Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Aira siuman


__ADS_3

Alea dan Tristan langsung pergi ke rumah sakit saat Mondy mengabari bahwa Aira telah sadarkan diri. Mereka tidak peduli saat itu sudah cukup malam, sebab Alea tetap mau bertemu Aira.


Kini Alea dan Tristan sudah berada di ruang rawat Aira. Tentu ada Mondy juga disana.


"Aira, bagaimana keadaanmu?" tanya Alea seraya menggenggam tangan Aira.


Gadis cantik itu tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


"Saya baik-baik saja, Nona Alea." Jawab Aira dengan pelan dan sedikit terbata.


Alea membalas senyuman tulus gadis belia itu. Ia tetap menggenggam tangan Aira yang berada di atas perutnya.


Aira pasti kesakitan setelah menerima tusukan dari pelayan tidak tahu diri itu.


"Aira, terima kasih banyak ya. Jika bukan karena kamu, aku pasti sudah tiada ditangan pria gila itu. Aku berhutang nyawa sama kamu, Ai." Ucap Alea dengan lirih.


Kepala Aira menggeleng pelan, ia masih sedikit merasa pusing mengingat luka di kepalanya akibat benturan yang ia terima.


"Nona tidak perlu berterima kasih, itu sudah bagian dari tugas saya sebagai pelayan di rumah utama." Balas Aira pelan.


Alea menundukkan kepalanya, ia memeluk tubuh Aira yang lebih mungil dari tubuh Alea dengan tidak terlalu erat.


"Saya juga terima kasih ya, Aira. Karena kamu sudah menyelamatkan istri saya, saya janji akan mengabulkan apa saja permintaan kamu demi membalas budi kamu." Ucap Tristan dengan yakin.


Alea melepaskan pelukannya, ia lalu menatap Aira yang juga menatapnya dengan penuh tanya.


Alea mengangguk singkat ketika dirinya mengerti maksud tatapan gadis di depannya ini.


"Nggak apa-apa, Ai. Kamu bebas meminta," tutur Alea lembut.


Aira terdiam sebentar, ia lalu menatap Mondy yang ada di sudut ruangan sambil memperhatikan dirinya tanpa ekspresi sama sekali.


Mata Aira berkaca-kaca, ia ingat awal pergi ke rumah utama adalah untuk berpamitan dengan Alea dan mengucapkan terima kasih.


Mungkin sekarang waktunya Aira meminta maaf pada Mondy dan semua orang disana sebelum dirinya memutuskan untuk pulang ke kampungnya.

__ADS_1


"Saya nggak mau minta apa-apa, Tuan dan Nona. Saya cuma mau minta maaf sama kalian, terutama pak Mondy." Ucap Aira dengan pandangan masih ke arah Mondy.


Alea dan Tristan saling pandang, lalu mereka menatap Mondy yang masih terus menatap Aira dengan wajah datarnya.


"Mondy, kau dengar ucapan Aira?" Tanya Tristan.


Mondy tersadar, ia lalu menatap Tristan lalu mengangguk dengan kepala tertunduk sopan.


"Kami semua memaafkan kamu, Ai. Lagipula kamu tidak salah apa-apa," ucap Alea kembali menatap Aira.


Aira tersenyum senang mendengarnya, meski ia tahu bahwa Mondy belum sepenuhnya memaafkan kesalahannya.


"Terima kasih, Nona, Tuan dan pak Mondy." Kata Aira penuh senyuman.


Telinga Mondy sedikit terganggu mendengar panggilan Aira untuknya. Itu bukan panggilan yang biasa Aira ucapan.


"Karena saya sudah dimaafkan, maka saya sekalian izin saja ya." Ucap Aira lagi.


Kening Tristan dan Alea mengkerut, namun tidak dengan Mondy yang masih memasang wajah datarnya.


"Saya izin berhenti bekerja jadi pelayan di rumah utama atupun di rumah pak Mondy. Saya mau pulang saja, Nona. Saya sepertinya tidak cocok dengan pekerjaan ini, makanya saya berbuat salah terus." Jawab Aira menjelaskan.


Semuanya tampak terkejut terutama Mondy. Ia mengetatkan rahangnya saat mendengar dengan jelas ucapan Aira.


"Kamu nggak bikin salah apa-apa, Ai. Kamu nggak perlu berhenti, pekerjaan kamu bagus kok." Sahut Alea.


Kepala Aira menggeleng. "Tidak, Nona. Saya merasa tidak bisa bekerja di rumah utama, saya bisa bikin masalah terus jika ada disana. Keputusan saya juga sudah bulat, untuk berhenti bekerja dan pulang." Kata Aira dengan penuh senyuman.


"Kau yakin?" tanya Tristan mengangkat sebelah alisnya.


"Yakin, Tuan." Jawab Aira menganggukkan kepalanya.


Tristan menatap istrinya, ia lalu mengusap punggung istrinya yang tampak tidak rela jika Aira berhenti bekerja.


"Mungkin Aira punya alasan tersendiri, kita nggak bisa paksa dia, Sayang." Tutur Tristan lembut.

__ADS_1


Alea mengangguk. "Iya, Mas." Balas Alea.


"Kamu boleh berhenti bekerja, tapi jika keputusan kamu berubah, maka kabarin aku ya." Tutur Alea dan dibalas senyuman oleh Aira.


Aira senang karena diberi izin untuk berhenti bekerja dan pulang ke kampung, meski sebenarnya ia masih ragu karena Mondy tidak bicara apa-apa sama sekali.


Karena hari semakin malam, Mondy dan Alea pun pamit untuk pulang. Sementara Mondy akan tetap ada di sana untuk menemani Aira.


"Pak Mondy." Panggil Aira ketika Mondy hampir keluar dari ruang rawatnya.


Mondy menghentikan langkahnya, ia membalik badan sembari melipat tangannya di dada.


Mondy tidak bicara, namun ia menatap Aira seakan sedang menunggu ucapan apa yang ingin gadis itu katakan.


"Saya tahu anda belum memaafkan saya, apa yang harus saya lakukan supaya anda memaafkan saya?" tanya Aira.


Mondy mengangkat sebelah alisnya, ia lalu berjalan mendekati Aira yang masih menatapnya penuh tanya.


"Kau yakin mau berhenti dan pulang ke kampung? Tidak takut jika kakek tua itu mau menikahimu?" tanya Mondy dengan suara pelan.


Biasanya saat Mondy bicara soal pernikahan antara Aira dan kakek tua, gadis itu akan ketakutan dan langsung memohon agar tidak dipecat, namun kali ini berbeda.


"Saya nggak bisa terus lari, Pak. Jika memang takdir saya menikahi pria tua, maka sudah seharusnya saya terima." Jawab Aira dengan tenang.


"Lagipula saya merasa berdosa pada keluarga saya, mereka pasti marah dan khawatir karena saya hilang." Tambah Aira sambil tersenyum.


Mondy mengepalkan tangannya mendengar jawaban Aira. Ia merasa bahwa gadis itu telah berubah total.


Aira yang sekarang sangat berbeda dengan Aira yang ia tolong beberapa waktu lalu.


"Sebelum pulang kampung, ada hal yang harus kau tanggung jawabkan, Ai." Ucap Mondy penuh penekanan.


WADUHH, APAAN TUH KIRA-KIRA???


Bersambung.............................

__ADS_1


__ADS_2