
Hujan turun dengan begitu deras diluar sana, membuat seorang gadis memutuskan untuk tidur. Ia sudah bergulung di bawah selimut dengan mata terpejam, namun matanya kembali terbuka saat suaminya masuk.
Aira melihat Mondy duduk di sofa lalu membuka laptop. Sepertinya pria itu sedang mengerjakan sesuatu, makanya belum tidur.
Aira melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ia cukup kasihan pada Mondy yang harus bekerja malam-malam begini.
"Om Mondy ganteng banget sih." Batin Aira seraya terus menatap wajah tampan Mondy.
Aira tersadar, ia menggelengkan kepalanya lalu sedikit memukulnya.
"Ai, ingat! Dia mungkin suamimu, tapi pernikahan ini hanya untuk membayar hutang." Ucap Aira lagi di dalam hati.
Aira bangkit dari tidurnya, gerakannya itu membuat fokus Mondy teralihkan. Pria itu mengerutkan keningnya sebelum akhirnya bersuara.
"Ada apa, Ai?" tanya Mondy.
Aira menoleh. "Om kenapa belum tidur?" tanya Aira balik.
Mondy tersenyum tipis, senyuman yang mungkin saja tidak bisa Aira lihat karena terlalu tipis.
"Saya masih ada pekerjaan, Ai. Saya akan tidur setelah semuanya selesai," jawab Mondy.
Hati pria itu terasa berbunga-bunga mendapat pertanyaan dari istrinya yang seakan begitu peduli padanya.
Aira manggut-manggut. "Mau aku buatkan kopi?" tanya Aira menawarkan.
"Apa boleh? Maksud saya, bukannya kamu sudah mau tidur?" Mondy bertanya dengan ragu-ragu.
Aira menyibak selimut, ia lalu turun dari ranjang. "Boleh, akan aku buatkan. Sebentar ya," jawab Aira kemudian melenggang pergi keluar dari kamar.
Mondy memperhatikan istri kecilnya dengan seksama, Aira terlihat begitu cantik dengan daster membentuk badan yang panjangnya diatas lutut.
Mondy berdehem, ia pun meletakkan laptopnya di meja, lalu bangkit dari duduknya.
Mondy lalu keluar dari kamar untuk menemui istrinya yang ada di dapur. Sampai disana, Mondy melihat Aira menguap sambil menunggu air matang.
"Biar saya saja, kamu sepertinya mengantuk." Ucap Mondy berjalan mendekati Aira.
Aira kaget, ia menoleh dan mendapati Mondy sudah ada di sebelahnya.
"Ahh nggak usah, Om. Aku cuma nguap kok, bukan ngantuk." Balas Aira tersenyum canggung.
Mondy manggut-manggut, ia lalu duduk di kursi meja makan guna menunggu istri kecilnya selesai membuat kopi.
Tidak lama kemudian Aira membalik badan dengan segelas kopi di tangannya.
"Lho, nggak ke kamar?" tanya Aira mengerutkan keningnya.
Mondy menggeleng. "Tidak, saya mau disini. Saya juga mau kamu temani, boleh?" tanya Mondy balik.
Aira mengangguk, ia pun menarik kursi untuk duduk di sebelah Mondy. Menemani suaminya menghabiskan kopi buatannya.
__ADS_1
"Ai, boleh saya tanya sesuatu?" Tanya Mondy tanpa menatap istrinya.
Aira menoleh. "Tentu, Om. Ada apa?" tanya Aira balik.
"Sebenarnya kamu kenapa, entah mengapa saya merasa kamu berubah. Kamu lebih banyak diam," ujar Mondy yang akhirnya bisa bertanya.
Aira tersenyum hangat. "Aku nggak apa-apa, Om." Balas Aira tanpa berniat menjelaskannya.
Tiba-tiba terdengar suara petir disertai kilatan yang cukup terang, membuat Aira langsung memejamkan matanya.
"Kamu takut?" tanya Mondy dan Aira hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
Mondy pun meraih tangan Aira, ia lalu mengajak gadis itu untuk kembali ke kamar.
"Lho, Om. Kopinya?" tanya Aira pelan.
"Sudah saya habiskan." Jawab Mondy singkat. Tentu saja itu adalah sebuah kebohongan.
Aira memegang tangan Mondy, ia lalu reflek memegang wajah Mondy dan memperhatikan bibir pria itu.
"Dihabiskan? Pasti panas sekali kan?" tanya Aira khawatir.
Aira mengusap-usap bibir Mondy yang ia pikir akan melepuh setelah meminum kopi panas.
"Kenapa harus minum cepat-cepat, mulut om pasti sakit." Ujar Aira seraya terus mengusap bibir Mondy.
Mondy hanya diam, ia malah memperhatikan Aira yang fokus mengusap-usap bibirnya.
"Ai." Panggil Mondy dengan suara yang begitu berat.
Aira mendongak, ia baru sadar jika saat ini posisinya begitu dekat dengan pria tampan yang merupakan suaminya.
"M-maaf, Om." Cicit Aira sedikit gugup.
Aira hendak menjauh, namun Mondy malah merengkuh pinggang rampingnya dan mencubit dagunya pelan.
"Ai, boleh saya mencium kamu?" Tanya Mondy serak.
Aira menelan gumpalan saliva nya dengan susah, ia menatap manik mempesona Mondy yang benar-benar membuatnya jatuh hati.
Aira menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Kali ini benar-benar keinginannya, bukan sekedar membayar hutang saja.
Mondy tersenyum, ia lalu menunduk dan langsung menyatukan kedua belah bibir mereka.
Berbeda dengan ciuman tadi siang, kali ini Mondy langsung menggerakkan bibirnya.
Mondy menghisap dan menggigit bibir tipis istri kecilnya dengan penuh semangat dan gairahh.
Aira mengalungkan tangannya, ia bahkan reflek mencengkram kaos yang Mondy kenakan saat suaminya ini semakin menyesap bibirnya.
"Mhhhhh …" lenguhan yang tertahan terdengar begitu indah bagi Mondy.
__ADS_1
Mondy melingkarkan tangannya di paha Aira, ia lalu mengangkat tubuh gadis mungil itu dengan posisi seperti koala.
"Om, nanti jatuh." Ucap Aira pelan.
Mondy tersenyum manis, ia mengusap-usap wajah istrinya. "Tidak akan, Ai. Pegangan makanya," sahut Mondy berbisik.
Aira pun mengeratkan pelukannya pada leher Mondy, namun tentu tidak sampai mencekiknya.
Mondy melangkahkan kakinya menuju kamar mereka, tatapannya tidak teralihkan sama sekali dari wajah cantik dan polos istrinya.
Mondy masuk ke dalam kamar, ia lalu menutup kembali pintunya dengan menendangnya.
Mondy merebahkan tubuh Aira di ranjang, lalu ia mengusap-usap kening Aira yang berkeringat. Antara gugup dan takut.
"Kamu cantik, Ai." Puji Mondy dengan jujur dan pastinya dari hati.
Aira menggigit bibirnya menahan malu, ia berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Mondy, namun tidak bisa karena sekarang Mondy menangkup wajahnya.
Monday menunduk, ia kembali mengajak Aira untuk berperang lidah yang terasa memabukkan.
Bibir Aira terasa begitu manis dan hampir membuat Mondy gila. Mondy seakan enggan untuk menyudahi aksi ciuman ini.
"Ahhhh." Aira melenguh nikmat saat ciuman Mondy turun ke lehernya.
Aira juga reflek menjambak rambut belakang Mondy sebagai bentuk pelampiasannya.
"Ahhh … a-apa yang om lakukan?" tanya Aira dengan nafas tersengal-sengal.
Mondy tidak menjawab, ia terus menciumi dan menggigit kecil leher mulus Aira sampai meninggalkan jejak.
"Kamu wangi sekali, Ai. Tubuhmu cantik dan wangi, saya tidak bisa berhenti." Bisik Mondy tepat di telinga Aira.
Aira hanya mampu memejamkan matanya. Dadanya tampak naik turun karena nafasnya yang terengah.
Permainan Mondy di bibir dan lehernya membuat ia lemas, seakan tidak memiliki tenaga.
"Ai." Panggil Mondy serak.
Aira perlahan membuka matanya, ia menangkup rahang tegas suaminya, dan memberikan sedikit ucapan.
Mondy kembali mencium Aira, menurutnya bibir Aira yang semakin bengkak itu terlihat seksi dan terus memanggil untuk dicium.
"Shhhh … mphhhhh …" lagi-lagi suara itu Aira keluarga ketika tangan Mondy mulai meraba-raba tubuhnya.
Setelah beberapa saat, Mondy melepaskan ciumannya. Ia menyatukan keningnya dengan kening Aira, dan nafas mereka yang sama-sama tersengal.
"Ai, boleh aku minta hak ku?" tanya Mondy dengan binar mata yang sarat akan gairahh dan harapan.
EYAKKK DI GANTUNG 🙈
Bersambung..............................
__ADS_1