
Fade mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan pulpen yang ada di tangannya. Beberapa saat lalu ia baru mendengar dari Maisa, bahwa Tristan dan Alea pergi ke Bali hanya berdua.
Fade sangat mengenal Tristan dan Mondy, mereka tidak terpisah satu sama lain, dan bagaimana mungkin Mondy membiarkan pria itu untuk pergi tanpanya.
"Apa jangan-jangan, Tristan dan Alea benar-benar menjalin hubungan?" gumam Fade pelan.
Fade meraih ponselnya, ia berusaha menghubungi temannya yang ada di Bali untuk melacak keberadaan Tristan.
Berkat bantuan Maisa, Fade menerima informasi dimana Tristan dan Alea menginap, dan ia akan mencari bukti kuat agar bisa memberikannya kepada Linda, sehingga wanita itu cepat menggugat cerai pria itu.
Fade tersenyum sinis, jika ia bisa mengumpulkan bukti perselingkuhan Tristan dan Alea, maka ia akan semakin mudah untuk merebut Linda dari pria itu.
"Tristan Sagara, kau yang sudah membuang Linda," gumam Fade dengan senyuman sinis.
Mendapatkan Linda adalah tujuannya, namun menghancurkan Tristan sampai tidak tersisa adalah moto utamanya sejak Linda di rebut darinya.
Fade belum tahu apa-apa tentang Linda. Pria itu tidak mengetahui apa yang Tristan miliki tentang Linda. Ia begitu mencintai wanita yang telah ia anggap pernah menolongnya.
Tiba-tiba suara notifikasi dari ponselnya terdengar, terlihat pesan dari Linda masuk. Hal itu seketika membuat Fade bersemangat untuk membaca dan membalasnya.
"Mari bertemu di restoran x, aku ingin makan disana." Tulis Linda dalam pesannya.
Fade tersenyum lebar, ia bersyukur sekali karena tidak ada Tristan, sehingga ia bebas bertemu dengan Linda, bahkan makan bersama.
Fade pun mengambil jas miliknya, ia keluar dari ruangannya tanpa bicara apapun kepada sekretarisnya.
Jika Linda sudah menghubunginya, maka tidak akan ada seorangpun yang bisa menghentikannya untuk bertemu wanita pujaan hatinya.
Fade mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Jarak restoran itu cukup jauh, dan pastinya akan memakan waktu, belum lagi jika macet melanda.
Setelah hampir 1 jam, akhirnya Fade sampai di restoran yang sedang diinginkan oleh Linda sebagai tempat makan siang bersama.
Fade memilih kursi di paling pojok, ia tidak suka dengan tatapan orang-orang yang akan menatapnya duduk bersama istri seorang pengusaha Tristan Sagara Kusuma.
Seorang pelayan tiba-tiba datang mendekati Fade, ia memberikan daftar menu namun Fade memesan minuman saja karena ia masih harus menunggu Linda.
__ADS_1
Fade melirik jam di tangannya, sambil menunggu minumannya datang, ia fokus memainkan ponselnya.
Restoran itu cukup terkenal dengan pelayanannya yang baik dan sangat ramah. Hanya dalam beberapa menit saja, pesanan Fade datang.
"Permisi, Pak. Jus mangga nya ya," tutur pelayan restoran itu seraya meletakkan segelas jus di meja Fade.
Fade mengalihkan pandangannya dari ponsel, ia hendak menyahuti ucapan pelayan itu, namun terhenti ketika melihat wajahnya.
"F-fade." Kata pelayan itu dengan sedikit terbata.
Fade mendatarkan wajahnya, ia tidak menyahut ucapan lirih wanita di depannya.
"Fade, aku tahu kamu mengenalku!" kata pelayan itu dengan yakin.
"Pergilah." Usir Fade malas dengan wanita dari masa lalunya itu.
Pelayan itu menggeleng, sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali ia bertemu pria itu. Kesalahpahaman yang dulu terjadi, belum tuntas sampai hari ini.
"Fade, kamu salah paham. Aku–" Ucapan wanita itu terhenti karena Fade bicara.
"Kau tuli! Pergi dari sini, sialann." Bentak Fade seketika membuat orang-orang memperhatikan mereka.
"Fade." Seorang wanita datang dan langsung heran melihat keributan yang telah dibuat oleh mantan kekasihnya.
Linda mendekati Fade, ia menggandeng tangan pria itu tanpa sempat menatap pelayan yang dibentak oleh Fade.
"Fad, apa ini?" tanya Linda lembut.
Fade tidak menjawab, ia menatap pelayan yang masih berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca.
Linda merasa heran, ia lantas membalik badan sehingga bisa melihat siapa yang sedang ditatap oleh pria itu.
Tatapan Linda yang tadi bingung seketika berubah saat melihat siapa wanita yang ada di hadapannya.
"Firda." Ucap Linda terkejut.
__ADS_1
Benar, wanita yang dibentak oleh Fade tadi adalah Linda, kakaknya Alea.
"Ya, ini aku. Gadis yang telah kau–" Ucapan Firda terhenti karena Fade mengangkat tangannya dan menyuruhnya diam.
"Tutup mulutmu dan pergi, sudah tidak ada lagi urusan diantara kita." Usir Fade.
Firda menggeleng. "Kamu salah, Fade. Kamu berada di pihak yang salah, dia–" lagi-lagi ucapan Firda terhenti.
"Saya bilang berhenti, apa kau tuli hah! Kau sudah bosan dengan pekerjaan ini!" bentuk Fade lagi.
Air mata Firda tidak dapat dicegah, wanita itu langsung berlari sambil menangis setelah 2 kali dibentak oleh Fade.
Sementara Linda, ia merasa lega karena Fade tetap memihak nya, ia juga lega karena Fade tidak memberikan kesempatan pada Firda untuk menjelaskan.
"Lebih baik kita pergi." Ajak Fade kemudian meninggalkan Linda begitu saja.
Linda tersenyum menang, ia pun langsung menyusul Fade yang sudah meninggalkannya.
Fade kehilangan selera untuk makan, sehingga ia yang awalnya hendak makan siang bersama Linda langsung memutuskan untuk pulang tanpa peduli Linda yang telah ia tinggalkan.
Sesampainya di rumah, Fade langsung masuk ke dalam ruangan yang menjadi mini barnya dan minum-minum disana.
"Wanita itu, berani sekali dia memunculkan wajahnya di hadapanku!" gumam Fade dengan tangan yang menggenggam erat gelas kaca itu.
Saking kuatnya Fade menggenggam, gelas itu sampai pecah dan menyisakan luka di telapak tangannya.
"Firda, sialann kau!!" umpat Fade sambil berteriak.
Fade membenci Firda, ia tidak akan pernah lupa dengan segala sikap menjijikan wanita itu. Wanita yang telah ia anggap baik, nyatanya adalah wanita jahat yang pandai bersandiwara.
Fade mengingat ucapan Firda yang tadi mengatakan bahwa ia berada di pihak yang salah. Ia benci kata-kata itu, kata-kata yang menyatakan bahwa ia salah telah mempercayai Linda.
Fade menggeleng, ia tidak mungkin salah. Ia pasti benar, jika bukan karena Linda mungkin hidupnya sudah hancur dibuat oleh Firda.
MAAF YA KALO ADA TYPO😬
__ADS_1
Bersambung................................