
Terlihat disebuah ruang tamu yang besar, ada dua pasangan yang duduk di ruangan tersebut.
Kedua wanita tampak saling melempar pandangan di sertai senyuman. Akhirnya setelah cukup lama tidak bertemu, hari ini terbayar sudah.
"Aku akan mendukung apapun keputusan kakakku, aku hanya berharap kau bisa membahagiakan nya." Ucap Alea membuka suaranya.
Sejak tadi Firda dan Fade menantikan jawaban ini. Mereka berdua yang berencana untuk menikah, mau meminta izin dulu kepada Alea, selaku adik Firda.
Terdengar tidak adil sama sekali, sebab saat Alea menikah, ia dengan kurang ajar tidak memberitahu kakaknya, tapi Firda? Gadis itu sangat memikirkan keputusan adiknya.
"Kau sudah yakin kan dengan keputusanmu, Kak?" tanya Alea kepada Firda.
Firda mengangguk. "Iya, Lea. Aku yakin, keputusanku untuk menikah dengan Fade sudah bulat." Jawab Firda tersenyum manis.
Fade senang mendengar ucapan Firda yang sudah siap untuk ia nikahi. Namun Fade sementara akan mengajak Firda menikah di KUA dulu, ia akan mengadakan pesta besar setelah dirinya sembuh total.
Fade tidak mau mempermalukan Firda dengan kondisinya sekarang. Ia mau Firda bahagia nanti bersama dirinya diatas pelaminan yang indah nan megah.
"Baiklah, kapan kalian akan menikah?" tanya Tristan pada pasangan itu.
"Besok." Jawab Fade dengan penuh semangat.
Alea yang sangat itu sedang minum langsung terbatuk mendengar jawaban dari calon kakak iparnya.
"Besok?" tanya Alea kaget.
Alea beralih menatap kakaknya. "Secepat itu?" tanya Alea lagi.
Firda mengangguk. "Fade ingin menikah di KUA dulu, setidaknya kami sah secara agama dan hukum." Jawab Firda.
"Kau jangan takut, Alea. Aku akan membuatkan pesta pernikahan yang mewah untuk kakakmu, tapi setelah aku sembuh." Tambah Fade menjelaskan.
Alea mengusap-usap dadanya karena masih sesekali terbatuk-batuk.
"Aku rasa itu bukan ide yang buruk," kata Tristan mengeluarkan tanggapan.
Alea menghela nafas, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya. Sudah Alea bilang kan bahwa ia akan menerima apapun keputusan kakaknya.
"Baiklah, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kalian." Ujar Alea dengan tatapan yang tulus.
Firda bangkit dari duduknya, membuat Alea ikut bangkit. Adik dan kakak itu lalu saling memeluk.
"Terima kasih sudah mendukung keputusanku." Ucap Firda dengan suara yang sedikit pelan.
"Terima kasih kembali sudah menerima keputusanku yang menikah tanpa bilang." Balas Alea tidak kalah pelan.
Firda dan Alea melepaskan pelukan mereka lalu terkekeh bersama. Sementara Tristan dan Fade hanya saling pandang.
"Jika bukan karena istriku, aku tidak akan mau akur denganmu." Ucap Tristan tiba-tiba.
"Dasar tidak sopan, aku calon kakak iparmu." Balas Fade ketus.
Alea dan Firda terkekeh mendengar perdebatan kecil antara Fade dan Tristan yang sejatinya pernah menjadi musuh bebuyutan hanya karena Linda.
__ADS_1
"Ini sudah malam, aku akan pulang ya." Pamit Firda kepada adiknya.
Firda lalu mengusap perut adiknya yang sudah semakin terlihat bulat.
"Keponakanku, baik-baik ya disini." Ucap Firda sambil tertawa.
"Baik, Aunty." Balas Alea menirukan suara anak kecil.
Firda lalu menatap Tristan. "Terima kasih sudah menjaga adikku, Tristan. Aku senang dia bahagia dengan hidupnya sekarang," ungkap Firda.
Firda mengusap wajah adiknya yang cantik. "Bersama denganmu, dia tidak kekurangan kasih sayang." Tambah Firda.
Alea berdecak, ia tidak mau menangis. "Ck, kakak. Sudahlah, jangan membuat ibu hamil menangis malam-malam." Ujar Alea seraya menyeka sudut matanya yang sudah berair.
"Aku akan selalu menjaga Alea, dia istriku dan cintaku." Kata Tristan dengan sangat yakin.
Firda senang mendengarnya. "Ayo, kita pulang." Ajak Firda pada Fade, calon suaminya.
"Kami pamit ya, sampai jumpa." Pamit Fade yang berjalan dengan dibantu oleh calon istrinya.
Alea dan Tristan mengantar pasangan itu sampai depan rumah, lalu setelah mereka pergi, pasangan suami istri itu baru masuk ke dalam.
"Mondy itu sebenarnya menjemput Aira atau menculiknya, Mas?" tanya Alea dengan kesal.
Tristan terkekeh, ia menangkup wajah cantik Alea lalu ia hujani wajah itu dengan ciumannya.
"Sabar bumilku, besok mereka kesini." Jawab Tristan memberitahu.
"Lagipula papi tersinggung sama baby, kenapa harus Aira dan bukan papi yang mau kamu peluk?" tanya Tristan menekuk wajahnya.
Alea tertawa. "Papi jelek, baby nggak suka." Jawab Alea bergurau.
Tristan melototkan matanya, ia pun segera menggendong tubuh istrinya dan membawanya pergi dari sana.
"Mas, turunin!!" pekik Alea berteriak.
Tristan menggeleng, ia tetap menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka.
***
Sementara itu di tempat lain, di sebuah kamar pasangan suami istri yang baru menikah hari ini. Tampak keduanya sibuk dengan urusan masing-masing.
Mondy sibuk mengetik sesuatu di laptopnya, sementara Aira sibuk berpikir banyak hal.
"Dimana aku akan tidur? Ahh, sudah pasti di sofa atau lantai. Meski aku sudah menikah dengan om Mondy, mustahil dia mau tidur di sebelahku." Batin Aira bertanya-tanya sendiri.
Mondy mengalihkan pandangannya, dan saat itulah ia sadar bahwa istri kecilnya sedang melamunkan sesuatu.
Mondy meletakkan laptopnya di atas meja, ia bangkit dari duduknya lalu membenarkan kaos yang dikenakan olehnya malam ini.
"Kenapa belum tidur, Ai?" tanya Mondy tanpa menatap istrinya.
Mondy mendekati kemari pakaian, ia lalu membukanya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.
__ADS_1
"Aku harus tidur dimana?" tanya Aira ragu-ragu.
Mondy menoleh, ia tersenyum sangat tipis mendengar pertanyaan dari istrinya itu. Mondy berjalan mendekati Aira, lalu duduk di sebelahnya.
"Kemarikan tangan kiri mu." Pinta Mondy.
Aira mengerutkan keningnya. "Untuk apa, Om?" tanya Aira.
Mondy tidak menjawab, ia mengambil tangan kiri Aira lalu membuka cincin sederhana yang ia buat asal-asalan namun mengandung arti.
"Jangan, Om!" cegah Aira saat cincin hampir terlepas dari jarinya.
Mondy menatap Aira, kini pandangan mereka pun bertabrakan satu sama lain. Untuk sesaat keduanya terpaku, namun setelahnya sadar karena Alea mengalihkan pandangannya.
"Mungkin pernikahan ini terjadi secara terpaksa, tapi tolong jangan lepaskan cincin ini. Bagaimanapun, cincin ini adalah bukti bahwa aku sudah dinikahi seseorang." Kata Aira tanpa menatap Mondy, suaminya.
Mondy tidak bicara, ia langsung menarik cincin itu sampai terlepas dari jari manis Aira.
"Ini cincin pemberian mendiang ibu saya, dan saya minta jangan pernah melepas apalagi menghilangkan nya." Ucap Mondy seraya memasang cincin baru di jari manis Aira.
Aira terkejut melihat cincin berlian yang terlihat cantik dan mahal itu.
"Nggak, Om. Ini cincin mahal, aku nggak bisa pakai ini." Tolak Aira hendak melepaskan nya, namun di cegah oleh Mondy.
"Ikuti apa kata saya, Ai." Ucap Mondy sedikit menekan kalimat yang ia ucapkan.
Aira tersadar saat mendengar ucapan Mondy yang sedikit di tekan. Sudah seharusnya Aira ikut apa kata Mondy, sebab pria itu sudah membelinya.
"Baik, Om. Mulai sekarang, aku akan ikut apapun kata Om, aku janji tidak akan membantahnya." Kata Aira menundukkan kepalanya.
Mondy tersenyum manis tanpa Aira lihat, ia senang mendengar Aira mengucapkan kalimat tadi. Dalam pikiran Mondy, ucapan Aira barusan adalah bentuk hormat istri kepada suaminya.
Sayangnya Mondy salah duga, Aira berkata begitu karena merasa Mondy adalah majikan yang sudah membelinya, dan sudah wajib untuk ia ikuti perkataannya.
Mondy hendak mengusap kepala istrinya, namun ia terhenti dan ganti berdehem.
"Saya akan simpan cincin ini, dan sekarang kamu istirahat lah, Ai." Tutur Mondy lalu bangkit dari duduknya.
"Dimana aku tidur, Om?" tanya Aira.
"Di sini, si sebelah saya." Jawab Mondy tanpa menatap Aira.
Aira lagi-lagi hanya bisa menurut, ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang terasa sangat empuk, bahkan jauh daripada kasurnya di kampung.
"Ikuti apapun perintahnya, Ai. Ingat, dia sudah membayar mu mahal. Sekalipun dia meminta tubuhmu, maka kau harus memberikannya." Batin Aira.
Tanpa sadar setetes air mata jatuh ke bantal yang ia tiduri. Jika membayangkan Mondy minta dilayani rasanya sakit sekali, sebab mereka akan melakukannya tanpa cinta.
Kenapa Aira harus berharap bahwa Mondy akan mencintainya, jelas pria itu dan dia sangat jauh berbeda. Rasanya sangat mustahil.
NENG AIRA SALAH PAHAMNYA MAKIN-MAKINš OM MONDY SIH GENGSIAN :'(
Bersambung...................................
__ADS_1