Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Hanya ingin dia


__ADS_3

Alea menyajikan minuman untuk suaminya dan juga Mondy, asisten pribadi Tristan yang begitu setia. Hari ini rencananya dua orang itu akan pergi ke salah satu toko Tristan untuk melakukan pemeriksaan saja.


Sebelum pergi, keduanya membicarakan beberapa hal yang mana membuat Alea penasaran.


Namun yang lebih membuat Alea penasaran adalah raut wajah Mondy yang terlihat tidak tenang. Bahkan Alea menerka bahwa pria itu tidak tidur belakangan ini.


"Pak Mondy, apa kau baik-baik saja?" tanya Alea pelan dan hati-hati.


Alea hanya menyebut Mondy, tapi yang menoleh Tristan duluan, sementara Mondy setelahnya.


"Kenapa kamu peduli banget sama dia, Sayang?" tanya Tristan menyipitkan matanya.


Alea menggeleng. "Aku hanya bertanya, mata panda di wajah pak Mondy membuat penampilannya berbeda. Makanya aku tanya apakah dia baik-baik saja atau tidak." Jawab Alea menjelaskan.


Alea mengusap bahu suaminya, berharap Tristan tidak akan marah, lagi pula ia hanya bertanya tidak lebih.


"Aku cemburu." Cicit Tristan lalu mencium pipi istrinya dengan terburu-buru.


Alea terkekeh, ia lantas mengusap rahang tegas sang suami.


"Masa sama Mondy cemburu, dia kan sudah seperti adik buat kamu." Timpal Alea terkekeh.


Tristan menghela nafas. Jangankan Mondy, angin saja Tristan cemburui. Tentu saja, angin bisa masuk ke sela-sela tubuh istrinya dan bisa menyentuh dengan bebas, sementara dirinya harus berusaha keras demi beronde-ronde permainan.


"Mon, kau baik-baik saja. Istriku sepertinya kurang nyaman dengan penampilan mu." Ucap Tristan pada asisten pribadinya itu.


Mondy menatap Tristan, ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Saya baik-baik saja, Tuan. Tapi memang beberapa hari ini tidur saya kurang nyaman." Jawab Mondy dengan jujur.


"Apa alasannya, setahuku kau sangat disiplin soal waktu?" tanya Tristan penasaran.


Mondy menggeleng. "Tanpa alasan, Tuan. Mungkin efek kopi yang setiap hari saya minum." Jawab Mondy berbohong.


Mondy akui bahwa Aira bukan hanya membawa sedikit pengaruh, tapi banyak. Karena terus memikirkan Aira, Mondy sampai tidak tidur dengan nyenyak setiap harinya.


"Bukan karena Aira?" tanya Tristan menyipitkan matanya.


Alea memukul lengan suaminya pelan, ia menekuk wajahnya. Tadi ia dimarahi karena bertanya pada Mondy, dan sekarang Tristan malah menyebut wanita lain.


"Kan cuma tanya, Sayang." Ucap Tristan, ia sudah sangat paham tatapan istrinya.

__ADS_1


Sementara suami istri itu sedang asik berdebat ringan, Mondy justru sedang berusaha mati-matian agar tidak berteriak.


Rasanya ingin sekali Mondy berteriak dan menjawab 'ya' atas pertanyaan dari atasannya itu.


Ya, Mondy seperti ini karena Aira. Ya, ia tidak tidur karena memikirkan Aira. Ya, ia frustasi semenjak gadis itu pergi. Mondy stress, ia sudah terbiasa akan kehadiran gadis itu.


"Tuan, saya akan mengambil air di dapur. Tiba-tiba saya merasa tenggorokan saya kering." Ucap Mondy bangkit dari duduknya lalu pergi.


Tristan dan Alea menatap kepergian Mondy, lalu beralih menatap minuman yang Alea buat.


"Minuman aku nggak ada racunnya padahal." Ucap Alea pelan.


Mondy terkekeh, ia mencubit gemas pipi istrinya yang bulat karena faktor kehamilan. Meski masih muda, tapi perubahan sudah terlihat di wajah cantik istrinya.


"Jangan cubit pipi aku, ihh." Ketus Alea kesal.


Tristan tertawa, ia mencium pipi istrinya yang tadi ia cubit dengan mesra dan penuh kasih sayang.


"Love banget sama mami Alea." Ungkap Tristan sungguh-sungguh.


"Love you too." Balas Alea tidak kalah sungguh-sungguh.


"Gadis itu menyebalkan, tapi berhasil membuat hariku berantakan tanpa kehadirannya." Geram Mondy.


Mondy mengambil air lagi dan mengisinya ke dalam gelas. Dalam sekali tenggak, minuman itu sudah habis.


"Aira, aku menyukaimu. Dasar gadis menyebalkan!!" geram Mondy seraya menjambak rambutnya sendiri.


Mondy bagai orang frustasi, bahkan jika saja ada pelayan yang melihat, sudah dapat dipastikan bahwa pelayan itu akan takut.


***


Di rumah kediaman Fade, tampak pria itu sedang duduk di sebelah Firda. Di depan mereka sudah ada kedua orang tua Fade yang menatap keduanya tajam.


"Fad, kamu yakin dengan pilihan kamu?" tanya mama Fade lembut.


Meski tatapannya tajam, namun percayalah bahwa mama Fade jauh lebih baik daripada ayahnya.


Menurut Firda, mama Fade itu mungkin jarang tersenyum dan sedikit ketus. Namun semua itu tidak bisa menutupi kebaikan dalam dirinya.


"Iya, Ma. Aku yakin, dan aku sudah bertekad untuk menikahi Firda." Jawab Fade dengan yakin.

__ADS_1


Mama Fade beralih menatap Firda yang hanya diam dengan kepala tertunduk.


"Fir, kamu mau menerima anak saya?" tanya mama Fade pelan.


Kepala Firda mengangguk. "Mau, Tante. Saya mau menikahi Fade," jawab Firda.


Sudah berhari-hari ia memikirkan lamaran Fade, ia juga sudah bicara pada adiknya. Alea mengatakan bahwa dia akan mendukung setiap keputusan nya, apapun itu.


Mama Fade lalu beralih menatap suaminya yang masih terfokus pada Fade dan Firda.


"Pa, mereka saling mencintai." Ucap mama Fade lembut.


"Tapi aku tetap tidak setuju. Aku tidak mau memiliki menantu yang tidak jelas asal-usulnya." Balas papa Fade menolak.


Pria berumur itu enggan menerima Firda sebagai menantunya. Isi kepala papa Fade sama dengan isi kepala orang tua Tristan yang selalu menganggap sebelah mata gadi tanpa orang tua.


"Dia hidup tanpa orang tua, pasti pergaulannya bebas." Tambah papa Fade merendahkan.


"PAPA!!" Fade berteriak keras saat mendengar ucapan sang papa yang sangat menghina Firda.


"Hentikan omong kosong papa. Firda bukan gadis seperti itu, aku mengenalnya." Tambah Fade dengan yakin.


"Kamu tahu apa, Fade. Dia–" Ucapan papa Fade terhenti.


"Papa yang tahu apa. Papa nggak usah sok paling tahu sampai berani menghakimi." Potong Fade.


"Aku akan tetap menikahi Firda, entah dengan restu papa atau tidak. Aku yang menjalaninya, jadi papa tidak bisa ikut campur!" tambah Fade dengan begitu tegas.


Firda sejak tadi hanya diam sambil menggenggam tangan Fade. Ia berusaha untuk tetap tenang dan tegar, dan tentu saja karena dukungan penuh dari Fade sendiri.


"Fad, kamu melawan papamu?" tanya papa Fade tampak kecewa.


"Aku bahkan bisa melawan seluruh dunia, Pa. Aku sangat mencintainya, dan aku hanya akan menikah dengannya." Jawab Fade yakin.


Firda memejamkan matanya dengan air mata yang jatuh ke pipi. Sejak tadi ia sudah berusaha untuk menahannya, tetapi saat mendengar ucapan Fade yang begitu yakin, ia merasa sangat terharu dan tidak bisa menahan air matanya.


"Fad, terima kasih." Ucap Firda sangat pelan.


Fade tidak membalas apapun selain senyuman. Ia akan membela dan memperjuangkan gadis itu, ia tidak mau membuat kesalahan lagi.


Bersambung...........................

__ADS_1


__ADS_2