
"Ai, dia suamimu. Dia berhak atas tubuhmu. Terlebih lagi, dia sudah memberikan banyak uang untuk keluargamu. Dia menyelamatkan mu dari laki-laki tua itu. Kau harus mengabdikan diri padanya, Ai. Selamanya!"
Aira memejamkan matanya dengan desahann halus yang terus keluar dari bibirnya, tatkala merasakan hisapan dan cecapan bibir suaminya di lehernya yang jenjang.
"Ahhh … om-mhhhh …" lenguh Aira dengan tangan yang meremat rambut belakang Mondy dan sprei.
Mondy semakin bersemangat untuk memberikan jejak basah di leher putih dan mulus Aira. Tanpa ragu, ia memberikan tanda merah yang cukup banyak disekitar leher Aira.
"Ahhh eummm …" Aira terus mengeluarkan suara indahnya karena semakin tidak tahan dengan perlakuan yang diterima dari Mondy.
Mondy mengangkat kepalanya, ia mengusap peluh yang membasahi kening istrinya lalu memberikan kecupan disana.
"Ai, boleh?" tanya Mondy yang kembali meminta izin.
Mata Aira terbuka, ia sayup-sayup melihat bagaimana suaminya menatapnya dengan penuh gairahh dan keinginan yang besar.
Kepala Aira mengangguk, ia mengizinkan suaminya untuk melakukan apa yang sudah menjadi hak nya. Aira tidak akan menolak.
Mendapat lampu hijau dari Aira, seketika membuat Mondy tersenyum lebar. Ia kembali memangut bibir istrinya dengan lembut menggebu dari sebelumnya.
Sambil terus mencium bibir Aira, tangan Mondy tidak diam begitu saja. Ia mulai meraba bagian tubuh istrinya, lalu perlahan-lahan menurunkan daster Aira di bagian pindaknya.
Aira hanya bisa memejamkan mata, ia benar-benar pasrah. Pasrah melayani Mondy sebagai suami, sekaligus orang yang sudah membelinya.
Aira bangkit dari tidurnya, ia lalu mengangkat kedua tangannya untuk mempermudah Mondy melepaskan daster yang digunakannya.
Mondy senang melihat respon Aira terhadap gairahh nya yang sudah menggebu-gebu ini.
Mondy kembali merebahkan Aira. Di tatapannya manik mempesona Aira dengan penuh damba.
Mata Mondy menelisik bagian tubuh lain, ia nyaris gila saat matanya tak mau teralihkan dari sesuatu yang menyambul indah. Penutup berwarna hitam itu membuat penampilan Aira semakin menggoda.
Menggoda dirinya, imannya, dan sisi liarnya yang ingin menghabisi istrinya malam ini dalam kenikmatan yang halal.
Mondy mengusap wajah cantik istrinya, ingin rasanya ia mengutarakan perasaan cinta terhadap gadis itu, namun Mondy tidak mau Aira berpikir bahwa ia cinta saat melihat tubuhnya saja.
Mondy menundukkan kepalanya, ia memberikan kecupan di kening lalu beralih mendekatkan wajahnya ke telinga.
__ADS_1
"Indah, Ai. Kamu tahu, dirimu sangat cantik dan menawan." Bisik Mondy dengan suara yang semakin berat dan menggoda.
Nafas Aira semakin tidak beraturan saat telinganya di gigit mesra. Ia melenguh beberapa kali, bahkan mencengkram punggung suaminya.
Mondy menegakkan tubuhnya, ia membuka kaos yang digunakannya lalu kembali mencium bibir Aira.
Pangutan bibir itu semakin menggebu, menyisakan nafas yang tersengal-sengal dari kedua manusia yang akan menyatu malam ini.
Namun penjelajahan tak cukup sampai di situ, nyatanya kecupan Mondy semakin turun dan hinggap di dada Aira yang menyambul penuh godaan.
"Ahhhh …" lenguhan Aira tidak ada habisnya, bahkan semakin keras.
Mondy tersenyum tipis, ia lantas mengarahkan kedua tangannya ke punggung Aira dan langsung melepaskan pengait penutup dada Aira.
Berhasil! Kaitan penutup itu berhasil Mondy buka, dan langsung ia lemparkan begitu saja.
Bola mata Mondy nyaris keluar saat pemandangan Aira yang sudah hampir polos kini terbaring tak berdaya di bawahnya.
Ia memperhatikan betapa indahnya tubuh istri kecilnya ini, bahkan ia tidak menyangka di balik Aira yang polos dan menyebalkan, ada Aira yang sangat seksi dan menggoda.
"O-om, jangan dilihatin. Aku malu," cicit Aira dengan suara gemetaran.
"Jangan, Ai. Ini terlalu indah," bisik Mondy parau.
Mondy kembali menunduk, ia mulai bermain-main di dada Aira. Menggoda biji kecil yang ada di tengah-tengah bulatan besar yang tidak akan cukup untuk Mondy hisap malam ini.
Teriak penuh kenikmatan dan lenguhan Aira semakin menjadi-jadi saat mulut Mondy menyesap dan tangannya memainkan sebelahnya.
Ini pengalaman pertama bagi mereka, terutama Aira yang tidak pernah membayangkan semua ini akan ia lakukan dengan pria tampan yang dicintainya.
"Ahhh … eumhhh …"
Mondy semakin bersemangat, ia tidak sabar menyatukan dirinya dengan Aira dan kembali berteriak nikmat bersama-sama.
Mondy bangkit, ia melepaskan seluruh pakaian yang masih melekat, begitupula dengan Aira yang hanya tinggal menarik kain segitiganya.
"Ini akan sakit, tapi aku janji setelahnya akan terasa nikmat, Ai." Ucap Mondy dengan begitu lembut.
__ADS_1
Aira mengulurkan tangannya untuk memegang rahang Mondy, kepalanya mengangguk-angguk mendengar ucapan suaminya.
"Aku percaya, Om. Lakukan saja," balas Aira dengan suara yang sedikit lemah.
Mondy mencium kening Aira, sementara di bawah sana juga tengah berusaha untuk masuk ke goa sempit Aira yang sudah banjir.
Aira meringis, membuat Mondy tidak tega. Namun sudah terlalu jauh untuk berhenti, sehingga Mondy tetap melanjutkannya.
"Arghhhhh!!!" Mondy dan Aira sama-sama berteriak ketika akhirnya tubuh mereka menyatu.
Sesuatu yang Aira jaga selama ini telah hilang, di ambil oleh suaminya, pria yang dicintainya malam ini.
"S-sakit, Om." Ucap Aira dengan mata terpejam dan air mata yang mulai keluar.
Mondy menciumi wajah Aira demi bisa mengalihkan rasa sakit gadis– wanita itu.
Setelah di rasa bahwa Aira sudah siap untuknya, Mondy perlahan mulai bergerak. Ia melakukannya dengan lembut dan kepala yang mendongak ke atas.
"Arghhh, Aira sayang! Aira …" geraman nikmat itu terus keluar bersama gerakan Mondy yang semakin cepat.
Aira hanya bisa meremat bantal dan sprei yang ada di bawahnya. Ia juga menggigit bibir yang mana membuat penampilannya jauh lebih menggoda.
"A-aku mau …" Aira tidak melanjutkan ucapannya karena Mondy yang semakin menggila di atasnya.
"Bersama, Ai! Arghhhh …" sahut Mondy mengerem nikmat.
Aira dan Mondy pun akhirnya mendapatkan apa yang mereka kejar sejak tadi. Mondy langsung menunduk dan menghujani wajah Aira dengan kecupan kasih sayang juga cinta.
Mondy lalu berbaring di sebelah Aira, ia juga melepaskan penyatuan tubuh mereka, lalu setelahnya menarik selimut guna menutupi tubuh tanpa busana itu.
"Terima kasih, Ai. Malam ini sangat indah dan nikmat." Bisik Mondy seraya memeluk Aira dari belakang.
Aira tidak menjawab, ia hanya diam dengan mata terpejam dan nafas tersengal-sengal. Aira sangat lelah malam ini, ia ingin istirahat.
Mondy sebenarnya masih ingin, namun ia sadar ini yang pertama bagi mereka sehingga satu kali permainan cukup, dan mungkin akan dilanjut besok.
Kerja keras Aira dan Mondy malam ini membuat pasangan itu langsung terlelap dengan posisi Mondy yang memeluk Aira. Pagi yang indah, siap menyambut mereka.
__ADS_1
HEH MATA TUTUP WOII🙈🤣
Bersambung....................................