Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
First kiss


__ADS_3

Alea memeluk erat tubuh Aira yang sudah sangat ingin didekapnya seperti ini. Akhirnya ngidamnya yang mungkin aneh ini bisa terpenuhi.


Alea melepaskan pelukannya, ia tersenyum melihat wajah Aira yang malu-malu.


"Terima kasih ya, Ai. Aku pasti merepotkan, tapi aku benar-benar ingin memelukmu." Ucap Alea dengan senyuman.


Aira membalas senyuman itu. "Nggak apa-apa, Nona. Saya senang bisa membantu," balas Alea tulus.


Tristan berdehem, ia mengantungi sebelah tangannya di saku celana, lalu merangkul bahu istrinya.


"Saya juga berterima kasih ya, Ai. Untung kamu mau datang kesini dan memenuhi ngidam istri saya. Saya dan Alea sendiri yang akan mengantar kamu pulang ya," kata Tristan tanpa tersenyum.


"Apa harus langsung pulang, tidak bisa kah lebih lama disini?" tanya Alea memelas, tangannya memegang kedua tangan Aira erat.


Aira melirik Mondy yang hanya diam saja. Seperti pria itu belum memberitahu bahwa mereka sudah menikah. Atau … Mondy memang tidak mau Alea dan Tristan tahu mereka menikah.


Aira tersenyum. "Saya akan disini, Nona. Saya memutuskan untuk kembali bekerja di rumah pak Mondy." Jawab Aira.


Mondy menatap istrinya, ia hendak bicara namun sudah keburu Tristan duluan yang bicara.


"Sebenarnya sekarang kami harus pergi. Kakak Alea akan menikah hari ini di KUA. Kalian mau ikut?" tawar Tristan pada pasangan suami istri yang belum mereka ketahui.


"Maksud anda nona Firda dan Fade, Tuan?" tanya Mondy.


"Hmm, mereka berdua memutuskan untuk menikah di KUA dulu." Jawab Tristan manggut-manggut.


"Mau ikut, Ai?" tanya Alea lembut.


Aira tampak bingung harus menjawab apa, ia sedang menunggu Mondy duluan yang bicara, tetapi nyatanya pria itu hanya diam saja.


"Maaf, Nona. Saya tidak bisa," jawab Aira menolak.


"Kenapa?" tanya Alea sedih.


"Saya masih punya banyak pekerjaan, dan saya juga eumm …" Aira bingung melanjutkan kalimatnya.


"Sayang, sudah lah jangan dipaksa. Mungkin Aira masih lelah setelah perjalanan. Biarkan dia istirahat ya," tutur Tristan pada sang istri.


Alea manggut-manggut. "Baiklah, tapi kamu harus sering-sering main kesini dan temani aku ya, Ai?" pinta Alea.


Aira tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Baik, Nona." Balas Aira.


"Mon, jangan lupa tugas yang aku berikan." Ucap Tristan sebelum pergi.


"Baik, Tuan." Mondy menundukkan kepalanya sopan.


Setelah itu Alea dan Mondy pun pergi meninggalkan rumah untuk ke KUA, menjadi saksi pernikahan Firda dan Fade.


Tristan akan menyetir sendiri, sebab ia sudah memberikan pekerjaan lain untuk Mondy, sang asisten.


"Ai, ayo. Kita harus berbelanja kan," ajak Mondy.


Aira tersenyum tipis, ia pun melangkah keluar duluan. Mondy lekas menyusul istri kecilnya.

__ADS_1


Oh ya, sekedar info. Mondy belum memberitahu Tristan dan Alea tentang penikahannya dengan Aira. Mondy akan memberitahu mereka setelah bicara pada Aira nanti.


***


Mondy dan Aira pun sampai di pusat perbelanjaan, mereka berdua mengambil barang-barang yang dibutuhkan.


Mulai dari daging, ikan, sayuran dan buah-buahan. Tidak lupa Aira juga mengambil kebutuhan kamar mandi.


Aira berjinjit, ia berusaha untuk meraih shampo yang berada di rak paking atas. Namun karena tubuhnya yang mungil, membuatnya tidak sampai.


"Ada saya, Ai. Minta tolong sama saya," ucap Mondy lalu mengambilkan shampo yang berusaha Aira ambil.


Mondy memasukkan shampo itu ke dalam troli, lalu ia menatap Aira yang hanya diam saja.


"Om butuh apa lagi, biar kita beli sekalian?" tanya Aira seraya jalan duluan dan tidak lupa mendorong troli nya.


Mondy lekas menyusul, ia memegang tangan istri kecilnya itu lalu mengambil alih untuk mendorong troli belanja yang sudah cukup berat untuk di dorong.


"Biar saya yang dorong, kamu cukup jalan disebelah saya." Tutur Mondy.


Aira mengangguk. "Baiklah." Timpal Aira.


Setelah merasa cukup, Aira dan Mondy pun lekas membayar belanjaan mereka di kasir.


Tiba-tiba ponsel Mondy berdering, ia lantas memberikan kartu miliknya kepada istrinya.


"Ai, password-nya tanggal pernikahan kita." Ucap Mondy kemudian pergi untuk mengangkat telepon.


Aira hendak bicara, namun Mondy sudah berjalan pergi meninggalkan dirinya.


Aira mengangguk, ia pun memberikan kartu Mondy pada mbak-mbak kasirnya.


"Silahkan pin nya." Tutur kasir itu.


"Mbak, kemarin tanggal berapa?" tanya Aira, ia lupa saking nge-blank otaknya.


Kasir itupun menjawab tanggal kemarin, dan Aira lekas menekan pin nya.


Selesai membayar, Mondy pun datang dan langsung membantu istrinya.


"Maaf ya, tadi ada telepon penting." Ucap Mondy.


Aira mengangguk. "Nggak apa-apa, Om." Balas Aira tersenyum tipis.


Mondy mendorong sampai ke parkiran, lalu ia memasukkan semua barang belanjaan nya ke bagasi, tentu dibantu oleh istrinya juga.


Setelah selesai, mereka pun memutuskan untuk langsung pulang. Satu jam lagi Mondy harus pergi ke pertemuan yang Tristan perintahkan.


"Oh iya, ini kartunya Om." Ucap Aira memberikan kartu ATM yang tadi ia gunakan untuk membayar.


Mondy menoleh sebentar sebelum kembali menatap lurus.


"Pegang, Ai. Itu kartu untuk kamu. Setiap bulan saya akan memberikan uang bulanan kamu ke kartu itu." Kata Mondy tanpa menatap istrinya.

__ADS_1


"Uang bulanan?" Beo Aira dengan kening mengkerut.


"Ya, uang yang bisa kamu gunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah dan kebutuhan pribadi kamu." Jawab Mondy manggut-manggut.


"Tapi kenapa?" tanya Aira.


Mondy menghentikan mobilnya karena lampu merah. Ia menoleh ke arah istrinya, lalu tersenyum.


"Kamu bertanya kenapa? Jelas karena kamu istri saya, Ai." Jawab Mondy.


"Ai, sepertinya kamu sering lupa jika saat ini kita sudah menikah." Ucap Mondy lagi.


Aira hanya diam sambil mengulum bibirnya, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Aira bukan lupa bahwa mereka sudah menikah, tapi Aira hanya takut hatinya terlalu berharap pada pernikahan yang terpaksa ini.


"Maaf, Om." Ucap Aira menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, saya akan selalu mengingatkan kamu bahwa kita sudah menikah." Balas Mondy lalu segera menjalankan mobilnya karena lampu sudah hijau.


Mereka pun akhirnya sampai di apartemen. Mondy dan Aira memutuskan untuk langsung merapikan barang belanjaan mereka.


"Ai, saya yang tata kebutuhan kamar mandi ya." Ucap Mondy membawa satu tentengan yang isinya sabun dan lain-lain.


"Iya." Sahut Aira singkat.


Aira merapikan kebutuhan kulkas, seperti daging-dagingan, sayuran dan buah-buahan.


Aira berlutut demi bisa menata buah-buahan di rak paling bawah.


"Ai, ada minuman yang terbawa ke dalam plastik kebutuhan kamar mandi." Ucap Mondy yang kembali ke dapur.


Aira mendongak. "Baiklah, taruh saja." Kata Aira.


Mondy hanya diam sambil terus menatap Aira. Posisi Aira yang berlutut dan mendongak, membuat Mondy harus menundukkan kepalanya.


"Om?" panggil Aira melambai-lambaikan tangannya.


Mondy meletakkan minuman itu di atas meja secara asal, kemudian dengan gerakan cepat Mondy ikut berlutut.


Mondy memegang dagu Aira dan langsung mencium bibir tipis dan pink Aira dengan lembut.


Aira terkejut, bahkan ia menjatuhkan buah yang tadi siap ia susun karena terlalu syok dengan apa yang terjadi sekarang.


Aira hendak mendorong Mondy, namun ia kembali teringat pada uang 500 juta yang sudah Mondy berikan pada keluarganya.


"Jangan menolaknya, Ai. Dia berhak seperti ini, bahkan melakukan yang lebih dari ini." Batin Aira.


Aira pun memutuskan untuk memejamkan mata. Bibirnya masih terkatup rapat karena ia tidak tahu harus apa.


Mondy menjauhkan bibirnya, namun saat melihat Aira memejamkan mata, ia kembali mencium bibir istrinya.


Mondy pikir Aira menerima ciuman darinya, makanya ia kembali menyatukan kedua bibir mereka.


Mondy bahkan menggerakkan bibirnya meski tidak mendapat balasan yang sama dari Aira.

__ADS_1


YUMMY NGGAK OM?


Bersambung...........................


__ADS_2