Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Peduli?


__ADS_3

Alea merasa sepi tidak ada Tristan, ia ingin duduk di depan televisi ruang tamu, namun ada mama Saras di sana.


Alea bukan tidak mau duduk bersama mertuanya, ia justru takut ibu mertuanya enggan duduk dengannya dan berakhir marah.


Alea menghela nafas, ia mengusap-usap perutnya lalu memutuskan untuk pergi ke kamar. Sayangnya Alea lupa jika di sebelahnya ada meja, ia tidak terlalu fokus dan menabrak meja itu sampai vas bunganya terjatuh dan pecah.


"Awwww …" ringis Alea memegangi perutnya.


Suara Alea disertai suara pecahan kaca membuat beberapa pelayan datang, bahkan mama Saras juga.


Wanita itu bangkit dari duduknya, lalu mendekati Alea yang masih meringis kesakitan bercampur terkejut.


"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya pelayan di rumah itu.


Kepala Alea mengangguk, ia lalu melirik ibu mertuanya yang menatapnya dengan tajam.


"Kau ini ceroboh atau bagaimana hah, sejak pagi tidak henti membuat kegaduhan. Kau tidak suka aku disini?" Tanya mama Saras dengan jutek.


"Bukan gitu, Ma. Aku tadi tidak fokus makanya sampai menabrak meja," jawab Alea menjelaskan.


"Halah! Lihat saja kamu, saya akan mengadu pada Tristan bahwa kau ceroboh." Sahut mama Saras lalu memutuskan untuk pergi sana.


Alea hendak memanggil ibu mertuanya, namun ia urungkan. Ia merasa tidak enak sudah mengganggu waktu santai ibu mertuanya.


Alea menghela nafas, ia menatap asisten rumah tangga yang ada di sana. Alea pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri.


Entah mengapa hari ini ia benar-benar sangat ceroboh. Kejadian tadi pagi, dan sekarang ini.


Sementara itu di kamar, mama Saras melihat suaminya sedang bersantai sambil menyaksikan televisi.


"Kenapa, Ma?" Tanya papa Jaya.


"Menantu yang kau banggakan itu, dia benar-benar ceroboh. Masa meja saja ditabrak." Jawab mama Saras.


Tangan wanita itu mengambil ponselnya di atas nakas.


"Lalu Alea bagaimana, dan mama mau menelpon siapa?" Tanya papa Jaya.


Mama Saras menatap suaminya. "Alea baik-baik saja, mama mau menelpon Tristan dan memberitahu bahwa istrinya itu sangat ceroboh." Jawab mama Saras sewot.


Mendengar penuturan sang istri, papa Jaya tersenyum. "Mama mulai peduli pada Alea?" Tanya papa Jaya.


"Apaan sih, Pa. Nggak, nggak akan mungkin mama peduli." Jawab mama Saras ketus.


Mama Saras meletakkan ponselnya kembali, ia ikut merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memilih untuk tidur saja.

__ADS_1


Papa Jaya menatap punggung istrinya, ia tahu bahwa istrinya itu sebenarnya orang yang baik, hanya saja ia butuh waktu untuk belajar mengenal Alea.


Papa Jaya mematikan televisi, ia pun ikut tidur siang seperti istrinya daripada menonton televisi terus menerus.


Sedangkan Alea di dalam kamarnya, ia duduk di pinggir ranjang sambil mengusap-usap perutnya.


Tiba-tiba ponsel miliknya berdering, Alea segera mengangkat panggilan itu dan melihat ternyata itu dari kakaknya.


"Halo, Kak." Sapa Alea membuka pembicaraan.


"Alea, sedang apa?"


"Duduk saja." Jawab Alea sedikit sedih.


"Kenapa suaramu begitu, sedang ada masalah dengan Tristan?"


Firda terdengar khawatir mendengar Alea yang sedih, namun sebagai kakak ia tidak bisa ikut campur.


"Bukan, Kak. Aku dan mas Tristan baik-baik saja." Jawab Alea.


Firda lega di sana, ternyata apa yang dia takutkan tidak benar.


"Lalu kenapa?"


"Bagaimana kabar kak Fade?" Tanya Alea.


"Dia sudah bisa berjalan normal, dan pergi ke kantor. Hanya satu yang kurang, dan kau pasti tahu."


Kini gantian suara Firda yang sedih, dan Alea tahu alasannya. Tentu restu papanya Fade yang belum kakaknya dapatkan sampai hari ini.


"Kak, bagaimana jika kita jalan-jalan ke mall. Kita ajak Aira juga, anggaplah sebagai refreshing." Ajak Alea.


Firda terdengar setuju, dan panggilan pun diakhiri karena Firda yang harus melakukan sesuatu.


Alea menatap ponselnya yang mendapatkan banyak pesan dari suaminya.


Alea tersenyum, Tristan selalu bisa membuatnya bahagia.


"Sayang, aku kangen." Tulis Tristan dengan nama kontak bos suami di ponsel Alea.


Alea lekas membalasnya, ia tentu tidak membalas dengan kata-kata manis, melainkan kata-kata yang pedas.


***


Malam hari di rumah Tristan, tampak pasangan suami istri itu dengan orang tua mereka tengah makan bersama.

__ADS_1


Kondisi papa Jaya sedikit lebih baik, dan bisa bangkit dari kursi roda sehingga makan bersama di meja makan.


Malam ini Alea yang memasak, ia bahkan memasak makanan kesukaan ibu mertuanya. Darimana Alea tahu, jawabannya adalah Tristan.


"Wah, bibik. Enak sekali ayam ricanya." Ucap mama Saras.


Mama Saras tentu belum tahu jika yang memasak adalah Alea, sehingga yang dipuji adalah bibi.


"Eh, bukan saya nyonya besar. Nona Alea yang memasak." Kata bibik memberitahu.


Mama Saras lalu menatap Alea yang tersenyum, ia mendengus lalu lanjut makan tanpa berkata apapun.


"Alea spesial memasak untuk mama, dia bilang sebagai permintaan maaf. Aku tidak akan tahu maaf dalam hal apa." Ucap Tristan memberitahu.


"Jelas karena dia ceroboh. Dia itu tadi menabrak meja, untung saja vas bunganya tidak menimpa kakinya." Balas mama Saras ketus.


Alea menatap suaminya, ia belum cerita soal ini kepada suaminya dan ia takut Tristan akan marah.


"Kenapa nggak bilang, Sayang?" Tanya Tristan khawatir.


"Aku nggak apa-apa kok, Mas." Jawab Alea tersenyum manis.


Papa Jaya tersenyum. "Lain kali hati-hati ya, Nak. Kandungan kamu sudah besar, papa saja lelah melihat kamu." Tutur papa Jaya.


"Dia ini tidak akan bisa hati-hati, besok bawa dia ke rumah sakit. Takut terjadi sesuatu pada anak kamu, Tristan." Ucap mama Saras.


"Dan kamu, besok nggak usah sok-sokan masak. Kamu kira bagus begini. Kalo hamil besar tuh olahraga, bukan mengerjakan pekerjaan rumah." Tambah mama Saras pada Alea.


Mama Saras sudah menyelesaikan makan malamnya, ia pun beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan semuanya.


Ucapan mama Saras tadi dianggap sebuah rasa peduli oleh Alea. Mama Saras bahkan menyuruh suaminya untuk mengajaknya ke dokter.


"Aku senang banget dengar mama bicara seperti tadi." Ucap Alea pelan.


Tristan mengusap punggung sang istri. "Aku tahu maksud kamu, aku juga tahu maksud mama." Balas Tristan tidak kalah tersenyum.


Papa Jaya hanya bisa memperhatikan dengan perasaan senang. Ia merasa ikut bahagia melihat putranya bahagia.


Melihat Tristan seketika mengingatkan dirinya pada seseorang, seorang gadis mungil yang menghilang dan tidak ada kabar sampai hari ini.


"Dimana kamu, Nak." Batin papa Jaya sedih.


EUMMM .... SIAPA YAAA??


Bersambung.............................

__ADS_1


__ADS_2