
Tristan sampai di rumah dengan kondisi lesu, ia tidak bicara apapun bahkan saat Alea memanggilnya.
Hal itu tentu membuat Alea merasa yakin jika kondisi suaminya sedang tidak baik-baik saja. Pasti telah terjadi sesuatu yang membuat Tristan seperti ini.
"Nona." Panggil Mondy saat Alea masih terpaku di tempatnya.
"Iya?" sahut Alea segera mendekati Mondy dan Aira.
"Tolong temani tuan, saat ini di sedang berada di titik terendah dalam hidupnya." Ucap Mondy ambigu.
Alea tidak paham maksud ucapan Mondy, namun ia yakin jika ini berhubungan dengan orang tuanya dan juga dirinya.
"Apa yang terjadi, Pak?" Tanya Alea dengan kening mengkerut.
Mondy menundukkan kepalanya sopan, ia lalu pergi keluar dari rumah dan membiarkan istrinya bicara dengan Alea sebelum mereka pulang.
Kini tinggal Alea dan Aira di sana. Aira memegang bahu Alea lalu memberikan usapan lembut, seakan sedang mengatakan bahwa semua baik-baik saja.
"Kak, semua pasti baik-baik saja." Ucap Aira dengan lembut dan sopan.
Alea menatap Aira, ia menganggukkan kepalanya dengan senyuman manis di wajahnya yang cantik.
"Terima kasih, Ai. Maaf seharian ini sudah membuat kamu repot. Kamu boleh pulang, pak Mondy sudah menunggu kamu." Tutur Alea tidak kalah lembut.
Aira tersenyum, ia pun pamit untuk pulang dan meninggalkan rumah utama. Aira melihat suaminya sedang terdiam sambil memijat kepalanya.
"Kamu pusing?" tanya Aira seraya mendekati suaminya.
Mondy menatap istrinya, ia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak, Sayang." Jawab Mondy.
Mondy merengkuh pinggang kecil istrinya lalu mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil. Mondy ingin segera pulang dan istirahat dalam pelukan istrinya.
Aira ikut suaminya, ia nurut saja. Aira juga mau segera sampai di rumah agar bisa bicara dengan Mondy. Mungkin suaminya itu mau bercerita sesuatu padanya.
Sementara Alea, ia membuka pintu kamar perlahan dan melihat Tristan sedang duduk di lantai dengan kepala yang di jatuhkan ke pinggir ranjang.
Alea membelalakkan matanya, ia berlari mendekati suaminya. Alea berlutut di depan sang suami.
"Mas, kenapa duduk di bawah?" tanya Alea memegang kepala Tristan.
__ADS_1
Tristan menegakkan kepalanya, ia menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca.
"S-sayang." Panggil Tristan terbata.
Pria itu lalu menarik Alea untuk duduk di pangkuannya, lalu ia dekap erat-erat tubuh mungil yang sedang mengandung anak mereka.
"Sayang, jangan tinggalin aku. Aku butuh kamu, aku nggak bisa hidup tanpa kamu." Ucap Tristan seraya mengeratkan pelukannya.
Alea membalas pelukan suaminya dengan ruat wajah penuh kebingungan. Namun entah mengapa Alea juga merasa sesak mendengar suaminya bicara.
"Aku akan selalu ada sama kamu, Mas. Tapi apa yang terjadi, bagaimana keadaan papa?" tanya Alea lembut.
Tristan tidak menjawab, pria itu hanya diam dan semakin menduselkan kepalanya di dada istrinya.
"Sayang." Panggil Alea mendayu.
Tristan mengurai pelukannya, ia mendongak lalu menangkup wajah cantik istrinya.
"Apapun yang terjadi, tolong terus sama aku ya. Jangan pernah meninggalkan aku," pinta Tristan dengan mata yang semakin berkaca-kaca.
Alea balas menangkup wajah suaminya. "Iya, Mas." Balas Alea manggut-manggut.
"Apa yang terjadi, kamu tidak mau bercerita?" Tanya Alea.
Tristan menarik nafas, ia seakan sedang mempersiapkan diri untuk bercerita kepada istrinya.
"Mama, mama mengancam akan bunuh diri jika …" Tristan menggantung ucapannya, ia menatap wajah cantik istrinya.
Alea mengangguk pelan, ia sepertinya tahu kalimat apa yang mau suaminya katakan.
"Aku tahu." Lirih Alea menundukkan kepalanya.
Tristan menggenggam tangan istrinya. "Sayang, tapi semua akan baik-baik aja. Aku dan papa sudah berusaha membujuk mama agar bisa menerima kamu." Ucap Tristan menjelaskan.
Alea menatap suaminya. "Papa?" beo Alea bingung.
"Iya, Sayang. Papa sudah menerima kamu sebagai menantunya," jawab Tristan menjelaskan dengan senyuman yang mengembang.
Alea ikut tersenyum, namun sesaat kemudian senyumannya menghilang. Ia teringat pada ibu mertuanya.
__ADS_1
"Mas, tapi kondisi mama. Apa dia baik-baik saja?" tanya Alea khawatir.
"Mama sudah di tangani dokter setelah mengancam dengan menggores pergelangan tangannya sendiri." Jawab Tristan.
Tristan memejamkan matanya, dunianya hampir saja runtuh tatkala melihat darah menetes dari pergelangan tangan ibunya.
Walaupun di mulut Tristan mengatakan bahwa ia benci pada ibunya, namun di hati tentu saja ia masih sangat menyayanginya.
Tristan berada diambang kebimbangan,ndi satu sisi wanita yang melahirkannya, dan di sisi lain adalah cintanya. Wanita yang kini sedang mengandung anaknya.
"Mas, aku mau jenguk papa dan mama kamu." Ucap Alea dengan sedikit memaksa.
Tristan menangkup wajah istrinya, ia lalu menggelengkan kepalanya. Bukan karena ia melarang, namun ia punya alasan sendiri.
"Nggak perlu, Sayang." Balas Tristan.
"Tapi kenapa?" tanya Alea. Ia sudah siap menerima caci maki dari mertuanya, tapi setidaknya biarkan ia menjenguk.
Tristan menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.
"Mulai besok, mama dan papa akan tinggal bersama kita." Jawab Tristan.
"Aku meminta mereka untuk tinggal bersama kita, tujuannya agar mama tahu bahwa kamu adalah wanita baik-baik." Tambah Tristan.
Alea terdiam, ia senang mendengar ucapan suaminya, namun apakah ibu mertuanya akan bersedia tinggal satu atap dengannya.
"Mas, apa mama tidak menolak?" tanya Alea.
"Dia tidak boleh menolak. Aku yakin, dengan sikap baik kamu ini, mama akan tahu bahwa dia memiliki menantu yang sangat baik." Jawab Tristan lalu mengusap-usap wajah cantik istrinya.
Alea mengangguk yakin, ia akan berusaha sebisa mungkin untuk merebut hati ibu mertuanya. Alea yakin ia bisa melakukannya.
"Baiklah, Mas. Aku juga akan berusaha untuk bisa merebut hati mama, aku akan berusaha menunjukkan bahwa aku adalah menantu yang baik." Sahut Alea penuh semangat.
Tristan tersenyum senang, ia membuka kedua tangannya dengan maksud meminta istrinya agar memeluknya.
Alea lekas memeluk suaminya, ia memejamkan matanya dan meresapi kehangatan tubuh Tristan.
MBAK LEA, AKU BERSAMAMU 🌹
__ADS_1
Bersambung....................................