
Aira mendekati suaminya yang terlihat duduk di pinggir ranjang sambil memijat tengkuknya. Aira yang peka segera memijat tengkuk suaminya.
Mondy terkejut, namun sesaat kemudian ia tersenyum melihat wajah cantik dan manis istri kecilnya.
"Capek banget ya?" Tanya Aira dengan begitu lembut.
Aira memijat dari bahu, lalu tengkuk dan naik ke kepala. Gerakannya pelan, namun tetap terasa enak. Mondy sangat menikmati apa yang istrinya lakukan saat ini.
"Begitulah, Sayang. Sejak tuan Tristan tidak ke kantor, masalah di perusahaan seperti tidak ada habisnya. Sehingga ketika kami kembali, maka kami harus merapikan semuanya seperti dulu." Jawab Mondy panjang lebar.
Aira bisa melihat wajah letih suaminya, hal itulah yang selalu membuat Aira ingin memanjakan sang suami.
"Sini tiduran, biar aku pijat badannya juga." Tutur Aira lembut.
Mondy tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Meski ia lelah dan butuh pijatan, namun ia tidak akan melimpahkan itu semua pada istrinya. Mondy tidak mau membuat istri cantiknya ini kelelahan.
"Kenapa geleng-geleng, nggak mau aku pijat?" Tanya Aira menyipitkan matanya.
"Bukan nggak mau, aku cuma takut kamu kelelahan. Apalagi kamu sudah urus rumah kita ini," jawab Mondy menjelaskan.
Aira terkekeh, ia menangkup wajah sang suami kemudian mencium bibirnya singkat.
"Nggak kok, sini tiduran." Tutur Aira menepuk ranjang di sebelahnya.
Mondy lekas membaringkan tubuhnya, namun dengan kepala yang berada di pangkuan sang istri.
Wajah Mondy menghadap ke perut istrinya, lalu memberikan kecupan dan tiupan berulang-ulang.
Aira yang saat itu memakai baju tidur tipis tentu bisa merasakan nafas suaminya, ia hanya bisa memejamkan mata sambil terus memijat kepala suaminya.
Niatnya mau pijat badan, tapi suaminya itu malah menolak. Alhasil Aira hanya memijat kepalanya saja.
"Mas, kamu mau punya anak nggak sih?" Tanya Aira tiba-tiba, tangannya masih terus memberikan pijatan.
__ADS_1
Mondy mendongak. "Tentu, siapa tidak mau punya anak. Apalagi jika istrinya secantik kamu," jawab Mondy merayu.
Aira tersenyum malu-malu, sudah sering kali ia dipuji oleh Mondy dan ia selalu saja merasa malu.
"Kebiasaan, aku tanya serius padahal." Kata Aira malu-malu.
Mondy terkekeh, ia mencubit gemas pipi istrinya yang memerah. Gemas sekali melihatnya.
Mondy bangkit dari duduknya lalu menggigit pelan pipi Aira.
"Aku mau punya anak, tapi bukan berarti aku akan memaksa kamu. Aku akan menunggu sampai kamu siap." Tutur Mondy penuh pengertian.
"Aku siap kok." Sahut Aira dengan cepat dan ekspresi wajah yang polos.
Mondy kian tertawa, ia lekas menciumi seluruh wajah istrinya yang terlihat polos, namun berani membahas soal anak padanya.
"Kamu siap, aku siap. Jadi kita harus apa?" Tanya Aira setelahnya.
Mondy menatap istrinya jahil, ia menelisik penampilan sang istri yang begitu menggoda malam ini.
"Berarti kita harus sering berusaha." Bisik Mondy lalu menggigit pelan telinga istrinya.
Aira memejamkan matanya, menahan rasa geli akibat perlakuan dari suaminya. Dan untuk yang kesekian kalinya, Aira berani menduduki pangkuan Mondy tanpa permisi.
"Kalo gitu ayo, buat aku hamil!!" Ajak Aira penuh semangat.
Mondy melongo, istrinya ini polos dan liat secara bersamaan. Rasa lelah sepulang bekerja hilang begitu saja karena pelayanan penuh kasih dari istri kecilnya.
Mondy mana mungkin akan menyia-nyiakan kesempatan, ia akan membuat istrinya benar-benar mengandung anaknya.
"Ahhh!!"
***
__ADS_1
Papa Jaya menjatuhkan map di tangannya yang anak buahnya berikan padanya. Hari ini, malam ini akhirnya sebuah fakta terbongkar.
Selama bertahun-tahun lamanya, hari ini ia berhasil menemukan apa yang telah hilang darinya dan seluruh keluarganya.
"Anakku." Ucap papa Jaya pelan.
Mama Saras meraih map yang terjatuh di lantai, melihat sebuah data yang didapatkan anak buah suaminya tentang Aira.
"Pa, benarkan ini?" Tanya mama Saras menutup mulutnya.
Sedikit sulit bagi mama Saras untuk percaya, sebab ia masih ingat jika dia kehilangan putrinya dan polisi menyatakan bahwa bayinya telah tewas.
"Pa, kita tidak bisa percaya begitu saja. Kita harus melakukan tes!" Ucap mama Saras dengan sedikit lirih.
Papa Jaya setuju, namun entah mengapa ia yakin bahwa Aira memang anaknya. Sejak pertama kali melihat gadis itu, ia yakin bahwa ada sesuatu antara mereka.
"Pa, kita harus beritahu Tristan. Mama yakin Tristan akan bahagia jika memang terbukti adiknya masih hidup." Ucap mama Saras begitu bahagia.
"Jangan, Ma. Lebih baik kita lakukan tes dulu, namun sebelum itu papa harus mengurus orang-orang yang sudah menculik putri kita." Balas papa Jaya melarang.
Mama Saras menahan nafasnya, apa yang suaminya katakan benar. Mereka harus membuat perhitungan pada keluarga yang memisahkan dirinya dan putrinya jika memang Aira benar-benar terbukti anak mereka.
"Awasi keluarga itu." Ucap papa Jaya pada anak buahnya yang masih ada disana.
"Baik, Tuan. Permisi," balas pria itu sopan, lalu kemudian pergi meninggalkan kamar mama Saras dan papa Jaya.
Sejak lama papa Jaya kesulitan menemukan putrinya, bahkan dengan bantuan hukum sekalipun. Tentu saja, sebab orang-orang yang menculik anaknya dilindungi oleh musuh nya yang tidak bisa dianggap sebelah mata.
"Semoga saja dia benar-benar anak kita, Pa. Semoga dia Thalia kita," ucap mama Saras lirih.
Papa Jaya mendekat, ia lekas memeluk istrinya yang begitu berharap bahwa Aira adalah Thalia, anak kedua mereka.
"Kita coba bicarakan pada Aira besok." Tutur papa Jaya lembut.
__ADS_1
EMANG UDAH AKU KASIH SPOILER, DAN INI HASILNYA 😌😚
Bersambung..................................