat ya." Jawab mama Saras penuh senyuman.
Aira tersenyum senang, ini adalah hal yang sudah sangat dinantikan olehnya sejak lama.
"Hiks … aku hamil, aku akan punya anak." Lirih Aira mengusap-usap perutnya.
Mondy mengusap sudut matanya yang hampir mengeluarkan air mata. Ia begitu terharu melihat kebahagiaan di mata istrinya hari ini.
"Teruslah bahagia, Ai. Aku akan selalu berusaha untuk itu," batin Mondy penuh senyuman.
TERUS BAHAGIA YAA PEMBACA YANG SELALU KOMEN POSITIF 🖤
Bersambung....................................
__ADS_1