
Firda menghela nafas lelah melihat Fade yang sudah menunggunya di depan restoran tempatnya bekerja. Ia sudah berulang kali mengatakan pada pria itu untuk jangan mengganggunya lagi, tapi pria itu tetap kekeh pada keputusan untuk menjemputnya.
Firda mendekati pria yang kini sedang tersenyum lebar. Ia memutar bola matanya jengah dan langsung melewati Fade begitu saja tanpa mengatakan apapun.
"Eh, Nona." Fade buru-buru memegang tangan Firda lalu menariknya untuk mendekat.
"Apa sih, Fad." Sahut Firda lalu menepis tangan Fade dari tangannya.
"Sudah pulang kan, ayo aku antar." Ajak Fade dengan wajah penuh senyuman.
Firda memijat kepalanya sebentar, ia melirik ke sekitar yang tampak ramai. Rasanya Firda ingin marah-marah pada Fade, namun ia masih ingat dimana mereka sekarang.
"Fad, apa kau tidak punya kesibukan lain? Kenapa kau terus saja mengikutiku." Ucap Firda tidak habis pikir.
Fade tersenyum hangat, ia kembali menggenggam tangan Firda meski ia tahu pasti nantinya akan di tepis kasar.
"Karena aku lagi berjuang, Sayang. Aku mau kamu maafin aku, dan aku juga berharap kita bisa kaya dulu." Jawab Fade menjelaskan.
"Nggak bisa, Fad." Firda melepaskan tangan Fade yang memegang tangannya, kali ini lebih pelan dari sebelumnya.
"Nggak bisa karena kamu marah kan? Makanya itu aku butuh maaf kamu, setelah aku mendapatkannya maka aku akan berusaha untuk memperbaiki hubungan kita." Timpal Fade dengan wajahnya yang serius.
"Aku nggak tahu kapan bisa maafin kamu, Fad." Tolong, tolong jangan ganggu aku sekarang-sekarang ini." Pinta Firda dengan suara yang pelan.
"Aku cinta sama kamu, Fir. Dan itu selamanya, bahkan saat aku mati pun aku akan selalu mencintai kamu." Ucap Fade dengan tulus.
Firda tidak membalas, ia pun pergi meninggalkan Fade. Firda harus menyebrang jalan untuk sampai ke halte bus yang menuju rumahnya.
Pikiran yang kacau dan perasaan berkecamuk, membuat Firda tidak fokus pada jalannya. Ia yang sudah ada di pertengahan jalan tidak sadar bahwa ada mobil yang melaju kencang ke arahnya.
Fade yang kala itu memperhatikan Firda dari tempatnya tentu saja terkejut, ia lantas berlari guna menyelamatkan gadis tercintanya.
"FIRDA AWAS!!" teriak Fade lalu buru-buru mendorong Firda menjauh dari mobil yang ingin melintas.
Posisi Firda yang nyaris tertabrak justru digantikan oleh Fade. Pria itu tertabrak sebuah mobil pickup dan membuat tubuhnya terpental jauh.
Firda yang terkejut akan dorongan Fade dibuat semakin terkejut melihat tubuh Fade yang terpental ke jalanan dan berakhir telentang di atas aspal.
"FADE!!!" Firda berteriak sejadi-jadinya kala melihat tubuh Fade sudah bersimbah darah.
Firda langsung berlari mendekati Fade, ia duduk di sebelah tubuh Fade yang benar-benar penuh darah, bahkan sampai tercecer ke jalanan.
__ADS_1
"Fade, hiks … buka mata kamu." Pinta Firda menepuk-nepuk pipi Fade.
Wajah Fade terluka cukup parah, membuat Firda semakin merasa bersalah. Fade seperti ini karena menyelamatkannya.
Kendaraan yang melaju di sisi tempat kecelakaan Fade lantas berhenti, banyak orang-orang juga yang mulai mengerubungi mereka berdua.
"Fade, hiks … jangan tinggalin aku, Fad. Aku tahu kamu pasti akan baik-baik saja, FADE!!" Firda terus berteriak memanggil Fade yang sudah sepenuhnya hilang kesadaran.
Fade dibawa ke rumah sakit menggunakan salah satu mobil pengendara yang lewat. Firda seakan lupa jika Fade juga membawa mobil dan memarkirkannya di depan restoran tempatnya bekerja.
"Fade, hiks … bangun, Fad. Kenapa kamu harus menyelamatkanku, hiks …" Firda terus berbicara sambil menangis.
Firda tidak peduli pada pakaiannya yang terkena darah Fade, ia tetap memangku kepala pria itu, bahkan sesekali menunduk untuk memeluknya.
Firda sampai di rumah sakit, ia lalu berteriak memanggil dokter agar bisa segera menangani Fade.
Fade pun dibawa ke ruang UGD dengan dua orang suster yang mendorong brankarnya.
Firda tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruang UGD, ia menunggu di luar ruangan dengan perasaan khawatir dan takut.
"Hiks … apa yang aku lakukan, seharusnya aku tidak menolak ajakannya. Jika saja aku menerima, ia tidak akan kecelakaan seperti ini." Ucap Firda dengan penuh penyesalan.
Sementara itu di tempat lain, Tristan dan Mondy sedang berada di markas anak buah mereka.
Saat sampai disana, mereka dibuat geram dengan tingkat Linda yang saat ini sedang menodongkan pisau ke lehernya sendiri.
"Kau yakin ingin mati?" tanya Tristan mengangkat sebelah alisnya.
"DIAM!! aku lebih baik mati daripada terus berada di tempat yang menyesakkan ini." Jawab Linda dengan nafas terengah-engah.
"Ya sudah, potong sekarang lehermu." Tukas Tristan dengan santai dan tenang.
Linda manggut-manggut. "Ya, aku akan memotong leherku, tapi kau harus tahu bahwa nyawa istri dan kakak iparmu dalam bahaya atau bahkan mereka sudah mati bersama." Ucap Linda dengan senyuman evil di wajahnya.
Tristan mendatarkan wajahnya, ia bahkan sampai bangkit dari duduknya lalu menatap tajam mata Linda.
"Apa maksudmu?" Tanya Tristan penuh penekanan.
"Ku kira kau pintar, Tristan. Kau tidak tahu bahwa aku menyembunyikan tangan kananku di rumah utama kan?" tanya Linda balik, tercetak senyuman jahat di wajahnya.
Rahang Tristan semakin mengeras, tangannya sudah terkepal sehingga membentuk urat-urat di tangannya.
__ADS_1
"Aku yakin tangan kananku itu sudah melukai istri tercintamu, Tristan." Ucap Linda lagi dibarengi dengan tawa.
Tristan mengerem marah, ia pun mengambil pistol dari tangan salah satu anak buahnya disana, kemudian tanpa ragu langsung menembak Linda tepat di bagian dada.
"Wanita brengsekk!!" umpat Tristan.
Tidak ada raut penyesalan di wajah pria itu melihat mantan istrinya terkulai dengan bersimbah darah. Ia tidak peduli Linda hidup ataupun mati, ia benci padanya.
Mondy yang menyaksikan aksi atasannya tentu saja terkejut, ia tidak menyangka Tristan akan membunuh Linda saat itu juga.
"Tuan, kita lebih baik pulang sekarang." Ucap Mondy kepada Tristan.
Tristan melempar pistol yang ia gunakan ke lantai, lalu menatap anak buahnya.
"Urus jasad wanita itu." Ucap Tristan seraya beranjak meninggalkan ruangan dimana ia telah melenyapkan Linda Senofita.
Tristan pun pergi bersama Mondy untuk pulang ke rumah. Perasaan Tristan tidak tenang saat mengingat ucapan Linda sebelum ia menembak wanita itu tadi.
"Percepat, Mon." Ucap Tristan kepada asisten pribadinya itu.
Mondy pun mempercepat laju mobilnya, ia mematuhi perintah dari Tristan, dan juga merasa khawatir pada Alea sekarang.
Hampir 1 jam perjalanan yang ditempuh oleh Mondy dan Tristan, mereka berdua pun sampai di rumah utama yang tampak sepi, tidak seperti biasanya.
Penjaga rumah yang biasanya selalu stand by pun tidak ada.
Tristan keluar dari mobil, ia berlari masuk ke dalam rumah disusul oleh Mondy di belakangnya.
Saat keduanya sudah di dalam rumah, Tristan mendengar suara tangisan istrinya di dapur.
"Alea." Gumam Tristan dengan sangat khawatir.
Tristan dan Mondy pun lekas ke dapur, saat sampai di sana mereka terkejut melihat darah yang menetes dan sedikit tercecer di lantai.
Di sana ada Alea juga yang tengah menangis di sebelah seorang gadis yang perutnya tertusuk sebuah pisau dapur.
"AIRA."
KOMEN DULU YG BANYAK, NANTI DOUBLE UP🤗
Bersambung......................
__ADS_1